GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Pamer Kemesraan


__ADS_3

Suasana tegang menyelimuti gubuk tersebut. Ikram menatap geram pada Alvaro sedangkan Nurul masih bingung dengan apa yang terjadi.


"Lu lupa siapa gue sampai lu berani main belakang dengan sesuatu yang menjadi milik gue? Udah bosan hidup lu? Atau lu mau nyokap lu yang mengalami depresi itu gue masukin ke rumah sakit jiwa dan bokap lu yang suka main perempuan itu gue bikin bangkrut? Lu tinggal milih," ucap Alvaro dengan santainya tanpa peduli Ikram menatap benci padanya.


"Dasar brengsek lu Ro! Lepasin gue dan biarin Nurul pergi dari sini. Kalau lu marah ke gue, cukup gue aja. Dia nggak usah. Bukannya dia sudah menjawab iya, lu udah menang taruhan sekarang," teriak Ikram masih berontak untuk melepaskan diri.


"Bahkan taruhan itu udah nggak ada artinya lagi buat gue. Lu 'kan udah tahu, entah dia nerima atau nolak gue, maka tempat dia itu ada disini dan akan berada di bawah kungkungan gue. Masa lu lupa?" ejek Alvaro yang membuat Nurul semakin ketakutan sedangkan Ikram mengepalkan kedua tangannya.


"Alvaro! Gue nggak pernah buat salah sama lu. Kenapa lu ngelakuin ini ke gue? Lu manusia yang paling gue benci di dunia ini," teriak Nurul yang langsung membuat Alvaro mengalihkan pandangan padanya.


"Benci? Gue nggak peduli. Setelah ini lu mau benci ke gue, bodoamat. Emang lu siapa? Bukan siapa-siapa 'kan yang harus bikin gue takut untuk dibenci sama lu. Bukannya lu udah tahu kalau gue ini nggak ada rasa apapun ke elu selain hanya ingin jadiin lu mainan gue doang. Lu mikir nggak sih!" hardik Alvaro yang langsung membuat Nurul mengatupkan bibirnya.


"Dan untuk lu pengkhianat, setelah ini lu bakalan dapat giliran. Karena lu itu sahabat gue sejak SD, maka lu nggak bakalan dapat pembalasan yang menyakitkan kok, gue masih punya hati ke elu. Lu cukup nontonin kita beradegan panas, gue harap sampai pertunjukan panas gue dan Nurul selesai lu nggak berkedip sekalipun," ucap Alvaro dengan penuh penekanan.


"Bajingan lu Alvaro! Lu terserah mau ngelakuin apa ke gue tapi lu lepasin Nurul. Mau lu bunuh gue sekarang itu nggak masalah asal lu lepasin Nurul," pinta Ikram.


"Brengsek! Lu mau nunjukin betapa cintanya lu ke Nurul? Lu mau pamer kemesraan di depan gue? Sialan lu! Jangan pernah mimpi buat dapatin Nurul sebelum gue mendapatkan dia seutuhnya. Dia itu milik gue!" bentak Alvaro.


Nurul hanya bisa menangis dalam diam. Ia tidak menyangka jika Ikram akan sangat membelanya. Biarlah ia tidak dapat ditolong oleh pria ini asalkan Ikram tetap baik-baik saja. Ia juga menyesali keputusan Ikram yang membantunya dan pada akhirnya membuat pria itu merasakan akibatnya.


"Lu mau lakuin apapun ke gue? Silahkan! Tapi lu lepasin Ikram karena dia nggak salah," ucap Nurul mengambil keputusan. Biarlah ia menanggung semua ini asal jangan orang lain.


Alvaro menatapnya tajam. "Kalian jangan pamer kemesraan di depan gue brengsek! Kenapa lu belain dia? Lu juga cinta sama dia seperti dia yang udah jatuh cinta ke elu sejak lama?" tanya Alvaro yang membuat Nurul serta Ikram kaget.


Jika Ikram terkejut karena Alvaro mengetahui rahasianya, maka Nurul lebih terkejut karena selama ini ada yang tulus mencintainya walaupun semua terlambat.


"Alvaro udah cukup. Gue mau pulang dan semua udah nggak lucu. Lu nggak suka ke gue, 'kan? Lu cuma mau jadiin gue bahan taruhan, jadi sekarang lu lepasin gue. Gue mau pulang dan lu udah dapat yang lu mau. Tolong jangan bikin hidup gue makin sulit. Lu orang kaya dan punya segalanya, apa lu masih tega merusak sesuatu yang bahkan tidak memiliki kekuatan apapun? Kalau iya, lu memang manusia keji," ucap Nurul yang berusaha menyentuh relung hati Alvaro.

__ADS_1


Alvaro terdiam. Ia menatap kedua mata Nurul yang terus dibasahi oleh air mata.


Sial! Natap matanya bikin gue jadi lemah gini. Nggak, ini nggak boleh terjadi.


"Kalau gue manusia keji emang kenapa? Udah ya, gue udah capek ngobrol bareng kalian. Sekarang gue mau ngobrol lewat bahasa tubuh sama lu, Aina," ucap Alvaro yang mulai melangkah mendekati Nurul.


Nurul refleks memundurkan langkahnya. Ia mulai gemetar ketakutan.


"Alavro lu mau apa?" tanya Nurul ketakutan.


"Gue mau apa? Tentu saja mau bersenang-senang. Lu jangan pikir bisa lari dari sini karena diluar sana ada banyak penjaga. So, mari kita menikmati sore ini baby."


Nurul terdiam kaku, itu menjadi kesempatan Alvaro untuk langsung mendekapnya.


"Gue bakalan bikin lu jadi wanita seutuhnya. Tenang aja, gue bakalan main lembut dan lu siap-siap aja merasakan kenikmatan dari gue," ucap Alvaro.


Alvaro tidak mempedulikan getaran aneh di jantungnya. Ia malah melihat Nurul yang tetap diam kaku seolah manusia tanpa jiwa. Ia tidak suka dengan getaran aneh di jantungnya dan ia tidak suka juga jika Nurul diam seperti ini.


"Lu kenapa diam aja? Apa lu udah pasrah aja? Kalau gini caranya gue langsung mulai."


Namun Nurul sama sekali tidak merespon. Hati dan pikirannya sudah membeku. Mau membujuk Alvaro pun itu sudah tidak bisa ia lakukan. Mau kabur? Diluar bahkan ia tidak tahu ada berapa banyak orang yang siap menangkapnya kembali. Ia mengingat Tuhan tapi sepertinya ini memang sudah nasibnya.


Melihat Nurul yang tetap diam membuat Alvaro geram. Ia menampar Nurul namun itu sama sekali tidak membuahkan hasil. Nurul masih diam.


"Brengsek! Lu mau main-main sama gue? Oke, gue bakal tunjukin ke elu permainan yang seharusnya," ucap Alvaro geram.


Tangan Alvaro mulai mengusap wajah Nurul, ia tersenyum seringai kala melihat mata Nurul yang terlihat begitu ketakutan namun tetap memilih diam. Alvaro mulai menciumi pipi Nurul dan turun hingga ke leher jenjang Nurul. Mati-matian Nurul berusaha untuk tidak mendesah karena rasa aneh yang baru pertama kali ia rasakan.

__ADS_1


Alvaro tersenyum kecut kala melihat Nurul yang menggigit bibirnya. Dengan paksa Alvaro menciumi bibir Nurul dan memaska menerobos masuk ke dalamnya. Nurul yang tidak berpengalaman dalam hal ini tidak tahu harus apa dan bisanya hanya diam.


"Alvaro stop!" teriak Ikram.


Alvaro menulikan telinganya.


"Bibir lu manis banget. Gue suka," bisik Alvaro yang membuat Nurul merinding.


Alvaro terus menggulum bibir Nurul dengan kedua tangannya yang sedang mengeksplor seluruh tubuh Nurul hingga berhenti tepat di kedua gundukan kenyal milik Nurul.


Nurul merasakan desiran aneh namun ia tidak mau sampai terbawa suasana. Ia bisa melihat Ikram tengah menangis di tempat ia duduk sedangkan ia sudah tersudut di dinding dengan Alvaro yang mengungkungnya.


Setelah ini, gue bahkan ragu Ikram akan mau sama gue.


Dengan menyentuh tubuh Nurul yang masih terbungkus lengkap sudah membuat Alvaro tegang. Sebisa mungkin ia menahan hasratnya. Mendadak ia berubah pikiran.


Alvaro menepuk tangannya. Pintu gubuk tersebut terbuka. Nurul merasa sedikit lega, ia berpikir Alvaro akan melepaskannya.


"Cepat kalian bawa dan antar pria itu keluar. Jangan sampai dia mengganggu waktu spesialku," ucap Alvaro dingin.


Matilah sudah aku.


Ikram meronta meminta untuk di lepaskan namun Alvaro menulikan telinganya.


"Lu bakalan nyesal udah ngelakuin ini. Gue yakin lu pasti udah jatuh cinta sama Nurul. Gue pastiin lu bakalan nyesal," teriak Ikram yang kini sudah dipaksa keluar.


Pintu kembali tertutup dan Nurul semakin gemetar. Air matanya kembali menetes. Sedangkan Alvaro kini tersenyum seringai.

__ADS_1


"Sekarang tinggal kita berdua. Gue nggak suka apa yang jadi milik gue dinikmati oleh orang lain meskipun itu cuma dilihat doang. So ... mari kita mulai bersenang-senang."


__ADS_2