Gadis Tombomanisku : Si Tomboy Manis

Gadis Tombomanisku : Si Tomboy Manis
Episode 88 Rencana Perjodohan


__ADS_3

Zack dan Zea sudah sampai di sekolah. seperti biasanya mereka turun dari gerbang masuk dan mendorong motor sampai ke tempat parkir.


"Zeey, Sayang" Mengedipkan sebelah matanya kepada gadis manis ini.


"Ihh" Zea langsung bergidik merinding. "Bisa tidak, jangan panggil sayang?" Cemberut sambil mengomel, meskipun sebenarnya hatinya ada rasa gimana gitu. Deg deg degan rasanya jika mendengar kata sayang terucap dari bibir cowok tampan di depannya ini.


"Ah, Dasar cewek! Mulut pedasnya menolak, tetapi pipinya memerah lebih merah daripada tomat." Gumamnya dalam hati.


"Ambilkan, buku biologi di dalam tas." ucapnya. Mendekatkan punggungnya ke pada Zea, yang ada tas ransel menggantung di punggungnya.


Zea mulai membuka resleting tas ransel milik Zack dan mengambil buku tulis biologi yang bertuliskan nama Zea. Melihat buku itu zea merasa tenang, apalagi setelah ia membuka isinya. Tugas dari Bubu Silvy, benar-benar sudah di kerjakan oleh cowok tampan di depannya ini. "Terimakasih Zack" ucapnya dengan senyum manis kepada Zack.


"Ya tuhan...senyumnya membuat aku klepek-klepek" gumam Zack dalam hati. itulah yang aku suka, Senyuman hangat dari gadis polos dan lugu seperti Zea. Meskipun cewek satu ini sedikit galak.


"Terimakasih juga calon istriku" Ting, mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


Zea cuma bengong melihat cowok yang biasanya dingin seperti balok es, sekarang meleleh lumer seperti ini. "Ini cowok kena apa ya? Kok jadi aneh begini?"Gumamnya dalam hati.


Bukk...Zea memukul kepala Zack dengan buku di tangannya, "Ngomong apa sih?"


"Loh, kamu tadi kan bilang tidak boleh panggilan sayang. Jadi, aku ganti sama calon istri" tersenyum menggoda Zea.


"Apa-apaan sih" mencubit kecil cowok tampan ini depan, wajahnya merona karena malu.


"Sudah! Ayo kita masuk ke kelas." Zack mengajak Zea, naik ke lantai 2 menuju kelasnya.


"Zack! Kamu brengsek. Ternyata kamu meninggalkan aku, hanya untuk gadis aneh seperti itu. Awas kau! Aku tidak rela, kamu dengan Zea" Aiko yang diam-diam mengamati Zea dan Zack saat di tempat parkir.


**


Seperti janjinya, Johan dan Dina berkunjung ke rumah Steve dan Zulia. Mereka baru saja sampai, kemudian turun dari mobil. Ting tong ting tong...Suara bel pintu rumah.


Zulia masih di dapur menyiapkan camilan istimewa, karena akan ada tamu kehormatan yang datang. Hemm...Siapa lagi, kalau bukan orang tua Zea. Gadis manis yang ingin dipersunting oleh putranya.

__ADS_1


" Sayang, tolong buka pintunya. Aku masih repot di dapur" teriaknya kepada Steve yang duduk santai di ruang tengah.


"Oke" Steve berjalan ke arah pintu rumah. Ceklakk... terlihat dua orang yang wajahnya sudah familiar. Johan dan Dina, orang tua Zea yang telah memencet bel pintu.


" Oh! Papa dan mama Zea ya. Mari silahkan masuk" Ucapnya mempersilahkan keduanya masuk ke dalam rumah, Menuju ruang tamu.


Johan dan Dina duduk di ruang tamu, sedangkan Steve berjalan ke dapur untuk memanggil Zulia.


Tak berapa lama Steve dan Zulia kembali ke ruang tamu dengan minuman dan camilan yang mereka bawa di atas nampan bewarna silver. mereka menyuguhkan diatas meja, "Mari, Silakan dinikmati"


"Oh, terimakasih. Kami jadi merepotkan" Ucap Dina.


Zulia cuma tersenyum. Awalnya mereka berempat cuma ngobrol bisa dengan di warnai dengan canda tawa, seperti Keluarga sendiri. Tetapi rasa penasaran Zulia dan Steve terhadap hubungan Zack dan Zea sudah tidak bisa di tutupi lagi.


"Ah! Johan. Bagaimana menurutmu, Jika kita menjodohkan anak kita?" Ucap Steve.


"Iya! Kami ingin sekali putri kalian menjadi bagian dari keluarga kami" Tambah Zulia.


Johan dan Dina masih bengong, mereka merasa tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Papa Zea benar! Mereka masih sangat muda. Kenapa harus buru-buru? Masih banyak waktu bagi mereka untuk saling mengenal." Sahut Dina yang juga tidak bisa berdiam diri.


"Iya! Aku juga tahu itu, sebenarnya kami juga tidak ingin tergesa-gesa untuk menjodohkan apalagi menikahkan mereka di usia muda ini. Tetapi...?" Zulia dan Steve saling berpandangan. Mereka bingung untuk menjelaskan kepada orang tua Zea, tentang apa yang mereka dengar dari percakapan dua anak muda itu.


Johan dan Dina mengerutkan dahinya karena penasaran. " Tapi apa?"


Steve dan Zulia menghirup nafas dalam-dalam. Steve mulai menjelaskan kepada orangtua Zea. "Kemarin kami secara tidak sengaja, mendengar percakapan Zack dan Zea. Zack melamar putrimu untuk menikah dengannya, ia bertanggungjawab atas sesuatu. Sebenarnya kami juga belum jelas apa maksudnya, kami cuma takut kalau mereka sudah..." berhenti berkata-kata dan tertunduk lesu. Steve dan Zulia sedikit malu untuk mengungkapkan secara langsung.


Wajah Johan dan Dina Seketika berubah. "Maksud kalian mereka sudah melakukan hubungan suami istri? Tidak! Aku tidak percaya itu. Putri kami tidak akan melakukan hal memalukan seperti itu" ucap Johan sedikit emosi dan tidak percaya dengan semua ucapan Steve.


Dina mulai bingung dan meneteskan air mata. Ia sangat kecewa, jika semua itu benar-benar terjadi. Ini semua kesalahannya, yang tidak pernah bisa menemani Zea di rumah.


"Tenanglah! Itu hanya perkiraan kami saja. Kami juga berharap hal yang sama dengan kalian berdua. Ini semua belum tentu benar!" Jelas Steve.

__ADS_1


"Iya, Itu hanya perkiraan kami saja. Bagaimanapun Zack adalah putra kami. Meskipun masih muda, jika hal itu benar terjadi. Dia harus bertanggungjawab!" Jelas Zulia.


"Begini saja, kita harus mencari kebenarannya dulu. Baru kita bisa mengambil keputusan." Ucap Dina sambil menyeka air matanya.


"Aku setuju dengan usul istriku!" tambah Johan.


"Bagaimana caranya? Apa kita bertanya kepada mereka secara langsung?" ucapnya Zulia penasaran.


"Tidak! Jika kita tanya mereka secara langsung, dan ternyata perkiraan kita salah. Mereka akan merasa terluka dan di hianati kepercayaannya." Jelas Dina.


"Terus! Bagaimana caranya?" ucap Steve, Johan dsn Zulia secara bersama-sama karena penasaran.


"Mendekatlah" Dina membisikkan rencananya. Ia ingin mengetahui kebenaran, tetapi juga tidak ingin melukai perasaan putrinya ataupun putra keluarga Steve.


"Emm... Aku rasa itu ide yang bagus! Kita bisa melihat dari respon mereka nanti. Jika perkiraan kita benar, mereka berdua pasti akan menolak mati-matian. Saat itu kita bisa mempunyai alasan yang kuat untuk mendesak mereka mengatakan sebenarnya." Zulia menganggukan kepala.


"Oke! Kita sepakat. Kita akan memulai ini dari anak kita masing-masing" ucap Johan.


" Baiklah, Aku setuju" Jawab Steve.


Setelah mengobrol cukup lama, Johan dan Zulia pulang dari rumah Zulia dan Steve.


--------*****----------


#KLIK LIKE πŸ‘ DAN FAVORITIN NOVEL INI...


BACA JUGA


πŸ‘‰MY EVIL TWIN SISTER πŸ’–


πŸ‘‰RACUN CINTA : GADIS KECIL NAKAL πŸ’–


SEE U NEXT TIME

__ADS_1


CAYOOOO


__ADS_2