GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
176


__ADS_3

Frey memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya setelah mendengar ucapan Aluna tersebut. Ia kemudian berbalik badan dan menyeka air mata yang sempat menetes lalu ia berjalan pergi meninggalkan Aluna yang saat ini sedang menangis sesenggukan.


Maafin gue, ada hal yang nggak bisa lu tahu untuk saat ini. Sorry Aluna, gue juga cinta sama lu masih ada hal yang harus gue pastikan. Papi gue .... Sudahlah.


Seluruh keluarga Prayoga minus Aluna pun mengantarkan Frey ke teras dimana Ikram sudah datang menjemputnya. Alvaro memeluk Frey bergantian dengan Nurul dan Naufal. Nurul begitu sedih melepas Frey, anak lelaki yang ia besarkan belasan tahun dengan penuh kasih sayang dan tanpa ia beda-bedakan.


"Bunda, jangan menangis seperti ini. Frey jadi tidak tega meninggalkanmu. Bagaimanapun aku sangat menyayangimu, Bun. Bunda itu separuh hidupku," ucap Frey merasa berat hati, ia sangat menyayangi wanita yang sudah membesarkan dirinya dengan penuh kasih sayang.


Bagi Frey, ia memang lahir dari rahim Miranda akan tetapi Nurul adalah ibunya. Nurul yang selalu ada sejak ia kecil, merawatnya saat sakit. Menjaganya saat ketakutan dan memberikan seluruh yang ia butuhkan dan inginkan.


"Hei tutup mulutmu! Aina itu separuh hidupku, bukan hidupmu," sungut Alvaro merasa kesal karena ada pria lain yang mengucapkan sayang dan menunjukkan cinta pada istrinya walaupun ia sadar jika Frey menyayangi Nurul seperti seorang anak pada orang tuanya.


Nurul menatap horor pada Alvaro, bahkan usia mereka yang mulai menua pun Alvaro masih saja tetap posesif padanya. Kadang hal itu menyenangkan namun kadang juga menyebalkan.


Ikram pun memutar bola matanya jengah melihat sikap Alvaro padahal ia sendiri tak kalah posesifnya terhadap Tara.


"Ayo Frey, nanti akan semakin larut dan besok juga kau masih harus bersekolah. Haiihh ... harusnya kau pindah nanti diakhir pekan saja supaya bisa lebih santai. Tapi ya sudah, ayo kita berangkat sekarang," celoteh Ikram dan ia langsung berjalan masuk ke dalam mobil.


Frey mencium punggung tangan Alvaro dan Nurul dengan takzim. Ia dan Naufal pun saling berpelukan. Frey menggeleng sambil melebarkan senyumannya ketika melihat wajah sedih Nurul. Sekali lagi ia memeluk wanita itu.


"Bunda, jaga Aluna dengan baik untukku. Dia belum makan malam dan tolong pastikan dia makan," bisik Frey pada Nurul.

__ADS_1


Nurul mengangguk, "Kau hati-hati dan sering-seringlah sayang ke rumah ini. Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu dan ingatlah ini juga akan tetap menjadi rumahmu," ucap Nurul dan Frey mengangguk mengiyakan.


Alvaro berdecak, ia sangat tidak suka jika ada yang memeluk sang istri dengan begitu lama apalagi itu seorang pria.


Frey kemudian menyusul Ikram masuk ke dalam mobil, ia melambaikan tangannya dengan kaca mobil yang terbuka saat mobil itu mulai bergerak perlahan meninggalkan rumah keluarga Prayoga.


Alvaro merangkul Nurul dengan posesif, Naufal sendiri sudah masuk ke dalam rumah lebih dulu dan menuju ke kamarnya. Begitu sampai di depan tangga, dengan posesifnya Alvaro menggendong Nurul ala bridal style hingga Nurul memekik kaget.


"Varo!" pekik Nurul.


"Iya sayang, malam ini kau milikku," ucapnya kemudian ia mengedipkan sebelah matanya seraya bibirnya tersenyum menggoda.


"Ck! Bukankah setiap malam kau selalu mengatakan ini. Sadarlah, anak kita bahkan sudah besar dan kau masih saja seperti anak muda yang setiap malam selalu mengambil jatah. Tidak bosan apa?" gerutu Nurul.


Sementara itu di dalam kamar Aluna ...


Naufal sedang menatap datar sang kakak yang terus mengabaikan dirinya yang sedang membujuk untuk kakaknya makan malam. Ia adalah orang yang cuek dan sangat irit bicara, namun sekalinya ia bicara kadang menyenangkan bukan main dan kadang pula bukan main nyelekitnya ketika ia mengeluarkan kata-kata. Akan tetapi dibalik sikap dinginnya itu, ia adalah orang yang paling menyayangi sang kakak.


"Kak Luna, kakak itu harus makan agar tidak sakit nanti. Kalau kau jatuh sakit, semua akan dibuat repot olehmu. Jika kau tidak mau makan tidak masalah, tapi jangan membuat banyak drama. Cobalah jadi perempuan yang kuat," ucap Naufal kesal.


Mata Aluna menatap tajam pada adik tampannya itu. Wajah mereka terlihat cukup mirip namun sayang sekali Naufal yang masih duduk di bangku SMP itu memiliki postur tubuh yang jauh lebih tinggi darinya.

__ADS_1


Hidung Aluna kembang kempis, ucapan Naufal sangat mengganggu indera pendengarannya.


"Naufal! Bisa tidak sih kalau bicara itu yang manis-manis?" sungut Aluna.


"Tidak bisa kak," jawabnya enteng.


Aluna memegang dadanya, rasanya adiknya itu baru saja menambah remasan air jeruk nipis pada luka menganga di hatinya.


"Kak, bagaimana kalau kita keluar saja. Aku akan menghiburmu, kita jalan-jalan sebentar naik motorku dan sekalian kakak makan juga. Kita ke kafe milik Ziya gimana?" usul Naufal, ia sedang mengajak sang kakak untuk healing akan tetapi Aluna seolah merasa tidak yakin sebab wajah adiknya itu terlihat sangat datar.


Naufal kemudian melanjutkan ucapannya dan mengancam sang kakak jika tidak segera bersiap maka ia akan mengurungkan niatnya. Alhasil Aluna lansung mengangguk, ia memang butuh menyegarkan otaknya dan menghibur dirinya saat ini setelah apa yang sudah dilakukan Frey terhadapnya.


Kakak beradik tersebut sudah siap, saat ini mereka sedang berdiri di depan pintu kamar orang tua mereka. Aluna dan Naufal saling melirik, mereka saling menyuruh untuk mengetuk pintu kamar tersebut.


Bukan rahasia lagi bagi mereka jika pintu kamar itu tertutup rapat di malam hari, maka sudah pasti bunda dan papi mereka sedang berlayar ke pulau cinta.


Setelah beberapa saat saling melempar tatapan, akhirnya Aluna memutuskan untuk dirinya saja yang mengetuk pintu.


"Papi ... bunda ... Kalau kalian lagi proses pembuatan adik Luna dan Naufal tolong berhenti sebentar. Kami cuma mau minta izin untuk keluar sebentar, nggak bakalan lama. Oke, sekian dan terima kasih pengumuman dari Luna dan Naufal, atas perhatiannya diucapkan terima kasih dan silahkan lanjutkan lagi urusan kalian!"


Alvaro yang sedang memacu kecepatannya di atas tubuh sang istri langsung berdecak kesal mendengar suara lantang Aluna. Benar-benar seperti dirinya. Kadang ia merasa kesal saat tahu ternyata sikapnya itu membuat orang kesal juga kadang-kadang, terbukti dari ia yang kadang kesal dengan sikap Aluna yang sama persis seperti dirinya.

__ADS_1


"Yanghh ... itu anak-anak mau keluar," ucap Nurul terbata-bata karena Alvaro hanya berhenti sejenak kemudian ia kembali melanjutkan kesenangannya.


"Nggak apa-apa, ada pengawal yang pasti selalu menjaga mereka. Sebaiknya kau fokus saja denganku. Uhhh ... Aina, lu selalu bikin gue berada di atas awan. Lu selalu nikmat, uhh I love you Aina."


__ADS_2