GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Nurul Aina POV


__ADS_3

Akhirnya setelah sekian lama, kaki ini berpijak lagi di kota dimana gue dibesarkan dan belakangan gue tahu kalau di kota ini juga gue dilahirkan dan di kota ini pula ada dia, dia yang bikin hidup gue mendadak jungkir balik karena sebuah permainan dan berakhir dengan gue yang menjadi seorang ibu sebelum menikah.


Gue datang untuk mengambil ijazah yang sudah lama tersimpan di kampus dan mungkin saja jika gue nggak datang buat ngambil, ijazah gue udah dimuseumkan. Tapi itu nggak mungkin.


Setelah mengambil ijazah gue sebenarnya pingin banget ke rumah Flora, gue udah kangen banget sama dia. Tapi gue urungkan karena gue nggak bisa lama-lama di sini dan pekerjaan udah menunggu di sana. Gue udah kerja di kantor papa Deen dan menjadi pengacara ngebantuin mereka. Tetapi tanpa ijazah ini, sehebat apapun gue nantinya, gue nggak ada ijazah jadi kayak nggak ada bukti gitu.


Nggak pakai lama kita langsung balik lagi. Dan sesuatu yang nggak gue duga terjadi. Dada ini berdebar-debar ketika melihat sosoknya. Sosok yang selama ini gue cintai dan rindukan dalam keheningan. Sosok yang saat ini terlihat jauh berbeda dan lebih dewasa plus dia makin tampan dengan setelan jasnya. Ah ya, dia pasti sudah menjadi eksekutif muda dan mungkin saja dia sudah menikah.


Mata ini melotot begitu Aluna tanpa sengaja menabraknya. Aku sudah ketar-ketir takut Alvaro akan mengenalinya karena wajah mereka yang begitu mirip. Aku juga takut jika Alvaro memarahinya karena jalan tak hati-hati hingga menabraknya. Tapi yang aku pikirkan semuanya salah, Alvaro malah berjongkok dan tersenyum padanya.


Senyuman itu, senyuman yang selalu mampu membuatku meleleh dan ia tersenyum pada Aluna, anak kami. Aluna memegang pipinya dan hatiku berdesir saat Alvaro mengusap kepala Aluna.


Gue ingin berteriak saat itu juga, "Aluna, itu ayahmu sayang. Namanya Alvaro Genta Prayoga dan dia sangat tampan bukan?"


Tapi gue urungkan, gue takut anak gue yang sekecil itu mendapatkan penolakan. Dia masih terlalu kecil untuk merasakan sakit karena tidak diinginkan.


Gue pingin bangen datang dan berlari ke pelukannya. Sumpah rasa cinta dan rindu ini ternyata nggak pernah hilang dan justru gue ngerasa makin bertambah setelah gue ngelihat gimana dia yang sekarang dan gimana dia begitu baik pada Aluna. Gue pingin teriak dan bilang, "Alvaro, gue kangen. Gue cinta sama lu. Apa lu juga cinta ke gue?"


Tapi gue nggak berani. Dia yang sekarang bukan nggak mungkin nggak punya kekasih. Apalah artinya gue, seorang gadis panti dan hanya sebatas gadis taruhan Alvaro doang. Tapi tak apa, dengan gue lihat dia dalam keadaan baik-baik aja udah cukup. Gue cukup mandangin dia dari kejauhan. Toh cinta itu tidak harus memiliki.


Bukankah ketulusan dan keikhlasan dalam mencintai itu adalah ketika kita mampu tersenyum saat melihatnya walaupun dari kejauhan dan menahan rasa ini asalkan melihat dia bahagia walau nggak bersama kita? Gue nggak tahu ungkapan gue ini benar atau enggak, tapi itu prinsip gue.


Aluna berlari lagi balik ke ayahnya ketika kak Danish udah ngajak dia pergi. Mungkin intuisi dia kalau itu adalah ayahnya, gue nggak ngerti. Entah apa yang bocah tengil itu katakan pada ayahnya, yang pasti gue bisa ngelihat lagi dan mendengar lagi tawa Alvaro.


"Terima kasih Aluna." Itu yang bisa gue ucapin untuk anak gue yang membantu gue agar bisa mendengar tawa itu.


"Alvaro, andai lu lihat gue disini. Dan andai lu juga cinta ke gue, gue pastiin gue bakalan lari dan meluk lu. Gue bakalan ungkapin cinta yang nggak terbatas ini hanya buat lu. Gue kangen dan gue merana. Lu tahu, sampai detik ini masih lu yang bertahta di hati gue terlepas dari sakitnya gue saat tahu kalau cinta lu itu palsu. Gue tetap cinta. Semoga kelak lu tahu tentang perasaan ini."


Buru-buru gue hapus air mata saat Kak Danish dan Aluna datang menghampiri.

__ADS_1


"Nurul, kamu kenapa? Ada yang salah?"


Pertanyaan kak Danish hanya bisa kujawab dengan gelengan kepala. Nggak mungkin gue jawab yang sebenarnya.


Di dalam pesawat, gue diam dan melamun lagi. Berandai hidup bahagia bersama Alvaro dan Aluna. Yah, gue menyukai khayalan gue. Hanya dalam khayalan ini gue bisa punya kisah cinta yang indah bersama Alvaro. Walaupun akhirnya gue kembali di tampar kenyataan karena Alvaro nggak cinta ke gue, tapi gue nggak kapok! Tiap hari kerja gue hanya mengingat dia dan bodohnya gue, gue nggak berani buat nanya ke dia.


"Bunda, tadi Aluna ketemu ayah!"


Deg ...


Jantung gue berdegup kencang, darimana bocah tengil ini tahu kalau itu ayahnya. Mendadak gue yang tengah melamun melupakan semuanya dan fokus menatap Aluna. Gue tatap mata bening itu dan senyum itu begitu menyejukkan jiwa.


"Ayah? Ayah siapa?" tanya gue dengan dada berdebar-debar.


"Ayah Aluna. Dia tampan sekali," bisiknya dan gue makin nggak bisa mengontrol jantung ini.


"Jangan ngawur!" sangkalku.


Oh ya ampun jantung gue hampir copot dan ternyata Aluna hanya bermimpi saja. Tapi, bagaimana bisa mimpinya sesuai fakta. Apa Alvaro juga menginginkan anak ini sampai dia datang ke mimpinya? Jika ia, hujan badai bahkan jungkir balik pun gue bakalan datangin Alvaro dan bilang, "I love you Alvaro Genta Prayoga!"


Gue membawa Aluna ke dalam dekapan dan mencoba untuk membuatnya tertidur. Mendadak hati gue jadi melankolis. Gue terus bertanya-tanya, apakah benar Alvaro menginginkan anak ini? Apakah Alvaro tidak akan menolaknya? Tapi bagaimana dengan keluarganya? Bagaimana dengan Miranda? Dia nggak mungkin mau menerima Aluna.


Sampai pesawat landing pun gue masih melamun. Untung Kak Danish mau menggendong Aluna. Sampai di rumah gue rebahan dan menatap wajah Aluna. Wajah yang sering diam-diam gue kagumi dan wajah yang sedikit banyak bisa membantu melepas rindu pada Alvaro.


"Nak, kenapa kamu begitu mirip dengan ayahmu? Apakah ini cara Tuhan menghukum bunda? Melarikan diri dari ayahmu dan bersembunyi tanpa mau menyelesaikan masalah. Tuhan memberikan wajah itu padamu dan bunda semakin hari semakin mengingat dia."


Air mata tak sopan ini kembali membasahi pipi gue. Apalagi saat ini gue tengah memutar musik yang belakangan jadi lagi favorit gue.


Dia yang pertama, membuatku cinta.

__ADS_1


Dia juga yang pertama membuatku kecewa.


Gue resapi dalam-dalam liriknya dan bersamaan dengan itu air mata ini jebol lagi.


Mengapa masih ada, sisa rasa di dada


Disaat kau pergi begitu saja


Sanggupkah ku bertahan


Tanpa hadirmu sayang


Tuhan sampaikan rindu untuknya.


Sudah tahu lagunya semakin menyayat hati, gue malah ikut menyanyikannya. Gila, lagu-lagu dari penyanyi inisial Mahalini ini benar-benar sesuai sama perasaan gue.


Bagaimana dengan aku ,terlanjur mencintaimu


Yang datang beri harapan, lalu pergi dan menghilang


Tak terpikirkan olehmu, hatiku hancur karnamu


Tanpa sedikit alasan, pergi tanpa berpamitan


Tak akan kuterima cinta sesaatmu


"Hikss ... Ya Tuhan, apakah jalan yang aku ambil ini sudah benar dengan melarikan diri dari masalah? Apakah ini salah? Mengapa hatiku begitu terpaut padanya padahal aku sudah pergi sejauh ini dan selama ini darinya? Apakah mungkin dia juga sama denganku? Apakah dia mencari dan merindukanku? Mengapa setiap hari aku selalu merasakan cinta dari Alvaro walau tanpa jumpa? Mengapa setiap hari aku selalu semangat untuk bangun pagi dan seolah-olah seseorang membisikkan padaku jika Alvaro merindukanku dan cintanya padaku juga sama besarnya denganku?"


Gue menghapus air mata ini. Gue tatap wajah anak gue dengan lekat dan gue bayangin wajah Alvaro dan keduanya bak pinang dibelah dua. Gue tarik napas dalam-dalam dan keluarin dengan perlahan. Gue bakalan ngambil keputusan. Ini sudah empat tahun.

__ADS_1


"Baik Nurul Aina Emrick, udah waktunya lu keluar dari persembunyian dan menyelesaikan semuanya. Tentang perasaan ini, tentang semua kenyataan dan tentang status Aluna anak gue. Gue bakalan datangin lu Alvaro. Gue bakalan tanyain semua pertanyaan yang selama ini hanya bisa gue terka sendiri jawabannya dan itu nggak bisa buat gue merasa puas. Well, pahit manis jawabannya gue bakalan terima. Alvaro, gue bakalan datang!"


__ADS_2