
Zack Sudah sampai di rumahnya sekitar jam 9 malam. Ia segera memasukkan dan memarkirkan motornya di garasi rumah. Kemudian ia masuk ke dalam rumah. Steve dan Zulia sedang duduk di ruang tengah, mengobrol dengan santai sambil menunggu putranya dan Zea pulang.
Brakk... terdengar suara pintu ditutup. Zack berjalan menuju tangga yang menghubungkan ke kamarnya di lantai 2.
"Zack! Dimana Zea?" Suara mamanya menghentikan langkah cowok tampan ini. ia segera membalikkan badan.
" Zeey, Di rumahnya ma. Tadi di rumah Tante Rosa, kami sudah memberitahu kalian, Kalau orang tuanya pulang hari ini" menginginkan mamanya sekali lagi.
" Oh, iya. Mama lupa! Sayang sekali, Zea sudah harus pulang ke rumahnya. padahal mama senang loh! Kalau dia ada dirumah ini. Kapan ya kira-kira dia bisa jadi mantu mama?" mengucapkan dengan sengaja dan menggoda putranya. sebenarnya Zulia ingin menanyakan, perihal sesuatu yang ia dengar kemarin. Tentang keinginan putranya itu untuk menikahi Zea, tetapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat. Zack terlihat begitu lelah dan capek. Sepertinya orang yang sudah bekerja seharian, ditambah jam lembur juga. Entah apa saja yang telah dilakukan dia dengan Zea seharian ini." Aduh! Jadi tidak tega mau desak dia berkata jujur" gumamnya lirih.
"Hah! Mama ngomong apa sih? Mantu? Haiist...Mama ada-ada saja" Zack berjalan ke kamarnya, menaiki anak tangga satu demi satu hingga sampai ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur untuk beristirahat. Pikirannya melayang, mengingat perkataan mamanya baru saja, " Ma...Andai saja Zea setuju!" menghela napas panjang, kemudian memejamkan matanya dan tertidur lelap.
Masih pagi sekali, bahkan sang mentari bangun untuk menyapa dunia. Zack sudah menelepon Handphone Zea. Drettt... dreett... handphone Zea bergetar, Zea mengabaikannya karena matanya masih sangat ngantuk dan juga capek kemarin seharian bersih-bersih rumah. Drettt... dreett... handphone itu berbunyi lagi dan lagi. "Siapa sih? Resek banget, masih pagi buta juga. Sudah gangguin orang!" Celetuknya jengkel, merasa waktu istirahatnya telah di ganggu. Ia meraba-raba letak handphonenya yang berada di meja dekat tempat tidur.
" Hallo, Siapa?" menjawab telepon dengan mata masih terpejam rapat.
" Sayang"
__ADS_1
Zea terpekik menelan ludah, pagi buta sudah ada cowok gila yang memanggilnya sayang.
" Sayang Kepalamu! Bangun...lihat itu layar handphone, kamu salah orang" jawabnya ketus.
" Aku masih sadar loh, dan tidak salah pencet nomor juga. Sayang bangun, segera mandi! Nanti aku jemput, kita berangkat bareng ya"
"Siapa sih? Resek banget, tinggal ngomong saja, apa susahnya sih!"
" Zeey, Bangun! Lihat layar handphone kamu, di situ tertulis jelas namaku"
Zea mengkucek-kucek matanya dan melihat ke layar handphone secara samar-samar, membaca tulisan "Zack Sayang".
" Gimana sudah bangun dan ingat aku? Nanti aku jemput ya, kita berangkat bareng. Sampai bertemu nanti sayang" menutup telepon.
" Woy... Dasar cowok nyebelin. Seenaknya saja panggil sayang!"gerutunya, ia membuka selimutnya dan melirik pada jam di dindingnya, masih menunjukkan pukul 5 pagi.
Zea membuka dan melipat selimutnya, kemudian menata rapi tempat tidurnya" Hemm... Kemarin malam aku tidur nyenyak sekali, memang tidur dirumah sendiri itu sangat nyaman." Gumamnya.
Zea melihat ke kamar mandinya, ia tersenyum sendiri. Ia teringat dalam seminggu ini, ia selalu berebut kamar mandi dengan Zack. Banyak kenangan dan kejadian konyol dalam satu Minggu itu." Akhirnya! bisa mandi di rumah dan di kamar mandiku sendiri" ia melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
Selesai mandi ia turun ke dapur untuk membantu mamanya untuk memasak, karena bik Inem belum kembali dari kampung. Tak tak tak suara kakinya menuruni anak tangga dan melangkah menuju dapur, "Ma...Zea bantu ya"
Dina menoleh saat mendengar suara putrinya. "Oh, kamu sudah bangun sayang. Ini bantuin mama buat nasi goreng saja. Biar ayamnya nanti mama goreng sendiri"
" Baik ma..." Mulai menggoreng nasi dengan bumbu yang sudah di siapkan sebelumnya oleh mama Dina.
" Hemm, Harum banget! Ma, Boleh tidak aku bawa, buat bekal makan siang?" ucapnya sambil mencuci sedikit nasi goreng yang baru ia masak.
"Hemm, Tentu saja! Bawakan juga buat Zack" Dina tersenyum manis kepada putrinya.
Zea menghela nafas panjang, " Oke! Baiklah, aku akan bawa 2 bekal makanan nanti" jawabnya sedikit malas, gara-gara teringat dengan telepon cowok nyebelin itu tadi pagi.
--------*****----------
#KLIK LIKE π DAN FAVORITIN NOVEL INI...
BACA JUGA
πMY EVIL TWIN SISTER π
__ADS_1
πRACUN CINTA : GADIS