
Nurul baru saja keluar dari kamar mandi dan sudah mengenakan pakaian lengkap. Ia terkesiap begitu melihat Alvaro berada di kamarnya dalam keadaan tersiksa. Dengan cepat Nurul mendekati kekasihnya yang sedang duduk di atas tempat tidur sambil memegangi dadanya.
"Alvaro, lu kenapa?" tanya Nurul yang sudah duduk di samping Alvaro. Bisa ia lihat pria tengil ini sedang menahan sakit di dadanya.
"Aina, dada gue sakit banget dan jantung gue pun rasanya sama. Gue butuh bantuan lu, tolong gue," ucap Alvaro dengan napas tersengal-sengal.
Nurul mengernyitkan dahinya, ia heran karena tadi Alvaro terlihat baik-baik saja tetapi saat ini justru sedang menderita sakit.
"Apa yang terjadi, apa kau punya penyakit serius?" tanya Nurul mulai khawatir apalagi Alvaro sudah menganggukkan kepalanya dengan lemah.
Nurul mulai gelisah, ia tidak pernah menyangka jika pria yang se-energik Alvaro ini justru menderita sebuah penyakit. Nurul mulai membayangkan jika terjadi sesuatu yang parah pada Alvaro, entah bagaimana ia akan menjalani hari-hari tanpa Alvaro lagi.
"Sebenarnya lu menderita penyakit apa Ro? Gue nggak pernah tahu kalau lu itu punya penyakit, jadi tolong jelasin ke gue sekarang atau kita pergi ke dokter ya untuk berobat. Gue nggak mau lu kenapa-napa," ujar Nurul yang sudah begitu gelisah melihat keadaan Alvaro.
Tiba-tiba Alvaro merintih kesakitan dan itu membuat Nurul turut menjerit karena kaget.
"Aina gue sekarat, tolong gue Aina! Gue sekarat!" jerit Alvaro.
Nurul mulai panik, Ia bahkan hampir saja menangis melihat Alvaro yang begitu kesakitan. Apalagi ketika Alvaro meluruhkan tubuhnya ke lantai dan jatuh duduk tepat di hadapannya, Nurul semakin ketakutan.
"Ayo kita ke rumah sakit, jangan buang waktu lagi. Gue nggak mau lu kenapa-napa!" paksa Nurul.
__ADS_1
"Gue nggak bisa ke rumah sakit karena gue udah sekarat! Gue udah sekarat nungguin lu, kapan sih lu mau jadi istri gue? Lu mau nggak nikah sama gue? Please Aina. Untuk yang kesekian kalinya, lu mau nggak jadi istri gue? Nikah yuk!"
Wajah panik Nurul tadi kini mendadak menatap Alvaro dengan begitu datar. Sumpah demi Tuhan, Alvaro sudah membuat Nurul benar-benar merasa kesal. Ingin rasanya Nurul mencabik-cabik wajah Alvaro yang saat ini tengah tertawa melihat ekspresi kaget bercampur kesal dan geram di wajah Nurul.
"Alvaro Genta Prayoga!" geram Nurul dengan tangan yang terkepal kuat, bersiap untuk memberikan sebuah pukulan di wajah pria tampan nan tengil itu.
Alvaro langsung menangkap kepalan tangan tersebut kemudian ia mengecupnya.
"Maaf Aina, gue nggak maksud buat ngerjain lu. Habisnya gue selalu ingin lihat lu panik dan cemas untuk gue, gue suka. Tapi mengenai ucapan gue tadi, gue benar-benar sekarat sekarang. Aina lu mau nggak nikah sama gue? Please jawab iya dong, please!' bujuk Alvaro kemudian ia mengecup lagi punggung tangan Nurul.
Nurul berbalik badan, ia saat ini sedang tidak ingin menatap Alvaro dulu karena berusaha untuk menstabilkan emosinya. Bisa-bisanya Alvaro membuatnya hampir jantungan dengan berakting seolah dirinya sedang sekarat, benar-benar membuat Nurul sangat kesal.
"Ayang sorry, balik sini dong. Lihat gue. Mubasir tahu wajah tampan di hadapan lu nggak lu nikmatin untuk dipandang, sia-sia dong ketampanan gue di hadapan lu," bujuk Alvaro yang sialnya ucapannya itu justru membuat Nurul semakin muak.
Alvaro manggaruk kepalanya yang tidak gatal, mungkin saja ia merasa ucapannya ada yang salah. Tetapi ia hanya berbicara berdasarkan fakta yang ada. Dia memang tampan dan kaya raya.
"Ya udah ya udah, ayo kita ngomong serius. Balik sini dong, ada yang gue mau ngomong nih. Please dengerin gue," bujuk Alvaro dan kali ini ia sudah tidak lagi menggunakan beberapa bualan-bualan anehnya itu, sehingga membuat Nurul luluh dan berbalik menatap Alvaro lagi karena suara lembut Alvaro itu cukup membuatnya tersentuh.
Masih dengan posisi yang sama, Nurul duduk di atas tempat tidur sedangkan Alvaro duduk di hadapan Nurul di lantai. Nurul memintanya untuk duduk bersama di atas tempat tidur, tetapi Alvaro menggeleng menolaknya katanya pose seperti ini terlihat cukup romantis, katanya.
"Nurul Aina, gue Alvaro Genta Prayoga dengan ini menyatakan kalau gue cinta sama lu, gue sayang sama lu. Gue ingin lu jadi satu-satunya wanita yang ada di hidup gue, jadi pendamping gue, jadi teman bahagia gue, jadi teman berkelahi gue, teman debat gue, teman tidur gue dan teman gue hingga menua bersama. Hingga kita punya anak dan cucu, hingga rambut kita memutih, hingga kita menemui ajal kita nanti. Gue mau lu jadi pendamping gue di saat semua yang gue inginkan itu terjadi.
__ADS_1
"Gue tahu emang pernah brengsek, bajingan dan pecundang. Gue pernah jahat dan hancurin hidup lu, tapi lu harus tahu kalau semua itu udah gue sesali dan gue ingin mengubah semuanya dan menjadi lebih baik lagi buat lu. Gue bukan pria sesempurna Daniyal Axelle Farezta, Nurul Aina Emrick. Gue hanya seorang Alvaro Genta Prayoga yang brengsek dan bangsat, tapi gue punya cinta yang besar buat lu. Gue sungguh-sungguh dengan ucapan gue ini.
"Maka dari itu, lu mau nggak jadi pendamping hidup gue? Menemani pria brengsek ini menjalani hidupnya dan mewarnai serta mencatat sejarah tentang kisah cinta kita berdua di dunia ini. Lu mau nggak nikah sama gue? Gue sayang banget sama lu. Mau nggak lu jadi istri gue? Nurul Aina Emrick, Will you marry me?"
Nurul terpaku, terdiam, terpana dan tertegun mendengar ucapan panjang lebar Alvaro tersebut. Ini benar-benar nyata seolah Alvaro sedang melamarnya sungguhan. Tidak seperti biasanya yang langsung mengatakan 'Aina nikah yuk', kali ini berbeda. Alvaro memberikan sentuhan rasa di dalam setiap ucapannya sehingga Nurul terhanyut dalam semua kata-kata Alvaro tersebut.
Mata Nurul berkaca-kaca, ia masih membekap mulutnya dengan kedua tangannya karena tak percaya dengan ucapan manis Alvaro barusan.
"Aina gue nggak sempat beli cincin, gue nggak sempat punya sesuatu yang bisa gue kasih sebagai tanda gue ngelamar lu. Tapi gue punya ini buat lu, ini selalu gue bawa kemana-mana karena gue nggak tahu kapan waktu yang tepat buat ngelamar lu. Tapi gue rasa ini waktu yang tepat, gue nggak mau lu pergi lagi dari sisi gue. Kalau lu nerima ini, berarti lu mau nikah sama gue."
Alvaro mengeluarkan dompetnya dari dalam jasnya, kemudian ia mengambil sebuah kalung yang sudah lama ia siapkan sejak ia masih kuliah di Amerika dulu. Ia pernah memesan kalung dengan ukiran berbentuk huruf A yang nantinya akan Ia berikan kepada Nurul ketika mereka bertemu nanti. Tetapi ia selalu saja lupa untuk memberikannya, padahal sudah sangat lama ia menyiapkan ini agar Nurul tahu jika selama ini ia tidak pernah melupakan wanita yang amat ia cintai itu.
"Nurul Aina Emrick, sekali lagi aku ingin bertanya padamu, maukah kau menikah denganku, menjadi pendampingku, teman hidupku, teman bahagiaku? Will you marry me Nurul Aina Emrick?"
Dengan tegas Nurul menganggukkan kepalanya. "Yes I will, I will!" jawab Nurul dengan air mata yang beriringan membasahi pipinya.
Bibir Alvaro langsung melengkungkan senyuman, dengan Nurul menjawab dan menerima lamarannya maka ia yakin malam ini mereka pasti akan segera menjadi pasangan suami istri. Alvaro lalu mengambil tangan Nurul dan mengecupnya berulang kali kemudian ia berdiri dan memasangkan kalung tersebut di leher Nurul. Dalam hati ia bersyukur karena ia tidak melupakan kalung ini, bisa-bisa ia akan malu jika melamar pujaan hatinya tanpa menggunakan perhiasan seperti cincin yang biasanya menjadi simbol lamaran seseorang.
Alvaro kemudian mengecup dahi Nurul begitu ia selesai memasangkan kalung tersebut di leher Nurul.
"Gue sayang sama lu, gue cinta sama lu. Mungkin lu bakalan bosan dengar pernyataan cinta dari gue tapi gue nggak bisa bosan untuk terus mengungkapkan seluruh perasaan gue ini buat lu. Lu jangan bosan ya sama gue, karena gue nggak akan pernah ngerasain hal itu buat lu."
__ADS_1
Nurul menganggukkan kepalanya kemudian Alvaro membawanya ke dalam pelukan.
Dari luar, seluruh anggota keluarga Emrick mendengarkan percakapan mereka dari tadi. Dianti merasa begitu terharu karena putrinya akan segera menikah dengan kekasihnya begitupun dengan Deen, ia terharu karena Alvaro begitu romantis dan ia yakin bersama Alvaro, Nurul akan bahagia.