
Seketika suana menjadi begitu gaduh setelah ucapan Frey tersebut. Berbeda dengan Riani yang seolah disambar petir di siang bolong. Alasan Frey terlalu menyakitkan untuk ia percayai namun bisa saja semua itu benar adanya mengingat bagaimana Frey selama ini selalu menjaga jarak dengan gadis manapun kecuali Aluna dan bocah SMP yang bernama Ziya.
Riani mengepalkan tangannya apalagi saat mendengar suara-suara sumbang yang mengejeknya juga ada yang menggunjing serta memberikan tanggapan mengenaskan untuknya. Dengan berlari Riani menuju ke kelas, orang yang paling ingin ia temui adalah Aluna sebab gadis itu pasti tahu siapa yang tadi dimaksud oleh Frey.
Cici sampai di kelas lebih dulu dan mendapati Aluna sedang menenggelamkan kepalanya di atas meja dengan kedua tangannya sebagai pengawas. Ia merasa ada yang salah dengan Aluna karena tadi tiba-tiba saja berlari setelah mendengar pengakuan Frey. Ia kembali teringat dengan ucapan Aluna tadi yang mengatakan bahwa ia dan Frey sebenarnya sudah dijodohkan dan setelah mendengar pengakuan lantang Frey tadi, Cici semakin yakin jika memang tadi Aluna sudah berkata yang sebenarnya.
"Luna, lu kenapa?" tanya Cici saat ia sudah duduk di bangkunya yang berada di samping Aluna.
Aluna mengangkat wajahnya, Cici bisa melihat mata Aluna sembab dan ia tahu sahabatnya ini baru saja menangis.
"Gue nggak apa-apa. Cuma kesal aja dan juga gue kurang istirahat," jawab Aluna asal.
Cici menggeleng, ia tahu Aluna berbohong dan tidak mungkin Aluna kekurangan istirahat padahal gadis itu sangat jarang beraktivitas berat.
"Jangan bohong. Lu tadi nangis waktu Frey bilang soal dia yang sudah punya pacar. Luna, jawab jujur sama gue, lu 'kan tunangan Frey?" tandas Cici yang membuat Aluna terdiam.
Gadis berparas cantik itu pun hendak menjawab karena ia sudah lebih dulu kecoplosan di depan Cici tadi.
"Gue sama Frey itu--"
"Aluna!"
Ucapan Aluna terhenti begitu seseorang memanggil namanya dan tidak lain itu adalah Riani yang datang dengan wajah kesal dan juga membawa kesedihannya. Dengan cepat gadis cantik itu mendekati Aluna. Sangat mudah ditebak apa yang saat ini ia inginkan.
"Luna, siapa tunangan Frey? Siapa pacarnya dan gue yakin lu pasti tahu. Bilang ke gue kalau semua omongan Frey tadi itu cuma bohong doang!" pinta Riani penuh harap.
Aluna dan Cici menghela napas, Cici merasa kesal karena Riani merusak suasana padahal ia sudah sangat kepo dengan jawaban Aluna eh mendadak ada hama pengganggu yang harus menghambatnya mendapatkan informasi penting.
"Iya, itu benar," jawab Aluna singkat.
Wajah Riani menegang, jantungnya seolah berhenti berdetak untuk sesaat karena jawaban yang tidak ia harapkan justru datang padanya dan menampar perasaannya.
"Siapa Luna? Kenapa gue nggak tahu dan kenapa semua penyelidikan gue nggak ada hasil tentang tunangan Frey?" cecar Riani. Setidaknya ia harus tahu siapa perempuan yang sudah membuat Frey se-setia itu hingga tidak pernah melirik cewek lain termasuk dirinya.
Gue!! Cewek yang dijodohkan dengan Frey itu gue! Tapi kita nggak pernah tunangan. Frey terlalu mengada-ada!
__ADS_1
Namun semua itu hanya bisa Aluna teriakkan dalam hatinya karena ia tidak mungkin membongkar semuanya. Aluna tidak ingin mengaku-ngaku, saat ini ia hanya menunggu Frey saja yang lebih dulu membongkar hubungan mereka.
"Namanya Icha, ya Icha. Dia nggak disini tinggalnya. Di luar negeri," jawab Aluna asal.
"Icha?" pekik tiga orang yang kaget dengan jawaban Aluna.
Frey, Cici dan Riani sama-sama terkejut mendengar jawaban Aluna tersebut. Aluna yang ditatap oleh ketiganya langsung membuang muka. Ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa dan refleks saja ia menjawab dengan nama tersebut. Ia juga tidak menduga jika Frey akan datang.
Frey berjalan ke bangkunya lalu ia duduk dan menghadap ke belakang sambil menatap Aluna yang tidak berani menatapnya. Frey tentu saja sengaja membuat Aluna grogi, baginya itu sangat menggemaskan.
"Kenapa lu ngasih tahu mereka nama tunangan gue sih, Na? Sekarang mereka jadi tahu padahal semua itu biar jadi surprise nantinya," ucap Frey dengan wajah yang kali ini benar-benar tampan karena bibirnya terus tersenyum.
Aluna tentu tahu saat ini Frey sedang ikut dalam kebohongannya dan entah mengapa jantung Aluna degdegan saat ia menatap Frey.
Oh Tuhan! Kenapa Engkau menciptakan manusia seindah Frey? Benar-benar maha karya yang sangat indah dan sedap dipandang. Oh jantung gue!!
Aluna memekik dalam hati, rasanya ia ingin pingsan saja karena ditatap dengan begitu dalam oleh Frey dan jangan lupa dengan senyumannya yang begitu menawan itu. Rasanya Aluna ingin mencium bibir Frey detik ini juga.
Duuh! Gue nggak kuat, istirahat kedua nanti gue bakalan culik Frey dan gue pingin cium dia. Huuhh Frey, lu itu cobaan terindah gue!
"Nggak. Sebenarnya gue mau marah sama lu, tapi lu itu saudara gue. Nanti aja gue kasih lu hukuman di rumah!" ucap Frey sambil menyeringai hingga membuat bulu kuduk Aluna berdiri.
"Hukuman?" tanya Cici dan Riani bersamaan.
Frey hanya mengangkat sebelah alisnya untuk jawaban. Ia kemudian berbalik badan dan menghadap lurus ke depan berhadapan dengan papan tulis.
Kelas mulai ramai dan kembali pelajaran akan segera dimulai karena bel masuk pun kembali berbunyi.
.
.
Bel panjang berbunyi, tanda kelas sudah berakhir dan para siswa-siswi berhamburan keluar kelas untuk pulang. Aluna juga sempat berkata pada Cici jika ia ingin ikut pulang bersamanya dengan alasan ia takut dengan kemarahan Frey karena sudah membocorkan nama tunangan Frey.
Padahal ia hanya ingin menghindar saja sebab ia sudah mengatakan pada Frey ia tidak ingin melihat wajah Frey lagi dan ia masih belum lupa pertengkaran mereka semalam dan tadi pagi. Aluna masih mengindar. Ia tidak ingin langsung luluh hanya karena pengumuman yang dibuat Frey tadi hingga menggemparkan satu sekolahan.
__ADS_1
"Pulang bareng gue!" ucap Frey tak terbantahkan.
Cici dan Riani sampai terjungkit mendengar ucapan Frey dan juga ia yang sudah memegang pergelangan tangan Aluna. Kedua gadis cantik itu berpikir jika saat ini Frey sedang marah pada Aluna karena masalah tadi. Riani dan Cici menjadi merasa bersalah pada Aluna karena tadi mereka yang meminta Aluna untuk mengatakan nama tunangan Frey tersebut.
"Gue nggak mau Frey! Gue mau pulang bareng Cici. Lagian kita juga nggak searah!" pekik Aluna berusaha menghempaskan tangannya dari cekalan Frey.
Tidak peduli dengan ucapan Aluna, Frey langsung menariknya. Ia juga tidak ingin ada yang bertanya-tanya dengan ucapan Aluna jika mereka tidak searah dan sampai tersebar jika mereka sekarang sudah tidak tinggal serumah lagi.
Cici dan Riani meneguk salivanya dengan susah payah melintas bagaimana cara Frey menarik Aluna. Mereka pun mengikuti dari belakang.
Di luar kelas, Jasson dan Leon sedang saling menatap sengit karena keduanya berniat untuk mengajak Aluna pulang bersama. Jasson sebenarnya tidak seberani ini mengingat adanya Frey yang selalu menjadi momok yang menakutkan saat para lelaki mendekati saudaranya itu.
Namun karena Leon yang berusaha untuk mencuri start darinya, Jasson pun memberanikan diri.
"Kalian ngapain di depan kelas dua belas?" tanya Frey dengan suara beratnya dan juga tatapannya yang tajam. Alarm bahaya tentu saja sudah berbunyi di telinga Frey karena ia tahu dia siswa ini sedang mengincar gadis favoritnya.
Jika Jasson langsung merasa ciut, berbeda dengan Leon yang justru membalas tatapan Frey tak kalah sengitnya.
"Gue mau jemput calon pacar gue. Dan karena lu adalah calon ipar gue, kali ini gue bakalan bersikap lembut dan sopan. Jadi tolong, lepaskan tangan Aluna dan biarkan dia pulang sama gue. Boleh ya," pinta Leon dengan gaya tengilnya dan ia sangat percaya diri sekali akan mendapatkan restu dari Frey.
Oh andaikan Leon tahu saat ini ia sedang berbicara dengan pemilik Aluna, mungkin ia tidak akan se-percaya diri ini.
"Nggak bisa! Mending kalian pergi sekarang. Aluna juga nggak bakalan milih salah satu dari kalian," ucap Frey seraya berjalan sambil menarik tangan Aluna.
Aluna menatap iba pada kedua cowok tampan itu namun justru diartikan lain oleh Leon. Ia merasa saat ini Aluna sedang meminta bantuannya untuk lepas dari Frey.
"Tunggu Frey!" teriak Leon, ia berlari kecil ke arah mereka yang tidak mau berhenti. Hingga ia kini tepat berada di depan Aluna dan Frey.
"Lu mau apa lagi?" tanya Frey dengan sebelah alisnya terangkat dan wajahnya itu sudah terlihat mengetat. Rasanya Frey ingin memberikan satu pukulan di mulut Leon yang sudah lancang mengakatan jika Aluna adalah calon pacarnya.
"Lu nggak lihat kalau saudara lu itu nggak mau pulang sama lu? Mending lu lepasin dia deh, tugas lu itu cuma merestui bukan mengekang. Lagi pula Aluna sudah manggil gue pakai bahasa hati dan lewat telepati jika dia minta buat gue tolongin dari lu yang kayak macan ngamuk gini. Kasihan tahu," ucap Leon.
"Apa?" pekik Aluna tidak percaya dengan ucapan absurd Leon
"Gendeng!" umpat Frey kesal.
__ADS_1