
Bremm bremm suara mobil berhenti di depan rumah Zea. Johan dan Dina turun dari taksi, pak supir membuka pintu bagasi dan membantu keduanya mengeluarkan barang-barang bawaan mereka. Sebuah koper besar di keluarkannya dari jok belakang dan satu koper kecil dari bagasi belakang. Dina mengambil beberapa lembar uang untuk membawa membayar jasa taksi.
Krieett...Johan membuka pintu gerbang" Ya tuhan! Ini rumah apa hutan ya? debu tebalnya sampai 5 cm, sampah berserakan dimana-mana" Keluh Dina yang melihat halaman rumahnya sudah seperti kapal pecah itu.
Johan cuma tersenyum, ia tahu apa yang di pikirkan oleh istrinya itu. Dengan lembut ia menepuk pundak istrinya" Sudahlah! Kita masuk saja dulu, masukkan semua barang-barang kita ini. Mama tenang saja, nanti papa bantu bersihkan" Johan mengangkat koper besar dan Dina membawa koper kecilnya, berjalan menyusuri halaman rumah yang kotor dan tidak terawat lebih dari satu Minggu.
Ceklakk...Dina membuka pintu rumah. Keadaan di dalam rumah tidak jauh berbeda dengan keadaan di halaman rumah, debu di lantai sudah sangat tebal" Puh! Sepertinya kita harus bekerja keras hari ini" celetuk wanita cantik itu. Mereka berdua berjalan menaiki anak tangga menuju kamar mereka di lantai 2.
Johan dan Dina masuk ke dalam kamar tidur dengan cat bernuansa serba warna biru muda, mulai dari cat dinding bed cover, tirai, dan juga sofa di dalamnya semuanya berwarna biru muda. Johan meletakkan koper-koper mereka di sudut kamar, dan mulai mengambil vacum cleaner untuk membersihkan debu-debu tebal di kamar mereka. Dina mulai mengganti bed cover tempat tidurnya, mereka memulai bersih-bersih dari kamar tidur mereka.
" Sayang...Mama bersih-bersih ruang tamu ya? Papa selesaikan kamar ini" Dina mengikat rambut panjangnya keatas supaya tidak gerah dan kotor.
" Siap Cantik! Kalau Disini sudah rapi dan bersih, papa akan bantu mama di bawah" tetap konsentrasi menggerak-gerakan gagang vacum cleaner yang ada di tangannya.
Dina berjalan ke ruang tamu dengan membawa seperangkat alat perangnya. Kemoceng, sapu lantai dan masker untuk menutupi hidungnya supaya tidak menghirup debu kotor terlalu banyak.
__ADS_1
Tak berapa lama saat Dina bersih-bersih diruang tamu, terdengar suara sepeda motor berhenti di depan pintu. Turunlah dua orang remaja laki-laki dan perempuan dari atas sepeda motor. Dina segera berjalan ke pintu depan, "Kalian baru sampai?" tanyanya sedikit aneh saja, kenapa mereka yang memakai sepeda motor malah tiba di rumah jauh lebih terlambat 1 jam dari pada ia dan suaminya yang naik taksi.
" Emm...itu! Kami tadi mampir dulu ke rumah Tante Rosa sebentar. Soalnya tadi, belum pamit sama Tante Zulia buat jemput mama dan papa di bandara. Takutnya kalau sampai pulang kesorean mereka khawatir" Jelas Zea, kepada mamanya.
" Oh Begitu. Ya sudah, Kamu cepetan ganti baju dan bantuin mama. Maaf ya Zack, rumah Tante kotor seperti kapal pecah begini" Dina yang sedikit bingung menoleh ke kanan dan kiri, mencari tempat yang bersih untuk duduk tamunya itu. " Duduk dimana ya? Semuanya masih kotor" Gumamnya lirih.
" Sudah! Tante tidak perlu repot-repot, sini biar saya bantu!" Zack Mengambil kemoceng yang ada di tangan Dina.
" Eh! Jangan Zack, nanti baju kamu kotor" Cegah Dina yang sedikit tidak enak rasa. Masak iya tamu di suruh bersih-bersih. Cie...Kalau calon mantu sih boleh juga, pikiran nakal Dina.
"Haiiiist...Papa Zea banget" gumamnya pelan.
" Eh! Apa Tante?" tanya Zack mencoba memperjelas ucapan Dina yang ia dengar samar-samar.
" Oh, tidak ada. Tante cuma mau ucapin terimakasih saja, kamu mau bantuin kami bersih-bersih rumah" Dina mencari alasan saja. "Aduh! syukur deh, dia tidak dengar"pikir Dina. ia melanjutkan menyapu lantai ruang tamu.
__ADS_1
Zack berjalan kearah kursi di meja makan, ia melepaskan jaketnya dan meletakkannya di atas kursi. Ia mulai membersihkan satu persatu perabot rumah dengan kemoceng.
--------*****----------
#KLIK LIKE π DAN FAVORITIN NOVEL INI...
BACA JUGA
πMY EVIL TWIN SISTER π
πRACUN CINTA : GADIS KECIL NAKAL π
SEE U NEXT TIME
CAYOOOO
__ADS_1