
Pukulan keras telak mengenai wajah Kriss hingga ia tersungkur beberapa langkah ke belakang. Untung saja kakinya bertumpu dengan kuat hingga ia tidak jatuh terjerembab di atas tanah. Ia yang berencana untuk datang ke kediaman Elard justru langkahnya tercegat beberapa orang berbadan sangar hingga ia terkepung dan kini menjadi samsak dadakan mereka. Awalnya Kriss masih bisa melawan, tetapi karena kalah jumlah, akhirnya ia berhasil dipukul mundur.
Kriss tahu langkah yang ia ambil ini sangat berisiko tinggi dan membahayakan dirinya serta keluarganya. Tetapi ia tidak punya cara lain selain mengadu pada Ben Elard namun sayang sekali ternyata benar jika langkah mereka selalu ada yang mengawasi dan Kriss tidak memperhitungkan dengan tepat.
Ia sudah berusaha untuk menemui Nurul dan meminta bantuan perlindungan dan Axelle, tetapi ia tidak menemukan Nurul di kediaman Emrick dan tidak ada yang memberitahunya jika Nurul sudah menikah dengan Alvaro.
Setelah Kriss berpura-pura pingsan agar mereka berhenti memukulinya, orang-orang itu bergegas pergi dan membiarkan Kriss tergeletak di tanah tanpa ada yang berniat menolong.
"Ini peringatan terakhir dari kami dan jika kau berani mencoba lagi maka kau akan kehilangan nyawamu berikut orang-orang terdekatnya!" ancam pria berbadan besar dan berwajah sangar setelah ia menginjak perut Kriss.
Kriss terbatuk setelah ia begitu lama menahan napas menunggu orang-orang itu pergi menjauh. Ia berusaha bangun dan meminta bantuan siapapun yang melintas tetapi tidak satupun yang bisa ia mintai tolong. Ia berjalan tertatih-tatih sambil memegangi perutnya yang begitu sakit, hingga akhirnya ia ambruk di jalan.
Orang-orang berkerumun untuk menolongnya dan membawanya ke rumah sakit.
.
.
Kriss membuka matanya perlahan, samar-samar ia tangkap warna ruangan bernuansa putih dan aroma obat-obatan yang begitu menyengat indera penciumannya. Ia berusaha bangun namun ternyata perutnya yang masih begitu sakit memaksanya untuk tetap berbaring.
Pergerakan Kriss tersebut mengundang perhatian sosok yang sedari tadi menjaganya. Dengan cepat ia berdiri lalu mendekati Kriss.
"Lu udah bangun?"
Suara yang sangat familiar itu langsung membuat Kriss menoleh ke samping. "Alvaro?"
"Iya ini gue, tadi gue mau ngecek kondisi istri gue tapi nggak sengaja gue lihat lu yang lagi didorong di atas brankar, makanya gue samperin. Lu kenapa? Kenapa muka lu memar-memar gitu? Habis berantem lu?" tanya Alvaro yang memang memperhatikan wajah Kriss juga tadi ia sendiri mendengar penjelasan dokter jika Kriss mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya.
"Istri? Lu udah nikah?" tanya Kriss tanpa menjawab pertanyaan Alvaro tadi.
"Ya, gue udah nikah sama Aina," jawab Alvaro datar.
Kriss terlihat cukup syok tapi sebisa mungkin ia mengubah ekspresi wajahnya menjadi biasa saja. Akhirnya Kriss tahu mengapa ia tidak bisa menemukan Nurul lagi di kediaman Emrick, rupanya ia sudah diboyong ke kediaman Prayoga karena sudah menjadi menantu.
"Sekarang lu jawab pertanyaan gue, apa maksud semua ini? Lu sebenarnya kenapa? Ada masalah apa sama gue dan teman-teman yang lain sampai lu membelot kayak gini?" tanya Alvaro dengan penuh intimidasi.
__ADS_1
Kriss dilema, apakah ia harus mengatakan sejujurnya pada Alvaro atau ia sembunyikan dan menunggu waktu yang tepat dan waktu itu entah kapan. Tapi jika ia tidak jujur sekarang maka ia akan terus teror dan apabila yang jujur sekarang, ia tidak tahu apakah di luar sana ada yang menjaganya dan mengawasi mereka hingga berakibat fatal pada keduanya atau pada orang terdekat mereka.
"Jawab Kriss, diam lu nggak bisa bikin gue tahu apa yang sebenarnya terjadi!" bentak Alvaro, ia sudah rela meninggalkan Nurul dan membiarkan pulang bersama maminya agar bisa mengorek informasi dari Kriss.
"Gue nggak bisa jawab!" bentak Kriss balik kemudian memegang perutnya yang begitu nyeri.
Alvaro berdecak kesal kemudian ia memalingkan wajahnya. Ingin rasanya ia menghajarnya di tempat ini tetapi ia ingat kalau sahabatnya ini eh lebih tepatnya mantan sahabatnya ini sedang kesakitan akibat dihajar habis-habisan oleh orang yang entah siapa.
"Kriss kalau lu nggak ngomong, gue nggak bakal tahu. Mungkin aja lu nggak niat ngelakuin ini tapi lu terpaksa. Ayolah Kriss, kita udah kenal lama, jangan mendam sendirian gitu. Atau lu mau gue kasih tahu kalau sebenarnya gue udah tahu bukan lu dalang dari semua kejahatan yang lu buat? Lu pikir gue nggak tahu siapa yang nyuruh lu buat ngelakuin ini? Gue tahu! Dan lu, kenapa mau-maunya sih dijadiin boneka sama dia?" pungkas Alvaro merasa kesal hingga membuat Kriss gemetar.
"Kok lu bisa tahu?" tanya Kriss dengan bibir bergetar.
Alvaro tersenyum seringai. "Nah itu lu baru kasih tahu. Ternyata gampang ya buat mancing lu dan lu bisa ngaku dengan sendirinya. Sekarang kasih tahu gue, siapa orang yang udah nyuruh lu, biar kita hadapi sama-sama," ucap Alvaro, ia memang sengaja memancing Kriss dan akhirnya kriss termakan pancingan juga hingga mengatakan bahwa memang benar jika ia disuruh walaupun secara tidak langsung.
Kriss terdiam, rupanya ucapan Alvaro tadi hanya sekadar untuk memancingnya berbicara. Andaikan dia tahu dan lebih membaca situasi, maka ia pasti tidak akan menjawab atau menimpali ucapan Alvaro tersebut. Tetapi nasi sudah menjadi bubur, alangkah lebih baiknya Kriss mengatakan saja pada Alvaro.
"Gue bakalan bicara, tapi tolong lu cek dulu di sekitaran sini apa ada yang sedang menguping atau mengawasi pertemuan kita," pinta Kriss dan Alvaro pun langsung mengiyakan.
Alvaro mengecek di luar, ia tidak menemukan siapa-siapa dan ketika ia kembali ia dibuat terkejut karena melihat tempat tidur Kriss sudah kosong dengan darah berceceran di lantai, selang inflasi yang terlempar sembarangan dan juga tempat tidur itu terlihat acak-acakan serta jendela yang terbuka lebar.
"Alvaro tolong gue ...."
Sial!
Alvaro segera berlari ke arah jendela kemudian ia melompat dan mendapati Kriss sedang ditarik oleh beberapa orang dengan keadaan sudah tidak sadarkan diri karena mulutnya dibekap. Dengan cepat Alvaro berlari mengejar mereka tetapi ia kalah jauh karena mereka sudah masuk ke dalam mobil.
Saat Alvaro berniat pergi ke mobilnya, seseorang melemparinya dengan kaleng minuman.
"Jangan jadi jagoan kalau lu nggak mau bernasib sama seperti dia!" ucap orang yang berbadan kekar dan juga wajahnya sangar dengan codet menghiasi wajahnya.
"Lu siapa?" tanya Alvaro santai namun wajahnya terlihat begitu dingin, matanya menatap tajam pada pria tersebut seolah ia menunjukkan bahwa ia tidak akan takut pada wajah sangar itu.
"Kematian lu!" ucapnya kemudian ia segera maju menyerang Alvaro.
Alvaro dengan gesit menghindari pukulan pria itu. Ia bisa menangkis tendangannya dan membalas pukulan tersebut walaupun tidak mengena telak. Perkelahian mereka tak dapat dielakan, beberapa orang yang menyaksikannya hanya bisa menonton tanpa bisa membantu.
__ADS_1
Beberapa kali pukulan mengenai pipi Alvaro hingga membuatnya kesal karena wajah tampannya kini dihiasi memar. Geram karena wajah tampan itu terluka, Alvaro langsung menggulung dengan kemejanya dan dengan kekuatan penuh ia menerjang pria itu hingga pria itu jatuh terjerembab di tanah.
"Maju lu brengsek!" pekik Alvaro yang kini sudah mulai serius berkelahi.
Pria itu berdiri dari tanah, ia memegangi pipinya yang kini sudah dibasahi oleh darah. Ia kemudian memasang kuda-kuda lalu bersiap menyerang Alvaro.
Perkelahian pun terjadi lagi hingga pria itu berhasil ditaklukan oleh Alvaro. Alvaro mungkin bisa saja berkelahi dengan santai tetapi jangan sampai ada pukulan yang mengenai wajah tampannya karena itu akan berakibat fatal hingga memancing kemarahannya memuncak.
Alvaro meringkus pria tersebut, ia kemudian membawanya masuk ke dalam mobil dengan tangan yang ia ikat dengan dasinya. Ia kemudian mengunci mobil dari luar, Alvaro lalu masuk ke dalam rumah sakit dan meminta suntikan untuk membius pria itu agar tidak sadarkan diri hingga ia membawanya ke markas Ben Elard.
Lewat pria ini mereka pasti akan tahu apa sebenarnya yang terjadi pada Kriss dan siapa sebenarnya musuh dari balik semua kejadian yang menimpa mereka dengan Kriss yang menjadi kambing hitamnya.
.
.
Pria sangar dengan wajah dipenuhi codet itu terjungkit begitu seluruh tubuhnya diguyur oleh air seember. Ingin berdiri tetapi ia tidak bisa, ingin menyeka wajahnya pun tidak bisa karena tangannya terikat begitupun dengan kakinya. Ia hanya bisa berteriak mengumpat.
Di depannya kini ada Alvaro, Ikram dan Nandi. Ketiga pria itu berkumpul setelah Alvaro meminta Ikram untuk memberi akses agar dia bisa membawa pria yang diduga salah satu suruhan orang yang menyuruh Kriss melakukan kejahatan untuk dibawa ke dalam markas.
Ben, Ezio dan Genta saat ini sedang menuju ke markas tersebut setelah mendapat kabar dari anak-anak mereka masing-masing.
"Brengsek! Beraninya main keroyokan, lepasin ikatan gue biar kita duel satu lawan satu. Oh tidak, satu lawan tiga," ucap pria tersebut mencoba memprovokasi tiga sahabat itu.
Nandi tertawa mengejek, "Sudah susah-susah ditangkap, sekarang mau dilepasin? Jangan mimpi!"
Setelah mereka melakukan rapat keluarga, mereka memang memutuskan untuk mengikuti Kriss kemanapun ia pergi ketika salah satu dari mereka tak sengaja menjumpainya. Dan kebetulan tadi Alvaro yang mengajak Nurul mengecek kondisinya di rumah sakit tak sengaja melihat keberadaan Kriss sehingga ia memilih untuk menunggu Kriss di dalam ruang perawatannya untuk bisa memancing pelaku sebenarnya keluar.
Tentu saja ide ini didapat dari Ben Elard yang sudah malang melintang dalam urusan kejahatan. Ia yakin di mana kumpulan Kriss berada pasti orang yang menyuruhnya akan menempatkan mata-mata untuk mengawasi pergerakan Kriss. Itu pun jika memang benar ada yang mendalangi tindakan-tindakan Kriss selama ini.
Untung kata dokter si Ayang nggak kenapa-napa, hanya kecapean doang karena gue ninaninu tiap malam, hehe
Tak lama kemudian pintu markas terbuka, pria paling sangar berjalan masuk lebih dulu memimpin dua sahabatnya. Ia terlihat begitu menakutkan hingga pria yang menjadi tawanan mereka bergidik ngeri melihat sorot matanya.
"Sekarang katakan siapa yang sudah menyuruh kamu melakukan ini semua. Jawab atau mati?!" ucap Ben dengan tampang yang terlihat bagai iblis.
__ADS_1