GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
190


__ADS_3

Leon mendadak kehilangan keseimbangannya begitu mendengar ucapan Frey barusan. Ia belum bisa menerima dan mencerna dengan baik ucapan Frey tersebut bahkan hingga Frey sudah berlalu meninggalkannya dan menjemput Aluna di kelasnya pun Leon masih tetap diam saja. Barulah ketika Aluna dan Frey lewat di hadapannya Leon kembali dari lamunannya.


Aluna menanyakan kepada Frey tentang apa yang terjadi pada Leon sedangkan Frey hanya mengangkat kedua bahunya isyarat bahwa ia tidak tahu sedangkan kenyataannya ia yang sudah memberikan syok terapi pada Leon.


Banyak yang manatap keakraban Aluna dan Frey saat ini, padahal biasanya dua bersaudara itu terlihat saling bertengkar dan cuek satu sama lain. Sangat jarang ditemukan keduanya bercanda atau mengobrol bersama di sekolah. Tapi siang ini, keduanya pulang bersama dan saling bercerita.


Beberapa orang ada yang merasa senang karena secara tidak langsung bisa menikmati senyuman Frey yang sangat manis itu, benar-benar pemandangan yang sangat langkah sedangkan untuk Aluna, satu sekolah juga tahu jika siswi cantik itu sangat ramah dan murah senyum.


Saat hendak masuk ke dalam mobil, Leon mendadak menarik tangan Aluna yang sedang membuka pintu mobil. Aluna sampai terkejut begitupun dengan Frey yang mendadak mengubah wajahnya menjadi begitu datar.


"Leon, lu apa-apaan sih?" sentak Aluna dan Leon langsung melepaskan tangannya.


"Maaf Aluna, gue hanya mau nanya keadaan lu dan tolong jawab jujur ke gue, lu sama Frey itu saudara kembar atau pasangan kekasih sih? Jawab gue Aluna!" pinta Leon yang sudah sangat penasaran. Bukan, dia bukan penasaran karena Keenan akan tetapi penasaran saja mengapa tadi ia merasa gelisah dan sesak saat Frey menyatakan jika ia dan Aluna adalah sepasang kekasih.


"Kita nggak sedekat itu sampai gue harus menjawab pertanyaan lu," ucap Aluna kemudian tanpa mempedulikan Leon, ia segera masuk ke dalam mobil dan Frey hanya memberikan tatapan datar pada Leon yang saat ini menatapnya sengit.


Apakah Frey peduli, tentu saja sangat peduli. Ia tidak mau mendapat saingan dan rintangan lagi untuk hubungannya dengan Aluna.


Leon mengepalkan tangannya saat mobil Frey sudah melintas melewatinya. Ia seolah orang bodoh karena sibuk bertanya-tanya dalam hatinya dan jawaban itu tidak bisa ia dapatkan.


"Sepertinya rencana itu harus segera gue realisasikan. Semua akan terjawab dan misi gue pasti bakalan selesai dengan cepat," gumam Leon, ia kemudian menuju ke arah motornya dan berniat untuk mengikuti Aluna dan Frey hingga ke rumah Prayoga.


Namun Leon salah perhitungan, bahkan sampai di kompleks perumahan ia sama sekali tidak menemukan mobil Frey. Tidak ingin frustrasi sendiri, Leon akhirnya berbalik arah dan pulang ke rumahnya sendiri.


Mobil Frey berhenti di depan butik milik nenek Yani yang kini dikelola oleh Nurul sebab mertuanya itu sudah tidak bisa lagi banyak bekerja. Aluna mengernyit, ia bingung mengapa Frey mengajaknya ke butik. Akan tetapi ia langsung berpikir positif karena di tempat ini ada keluarganya dan Frey tidak mungkin berniat jahat padanya.


"Frey, kenapa kita ke butik? Kenapa nggak nganterin gue pulang dan lu bisa lanjut kerja?" tanya Aluna.


Frey hanya tersenyum, "Bunda dan nenek meminta kita untuk datang," jawab Frey singkat.


Aluna membulatkan mulutnya membentuk huruf O dan keduanya pun turun dari mobil dan berjalan masuk ke butik dengan disambut oleh karyawan yang sudah mengenal mereka.


Aluna dan Frey langsung di bawa ke ruangan pemilik butik dan disana mereka bertemu dengan Nurul dan nenek Yani. Aluna dan Frey bergantian mencium punggung tangan bunda dan neneknya lalu keduanya diminta untuk duduk sedangkan Nurul meminta salah satu karyawannya untuk mengambil barang yang tadi sudah ia informasikan.


"Ada apa sih Bun?" tanya Aluna heran.

__ADS_1


Nurul mengernyit, "Luna nggak tahu?" tanya Nurul balik.


Aluna menggeleng, ia kemudian menatap Frey yang terlihat biasa saja seolah cowok itu tahu tentang apa yang terjadi di dalam ruangan ini.


"Frey, kamu atau bunda yang bakalan ngomong?" tanya Nurul sambil menatap lekat ke arah Frey hingga cowok tampan itu terkekeh karena Nurul terlihat begitu lucu saat mencoba mengintimidasinya.


Darah seorang pengacara dan profesi yang sudah lama ia tinggalkan itu masih melekat kuat di diri Nurul.


"Biar Frey yang ngomong Bun," sahutnya.


Frey kemudian meraih tangan Aluna dan menatapnya, Aluna sendiri semakin dibuat tenggelam dalam kebingungannya.


"Na, lu mau nggak nikah sama gue?" tanya Frey bagai syok terapi untuk Aluna.


Gadis cantik itu bahkan membuka mulutnya begitu lebar saking terkejutnya dengan pertanyaan Frey. Nenek Yani dan bunda Nurul tertawa lucu melihat ekspresi Aluna.


"Lu lagi ngelamar gue?" seloroh Aluna. Jelas saja ia tidak percaya.


"Jawab aja kenapa sih," gerutu Frey.


"Hehe," Aluna terkekeh pelan, ia yang bingung pun langsung menganggukkan kepalanya daripada bermasalah dengan Frey. Mereka baru memulai kendaraan dan Aluna belum ingin memulai pertengkaran. "Frey, lu pakai nanya segala, jelas lah gue mau. Bukannya semalam lu udah rekam gue waktu lagi ngigau?" ucap Aluna kemudian ia mengedipkan sebelah matanya dan terlihat sangat centil di mata Nurul dan nenek Yani.


Sungguh flirting Aluna selama ini bukan kaleng-kaleng dan terima kasih kepada Alvaro yang mewariskan sifatnya itu pada anak gadis mereka.


"Oke, besok kita nikah," ucap Frey yang kembali memberikan syok terapi pada Aluna.


"Frey, lu jangan mengada-ngada. Mana mungkin kita bakalan menik--"


Ucapan Aluna terhenti saat karyawan tadi masuk dan langsung memberikan beberapa pakaian kepada Nurul kemudian ia keluar lagi. Aluna memicingkan matanya, ia jelas tahu pakaian yang ada di tangan bundanya itu adalah kebaya pengantin.


Aluna menatap Frey dengan mata yang berkali-kali ia kedipkan dan Frey juga hanya menggunakan gerakan mata yang melirik Aluna lalu memintanya untuk mendekat pada bunda dan nenek.


"Aluna sini sayang, coba kamu tes dulu yang mana yang cocok buat kamu," panggil nenek Yani.


Dengan ragu Aluna berdiri dan mendekat kepada dua wanita tangguh dalam hidup Aluna itu. Baru saja ia akan mengetes satu pakaian, pintu ruangan kembali di ketuk dan ketika pintunya dibuka oleh Nurul, Aluna lebih terkejut lagi karena melihat nenek Dianti dan juga aunty Clarinta masuk dan langsung bergabung bersama mereka.

__ADS_1


Clarinta langsung memeluk Aluna, begitupun dengan nenek Dianti lalu keduanya duduk bergabung bersama Frey.


"Untung kami belum terlambat," ucap nenek Dianti begitu bersemangat.


"Tunggu deh Bun, sebenarnya ini ada apa?" tanya Aluna memastikan, ia jadi bingung sebab mendadak Frey melamarnya dan mendadak pula keluarganya berkumpul di butik ini.


Apa jangan-jangan ....


"Besok kita akan menikah Aluna!"


"What?!"


Jantung Aluna seolah berhenti berdetak dan bahkan mulutnya kini terbuka lebar. Ia memegang kepalanya yang terasa pusing seolah tengah dikelilingi banyak kunang-kunang. Dengan cepat Frey bangkit dari duduknya karena ia tahu sebentar lagi Aluna pasti akan jatuh pingsan. Ia harus mencegahnya karena masih banyak hal yang harus mereka persiapkan dan ia tidak ingin waktu terbuang sia-sia karena drama Aluna yang selalu saja pingsan.


"Sayang, pingsannya nanti aja pas kita mau malam pertama. Lu bisa pura-pura pingsan saat itu tapi please jangan sekarang ya. Lu masih harus nyobain bajunya, kita masih harus cari cincin dan nanti lu juga masih harus perawatan. Di tahan dulu ya," bisik lirih Frey.


Mata Aluna mengerjap beberapa kali mendengar ucapan Frey tersebut. Ia langsung menegakkan tubuhnya dan menatap seluruh keluarganya bergantian lalu pandangannya teralih pada Frey.


"Jadi benar kita akan menikah besok?" tanya Aluna memastikan.


Frey mengangguk, ia kemudian berlutut di hadapan Aluna dan tindakannya itu langsung mendapat perhatian oleh seluruh keluarganya yang berada di dalam ruangan. Tak lupa Clarinta mengaktifkan kamera ponselnya, ia tidak mau kehilangan momen spesial ini.


Wajah Aluna memerah, ia tersipu malu dengan perlakuan manis Frey. Rasanya Aluna ingin pingsan lagi dan lagi. Menikah dengan Frey ... itu dulu hanya sebuah mimpi dan hampir saja Aluna mengubur dalam-dalam mimpinya tersebut. Akan tetapi hari ini semua terasa nyata. Aluna tidak sanggup berkata-kata.


"Danissa Aluna Guzelim Emrick Prayoga, aku memang bukan cowok romantis dan aku akui selama ini sikapku selalu membuatmu terluka. Tapi dibalik semua itu, aku selalu menyimpan rasa cemburuku seorang diri saat melihatmu dekat dengan banyak cowok di luaran sana. Lu bahkan nggak tahu kalau gue punya cinta yang luar biasa besarnya dibandingkan cinta milikmu.


"Gue juga nggak tahan setiap kali melihat lu dan mereka terlihat dekat sedangkan lu itu adalah calon istri gue. Dan sebelum yang lain menikung, gue mau halalin lu. Ah sial, gue bicara apa sih," keluh Frey karena merasa ia sudah cukup ngawur dalam merangkai kata-kata.


Frey menggaruk kepalanya yang tidak gatal sedangkan yang lainnya justru tertawa sedangkan Alvaro dan Ikram yang sedari tadi menatap dari pintu hanya tersenyum manis melihat sikap Frey yang begitu grogi. Keduanya baru saja datang dan dibelakang mereka ada kakek Deen dan Genta bersama Danish yang juga tidak ingin ketinggalan momen ini.


Ikram sendiri tidak pernah merasakan melamar kekasihnya karena pernikahannya langsung terjadi begitu saja sedangkan Alvaro ia butuh bertahun-tahun mengalami pesakitan dan akhirnya dengan drama recehnya ia berhasil melamar Nurul.


"Langsung saja ke intinya, Danissa Aluna Guzelim Emrick Prayoga, aku cinta kamu, will you marry me?"


Aluna menangis tanpa suara, ia kemudian menggelengkan kepalanya hingga membuat semua orang terkejut apalagi Frey.

__ADS_1


"Hikss ... kurang romantis. Dimana cincinnya dan dimana bunganya? Nggak ada musik juga nggak ada dekorasi kayak di film-film. Hikss ... Frey, apakah kau jatuh miskin hingga tidak bisa menyiapkan tempat yang indah? Huhuu ...."


__ADS_2