GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Untuk Yang Terakhir


__ADS_3

Di dalam mobil baik Alvaro maupun Miranda tidak ada yang bersuara sedikitpun. Miranda tengah kesal karena merasa dipermainkan oleh keluarga Prayoga. Ia sibuk mengumpat dalam hati. Ia yakin sekali kalau tadi mereka sengaja melakukannya agar Miranda menjauhi Alvaro. Miranda tidak mudah goyah dan menyerah. Hari ini ia memilih mengalah tapi tidak untuk selanjutnya.


Masih ada banyak cara untuk menjadi nyonya Alvaro Prayoga. Gue harus punya stok kesabaran untuk calon mertua gue yang dua-duanya sama-sama julid. Well Miranda, Alvaro juga bakalan berangkat ke Amerika dan gue bisa nyusul kesana. Semua akan lebih mudah nantinya.


Alvaro sendiri ia tidak begitu peduli. Yang ada dibenaknya saat ini adalah mencari pujaan hatinya. Ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang tersisa beberapa hari ini untuk bisa menemukan Nurul. Tadi orangnya sudah memberitahukan bahwa mereka menemukan informasi tentang donatur tetap di panti itu semenjak pantinya dibangun. Setelah mengantar Miranda, ia akan segera ke tempat yang sudah mereka janjikan.


Mobil Alvaro sudah terparkir di depan hotel. Ia tidak berniat mengantar Miranda sampai ke dalam kamarnya. Ia tidak ingin membuang waktu lagi. 


"Sayang aku nggak antar sampai ke kamar ya," ucap Alvaro.


"Iya nggak usah sayang, lagian udah ada Hesti tuh di depan yang lagi nungguin. Hari ini masih ada satu sesi pemotretan sebelum aku berangkat. Makasih ya udah nganterin. Oh iya, nanti antar aku ke bandara ya, please!"


Alvaro hanya mengangguk pelan. 


Jika gue bisa tentunya. Gue lagi punya fokus lain soalnya.


Miranda meninggalkan kecupan di pipi kiri Alvaro kemudian ia turun dari mobil. Alvaro memegang pipinya kemudian ekspresinya berubah datar.


"Kalau dulu gue mungkin bakalan nahan dia dan kita bakalan ciuman lebih dari yang gue pikirkan. Tapi sekarang rasanya udah beda. Gue cuma mau disentuh oleh Aina. Cuma dia. Hahhh … sayang, lu dimana sih? Sumpah gue rindu pakai banget sama lu."


Alvaro kembali melajukan mobilnya menuju ke tempat yang sudah ia janjikan. Tak lupa ia mengirim pesan pada Ikram agar segera menyusul dirinya.


.


.


Beberapa kilometer jauhnya dari tempat Alvaro saat ini, nampak seorang gadis yang kini bukanlah gadis lagi tengah mengurus rumah baru mereka. Rumah yang memiliki lima kamar dan hanya memiliki satu lantai. Nurul nampak tengah mengatur barang-barang bawaan mereka yang belum sempat ia bongkar karena masih merasa lelah.


"Semoga gue betah di tempat ini. Semoga nasib baik berpihak ke gue di tempat ini. Ah ya, gue belum beli simcard baru. Nanti siang gue bakalan nyari dan sekalian mengenali lingkungan ini," ucap Nurul setelah ia merapihkan beberapa bukunya.


Nurul mengambil tas salempangnya dan mengeluarkan ponsel. Tak sengaja ia menjatuhkan sebuah kartu nama.


Danish Ganendra Emrick


"Oh jadi dia seorang pengacara. Wah, sesuai sama bidang gue. Semoga ini jalan menuju keberuntungan," gumam Nurul merasa senang.

__ADS_1


Tiba-tiba saja perasaan Nurul menjadi sendu. Ia teringat wisuda yang ia tinggalkan padahal sudah lama ia nantikan. Ia teringat Flora dan juga ia teringat pria brengsek yang sialnya masih menduduki singgasana di hatinya. Nurul ingin marah tapi mana bisa ia marah pada hatinya. Walaupun ia paksa ia hanya akan mendapatkan hasil yang sia-sia.


Apa dia nyari gue? Atau dia udah lupa sama gue. Gue benci mengakui ini tapi gue rindu lu pakai banget Alvaro Genta Prayoga.


Nurul menyeka air matanya yang dengan berani membasahi pipinya hanya karena cowok brengsek yang sialnya dia cintai itu.


"Nggak! Jangan lagi ingat dia," lirih Nurul.


Beberapa kilometer jauhnya dari kediaman Nurul saat ini, cowok yang tengah menyetir mobil mendadak mengerem mobilnya.


"Kenapa dada gue sesak banget? Ini kenapa gue bisa nangis? Rasanya gue nggak bisa nahan tangis gue dan dada gue teras nyeri. Gue nggak sakit aneh, 'kan?" gumam Alvaro memegangi dadanya.


Kamar Nurul diketuk oleh Pian yang mengajaknya untuk mengantar mereka menuju ke sekolah baru untuk mendaftarkan mereka. Nurul pun bersiap dan mereka segera pergi menuju ke sekolah tersebut. Untung saja sekolah dasar dekat dari rumah mereka yang hanya berjarak 200 meter dari rumah mereka.


Urusan sekolah adik-adiknya sudah selesai dan mulai besok mereka sudah mulai belajar di sekolah. Dan kini tinggal urusannya untuk mendapatkan pekerjaan baru agar bisa membantu mengurus kebutuhan mereka di panti. Ia berniat menghubungi Danish namun ia masih ragu. Hingga setengah jam berlalu Nurul masih belum mendapatkan keberaniannya untuk menelepon Danish. Ia hanya terdiam duduk di atas tempat tidurnya.


Bu Uswa datang memasuki kamar Nurul, ia sedikit heran melihat Nurul yang sedang melamun.


"Apa tidak kerasan di tempat ini?"


Nurul tersentak begitu ia mendengar suara Bu Uswa. Ia tersenyum tipis kemudian menggeleng.


Bu Uswa tersenyum, "Kita tidak nyasar di tempat ini karena harusnya tempat ini yang kita datangi sedari awal. Ini rumah ibu, Nurul. Rumah dimana ibu dilahirkan dan bertumbuh juga di tempat ini," cerita Bu Uswa yang membuat Nurul terkejut.


"Oh ya? Tapi kenapa ibu bisa di Jakarta?" tanya Nurul penasaran.


"Diboyong suami. Sebenarnya memang orang tua ibu lebih tepatnya nenek kamu itu orang asli Jakarta tapi karena menikah dan kakek kamu orang asli daerah sini jadi beliau diboyong dan kami tinggal disini. Pada saat itu ibu kuliah di Jakarta dan bertemu sama Mas Budi, ayahmu. Kami menikah dan ibu tinggal di rumah panti lama kita. 


"Malam itu ibu menelepon kakak ibu yang tinggal dua rumah dari rumah ini ke sebelah kanan. Ibu tanya soal rumah ini dan ternyata tidak ada yang menempati hampir tiga tahun, hanya masih terus dirawat. Jadi ibu memutuskan untuk tinggal disini. Tidak perlu membeli dan yang pasti jauh dari orang yang berniat mengambil alih rumah ini. Sertifikatnya udah atas nama ibu."


Nurul memeluk Bu Uswa. Ia tahu, di balik ceritanya ia kembali mengingat rumah lama mereka. Walaupun Bu Uswa begitu ceria menceritakan kisah rumah ini, tapi kesedihan di matanya tak bisa menipu.


 "Kenapa ibu tidak bilang dari awal? Memang sudah seharusnya kita kembali ke sini dan ibu bisa menua di rumah masa kecil ibu. Nurul yakin kita akan lebih bahagia di tempat ini. Nanti kalau Nurul sudah bekerja, kita akan sesekali berkunjung ke makan ayah di Jakarta," ucap Nurul menghibur Bu Uswa.


"Semoga kamu mendapatkan kesuksesan dan kemudahan dalam hidup, Nak. Ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan adik-adik. Oh ya, di kota ini ibu juga punya lahan perkebunan walaupun itu milik keluarga tapi jika kita membantu di perkebunan maka kita akan mendapatkan hasil. Jika Nurul belum mendapatkan pekerjaan, maka bisa ikut di perkebunan," ucap Bu Uswa.

__ADS_1


Bagaikan mendapat angin segar yang menerpa wajahnya, Nurul langsung mengangguk semangat. 


"Nurul pasti mau, Bu. Lagi pula Nurul belum mengambil ijazah di kampus. Untuk sementara Nurul bisa ikut kerja di perkebunan. Nanti kalau sudah bisa ngambil ijazah baru Nurul cari pekerjaan lainnya," ucap Nurul bersemangat.


Daripada gue bingung mau menghubungi Danish, mending gue kerja di perkebunan aja dulu. Gue juga nggak mau dianggap KKN karena kerja di kantor tapi nggak punya ijazah. Ntar dikira gue manfaatin orang dalam walaupun kebanyakan dunia kerja kayak gitu.


"Besok ikut ibu ke perkebunan. Kita akan berkenalan dan kamu akan belajar berkebun. Sekarang kamu istirahat, ibu juga mau balik ke kamar," ucap Bu Uswa.


Nurul memeluk Bu Uswa erat.


"Terima kasih karena ibu selalu memberikan cahaya di kehidupan Nurul. Nurul selalu berdoa agar ibu dilindungi Allah. Nurul sayang sama ibu," lirihnya.


Bu Uswa tersenyum kemudian mengelus rambut Nurul.


"Aamiin. Ibu juga sayang kalian dan akan selalu begitu," ucap Bu Uswa dengan tulus.


.


.


"Halo, apa benar ini dengan Alvaro?"


Alvaro yang tengah membahas Nurul bersama orangnya dan juga Ikram hanya berdehem saja menjawab panggilan tersebut.


Awalnya ia tidak ingin menjawab panggilannya tapi ia melihat nomor tak dikenal ia berharap itu dari Nurul yang mencarinya.


"Saya Hesti, asistennya Miranda. Saat minta maaf karena mengganggu anda tapi baru saja Miranda bertemu dengan beberapa orang yang tidak dikenal dan mereka membawa Miranda pergi dengan paksa. Sebelumnya mereka melakukan kekerasan fisik karena Miranda menolak ikut dengan mereka. Dan sekarang mereka membawa Miranda entah kemana. Tolong saya, tolong bantu saya menemukan Miranda. Hanya anda yang bisa saya harapkan."


"Miranda diculik? Bagaimana bisa? Lu sekarang ada dimana?"


"Di studio XX."


"Baiklah, gue bakalan kesana sekarang. Lu tunggu disana," ucap Alvaro.


Ikram menatap jengah pada Alvaro yang masih saja begitu peduli.

__ADS_1


"Ini demi kemanusiaan dan gue nggak mau dituduh yang enggak-enggak karena tadi dia masih sama gue. Gue nggak macam-macam kok. Gue cuma mau Aina, ayo bantu gue tolong pengacau itu. Untuk yang terakhir kali aja," ucap Alvaro tanpa ditanya, ia sudah hapal dengan arti tatapan Ikram.


"Baiklah, untuk yang terakhir."


__ADS_2