
Nurul sangat tidak siap bertemu dengan Axelle, apalagi menjawab pertanyaan pria ini — pria yang dulu pernah sangat menginginkannya dan tidak ingin ia dibuat sedih oleh Alvaro. Walaupun saat ini kenyataannya hal yang membuat sedih Nurul bukanlah Alvaro yang menduakannya, akan tetapi kenangan masa lalu tentang Alvaro dan Irana walaupun tidak pernah ia ketahui itu membuat hatinya benar-benar sangat sakit.
Axelle sendiri terus saja menatap Nurul dengan tatapan penuh tanya dan penuh selidik. Nurul ingin memalingkan wajahnya untuk menghindari setiap pertanyaan Axelle akan tetapi ia sudah tidak bisa menghindar lagi. Dan yang paling penting saat ini ia harus pandai-pandai mencari cara untuk menjawab setiap pertanyaan Axelle.
"Aku memang sendiri di sini karena ingin pergi ke rumah orang tuaku. Mendadak aku sangat merindukan mereka dan tadi aku bertengkar dengan Alvaro karena dia tidak mengizinkan aku pergi seorang diri, sedangkan aku sudah sangat ingin pergi menemui orang tuaku. Aku bahkan mematikan ponselku, dia terlalu posesif," jawab Nurul dan berharap iya bisa meyakinkan Axelle.
Sebelah sudut alis Axelle terangkat, ia menatap lekat kepada Nurul yang terlihat begitu santai saat berucap. Nurul adalah seorang mantan pengacara dan tentu ia harus pandai memainkan ekspresi serta membuat orang lain percaya dengan ekspresi wajah yang ia perlihatkan.
"Oh ya?" tanya Axelle memastikan, walaupun wajah Nurul terlihat baik-baik saja tetapi tidak dengan perasaan Axelle. Lelaki yang pernah sangat mencintai Nurul ini merasa bahwa Nurul sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Nurul mengangkat kedua bahunya, ia tidak ingin memberi jawaban lewat kata tetapi lewat bahasa tubuh saja. Melihat Nurul yang terlihat begitu santai, Axelle pun tidak mempertanyakannya kembali. Lagi pula mana mungkin Alvaro akan tega menyakiti hati Nurul sedangkan pria itu menjadi budak cinta sudah belasan tahun lamanya.
Sudah sangat lama Nurul tidak pernah berduaan dengan Axelle seperti ini. Jika pun mereka memiliki waktu luang pasti akan ada Alvaro atau Evelyn, salah satunya yang akan menemani. Axelle benar-benar berusaha untuk menjaga jarak dari Nurul. Dia memang sudah sangat mencintai Evelyn, tapi ia tidak tahu bagaimana keadaan hatinya jika ia hanya berdua dengan Nurul saja.
Axelle memalingkan wajahnya kemudian ia berusaha mengambil ponselnya dan menghubungi Evelyn walaupun hanya lewat pesan WhatsApp saja. Ia harus bisa mengontrol dirinya. Sebenarnya hati Axelle sangat tidak nyaman begitu melihat Nurul dalam keadaan wajah yang sembab. Perasaannya yang dulu pernah begitu dekat dengan hati Nurul langsung mendapatkan sinyal bahwa wanita ini sedang tidak baik-baik saja.
'Apa aku tanyakan saja pada Alvaro?' tanya Axel dalam hati.
Axel pun memutuskan untuk mengirim pesan kepada Alvaro. Ia berbasa-basi menanyakan keadaan mereka sekeluarga karena ia akan datang untuk menjenguk mereka bersama Evelyn.
Jawaban tak terduga yang Axelle dapatkan dari Alvaro di mana Alvaro mengatakan bahwa saat ini ia sedang berlibur bersama Nurul sehingga Axelle tidak diizinkan untuk datang ke rumah.
Walaupun tidak paham sebenarnya dengan apa yang terjadi pada Nurul, tetapi ia bisa tanggap bahwa hubungan Nurul dan Alvaro saat ini sedang tidak baik-baik saja. Dari jawaban Alvaro saja sudah menyatakan bahwa ia dan Nurul sedang bermasalah. Bagaimana bisa Alvaro mengatakan ia sedang berlibur bersama Nurul sedangkan orangnya sedang berada di samping Axelle?
'Aku pernah bilang sama dia kalau dia nggak boleh sampai nyakitin Nurul. Tapi apa yang baru saja terjadi ini? Apa Alvaro mengingkari setiap kata-katanya waktu itu? Apakah Alvaro benar-benar menyakiti Nuru?l Jika tahu begini apakah dulu keputusanku melepas Nurul adalah benar?'
__ADS_1
Axelle lalu menggelengkan kepalanya, ia tidak pantas memikirkan hal seperti ini karena ia sudah memiliki anak dan istri. Lagi pula pertengkaran adalah hal biasa yang terjadi dalam rumah tangga, ia tidak boleh mengungkit masa lalu lagi karena ia sudah memiliki kehidupan dan kebahagiaannya sendiri bersama Evelyn dan anaknya.
"Itu pesawat kita, apakah kamu juga mengambil kelas bisnis?" tanya Axelle ketika ia mendengar pengumuman bahwa pesawat yang ia tumpangi akan segera melakukan penerbangan.
Nurul mengangguk, ia kemudian mengajak Axelle untuk segera menuju ke pesawat mereka. Axelle sendiri tidak menaiki jet pribadi atau helikopter miliknya, ia hanya pergi sebentar dan tidak ingin membuang-buang banyak uang hanya untuk ongkos helikopter atau jet pribadinya.
Axelle pun tak mau menduga jika di pesawat kursi yang ia tumpangi berdampingan dengan Nurul. Hati Axelle tentu berdebar-debar kencang, ia masih mengingat bagaimana dulu ia dan Nurul berada di dalam pesawat di mana Nurul mau membuka hati untuknya sampai akhirnya hubungan itu tidak direstui dan Alvaro datang di hari yang sama.
Please don't flashback! Aku tidak ingin menyoroti masa lalu itu, aku sudah punya Evelyn, gumam Axelle dalam hati mencoba menolak perasaannya yang tiba-tiba saja mencuat ke permukaan. Perasaan yang dulu sudah pernah ia kubur dalam-dalam.
Rasanya keduanya seakan begitu canggung padahal jika kumpul keluarga keduanya bisa saja sering bercerita dan berbagi banyak hal untuk dibahas. Akan tetapi ketika keduanya benar-benar hanya 'berdua' tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka seakan keduanya adalah orang asing.
Sebenarnya Nurul sangat ingin mengajak Axelle bercerita untuk mengusir rasa sedihnya, akan tetapi kata-kata di mana Axelle pernah berkata kepadanya bahwa jika Alvaro atau seseorang menyakitinya maka Nurul bisa berlari kepadanya dan dia dengan senang hati akan merentangkan tangannya untuk membawa Nurul ke dalam dekapannya.
Ada banyak kata-kata Axelle yang terngiang-ngiang di telinga Nurul begitupun juga dengan benaknya yang teringat kembali berbagai hal dan juga kata-kata yang pernah Axelle ucapkan padanya itu seolah terputar di benaknya bagaikan sebuah film.
Siapa yang akan tahan ketika mengetahui ternyata wanita yang dulu selalu membullynya selama di kampus ternyata berhubungan dengan lelaki yang selalu menjadi pelindungnya? Otak Nurul yang cerdas itu langsung berpikir bahwa selama ini Irana membullynya di kampus atas suruhan Alvaro.
Semua sudah disetting dengan jelas bagaimana setiap kali Irana membullynya Alvaro pasti akan datang untuk menjadi pahlawan. Dan itu semua menurut Nurul sudah membodohinya karena sikap Alvaro yang selalu menjadi pahlawan kesiangan untuknya dan itulah yang membuat Nurul membuka hati padanya. Dengan ia yang selalu mendapat perundungan dan di sana selalu ada Alvaro yang melindunginya.
Aku benar-benar merasa ditipu walaupun aku tahu memang awalnya aku ditipu oleh Alvaro dengan taruhan gilanya itu. Dan aku juga menipu diriku sendiri dengan terus berkata bahwa Alvaro adalah lelaki yang baik yang bisa mencintaiku dengan baik. Walaupun aku merasakan cintanya itu, tetapi masa lalu yang baru terkuat membuat hatiku hancur. Maaf Alvaro tapi aku harus menenangkan diri dulu. Cintamu menipuku Alvaro!
"Nurul sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Maaf tapi aku tidak pernah bermaksud ikut campur, hanya saja aku selalu melihatmu dengan keadaan ceria selama ini. Tapi hari ini aku melihatmu berbeda, aku melihat dirimu persis seperti Nurul yang dulu pertama kali aku kenali. Ada apa?"
Pertanyaan Axelle tersebut rasanya ingin membuat Nurul memecahkan tangisnya. Ingin rasanya ia bersandar di bahu kekar pria ini, akan tetapi ia sadar dirinya adalah istri dari Alvaro sedangkan Axelle adalah suami dari Evelyn di mana Evelyn merupakan adik ipar dari Nurul sendiri.
__ADS_1
Nurul memberikan sebuah senyuman, senyuman yang penuh dengan kepalsuan dan Axelle bisa melihat itu. Rasanya ia ingin merangkul Nurul, membawanya ke dalam dekapannya, akan tetapi ia sadar Nurul adalah istri dari Alvaro yang merupakan adik dari istrinya Evelyn. Hubungan keduanya yang begitu rumit dan akhirnya tidak bisa bersatu.
Axelle kemudian memutar otak, ia harus bisa mendapatkan informasi dari Nurul yang entah mengapa membuatnya sangat penasaran. Ia ingin Nurul berbagi apa yang ia rasakan dan setidaknya Axelle bisa menjadi pendengar yang baik untuknya.
"Maaf Nurul, sebenarnya aku merasa ada yang tidak baik-baik saja dengan dirimu. Jujur saja tadi aku setelah meeting ingin pergi ke rumahmu, tapi aku menghubungi Alvaro dan katanya kalian sedang liburan. Lalu aku memilih untuk pulang tetapi yang membuatku terkejut adalah aku menemukanmu di bandara seorang diri dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Apa masih ingin mengelak?" tandas Axelle yang membuat Nurul terdiam.
Hanya dengan berkata seperti itu Axelle tidak akan membuat Nurul curiga padanya. Axelle harus pandai-pandai berbicara dengan Nurul karena saat ini pasti Nurul sedang dalam keadaan yang tidak baik untuk diajak mengobrol.
"Seperti biasa, kamu selalu mampu menebakku," jawab Nurul diiringi senyuman miris.
Axelle menghela napas, ada bagian di hatinya yang terasa sakit saat tahu wanita tangguh yang dulu begitu ia inginkan ini sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja terutama tentang hatinya. Ada rasa ingin melindungi dan ingin memberi hukuman pada Alvaro karena sudah membuat Nurul menangis.
Axelle pun meminta Nurul untuk bercerita tapi Nurul masih enggan berbagi. Axelle tidak memaksa, ia tahu ini bukan ranahnya dan jika itu masalah internal rumah tangga, Axelle tidak akan ikut campur. Ia mengajak Nurul untuk membahas hal lain saja. Dan tiba-tiba saja terbesit ide di otak cerdas Axelle.
"Ck!" Axelle berdecak dan Nurul menjadi heran karena pria itu tadi sedang bersenda gurau dengannya namun ketika melihat ponselnya, Axelle menjadi terlihat kesal.
"Ada apa?" tanya Nurul.
"Evelyn mencurigaiku, katanya aku pergi bersama wanita lain. Bisakah kita mengambil gambar agar Evelyn tidak curiga padaku? Akhir-akhir ini ada banyak yang membuat Evelyn kesal. Aku semakin tampan di usiaku dan banyak karyawan baru yang menyukaiku, jadinya Evelyn memasang siaga satu," ucap Axelle yang membuat Nurul mencebikkan bibirnya.
"Kamu narsis juga, udah tua padahal. Ya udah ayo foto biar adik iparku itu tidak curiga," ujar Nurul dan Axelle pun langsung bersemangat.
Dengan cepat Axelle memperlihatkan ia mengirim foto pada Evelyn. Namun berbeda dengan pesan yang ia sampaikan dimana ia mengatakan pada Evelyn bahwa ia bertemu Nurul tak sengaja di pesawat.
Lalu Axelle mengirim foto itu pada seseorang dengan caption 'Dulu aku pernah melepasnya karena aku pikir kau bisa menjaganya dan tak membuatnya menangis. Tapi aku menemukannya menangis, apakah ini pertanda aku harus mengambilnya kembali darimu?' kemudian ia tersenyum lebar.
__ADS_1
Mata Alvaro jelas terbuka lebar mendapat pesan tersebut dari Axelle. Tangannya terkepal kuat dan ia langsung berdiri dari duduknya di lantai karena sedang meratapi nasibnya selepas Nurul memutuskan untuk pergi.
"Sialan! Gue harus nyusul. Awas aja lu Axelle kalau sampai berani nikung!"