GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Ke Bulan


__ADS_3

Para warga yang tadi berkumpul untuk menyaksikan pernikahan Tara dan rentenir itu namun justru menyaksikan pernikahan antara Tara dan bosnya pun sudah mulai kembali ke rumah. Di sana hanya tinggal Ikram, Tara dan maminya. Jika kedua wanita itu merasa canggung terhadap Ikram, berbeda halnya dengan pria itu yang justru saat ini tengah senyum-senyum sendiri setelah ia berhasil memiliki Tara secara sah di mata hukum dan agama.


Tidak pernah terpikirkan oleh Ikram akan menikah secepat ini, tetapi ia sungguh bersyukur karena tanpa perlu membuang masa ia sudah bisa mengikat gadis ini dalam tali pernikahan. Akhirnya ia menjadikan Tara sebagai istrinya padahal Ia belum melamar secara resmi kepada maminya.


Mendadak Ikram yang tengah bahagia itu terpikirkan tentang bagaimana Tara bisa hampir menikah dengan lelaki bangkotan tersebut. Ikram menatap Tara, gadis yang sekarang sudah menjadi istrinya itu langsung menundukkan kepala.


"Tara, sekarang ceritakan padaku bagaimana bisa kau hampir saja dinikahi oleh pria itu," ucap Ikram sambil menatap wajah yang masih menunduk itu, ia bisa melihat tangan Tara gemetar. "Jangan takut, bukankah sekarang aku ini suamimu. Jadi kau harus berbagi apapun denganku termasuk masalahmu, jangan dipendam sendiri," imbuh Ikram.


"Bos, harusnya anda tidak menikahi saya. Bagaimana bisa ini terjadi, apa yang akan dikatakan oleh orang tua anda dan bagaimana nanti di kantor?"


Bukannya menjawab pertanyaan Ikram, Tara malah balik bertanya. Hal ini yang sedari tadi sedang ia pikirkan, semoga saja bosnya ini hanya bercanda menikahinya. Tetapi tadi mereka sudah menandatangani buku nikah, karena Ikram memintanya dari petugas KUA tersebut.


Ikram merasa ingin marah tetapi gadis ini baru saja sah menjadi istrinya. Mana Mungkin ia bisa tega memarahi gadis cantik dengan pipi yang selalu merona ini.


Dengan lembut Ikram membelai punggung tangan Tara, "Nengapa memikirkan hal seperti itu? Mengapa aku bertanya kau malah balik bertanya, harusnya jawab dulu pertanyaanku baru kau boleh bertanya padaku. Dan untuk hal itu, kau tidak perlu pikirkan tidak perlu khawatir karena kedua orang tuaku sudah pernah ku beritahu jika aku akan menikahimu. So, jawab pertanyaanku Tara. Mengapa tadi sampai hampir menikah dengan pria itu? Mengapa tidak menungguku? Ada apa sebenarnya, tolong jelaskan!" cecar Ikram, ia sangat penasaran dengan alasan Tara menikah dengan seorang rentenir yang sudah memiliki istri dan sudah tua.


Tara menatap mata Ikram dengan lekat, pria itu menatapnya dengan penuh ketulusan. Tara yakin ucapan Ikram barusan adalah sebuah kejujuran, hanya dirinya saja yang terlalu tidak percaya diri.


Bagaimana tidak percaya diri jika dirinya yang seorang cleaning service justru menjadi istri dari bos. Hal-hal yang biasa hanya Tara jumpai di dalam cerita novel romansa, kini terjadi pada dirinya.


"I-itu karena saya harus membayar hutang kepada nyonya Miranda, bos. Dia mendesak saya untuk segera membayarnya. Saya tidak punya pilihan lain jadi saya meminjam kepada rentenir itu tetapi karena rentenir itu tahu jika penghasilan saya tidak akan mampu untuk melunasinya, karena itu dia memberikan opsi untuk saya agar saya menikah dengannya dan dia memberikan uang untuk membayar hutang-"

__ADS_1


"Dan kau langsung menyetujuinya," potong Ikram, sedikit geram karena gadis ini justru memilih pria tua itu dibandingkan dirinya.


Apa pesona gue udah luntur di mata Tara? Kenapa dia justru milih tawaran dan lamaran dari pria bangkotan itu dibandingkan gue? Sial!


"Maaf bos, tapi hanya dengan cara itu agar kami bisa terlepas dari Nyonya Miranda. Saya tidak mungkin menuruti keinginannya untuk merencanakan hal buruk terhadap Anda. Anda terlalu baik sehingga saya tidak mampu untuk membantu orang-orang yang ingin mencelakai anda. Maafkan saya ya bos, dan terima kasih karena Anda telah menyelamatkan saya dari rentenir itu. Oh ya, apakah pernikahan kita ini hanya pura-pura? Jika benar, syukurlah. Karena saya tidak mampu menjadi istri anda. Lihatlah anda seorang bos dan saya hanya karyawan anda, cepat ceraikan saya bos talak saya sebelum anda menyesal karena memilih saya sebagai istri," ucap Tara kemudian ia menunduk. Sejujurnya Tara pun tidak siap jika diceraikan saat mereka baru saja menikah.


Tante Rosa yang mendengar ucapan anaknya begitu terkejut, ia sendiri bisa melihat bahwa Ikram alias menantunya ini begitu benar-benar memiliki perasaan terhadap Tara. Hanya saja anaknya yang tidak pernah berdekatan dengan pria, mungkin tidak peka dengan sikap yang ditunjukkan oleh Ikram.


Tante Rosa memilih diam sambil menahan rasa perih di dadanya, tidak menyangka jika anaknya rela berkorban untuk dirinya. Tadinya dunia Tante Rosa terasa hancur begitu Tara dilamar dan hendak dinikahi oleh pria bangkotan itu, yang usianya bahkan jauh lebih tua dibandingkan dirinya. Untung saja Ikram datang menyelamatkan Tara, ia tidak tahu harus apa jika nantinya Tara sampai menikah dengan pria itu. Mungkin tante Rosa akan bunuh diri atau mati dengan perlahan menanggung beban perasaan terhadap anaknya yang rela berkorban hanya untuk dirinya.


"Talak?" tanya Ikram dengan penuh penekanan.


Bisa Tara dan maminya lihat wajah tampan itu berubah menjadi dingin. Auranya menggelap, bahkan tatapan matanya terhadap Tara begitu menusuk.


"Lihat gue Tara, memangnya di mata gue terlihat gue sedang main-main sama lu? Bukankah udah berapa kali gue bilang kalau gue mau jadiin lu istri gue Lu lupa atau lu nggak mau jadi istri gue? Bilang Tara! Tapi, sekalipun lu nggak mau gue bakalan paksain lu sampai lu mau jadi istri gue. Dan setelah gue menikahi lu, lu minta gue talak? Jangan mimpi!"


Tara merasa bersalah setelah mendengar ucapan Ikram barusan. Ia hanya takut dan merasa tidak percaya diri saja menjadi istri Ikram dan ini sangat mendadak. Alih-alih tidak ingin merepotkan bosnya dan tidak bisa mencelakai bosnya sendiri juga tidak percaya dengan ucapan Ikram yang ingin menikahinya, justru sekarang semua terjadi begitu saja.


Bosnya yang membayar hutang bahkan dengan jumlah yang lebih besar dan kini ia juga merepotkan bosnya dengan menjadi seorang istri. Tara semakin bingung dengan permainan takdir Tuhan.


"Nak, apa yang dikatakan oleh Nak Ikram itu benar. Jangan sembarangan bermain dengan kata talak atau perpisahan, kalian baru saja menikah. Mungkin ini adalah garis takdir Tuhan untukmu, berbahagialah. Tuhan sudah mengirimkan seorang malaikat pelindung dan penyelamat untukmu. Jangan sia-siakan! Pesan mami, sayangi dan cintailah suamimu ini karena sekarang dia adalah tanggung jawab kamu, begitupun dengan dirimu adalah tanggung jawabnya sekarang. Maki merestui kalian, semoga kalian berbahagia dan Nak Ikram tolong jaga Tara untuk mami ya. Selama ini dia sudah banyak hidup dalam penderitaan, tolong bahagiakan anak mami. Hanya itu keinginan mami dan jika kau menyakitinya atau sudah tidak mencintainya, tolong jangan bilang padanya jika kau sudah tidak menginginkan tapi katakanlah padaku, biar aku yang akan merawat kembali anakku walaupun yang sebenarnya adalah dia yang selalu merawatku," ucap Tante Rosa panjang lebar dengan bibir yang bergetar.

__ADS_1


Mendengar ucapan maminya tersebut, Tara langsung memeluk sang mami. Ucapan tersebut benar-benar menyentuh hati Tara, ia sadar saat ini ia sudah memiliki tanggung jawab baru yaitu mengurus suaminya. Tetapi apakah ia mampu meninggalkan maminya sendiri? Tentu saja Tara tidak mampu. Ia belum terpikirkan untuk menikah, tetapi hari ini justru ia sudah menjadi istri orang. Istri dari bosnya, Ikram Ben Elard.


"Mami kenapa berkata seperti itu? Tara nggak akan pergi dari mami, dan mami akan terus menjadi mami Tara. Aku sayang sama mami dan aku nggak akan pernah ninggalin mami," isak Tara dalam pelukan maminya.


Ikram yang melihat ke suasana haru itu tidak ingin ikut mengacaukan. Ia paham, ia jyga terharu melihat bagaimana interaksi kedua ibu dan anak ini. Ia teringat ibunya ketika dulu masih sering disakiti oleh ayahnya, hanya dirinyalah yang menjadi pelipur lara Hati ibunya.


Ikram tidak tega memisahkan Tara dengan maminya, makanya ia akan tetap meminta cara untuk tinggal di sini sebelum mereka mendapatkan rumah baru untuk mereka tinggali. Ikram akan membeli rumah untuk Tara, dengan persetujuan Tara dan sesuai dengan keinginan Tara.


Gue nggak salah pilih, seperti dia menyayangi maminya, seperti itu pula gue yakin dia bakalan menyayangi ibuku. Oh ya Tara, selamat datang di hidup seorang Ikram Ben Elard. Selamat datang di dunia penuh kebahagiaan dan selamat datang di dunia penuh kejutan gue. Tapi sorry to say, gue orangnya protektif posesif dan gue paling gak suka milik gue disentuh orang lain. Dan lu, bersiaplah menerima seluruh cinta dari gue. Seumur hidup gue, seumur hidup lu. Tara I love you.


"Tante jangan khawatir, saya akan selalu membahagiakan Tara. Saya pastikan itu dan saya juga tidak akan membuat kalian terpisah. Tara akan tetap bersama Tante sampai saya dan Tara menemukan rumah tinggal baru dan Tante bisa tinggal bersama kami disana," ucap Ikram menengahi sesi sedih-sedihan ibu dan anak. Sejujurnya, ia cemburu! Cemburu karena Tara memeluk maminya sedangkan ia sebagai suami belum mendapatkan pelukan pertama setelah keduanya dinyatakan halal.


Tante Rosa tersenyum, kemudian ia mengambil tangan Tara lalu ia mengambil tangan Ikram untuk ia satukan. "Karena kalian sudah resmi menjadi suami istri, sekarang berbahagialah. Pergilah bersama suamimu ini Tara, senangkan dia dan jangan sampai mengbuatnya marah dan jangan bikin malu. Lihatlah, wajah suamimu benar-benar mengatakan segalanya," ucap Tante Rosa yang sama sekali tidak dimengerti oleh Tara sedangkan Ikram justru menyeringai.


"Ck! Mertua emang pengertian. Yuk Tara, lu sekarang ikut gue. Sudah hampir malam dan sudah mau hujan juga," ajak Ikram.


Tara mengernyit, "Ikut? Kemana? Bukannya bos bilang tadi saya tetap tinggal disini?" tanya Tara heran.


Hahh … nasib dapat istri sepolos dia. Harus gitu gue ajarin dia apa yang akan dilakukan pengantin baru? Mami mertua aja peka, masa dia enggak!


"Kebetulan malam ini gue mau ke bulan. Rencananya mau ngajak lu juga. Kalau kita disini nanti suara berisik kendaraan menuju ke bulan bakalan ganggu istirahat mami. Kasihan mami, nanti dia nggak bisa tidur," jawab Ikram asal yang semakin membuat Tara kebingungan sedangkan wajah Tante Rosa memerah menahan tawa dan juga malu.

__ADS_1


"Hah? Ke bulan? Emang bisa? Kalau begitu saya ikut bos. Saya tidak pernah ke bulan," ucap Tara percaya tidak percaya tapi ia benar-benar ingin ikut ke bulan.


Ikram menyeringai, "Ya sudah ayo!"


__ADS_2