
"Awww ..."
Aluna memegangi perutnya yang terasa kram. Ia kemudian sedikit menunduk dan Frey dengan cepat memeluknya. Frey tentu sangat panik karena istrinya itu tidak pernah merasakan kram perut selama ini dan kata dokter janin dalam kandungan Aluna sangat sehat dan juga sangat kuat.
"Ada apa sayang? Apa yang terjadi? Ada yang sakit? Ayo kita sekarang ke rumah sakit," ajak Frey yang terlihat jelas begitu panik.
"Perut aku tiba-tiba sakit," jawab Aluna yang sesekali merintih dan meringis.
Tanpa berpikir panjang Frey langsung membawa Aluna ke dalam gendongannya, ia tidak peduli dengan Riani dan juga tidak peduli dengan Jessica karena dunia Frey hanya seputar Aluna saja.
"Jessica karena Anda juga adalah klien dari kafe ini, maka saya meminta Anda untuk mengawasi jalannya pembukaan kafe ini karena saya harus membawa istri saya ke rumah sakit. Dan lu Riani, lu tolong bantuin lah nona Jessica, sekaligus lu bantuin Leon juga atau kalau nggak mau ya lu pulang aja," ucap Frey kemudian ia dengan langkah besar menggendong Aluna menuju ke mobil.
Riani dan Jessica menghentikan aksi jambak-jambakan mereka, bahkan tadi mereka sudah saling adu pukul memukul karena terlalu terbawa suasana. Riani yang mendengar Aluna akan dibawa ke rumah sakit langsung panik, tapi ia tidak mungkin ikut karena Frey sudah pergi lebih dulu dan juga ia masih ingin menyelesaikan urusannya dengan Jessica.
Jessica ingin mencegah Frey pergi, akan tetapi Riani menghalangi jalannya. Riani benar-benar dibuat naik pitam oleh wanita ini. Jelas sekali dia memperlihatkan bagaimana ia akan menjadi seorang perebut lelaki orang alias pelakor. Entah dimana hati nuraninya, ketika melihat istri dari orang yang ia harapkan sedang kesakitan, ia justru ingin mencegahnya dibawa ke rumah sakit.
"Tante jangan gila ya, selagi masih ada saya, Tante nggak akan bisa mengejar Aluna. Dan ingat baik-baik Tante, saya mengawasi Tante dan jangan sampai saya mendengar lagi Anda ingin merusak hubungan Aluna dan Frey. Saya akan menembak Anda dengan senapan tunangan saya!" ancam Riani dengan wajahnya yang begitu garang sedangkan Jessica hanya meliriknya dengan tatapan tidak suka.
Dasar bocah stress! umpat Jessica dalam hati.
Riani tidak jadi pulang, ia harus membantu Frey untuk mengawasi Jessica sedangkan pekerjaan di kafe ini dihandle langsung oleh Leon. Riani juga meminta Leon untuk memberikannya makanan dan minuman karena tadi memang niatnya untuk datang makan gratis. Mata Riani selalu awas mengawasi pergerakan Jessica yang terlihat seperti orang linglung karena tidak adanya Frey di sekitarnya.
"Ini sugar mommy sepertinya dia nggak kapok gue hajar tadi. Gue kok kesel banget ya lihat bibit-bibit pelakor seperti dia? Rasanya gue tuh pengen ajak gelut, pengen banget gue cakar-cakar mukanya yang sok cantik itu. Emang sih cantik, tapi kalau kecantikannya dibuat untuk merebut suami orang, itu nggak lebih buruk dari orang terjelek sekali pun."
"Lu kenapa ngawasin nona Jessica?" tanya Leon yang kini sudah duduk di hadapan Riani.
__ADS_1
Riani menghela napas, ia menatap Jessica dengan kesal kemudian menatap Leon dengan datar.
"Dia itu pelakor, dia suka sama Frey. Asal lu tahu aja, dia jatuh cinta sama Frey dan lu harus mengawasi dia dan jauhkan dari Frey. Itu makanya tadi gue serang dia. Lu lihat sendiri 'kan seperti apa keseriusan gue kalau itu sudah menyangkut hubungan Aluna dan Frey, gue bakalan jadi singa betina. DAN untung aja itu bukan lu, kalau lu masih kayak dulu ... habis lu di tangan gue," ucap Riani dengan begitu kesalnya, Leon sendiri hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah melihat kesangaran Riani.
Sementara itu Frey sudah sampai di rumah sakit. Ia menggendong Aluna menuju ke ruang pemeriksaan kandungan. Dokter langsung mengambil tindakan dan memeriksa kondisi Aluna.
Frey terus menggenggam tangan istrinya yang sudah tidak lagi merintih kesakitan. Ia sangat merasa bersalah karena hal yang terjadi pada Aluna ini disebabkan oleh dirinya dan Jessica yang tadi terlihat seolah-olah mereka sedang pelukan, padahal Frey hanya refleks menangkap tubuh Jessica yang terjatuh, walaupun ia sudah tahu itu sengaja dibuat jatuh.
"Bagaimana kondisi istri saya, Do?" tanya Frey merasa cemas ketika dokter sudah selesai memeriksa keadaan Aluna.
"Istri Anda mengalami stres berat sehingga berakibat pada janinnya. Bukankah Anda sudah tahu jika wanita hamil itu tidak boleh dibuat stres karena akan berpengaruh dan berisiko terhadap kehamilannya," jawab Dokter tersebut yang membuat Frey menatap penuh sesal pada Aluna.
Lebih lanjut dokter menjelaskan bahwa walaupun kandungan Aluna begitu sehat dan janinnya tumbuh dengan baik, bukan berarti faktor risiko psikologi ibu tidak mempengaruhi keadaan bayi di dalam sana. Frey mendengarkan dengan baik ketika dokter mengatakan bahwa Aluna harus selalu dibuat bahagia dan jangan dibuat memiliki banyak beban pikiran apalagi sampai stres berulang.
Setelah memberi penjelasan, dokter pun meresepkan obat dan setelah menebusnya di apotek rumah sakit Frey pun membawa Aluna untuk pulang. Di dalam mobil Aluna sama sekali tidak mau berbicara dengan suaminya itu. Aluna begitu kesal dan masih sangat kesal mengingat bagaimana Jessica terjatuh dalam pelukan Frey saat ia hendak memberikan kejutan pada suaminya itu. Niat hati memberi kejutan, justru ia yang dibuat terkejut dan itulah yang membuat Aluna masih kesal pada Frey.
Aluna menatap Frey sekilas kemudian ia kembali memalingkan wajahnya menatap jendela. Ia merasa kesal karena Frey tidak juga peka dengan apa yang sedang ia rasakan. Aluna kembali melupakan bahwa Frey adalah makhluk yang tidak akan pernah peka jika ia tidak akan mengatakannya.
Walaupun Frey adalah makhluk paling romantis, bukan berarti suaminya itu akan langsung peka padanya kecuali ada bahaya yang mengincarnya. Frey sebenarnya tahu jika Aluna pasti memikirkan Jessica, hanya saja Frey begitu malas menyebut nama wanita itu. Kejadian yang baru saja dialami oleh Aluna membuat Frey ingin segera menjauhkan diri dari Jessica. Wanita itu tidak baik untuk kesehatan istri dan calon anaknya.
"Sayang, kamu marah ya sama aku? Masalah tadi di kafe? Sumpah itu nggak kayak gitu kejadiannya," tanya Frey dengan suara yang sedikit lirih.
Sampai di rumah pun Aluna tidak mau berbicara pada Frey. Sepertinya ibu hamil itu sedang mogok bicara pada suaminya karena masalah orang ketiga. Walau Frey tidak menyukai wanita itu, tetap saja Jessica akan menjadi duri dalam rumah tangga mereka.
Sikap Aluna tersebut membuat resah keluarga mereka. Mogok bicara dengan Frey serta mogok makan tentu membuat mereka menjadi tidak tenang. Aluna tidak biasanya begini tapi kali ini ada hal yang mungkin benar–benar menyakiti hatinya.
__ADS_1
"Sayang aku berangkat kuliah ya," ucap Frey kemudian ia mengecup dahi Aluna yang sedang asyik dengan rajutannya.
Ini sudah hampir 24 jam dan Aluna masih bersikap dingin padanya. Entah Frey harus melakukan apa lagi. Biasanya Aluna akan memberikannya pesan untuk harus ini dan itu, tapi istrinya ini hanya diam dan kembali fokus pada rajutan buatannya sendiri.
Frey hanya bisa menghela napas, ia harus memikirkan cara untuk bisa meluluhkan hati Aluna, tetapi terlebih dahulu ia harus segera ke kampus karena beberapa menit lagi mata kuliah jam pertama akan segera dimulai.
Sampai di kelas pun Frey masih memikirkan Aluna. Ia memang memperhatikan materi yang diberikan oleh dosennya akan tetapi pikirannya lebih fokus pada keadaan istri tercinta. Bahkan pembagian kelompok belajar pun Frey tidak memperhatikannya dan ia hanya iya–iya saja.
Setelah kuliah selesai, Frey memutuskan untuk pulang. Kafe sudah ada yang mengurus dan ia tak lupa untuk singgah di toko bunga. Ia akan memberikan Aluna bunga sebagai permohonan maaf pada istri tercinta. Mungkin dengan begitu Aluna akan luluh padanya.
"Semoga Aluna suka deh. Dia 'kan suka banget rangkaian bunga yang ada bunga Dafodil," gumam Frey kemudian ia segera masuk lagi ke dalam mobilnya dan melakukannya dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai.
Sesampainya di rumah, Frey menemukan Aluna sedang bersantai di tepi kolam dengan kedua kakinya yang dicelupkan ke dalam air.
Frey berjalan perlahan dan ia langsung mencium puncak kepala Aluna dan memberikan bunganya. Ia ikut duduk dan memeluk Aluna dari belakang karena posisi Frey memang duduk di belakang istrinya tersebut.
"Maaf udah bikin kamu kesal ya. Aku janji setelah ini aku pasti akan menghindari wanit itu. Dia klien bisnis sejak zaman kakek Ruri Griffin, aku nggak bisa mutus hubungan kerja sama gitu aja. Tapi aku janji setelah ini aku akan menolak bekerja sama dengannya lagi. Aku lebih baik kehilangan klien seperti mereka dibandingkan harus kehilangan keceriaan istriku yang selalu ceria ini," ucap Frey yang menyandarkan dagunya di bahu Aluna.
Mata Aluna berkaca-kaca, ia sebenarnya sudah memaafkan Frey karena tadi ia sempat mendapat nasihat dari bundanya. Aluna memang harus bersikap profesional, yang penting Frey tidak menanggapi wanita itu, Aluna pun tidak perlu merasa tidak percaya diri.
"Ya udah nggak apa-apa, aku juga minta maaf ya. Aku yang kekanak-kanakan dan nggak bisa bedain kalau kamu dan Jessica terlibat kerja sama. Aku tahu kamu hanya mencoba bersikap profesional pada wanita itu. Aku paham kok,"ucap Aluna dengan lirih dan Frey semakin mengeratkan pelukannya.
"Hanya kamu Aluna, nggak ada yang lain. Nggak akan ada wanita yang lain di hidup aku selain kamu dan anak kita nanti," ujar Frey.
Aluna mengangkat sudut alisnya. Ia bingung kenapa Frey menyebut anak mereka nanti adalah anak perempuan. Ia pun menanyakan alasan Frey berkata demikian.
__ADS_1
Frey menjawab, "Dia sangat suka merepotkan Leon, itu alasannya."