
Ucapan Frey tersebut membuat geger satu sekolah. Ada yang syok berat, patah hati dan juga ada yang pingsan dan hampir pingsan seperti Cici. Mantan sahabat Aluna itu juga ada disana menyaksikan bagaimana Aluna dibully lalu Frey menendang mulut salah satu siswa dan berakhir dengan pengakuan Frey tentang status hubungannya dengan Aluna.
Siapa yang tidak akan terkejut mendengar berita tersebut, selama ini mereka dikenal sebagai pasangan saudara dan mendadak Frey membuat pengakuan kalau Aluna adalah istrinya. Sungguh menggemparkan tetapi bagaimanapun itu, Frey tidak peduli. Entah mereka akan dikeluarkan dari sekolah atau masih diizinkan berada di sekolah hingga pelulusan nanti, ia tidak peduli.
Langkah Keenan mundur beberapa langkah hingga membentur wajah Cici. Ia salah satu dari yang syok berat mendengar ucapan Frey tersebut. Apa yang tadi ia pikirkan memanglah kenyataannya dan apa yang dikatakan oleh ayahnya jika Aluna dan Frey adalah pasangan tunangan itu memang nyata.
"Keenan, me-mereka udah nikah?" tanya Cici dengan terbata-bata, ia masih syok dan berusaha untuk tidak pingsan sedangkan Keenan hanya menjawab dengan anggukan kepala yang perlahan.
Di belakang Cici ada Riani, gadis yang paling suka nyinyir pada Cici itu tertawa saat melintas di sampingnya. "Huhuu ... nangis gue, nangis. Cinta diam-diam gue ternyata udah sold out. Huhuu ... nangis kejer nih gue di bawah pohon beringin, berharap mbak Kunti datang buat ngajak gue ketawa-ketiwi. Hahaha."
Tangan Cici terkepal kuat dan ia tahu benar Riani baru saja menyindirnya. Tak suka dengan Riani yang selalu bisa menang darinya, Cici berniat mempermalukannya.
Suara Riani itu juga menjadi bahan perhatian yang lainnya. Semua juga tahu kalau selama ini Riani adalah orang yang paling ngebet untuk mendapatkan Frey, tapi justru gadis itu terlihat biasa-biasa saja dan bahkan masih sempat-sempatnya melawak.
"Ya ampun Riani, kasihan banget lu. Belum juga diterima lu udah ga—"
"Lu mau bilang apa hah, gagal? Gue bakalan nangis kejer sambil guling-guling di tanah? Lu aja sono nangis di bawah pohon beringin atau sekalian di bawah pohon bambu, biar nanti mbak Kunti datang buat hibur lu dengan ketawanya yang melengking ..."
Belum sempat Cici menyelesaikan ucapannya, Riani sudah memotongnya. Cici dibuat malu seketika, niat hati ingin mempermalukan tapi justru ia yang terkena serangan balik.
Dengan santainya Riani berjalan ke arah Aluna, ia kemudian merangkulnya sambil tersenyum manis agar saudara iparnya itu kembali bersemangat.
"Riani, itu Frey udah ngaku kalau kita udah nikah, terus gimana sama sekolah kami? Dia nggak sabaran banget buat ngaku. Gue sih senang banget tapi masalahnya gimana sama sekolah nanti?" bisik Aluna.
Riani menjawil hidung bagus Aluna dengan gemas. "Lu lupa kalau sekolah ini punya nyonya Safira Magdalena Griffin? Belum lagi bokap gue ketua yayasannya, mereka nggak bakalan bisa ngapa-ngapain sama kalian berdua. Berani menentang, karier mereka berakhir di sekolah elit ini. Lu tenang aja," ucap Riani dengan sombongnya padahal ia sebenarnya tidak bermaksud begitu.
Aluna kembali memikirkan ucapan Riani yang memang benar adanya. Apalagi papinya juga donatur tetap di sekolah milik nenek Safira Griffin dan di dalam kandungan Aluna tengah bertumbuh calon penerus keluarga Griffin, ia harusnya merasa tenang-tenang saja. Dan benar apa yang dikatakan oleh Riani, selagi punya koneksi yang kuat, why not dipergunakan dengan baik.
Suara-suara mulai terdengar memenuhi tempat tersebut, mereka membahas tentang status Aluna dan Frey. Ada yang merasa mereka itu sangat sweet karena selama ini ternyata menyembunyikan status hubungan mereka yang sesungguhnya, ada yang patah hati karena dua most wanted itu ternyata adalah pasangan halal, dan ada juga yang tidak senang dan ingin melapor pada kepala sekolah.
"Riani, gue kira lu bakalan patah hati? Lu mau modus deketin Aluna biar bisa dekat sama Frey? Awas Aluna, ada calon pelakor tuh!" teriak Cici lagi, setidaknya ia tidak malu sendiri saat ini.
__ADS_1
"Pelakor? Lu kali yang diam-diam jadi pelakor, tapi sayang Frey nggak suka sama lu," teriak Aluna hingga membuat Cici malu berkali-kali lipat. "Oh ya, Riani itu adiknya Frey kalau kalian mau tahu!" imbuh Aluna.
Brukk ...
Seketika Cici jatuh pingsan dan Keenan tidak sempat menahannya. Cici terlalu syok mengetahui dua kenyataan hari ini. Apalagi Riani yang selama ini ia anggap sebagai saingan berat dan menebar benih permusuhan ternyata merupakan saudara Frey, ia sudah salah sasaran.
Kehebohan tersebut sampai ke telinga kepala sekolah. Sebenarnya seluruh guru dan para staf kependidikan di sekolah ini sudah mendengar masalah tersebut, mereka sudah melapor kepada kepala sekolah sedangkan kepala sekolah — Pak Suwondo sendiri sudah tahu masalah ini dan tahu dengan sejelas-jelasnya kalau Aluna dan Frey sudah menikah. Namun jika ia tidak menindaki masalah ini, ia pasti akan dinilai pilih kasih.
"Panggil mereka berdua menghadap ke ruanganku sekarang," ucap kepala sekolah kepada salah satu guru yang melapor dan guru itu segera pergi.
Beberapa menit kemudian sudah ada Aluna dan Frey yang duduk di depan kepala sekolah dengan meja besar membatasi mereka. Aluna dan Frey saling berpegangan tangan, sepanjang jalan tadi menuju ke ruang kepala sekolah, Frey sudah meyakinkan kalau ia akan tetap melindungi Aluna apapun keputusan kepala sekolah nanti dan mereka akan menggunakan koneksi jika memang harus.
"Jadi ... bagaimana kita harus menyikapi masalah ini, Aluna - Frey? Saya tahu kalian adalah pasangan suami-istri, tapi masalahnya kalian itu masih sekolah dan sekolah ini tidak membenarkan ada pasangan menikah. Saya harus memberikan sanksi tapi mengingat bulan depan kalian ujian kelulusan, saya berat hati mengeluarkan kalian. Apa kalian ada saran? Saya hanya ingin sekolah ini tetap terjaga nama baiknya dan kalian juga tetap bisa lulus dengan nilai terbaik ..."
Pak Suwondo menghela napas, ia memijat pelipisnya. Kelakuan orang kaya memang beda-beda menurutnya, anak mereka yang baru saja akan beranjak dewasa sudah mereka nikahkan padahal masa depan mereka masih panjang. Apalagi sekarang sudah hamil walaupun itu sah sah saja karena mereka memang berhak melakukannya, tetapi apakah tidak bisa menunda sampai lulus sekolah?
Jika ia terus memikirkannya maka ia sendiri yang akan kebingungan. Mungkin ini cara mereka saling menjaga keturunan dan juga harta benda mereka agar tidak salah jatuh ditangan penerus nanti.
Calon anak kami? Entahlah, Pak Suwondo rasanya ingin tertawa mendengar ucapan Frey yang mengatakan tentang anak kami. Sungguh lucu baginya anak seumuran Frey akan segera menjadi seorang ayah.
"Bukan saran yang buruk. Lagi pula saya tidak berani mengeluarkan kalian karena saya sadar betul posisi kalian dan pemilik sekolah ini. Belum lagi tuan Alvaro Genta Prayoga yang juga merupakan donatur tetap di sekolah ini dan nama sekolah ini di bawah naungan keluarga Griffin, saya mengaku kalah jika harus dipaksa mengeluarkan kalian berdua. Nanti akan saya sampaikan kepada guru-guru lainnya jika kalian mulai minggu depan akan belajar di rumah," ucap Pak Suwondo.
Keputusan tersebut disambut gembira oleh Aluna dan Frey. Untung saja kepala sekolah ini tahu situasi dan kondisinya sehingga Frey tidak perlu susah payah mengancam dengan akan menelepon nenek Safira Griffin.
Setelah perbincangan dengan kepala sekolah berakhir, Aluna dan Frey keluar. Mereka tidak akan mengikuti pelajaran terakhir karena Frey lebih memilih untuk membawa Aluna pulang. Di sepanjang jalan menuju ke kelas, semua mata tertuju pada pasangan yang kini dengan terang-terangan mengumbar kemesraan.
Tangan keduanya saling bertautan dan senyum mereka terus mengembang tanpa peduli tatapan tajam dan juga kagum pada keduanya.
Di dalam kelas ada Riani yang sudah bersedih karena sebentar lagi ia akan kehilangan dua teman terdekatnya. Ia juga mengusulkan dirinya untuk homeschooling bersama dengan Aluna dan Frey, rasanya di sekolah akan sangat membosankan tanpa mereka berdua.
"Makanya lu suruh noh prajurit negara buat ngelamar, biar bisa ayang-ayangan kayak gue," ujar Frey sedikit meledek.
__ADS_1
Riani mendengus, sang kekasih sedang pergi tugas negara dan ia sedang merana, dan kini justru Frey dan Aluna tebar kemesraan. Rasanya ia ingin mengamuk tapi tidak jadi karena teringat Aluna yang sekarang jauh lebih agresif. Ia tidak mau terkena tonjok seperti Cici.
Riani tidak mengantar Aluna dan Frey keluar, ia lebih senang berada di kelas sambil melihat betapa patah hatinya Cici saat ini. Gadis itu terlihat murung bagai raga tanpa jiwa. Riani tidak bisa melewatkan sedetik saja tanpa membuat Cici kesal.
Di luar kelas, Aluna dan Frey yang masih menjadi pusat perhatian berjalan santai. Melihat keduanya yang berjalan dengan membawa tas, mereka langsung paham jika Aluna dan Frey sudah mendapat hukuman dari sekolah dan mungkin keduanya sudah dikeluarkan. Tapi dari mereka tidak ada satu pun yang berani mengolok lagi setelah kejadian yang menimpa Jun — siswa yang tadi mulutnya di tendang oleh Frey.
Beberapa saat kemudian Aluna menghentikan langkahnya.
"Sayang kenapa, hem?" tanya Frey dengan suara yang begitu lembut, nampak sekali dia sangat sayang kepada Aluna.
Siswi-siswi yang ada disana dibuat iri dan juga mleyot seketika ketika Aluna mengeluh kakinya pegal dan Frey langsung menggendongnya ala bridal style.
Wajah Aluna memerah, ia tersipu malu dengan perlakuan Frey yang terang-terangan mengumbar kemesraan.
"Sayang, nggak harus digendong kayak gi—"
Ucapan Aluna terhenti dan matanya membulat sempurna ketika bibir Frey membungkamnya di hadapan teman-teman sekolah.
"Woww!"
"Oh my God, Frey cium Aluna! Gila, gue kayak lagi nonton Drakor adegan live. Mata gue ternodai, anjirr jadi pengen!"
Frey menyeringai puas, ia sangat senang setelah membuat mereka geger dengan ia yang mencium Aluna di hadapan mereka semua.
Lu itu milik gue, dan mereka harus tahu itu, gumam Frey dalam hati sambil berjalan menggendong Aluna dengan dua tas yang berada di punggungnya.
Di sisi lain, Keenan yang sudah lama tidak menghubungi Leon pun mengirim pesan pada sepupunya itu.
Leon yang sedang berada di dalam kelas di sekolah barunya itu pun membaca pesan tersebut.
Oh ... jadi dia sudah hadir rupanya, kira-kira bakalan jadi calon jodoh gue nggak ya? Eh ... sialan, mikir apa sih gue!
__ADS_1