GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Menenangkan Diri


__ADS_3

Alvaro masuk ke dalam kamar dan menutup pintu, ia tidak ingin membiarkan anak-anaknya merusak hubungannya dengan Nurul. Alvaro memang bersalah tapi ia juga tidak ingin kehilangan Nurul. Alvaro hanya tak habis pikir saja, biasanya anak-anak akan terluka jika melihat kedua orang tuanya bertengkar dan akan depresi jika sampai mereka bercerai, tapi ini justru sebaliknya. Anak-anaknya yang menjadi kompor meleduk.


Alvaro tidak menemukan keberadaan istrinya di dalam kamar, tapi Nurul sama sekali tidak keluar. Alvaro pun mencarinya di kamar mandi tapi tidak menemukannya hingga ia mendengar suara lemari di buka. Alvaro langsung menuju walk in closet.


Benar saja, ia menemukan istrinya di sana sedang mengambil beberapa pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper.


"Aina, kamu apa-apaan kayak gini? Nggak ada ya pergi-pergi, aku melarang kamu keluar dari rumah ini. Nggak gini caranya sayang, nggak gini. Kita bisa bicara baik-baik," ucap Alvaro menjauhkan koper milik Nurul.


Nurul menatap malas pada Alvaro. Sejujurnya ia tidak bisa juga terlalu menyalahkan Alvaro karena jika benar anak itu adalah anak Alvaro dan Irana, anak itu tentu sudah lebih dulu ada sebelum adanya Aluna. Jika saja Alvaro berselingkuh saat mereka sudah menikah, mungkin tanpa pikir panjang lagi Nurul pasti akan langsung mengirimkan surat gugatan perceraian.


"Aku hanya ingin menenangkan diri, Varo. Kamu sudah nyakitin hati aku. Entah sudah berapa banyak kebohongan yang kamu berikan sama aku selama ini, aku merasa nggak kenal lagi sama kamu," ucap Nurul dengan nada kecewa.


Alvaro menggeleng, ia kemudian berlutut di kali Nurul lalu mengambil tangannya untuk di genggam.


"Sumpah Aina, aku nggak pernah bohong sama kamu kecuali masalah anak ini. Aku masih menunggu waktunya, aku harus pastikan dulu anak itu adalah benar darah dagingku dulu baru aku berencana akan membahasnya denganmu. Jika dia bukan anakku ya aku akan lepas tangan saja," ucap Alvaro berusaha menjelaskan keadaannya dan juga rencananya.


Nurul tersenyum kecut, ia menggelengkan kepalanya dan menarik tangannya dari genggaman Alvaro. Ia mengambil beberapa langkah mundur.


"Aku nggak nyangka kamu sejahat itu. Dia sudah menganggap kamu sebagai ayahnya dan ketika nanti fakta mengatakan bahwa dia bukan anak kamu lantas kamu membuangnya begitu saja. Dasar lelaki kejam!" pekik Nurul yang lagi-lagi membuat Alvaro salah.


Nah 'kan ... salah lagi gue. Mau ini mau itu semua serba salah. Harusnya tuh gue nggak datang main poker waktu itu kalau tahu buntutnya bakalan kayak gini. Gue mending kehilangan harta gue dibandingkan kehilangan Aina. Eh tapi apa Aina masih mau sama gue kalau gue udah nggak punya apa-apa?

__ADS_1


Nurul berjalan keluar dari walk in closet kemudian ia duduk di sofa diikuti oleh Alvaro. Nurul menatap sekilas Alvaro kemudian ia memalingkan wajahnya. Rasa kecewa itu jelas masih ada dan sangat besar, akan tetapi Nurul harus bisa menyikapi ini dengan dewasa dan melihat dari sudut pandang Alvaro juga.


"Harusnya kamu ceritain ini ke aku sebelumnya, jangan sampai hal seperti ini terjadi di belakang aku, Varo. Jika kita menghadapinya bersama tentu akan mudah segalanya. Tapi tidak, kamu memilih menutupinya dariku. Kamu seakan tidak menganggap aku ada," ucap Nurul menyindir telak Alvaro yang kini terlihat menundukkan kepalanya karena memang ia membenarkan ucapan Nurul tersebut.


"Kalau kamu jujur dari awal, aku pasti bisa pahami ini semua dan aku bisa bantu kamu untuk mendapatkan solusinya. Nggak kayak gini Varo, kamu nggak ngelibatin aku dan itu artinya kamu emang nggak nganggap aku ada buat kamu. Kamu menghadapi semua masalah ini sendiri. Dan satu lagi, aku kecewa sama kamu, ternyata dulu kamu main ya sama Irana. Padahal wanita itu dulu yang sering membully aku di kampus ketika kamu mendekatiku. Tapi ternyata diam-diam kamu bareng dia ya, aku kecewa!"


Alvaro benar-benar menyesal, haruskah ia mengakui kepada Nurul jika selama ini Irana melakukan pembullyan itu karena dirinya? Semua masa lalu terkuat ketika hidup mereka telah baik-baik saja, sudah hilang Brandon dan Bastian Elard, Aluna sudah menikah dan mereka sudah menemukan calon jodoh untuk Naufal ... tapi kini masalah baru lagi datang, Alvaro benar-benar tidak siap jika harus terpisahkan dengan keluarganya.


"Maaf sayang, maaf. Aku nggak bermaksud untuk ini, aku hanya berharap aku bisa menyelesaikan masalah ini tanpa sampai di telingamu. Aku nggak yakin kalau dia itu anak aku, sumpah! Sekalipun dia bukan anak aku dan aku sudah bertanggung jawab dan berjanji pada ibunya, aku pasti akan membantunya dari segi finansial. Tapi bukan untuk di keluargaku, aku nggak akan bawa dia ke dalam rumah kita," ucap Alvaro dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.


Setelah sekian lama Alvaro tidak berjuang untuk mendapatkan hati istrinya karena ia sudah menggenggamnya, kini ia merasa dirinya seakan kehilangan Nurul. Ia kehilangan genggamannya karena istrinya itu berulang kali mengatakan kata kecewa terhadapnya.


"Sekarang aku ingin tenangin diri aku dulu, Varo. Kamu 'kan tidak melibatkan aku dalam masalahmu, jadi sekarang kamu selesaikan masalah kamu sendiri. Aku ingin pergi menenangkan diri dulu dan kamu nggak boleh halangin aku karena aku pun nggak ngehalangin kamu untuk melakukan hal yang menjadi rahasia kamu beberapa waktu ini. Toh kamu juga nggak butuh aku!" ucap Nurul tak ingin dibantah kemudian ia mengabaikan Alvaro dan berjalan ke arah walk in closet untuk mengambil kopernya.


"Bunda mau pergi mau nenangin diri, kalian harus jaga diri baik-baik ya. Terutama kamu Aluna, kamu sedang mengandung cucu bunda, kamu harus selalu menjaga diri dan jaga pola makan. Dan Frey tolong jaga selalu Aluna buat bunda ya. Dan kamu Naufal, belajar yang rajin. Bunda nggak tahu berapa lama akan pergi tapi setelah hati bunda senang bunda akan datang menengok kalian. Untuk saat ini semua papi dulu ya, papi paling tahu cara mengurus anak. Bukan begitu, Varo?"


Ucapan Nurul setelah ia menasehati anaknya dan menyampaikan beberapa wejangan, ia menutup kalimatnya dengan sebuah kalimat sindiran pedas pada suaminya tersebut hingga mata Alvaro terbelalak.


Hati Alvaro mencelos, dia tidak bisa lagi menghalangi Nurul. Bahkan sampai di depan pintu rumah utama pun ia tidak bisa menghalangi istrinya ketika masuk ke dalam mobil di mana sopirnya sudah siap sedia mengantar sang nyonya.


"Yang nggak gini Yang. Kita bisa bicara baik-baik, aku minta maaf. Jangan tinggalin aku. Walaupun kamu pergi, aku pasti bakalan nyusulin kamu kemanapun itu," ucap Alvaro yang tidak didengarkan oleh Nurul.

__ADS_1


"Jalan Pak!" ucap Nurul kepada sang sopir.


Alvaro memukul-mukul mobil sambil mengejar mobil yang kini telah berlalu pergi. Ia bahkan kini sudah tidak bisa lagi menjangkaunya, dengan cepat Alvaro mencari mobilnya yang terparkir di garasi mobil dan hendak menyusul istrinya. Tetapi di sana sudah ada Naufal yang menahan.


Rasanya Alvaro ingin memukul putranya ini akan tetapi ia teringat akan ancaman Nurul. Alvaro berusaha untuk membujuk Naufal tetapi anaknya itu sama sekali tidak mendengarkan, mereka sudah sepakat untuk membuat Papi mereka jera. Ini adalah kebohongan pertama papinya selama mereka bersama belasan tahun, dan jika papinya tidak diberi pembelajaran yang cukup keras maka pasti akan mengulangi kebohongannya lagi.


Alvaro tak habis cara, ia kemudian mengambil mobil yang lain namun sayang sekali lagi-lagi ia tidak bisa menemukan kuncinya karena semua telah dipegang oleh Naufal. Alvaro kemudian mencoba untuk menelpon Nurul akan tetapi ponsel Nurul hanya ia biarkan saja berdering karena saat ini Nurul tengah membesarkan hatinya untuk menerima kebohongan sang suami.


'Maaf Varo, tapi hati aku sedang sakit, sangat sakit. Bukan karena kebohongan kamu tentang anak ketiga kamu itu yang entah itu memang milikmu atau milik orang lain Tapi tentang kamu dan Irana, tentang dulu masa lalu kita. Aku nggak tahu apa yang sudah kamu lakuin dulu walaupun aku tahu kamu bejat, tapi nggak kayak gini. Nggak sama Irana yang dulu membully aku di kampus. Nggak kayak gini Varo, aku kecewa.'


Nurul menangis tanpa suara, hanya dalam hati saja ia mampu mengeluarkan unek-uneknya. Ia berniat akan pulang ke kampungnya di mana ada orang tuanya dan juga kakaknya serta keponakannya. Mungkin ia akan bisa menghibur diri di sana, akan tetapi ia bingung apa yang harus ia katakan ketika ia datang seorang diri dan kakaknya yang selalu ingin cari tahu itu pasti akan mencecarnya dengan berbagai macam pertanyaan.


Sementara sang sopir hanya bisa melirik sesekali nyonyanya ini dari kaca spion. Sudah puluhan tahun ia bekerja di keluarga Prayoga, ia mengetahui keluarga itu sangat harmonis tapi kali ini ia benar-benar syok melihat bagaimana sang nyonya keluar dari rumah dengan membawa kopernya lalu tuannya mengejar dari belakang. Benar-benar sebuah kejutan yang sangat mengejutkan dari pasangan yang selalu terlihat kompak dan romantis itu.


Nurul sampai di bandara dan ia meminta kepada sang sopir untuk tidak menunggunya karena ia benar-benar akan berangkat ke Kalimantan. Sang sopir pun hanya bisa berpesan agar nyonyanya selalu berhati-hati. Nurul pun tersenyum, ia mengangguk kemudian ia meninggalkan sopir yang sedang menatap iba padanya.


Sambil menunggu waktu penerbangannya, Nurul duduk di kursi tunggu sambil membaca majalah yang tersedia. Dia ingin membuang rasa gundahnya dan juga tidak ingin mengaktifkan ponselnya karena ia tahu Alvaro pasti akan terus menghubunginya karena sejak tadi Alvaro terus menelpon dan mengirimkan pesan.


Seseorang dari arah berbeda memperhatikan Nurul yang saat ini sedang sibuk membaca majalah. Ia pun melangkah dengan langkah yang begitu cepat dan duduk di samping Nurul.


"Nurul kamu ngapain di sini? Wajah kamu kenapa terlihat sembab? Dan kamu akan kemana? Apa yang terjadi denganmu?"

__ADS_1


"Loh Axelle ... kamu kenapa bisa di sini?" tanya Nurul yang kaget karena ia berpapasan dengan Axelle — orang yang seharusnya ia lihat ketika ia sedang bersedih.


__ADS_2