
Ponsel Axelle berdering, panggilan dari salah satu klien pentingnya membuat Axelle pamit undur diri. Padahal ia sudah senang karena Aluna mengajaknya namun urusan bisnis ini pun tidak bisa ia kesampingkan. Bukan dari klien keluarga Farezta, ini adalah klien dari perusahaan miliknya sendiri yang ia bangun dari hasil kerja kerasnya sendiri agar kelak ketika terjadi konflik antar kelurganya ia masih memiliki penopang hidup lain. Ini juga yang membuat Axelle yakin memilih Nurul dan menentang keluarganya, ia bisa berdiri di kaki sendiri sehingga tidak takut jika di hapus dari kartu keluarga Farezta.
Axelle pun yakin saat ini Alvaro sedang tertawa dalam hati karena secara tidak langsung berhasil menyingkirkannya dari Nurul hari ini. Kembali lagi, berhubung panggilan ini penting maka Axelle rela membiarkan Nurul pergi bersama Alvaro dan Aluna. Walau hati sebenarnya tidak rela karena bisa saja benih cinta yang masih ada itu semakin tumbuh dengan ketiganya pergi bersama.
Benar-benar terlihat seperti keluarga bahagia.
Axelle berpamitan, ia sempat melirik Alvaro yang sedang menatapnya dengan tatapan mengejek. Ingin marah namun Axelle lebih memilih sabar saja. Alvaro memang orangnya sangat tengil dan bukan tidak mungkin jika dia meladeni anak ingusan ini ia akan lupa jika memiliki pekerjaan penting.
"Ayo berangkat. Tunggu apa lagi," celetuk Alvaro yang terlihat sangat bersemangat. Ia bahkan masih sempat tersenyum mengejek pada Axelle yang masih berdiri di dekat pintu.
Nurul mendesah pelan, ingin rasanya ia menoyor kepala Alvaro atau membungkam mulut itu dengan ciuman amatirnya.
Eh?
Seketika Nurul langsung merutuki dirinya sendiri akibat pikiran nyelenehnya. Ia kembali teringat bagaimana waktu itu ia dengan berani mencium Alvaro walau ia tidak berpengalaman berciuman. Tapi setidaknya ia berciuman dengan pria yang pertama kali menciumnya. Dan kini wajah Nurul merona karena teringat aksi konyolnya itu.
Alvaro sendiri merasa heran melihat ekspresi Nurul, ia kepo dan sangat penasaran dengan apa yang sedang Nurul pikirkan.
Duh, si ayang lagi mikirin apa sih?
Gemas, Alvaro langsung berpindah ke samping Nurul. Ia tidak peduli meski Danish menatap tajam padanya. Ia bahkan pernah melakukan hal lebih gila dari ini. Ia pernah berteriak di ruang wisuda memanggil nama Nurul padahal prosesi wisuda sedang berlangsung.
"Ayang, kamu lagi mikirin apa sih? Kenapa pipinya merah gitu?" bisik Alvaro yang membuat Nurul tersentak.
"Lu kok ada disini?"
Alvaro berdecak, seserius apa lamunan Nurul bahkan sampai tidak menyadari ia sudah duduk disini. Danish sendiri tertawa melihat wajah dongkol Alvaro. Sepertinya keduanya akan menjadi penerus kartun Tom and Jerry jika keduanya sah menjadi saudara ipar nanti.
Deen Emrick, Dianti dan Bu Uswa hanya bisa melihat dengan diam bagaimana Danish selalu berusaha menjatuhkan mental Alvaro dan gagal karena Alvaro selalu saja bisa membalas dan membalikkan keadaan terhadap Danish. Deen merasa jika nanti Alvaro yang akan menjadi menantunya maka rumah mereka akan semakin terasa ramai dengan celetukan-celetukan khas Alvaro yang kadang diluar dugaan.
Alvaro always out of the topic and out of the box.
__ADS_1
Deen sendiri merasa sikap Alvaro inilah yang membuat Nurul tidak bisa berhenti jatuh cinta pada pria yang bahkan sudah menyakitinya begitu dalam. Ia saja seharunya marah dan memberi hukuman pada Alvaro tapi dengan sikap Alvaro yang menggemaskan ini, justru ia langsung suka pada pria kecintaan Nurul ini.
"Bunda ayo," ajak Aluna yang sudah tidak sabar.
Nurul pasrah, namun dalam hati tentu saja ia senang karena bisa membawa Aluna keluar bersama papinya. Pria yang selama ini Aluna nantikan dan walau Aluna tidak bertanya Nurul selalu tahu kalau anaknya memang mencari sosok Alvaro. Dalam mimpi pun kadang ia menyebut dan mencari sosok ayah untuknya. Hari ini, Nurul bisa mewujudkan keinginan putrinya itu walau hanya hari ini.
"Bunda siap-siap dulu," ucap Nurul yang langsung pergi ke kamarnya.
Di kamar Nurul bingung entah harus memakai pakaian yang mana dan berdandan seperti ini. Apa seperti seorang remaja yang hendak berkencan dengan pacar untuk yang pertama kalinya. Mendadak ia malu sendiri dan akhirnya ia memutuskan untuk mengenakan pakaian biasa saja namun tetap terlihat cantik dengan polesan seadanya.
Nurul mendekati keluarganya dimana Aluna sudah begitu bersemangat untuk keluar. Ia bahkan sudah berada di gendongan Alvaro. Entah Aluna yang manja atau Alvaro yang begitu posesif pada putrinya, Nurul bisa melihat Alvaro terus menciumi pipi anaknya begitupun dengan puncak kepalanya. Ia bahkan memeluk dengan erat dan gemas sekali dengan wajah putrinya yang 90% di dapatkan dari dirinya.
"Ayang, lu kok cantik banget," puji Alvaro begitu Nurul sudah berada di sampingnya.
"Ayang, ayang. Hati-hati Dek, biasanya orang kalau manggil ayang itu punya ayang-ayangan lainnya. Mikir lagi deh sebelum kamu milih dia," ujar Danish yang sengaja mengejek Alvaro.
Alvaro mencebikkan bibirnya, sekilas ia menatap Danish dengan bibirnya yang tersenyum meremehkan. "Terus aja jadi kompor meleduk. Sekalian deh ntar gue pulang dan gue bakalan bikin surat tugas buat Clarinta. Gue mutasi deh dia ke kantor cabang gue di Italia. Jauh, jauh deh sekalian. Merana, merana deh lu sekalian. Biar lu jadi perjaka karatan!" balas Alvaro yang langsung mendapat tatapan sengit dari Danish.
Tak ingin berlarut-larut, Ikram langsung melerai keduanya. Biasanya hanya Alvaro yang membuat Ikram sakit kepala, tapi kali ini ia menemukan Danish yang begitu persis sifatnya dengan Alvaro.
.
.
Alvaro menggendong Aluna serta satu tangannya menggenggam erat tangan Nurul. Ia membawa dua wanita tercintanya ini pergi ke pusat perbelanjaan. Alvaro ingin memberikan semua yang diinginkan oleh putrinya yang selama ini tidak pernah ia lakukan karena tidak tahu tentang keberadaannya. Apapun yang Aluna minta akan ia berikan.
Sempat terjadi perdebatan antara Nurul dan Alvaro karena Nurul tidak ingin Aluna membeli banyak mainan karena sudah memiliki begitu banyak di rumah. Namun Alvaro bersikeras di dukung oleh Aluna yang juga ingin membeli mainan ini dan itu membuat Nurul harus mengalah.
Saat Nurul menghela napas pasrah, dengan cepat Alvaro mencuri ciuman kilat di dahi Nurul. Kaget, tentu saja tapi mau marah juga untuk apa, sudah terjadi. Dan kini pria tengil itu tengah cengar-cengir setelah berhasil menyosornya.
Duh muka kesal si ayang bikin gemas. Andai bukan di pusat perbelanjaan, udah gue sosor tuh bibir, dari tadi manggil-manggil buat gue tempelin.
__ADS_1
Setelah memborong begitu banyak mainan, mereka berpindah ke tempat pakaian. Alvaro bahkan memilihkan beberapa untuk Nurul juga walau wanitanya itu menolak, Alvaro selalu tidak bisa dibantah.
"Ayang, coba lihat keadaan kita sekarang. Udah seperti keluarga bahagia, 'kan? Terus kapan kita nikahnya? Malam ini gimana? Mau ya?" bujuk Alvaro namun Nurul berpura-pura tidak mendengarnya.
Ayang ayang, pala lu peyang! Tapi lucu juga sih dia manggil gitu. Duh, kenapa gue merasa seperti ABG saja.
Alvaro terkekeh pelan, ia hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Menggoda Nurul sudah menjadi hobi barunya yang akan ia teruskan hingga nanti. Wajah kesal itu selalu membuat Alvaro terpesona, menggemaskan katanya.
"Ya udah deh, tiga bulan lagi. Lama sih, tapi gue bisa nunggu. Enam bulan aja gue sabar apalagi cuma tiga bulan lagi. Jangankan tiga bulan, empat tahun aja gue bertahan sampai akhir. Tolong jangan patahin hati gue ya, gue bisa mati nanti. Jangan milih Daniyal, dia kurang selera humor. Hidup lu nanti bakalan kayak triplek, datar. Mending sama gue kemana-mana. Muka gue tampan, sangat cocok di bawa ke kondangan dan nggak bakal malu-maluin. Gue juga masih kaya raya walau Daniyal masih lebih kaya, tapi tenang aja. Bahkan walau lu ngelahirin kesebelasan buat gue, gue masih sanggup menghidupi kalian. Sungguh!"
Nurul berdecak, Alvaro mulai tidak waras lagi. Nurul memilih melipir daripada ikut masuk dalam kegilaan Alvaro.
Alvaro tersenyum manis melihat punggung Nurul yang menjauh.
Sebentar lagi, sebentar lagi lu bakalan jadi istri gue Aina. Gue bakalan jadiin lu wanita terbahagia di dunia kayak lagunya BCL. Apapun bakalan gue beri buat lu selagi gue sanggup. Nggak bakalan gue lepas lagi!
Alvaro mengikuti langkah Nurul dengan masih menggendong Aluna. Kadang ia bertanya pada putrinya mengapa mereka begitu mirip dan ia sendiri juga yang jawab karena Aluna adalah anaknya. Suatu kebanggan bagi Alvaro karena anaknya begitu mirip dengannya. Dunia pun tidak akan mengelak dan orang tidak akan mengatakan Aluna adalah anak tetangga.
"Papi, bunda, boleh nggak Aluna minta sesuatu?" tanya Aluna saat Alvaro menurunkannya dari gendongan karena Aluna yang memintanya.
Aluna sudah puas bermain dan saat ini mereka sudah masuk ke salah satu food court.
"Boleh dong sayang, anak papi silahkan minta apapun pasti papi bakalan kasih buat Aluna," jawab Alvaro.
Nurul berdecih, "Lu lebay banget sih!"
"Bunda, boleh nggak?" tanya Aluna beralih pada sang bunda.
"Boleh sayang, emang Aluna mau minta apa?"
"Jangan-jangan Aluna mau minta adik, otewe bikin nih. Kuy deh 'Yang kita buatin untuk Aluna," celetuk Alvaro yang langsung digeplak kepalanya oleh Nurul.
__ADS_1
"Ngomong sekali lagi, gue lakban tuh mulut!" ketus Nurul, ayolah Nurul juga ingin Alvaro waras beberapa saat saja.
"Malam ini papi sama bunda tidul baleng Aluna ya. Besok papi pelgi jadi malam ini kita boleh tidul baleng, 'kan? Jangan nolak ya, tadi udah janji mau tulutin apapun keinginan Aluna."