GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
136


__ADS_3

"Oh, saya pikir kau akan langsung berkata iya," ucap Deen yang melihat Alvaro sedang terbengang dengan mulut terbuka lebar menatapnya.


Alvaro langsung tersadar, ia buru-buru menguasai dirinya. "Oh tunggu sebentar, ada yang harus aku urus," ucap Alvaro kemudian ia mengambil ponselnya dari dalam saku jasnya.


Alvaro kemudian menghubungi seseorang. Tingkahnya ini tentu mengundang rasa penasaran Deen dan Danish.


"Ya, halo Billy. Malam ini kau yang berangkat ke Amsterdam untuk mewakili saya. Saya tidak bisa kemana-mana untuk satu minggu. Jangan bertanya alasan dan jangan kepo!" ucap Alvaro kemudian mematikan sambungan telepon tersebut.


Deen dan Danish menganga mendengar penuturan Alvaro pada orang yang ia utus untuk mewakilinya dalam urusan bisnis. Tidak bisakah ia meminta tolong dengan baik dan sedikit memberikan penjelasan, pikir Deen.


Alvaro kembali sibuk mengutak-atik ponselnya kemudian ia segera menempelkan ponsel tersebut di telinganya.


"Halo Mi, Varo nggak mau jadi anak durhaka kayak Ikram jadi kalau mami dan papi mau lihat Alvaro nikah dan mau saksiin langsung maka sekarang datang ke rumah papah Deen Emrick. Sekarang!"


"Halo Varo, kamu bicara apa nak? Halo ...."


Yani menatap ponselnya yang sudah tidak lagi menampilkan panggilan terhubung. Alvaro tidak membiarkannya bicara dan kini ia diliputi banyak pertanyaan.


"Varo tadi ngomong apa sih? Mau nikah? Dia mau nikah? Kok bisa?" gumam Yani, dan untuk sepersekian detik ia langsung berlari ke arah ruang kerja suaminya.


"Papiii!! Gawat! Gawat Pi, Varo Pi. Varo mau jadi anak durhaka katanya," ucap Yani yang langsung menyentak lamunan Genta yang sedang mengenang sahabatnya.


Tidak paham dengan maksud dari ucapan Yani, Genta mengajak istrinya itu untuk duduk dan mengatur napas.


"Mi, ngomong pelan-pelan aja. Emang kenapa lagi anak gendeng itu? Kenapa dia mau jadi durhaka?" tanya Genta dengan lembut. "Bukannya dia emang anak durhaka dari dulu ya?" imbuh Genta.


Yani langsung menggeplak kepala Genta. Ia sangat kesal dengan ucapan suaminya karena semua anaknya tidak ia biarkan dikatai seperti itu oleh siapapun kecuali dirinya. Genta langsung meringis dan tidak lagi berani membicarakan yang buruk tentang anaknya.


Padahal dia tahu sekali bagaimana reputasi Alvaro, masih saja selalu dibela dan tidak mau diakui kalau anaknya itu memang bajingan. Oh sial! Sayangnya anak itu adalah anakku juga!


"Tadi katanya dia mau nikah dan dia minta kita datang ke rumah Deen sekarang Pi," ucap Yani setelah ingat ucapan tergesa-gesa Alvaro tadi.


Genta tentu saja sangat kaget mendengar penuturan Yani tersebut. Ia langsung berdiri dengan tangan terkepal.

__ADS_1


"Anak itu memang selalu membuat masalah. Kali ini dia berbuat apa lagi sih sampai-sampai Deen memintanya untuk menikahi Nurul. Apa dia ketahuan sedang bercocok tanam dengan Nurul? Benar-benar brengsek! Lihat saja, aku akan kebiri dia setelah kita sampai disana," umpat Genta, ia yakin sekali jika Alvaro pasti membuat ulah karena tidak mungkin Deen akan menikahkan Nurul sedangkan mereka sudah memutuskan untuk menikahkan Nurul dan Alvaro setelah pernikahan Danish.


Yani memijat pelipisnya, ia sependapat dengan Genta. Namun bukan waktunya Yani untuk memikirkan tingkah Alvaro, ia harus menyiapkan beberapa seserahan untuk calon besan dan menantunya. Setidaknya ia tetap memberikan yang tebaik untuk calon besan dan menantunya walau dalam keadaan terdesak.


.


.


Danish dan Deen masih menatap Alvaro yang sibuk dengan ponselnya. Kali ini ia kembali menelepon untuk yang ketiga kalinya.


"Halo kak Alee. Jangan sibuk dulu. Sekarang Kak Alee tolong cariin gue satu set perhiasan paling bagus dan paling mahal di kota ini. Gue butuh sekarang dan jangan lupa beli juga beberapa model lingerie yang paling bagus. Gue nggak mau lu nanya alasannya apa tetapi gue butuh sekarang dan gue tunggu di kediaman Deen Emrick. Sekarang kak!"


Kembali Deen dan Danish dibuat terbengang dengan Alvaro yang menelepon lalu mematikannya tanpa mendengar tanggapan dari sahutan dari orang yang ia hubungi.


Alvaro bernapas lega, ia sudah berhasil mengurus masalahnya. Ia kemudian menatap Deen dengan senyuman yang begitu menawan dan terlihat bahwa ia sangat sangat senang saat ini.


"Papa mertua, kenapa harus ditanya seperti itu sih. Aku tentu saja siap kapanpun. Wah, kenapa aku merasa hari ini begitu indah ya. Apa kalian melihat di rumah ini sedang dilanda hujan kelopak bunga mawar. Oh kenapa rasanya bibirku ini tidak berhenti tersenyum. Tolong aku!!"


Danish yang berada di samping Alvaro langsung menggeplak kepala calon adik iparnya itu. Ia berharap sehari saja Alvaro bersikap normal. Apalagi ia tadi mendengar satu kata keramat yang disebut Alvaro saat menelepon tadi.


"Apa maksudmu dengan memesan lingerie?" tanya Danish dengan penuh intimidasi.


Alvaro menatap Danish sambil tersenyum penuh arti. "Apakah kau begitu polos atau pura-pura bodoh? Kau tentu saja tahu guna lingerie itu apa dan kau tentu saja tahu apa yang dilakukan pengantin setelah menikah. Apa harus kuajarkan dulu, begitu saja tidak tahu. Payah!"


Mata Danish membulat sempurna, ia merasa tertohok dengan ucapan Alvaro sedangkan Deen menyembunyikan tawanya. Di mata Deen, tingkah Danish dan Alvaro itu sangat manis.


"Pa, apa papa yakin menikahkan Nurul dengan pria gila ini? Aku rasa jangan deh Pa. Lihat saja, di depan kita dia bahkan sudah merencanakan akan berbuat itu pada adikku. Dia pria cabul Pa, aku tidak mau adikku menikah dengannya," protes Danish tidak terima mendengar ucapan Alvaro yang seakan menjatuhkannya.


Deen tersenyum, ia kemudian menatap Alvaro dan Danish bergantian. "Aku malah berpikir akan lebih baik menikahkan kalian berdua saja. Kalian terlihat serasi dan sangat cocok jadi pasangan," ucap Deen sambil menahan tawa.


Sontak Alvaro dan Danish saling menatap kemudian keduanya mengambil jarak.


"Oh iya papah mertua, kenapa mendadak menikahkan aku dengan Aina? Bukannya aku nggak senang ya, ini malah senang banget lho. Tapi aku hanya bingung aja, nggak mungkin mendadak gini. Pasti ada sesuatu," tanya Alvaro yang kini memasang mode serius.

__ADS_1


Jelas Alvaro penasaran karena ia yang selalu ditolak dan diminta menunggu beberapa bulan lagi mendadak diminta untuk menikah. Senang, sudah pasti. Tapi tentu saja ia tetap merasa heran.


Deen menghela napas, ia kemudian menatap Danish dan putranya itu menganggukkan kepalanya. Deen pun mulai bercerita ...


Beberapa jam yang lalu ...


Di ruangan Deen Emrick ...


Danish menghampiri papanya yang terlibat sibuk memeriksa berkas. Ia duduk dan menatap papanya dengan intens. Deen menghentikan aktivitasnya. Ia tahu Danish pasti ada hal yang ingin dibicarakan.


"Ada apa?" tanya Deen.


Danish pertama-tama melirik Deen kemudian ia menghela napas. "Pa, kata Nurul beberapa hari ini ada yang mengikutinya. Aku khawatir dan sebenarnya aku merasa tidak baik dengan hal ini. Apakah mungkin Nurul diikuti oleh oleh orang suruhan lawan kita di persidangan yang Nurul kalahkan Minggu lalu? Aku khawatir Pa."


Deen langsung melepas kacamatanya lalu menatap Danish dengan lekat. Ia meminta Danish menjelaskan lebih detail tentang permasalahan ini.


Deen mengepalkan tangannya saat tahu jika anaknya itu diikuti oleh seseorang. Ia yang pernah kehilangan Nurul langsung bereaksi marah. Ia pun meminta Danish untuk mengirim salah satu orang kepercayaan mereka yang bekerja bagai pengawal bayangan untuk mengikuti kemanapun Nurul pergi.


Sampai kejadian dimana Nurul dipermalukan oleh Nyonya Carla Farezta. Pengawal bayangan itu merekam lalu mengirim videonya pada Deen. Pria paruh baya yang sangat cerdas itu tidak terima. Mommy Axelle sudah membuat putrinya malu sedangkan Nurul sendiri tidak mencintai Axelle.


Di sisi lain, pengawal bayangan itu pun melihat ada pengawal lainnya yang mengikuti Nurul. Ia menghampiri dan mengetahui bahwa mereka adalah suruhan Alvaro untuk melindungi Nurul.


Deen merasa senang, rupanya Alvaro bertindak lebih cepat untuk melindungi kekasihnya.


Karena tidak ingin reputasi Nurul semakin buruk oleh ulah nyonya Carla Farezta, ia harus membuktikan bahwa anaknya itu memiliki pria yang hebat tak jauh berbeda dengan Axelle. Nurul pun butuh pria yang bisa melindunginya sehingga ia dan Danish sepakat untuk menikahkan Nurul dan Alvaro secepatnya.


Danish merasa geram karena keputusannya mendekatkan Nurul dan Axelle berbuah pahit dan membuat Nurul merasa malu. Apalagi sikap Nyonya Carla terhadap Nurul tidak bisa diterima oleh Danish. Ia ingin menunjukkan pada keluarga Farezta jika adiknya itu bukan wanita murahan seperti yang ia hujat pada Nurul.


Saat ini ...


Alvaro tersenyum sinis mendengar cerita Deen, ia benar-benar tidak suka dengan nyonya Carla Farezta. Ingin rasanya ia membalas perlakuannya terhadap Nurul tetapi kali ini bukan saatnya. Ada hal yang lebih penting untuk ia lakukan.


"Nah, Alvaro tunggu apa lagi. Cepat susul Nurul dan lamar dia. Kalau dia berkata iya maka malam ini kalian akad nikah!"

__ADS_1


__ADS_2