
Matahari bersinar dengan begitu terik, membuat peluh dari para peserta upacara bendera di hari Senin ini bercucuran di pelipis mereka. Arahan dari pembina upacara yang begitu panjang membuat banyak siswa-siswi yang mengikuti upacara tersebut mengeluh.
Apalagi Riani yang berdiri di barisan paling belakang Karena sudah malas mendengarkan arahan dari pembina, ia sendiri justru membuat sebuah perkumpulan dimana ia yang menjadi pembina yang memberikan arahan. Bukan arahan seperti yang dilakukan oleh pembina upacara, melainkan arahan yang berupa ghibahan dengan teman-temannya.
"Eh, lu tahu nggak itu lho ada orang ya, dia kok tega banget jadi pengkhinat. Bertahun-tahun bersahabat tapi eh tapi ternyata dia itu musuh dalam selimut. Nggak kebayang gue kalau sampai punya teman kayak gitu," ucap Riani sambil berbisik-bisik akan tetapi suaranya tersebut masih bisa di dengan oleh orang-orang di sekitarnya.
"Oh ya? Siapa tuh?" tanya salah satu teman yang berbaris di samping Riani.
"Ada noh, cewek dan lu nggak kenal sih. Dia itu mendekati temannya itu dengan maksud agar bisa menjadi kekasih dari saudara temannya itu. Bahkan ya, dia tega banget tau nggak sih bekerja sama dengan orang lain untuk memisahkan hubungan persaudaraan mereka dan nggak tanggung-tanggung bahkan dia membuat image temannya itu menjadi buruk di mata saudaranya. Munafik nggak tuh, dan kalau kalian punya teman begitu bagusnya diapain ya?"
Suara-suara sumbang mulai menimpali ucapan Riani tersebut. Ada yang mengatakan bahwa orang tersebut begitu jahat. Ada pula yang mengatakan mereka akan menamparnya dan ada juga yang mengatakan bahwa lebih baik orang tersebut dimusnahkan saja karena sangat meresahkan bumi manusia.
Tentu saja di depan mereka ada Cici yang terus mendengarkan ghibah unfaedah tersebut, dan ia tentu saja merasa jika dirinyalah yang tengah disinggung oleh Riani. Ingin rasanya Cici berbalik badan lalu menampar mulut Riani yang begitu asiknya berghibah dan mengompori teman-teman yang lain. Dan mungkin saja tidak lama lagi ia akan menyebutkan nama orang tersebut yang tidak lain adalah dirinya.
Namun Cici masih bisa menahannya selagi Riani tidak menyebutkan namanya maka ia biarkan saja. Akan sangat berdampak jika ia berani menimpali ucapan Riani. Bisa gawat nantinya.
Lain halnya dengan Riani yang sedang bergosip ria, Aluna kini melangkah maju ke barisan depan kemudian ia berteriak, "Pak, apakah masih lama? Kaki saya sudah sangat pegal ini. Mana panasnya minta ampun. Saya belum ingin jadi ikan asin, Pak!"
Gubraakk ...
Kepala Sekolah yang sedang memberikan arahan tersebut lantas terdiam setelah mendengar ucapan Aluna yang dengan begitu beraninya menginterupsi arahan yang tengah ia berikan.
Tak hanya kepala sekolah, guru-guru serta seluruh siswa-siswi yang ada di lapangan tersebut langsung menatap horor kepada Aluna. Apalagi Frey, kini ia sedang menyembunyikan tawanya, entah mengapa akhir-akhir ini Aluna selalu bersikap menyimpang dan itu menurut Frey sangat menggemaskan.
Acara ghibahan Riani pun terhenti, ia benar-benar kaget dengan Aluna yang berani maju dan menegur kepala sekolah. Sama halnya dengan Cici dan juga Keenan yang tadinya sedang memperhatikan Aluna di dalam barisan dan kini siswi favoritnya itu sudah membuat sebuah gebrakan.
__ADS_1
Guru bimbing konseling langsung turun ke lapangan dan menarik Aluna dengan cukup kasar karena ia merasa sikap Aluna ini sangat keterlaluan dan harus diberi hukuman.
Frey yang melihat istri kecilnya itu ditarik paksa pun tak tinggal diam. Ia segera berlari menyusul Pak Nadir yang sudah membawa Aluna menjauh dari lapangan. Ia tidak peduli dengan teriakan guru yang lainnya untuk menyuruhnya berhenti.
"Pak Nadir, tanpa mengurangi rasa hormat saya, tolong jangan menarik Aluna dengan sekasar itu. Dia bukan binatang yang bisa diseret seperti itu, Pak," tegur Frey dengan suara yang begitu dingin. Wajahnya nampak sangat datar dan cukup mengerikan.
Pak Nadir tersenyum meremehkan. "Sebaiknya kau kembali ke barisan dan biarkan urusan Aluna menjadi urusan saya sebagai guru BK!" tandas Pak Nadir dan ia segera menyeret Aluna masuk ke dalam ruangannya.
Tak ingin istri tercinta sampai kenapa-napa di dalam dan karena mereka semua tahu bagaimana perangai Pak Nadir, Frey memaksa untuk masuk. Ia juga meminta kepala sekolah untuk menghentikan Pak Nadir atau ia akan menelepon nenek Safira Griffin.
Kepala sekolah tak berkutik, selama ini Frey sama sekali tidak pernah membawa-bawa nama nyonya Safira Griffin ke dalam setiap masalah yang ia alami. Akan tetapi, kali ini sepertinya Frey sangat marah. Dengan cepat kepala sekolah melerainya dan meminta Pak Nadir untuk melepaskan Aluna.
Mau tidak mau Pak Nadir memberikan Aluna kepada kepala sekolah, namun begitu kepala sekolah mendekat ke arah Aluna, gadis itu memekik kuat dan meminta agar Pak Suwondo untuk menjauhinya.
"Tolong jaga jarak, Pak! Parfum bapak sangat bau," teriak Aluna. Ia kemudian memegangi perutnya yang terasa seperti diaduk-aduk.
"Sayang, kamu sakit?" tanya Frey sambil menatap cemas pada Aluna yang baru saja membasuh wajahnya.
Aluna menggeleng. "Nggak kok sayang, aku cuma nggak suka aja dengan bau parfum Pak Suwondo. Bikin aku pusing, bawaannya pengen muntah," jawab Aluna yang kemudian berbalik dan masuk ke dalam pelukan Frey.
Masih di lokasi upacara, Pak Suwondo menatap heran dan mencoba mencium aromanya sendiri namun ia justru merasa tidak ada yang salah dengan parfumnya. Ia bahkan menanyakannya kepada Pak Nadir dan guru itu juga mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Kejadian tersebut membuat upacara menjadi kacau. Suara-suara sumbang tentang perilaku Aluna tersebut mulai menjadi buah bibir mereka. Ada yang mulai menduga-duga apa yang terjadi dengan Aluna saat ini. Dan orang yang sedang mereka bicarakan itu saat ini tengah berjalan sambil dipapah oleh Frey. Wajahnya terlihat sangat pucat karena berkali-kali mengeluarkan isi perutnya.
Melihat kondisi Aluna, beberapa guru menyarankan agar Aluna dibawa ke UKS lebih dulu. Namun Aluna menolak karena ia masih ingin mengikuti pelajaran.
__ADS_1
"Bu, saya masih kuat, kok. Lagian waktu belajar tinggal tiga minggu lagi dan dua minggu ke depan akan ada minggu tenang dan bulan depan bakalan ujian. Saya harus belajar, Bu," tolak Aluna ketika Bu Laras meminta Aluna untuk beristirahat di UKS.
Bu Laras hanya bisa menghela napas, ia tahu Aluna selalu semangat belajar apalagi itu mata pelajaran yang ia ajarkan yaitu Biologi. Bu Laras, salah satu guru yang membawakan mata pelajaran Biologi itu sangat tahu bagaimana semangatnya Aluna saat mengikuti pelajarannya sejak kelas sepuluh. Namun melihat kondisi Aluna, Bu Laras sungguh tidak tega.
"Ya sudah, tapi jangan dipaksa ya," ucap Bu Laras.
Aluna tersenyum, ia kemudian meminta Frey untuk memapahnya menuju ke kelas dan begitu mereka melewati Pak Suwondo, Aluna kembali merasakan perutnya bergejolak dan seketika ia kembali mengalami mual namun tidak ada yang keluar dari dalam mulutnya.
Kepala Aluna terasa pusing dan penglihatannya menggelap hingga akhirnya ia jatuh di pelukan Frey.
Suasana kembali riuh ketika Frey menggendong Aluna yang sedang pingsan menuju ke UKS. Banyak yang menyusul termasuk beberapa guru dan juga ada Riani, Cici dan Keenan yang tidak kalah penasarannya dengan keadaan Aluna.
Petugas UKS langsung memeriksa kondisi Aluna ketika Frey membaringkannya di atas brankar di dampingi oleh Frey dan teman-teman Aluna juga ada Bu Laras, Pak Suwondo dan juga Pak Nadir.
Wajah dokter tersebut terlihat menegang, ia mengulangi pemeriksaannya tetapi hasilnya masih sama. Ia kemudian melepaskan stetoskopnya dan menatap gugup pada kepala sekolah.
Melihat wajah dokter Samantha yang tidak baik-baik saja, Pak Suwondo pun meminta agar teman-teman Aluna segera keluar. Namun Frey menolak keras, ia ingin tetap berada di dekat Aluna. Ia khawatir istrinya ini kenapa-napa.
Kepala sekolah pun mengizinkan karena dokter Samantha pun tidak melarangnya sebab mereka tahu bahwa Frey adalah saudara Aluna. Setelah Cici, Riani dan Keenan keluar, Pak Nadir langsung menutup pintu UKS.
Semuanya kini sudah duduk di sofa dan wajah dokter Samantha semakin tegang. Beberapa kali ia terlihat menghela napas berat.
"Apa yang terjadi dengan Aluna, Dok?" tanya Bu Laras yang merupakan guru kesayangan Aluna.
Dokter Samantha menatap satu per satu guru tersebut kemudian ia melirik Frey. "Dia tidak sakit. Hanya saja dari hasil pemeriksaan saya, Aluna saat ini sedang mengandung dan usia kandungannya sudah empat Minggu," ungkap dokter Samantha yang mengagetkan mereka semua.
__ADS_1
What? Aluna hamil? Anak siapa? Kenapa gue nggak tahu? Wah ... ini bakalan jadi berita terheboh. Hahaha ... tamat riwayat lu, Aluna. And sorry to say tapi sebagai sahabat yang baik gue bakalan sebarin berita bahagia ini. Hahaha ...