
Tidak menunggu lama, Frans mempersiapkan semua berkas untuk menandatangani perjanjian jual beli, setelah menyetujui nilai yang di sebutkan oleh Rina.
"Cepat telpon Pak Arif, untuk segera ke kantor! Agar menyelesaikan semua pembayaran pajak. Dan hari ini kita bisa menerima pembayaran dari kedua insan yang tengah berbahagia ini," perintahnya pada Serly.
Serly mengangguk patuh, "Baik Pak!" Kemudian iya berlalu meninggalkan tamu spesial itu, untuk mempersiapkan semua berkas transaksi jual beli Sam dan Rina.
Rina yang tidak begitu menyukai daun muda, memilih mengacuhkan Sam yang tengah asyik berbincang-bincang dengan Frans.
Rina melihat-lihat sketsa perencanaan pembangunan perumahan yang di ambil. Lapangan mini golf, water boom yang akan menjadikan perumahan tersebut menjadi nilai investasi yang tinggi suatu hari nanti.
Dia bergumam dalam hati, 'Hmm ... Semoga saja Bang Tham mati berdiri menerima kenyataan, bahwa uang proyeknya telah habis oleh ku, agar dia jatuh miskin dan tidak bisa membayar semua tagihannya. Berani sekali dia menggoda Mama ku, sehingga meninggalkannya ...!" geramnya.
Frans sungguh terpesona dengan lekuk tubuh Rina yang sangat menggoda imannya. Beberapa kali dia melirik kearah janda kembang itu, hanya untuk mengagumi keindahannya.
"Eeeh, kamu ketemu sama istrimu di mana?" tanyanya menatap Sam.
Sam hanya tersenyum tipis, tak ingin menjawab pertanyaan musuh dalam selimutnya itu, karena sangat mengetahui watak Frans seperti apa.
Saat Rina tengah lengah dengan pemandangannya, dia kembali di kejutkan dengan kehadiran Serly yang meminta identitas dirinya.
Rina menoleh kearah Sam, menggaruk kepalanya yang tak gatal, tersenyum tipis karena dia tidak memiliki kartu identitas seperti yang di miliki orang-orang kota.
Bergegas Rina menarik tangan Sam, agar pria itu mau menggunakan identitas dirinya.
"Pakai identitas kamu saja! Aku enggak punya KTP elektronik. Aku pendatang gelap di kota ini. Tapi kamu jangan macam-macam! Itu rumah ku!" tegasnya dengan mata melotot.
Sam merangkul Rina, "Tenang saja, dengan begini kamu akan ketergantungan dengan ku! Dan kamu bisa melupakan Pak tua itu ...!" bisiknya.
Rina mencubit kecil perut Sam, memutarnya agar pria yang sejak tadi mengambil keuntungan dalam situasi ini, berteriak kesakitan.
"Hmm, jangan suka mengambil keuntungan dari aku! Karena aku akan menghajar mu! Selesaikan cepat! Aku lapar ...!" perintahnya.
__ADS_1
Sam menundukkan kepalanya, "Baik N'doro ..." ucapnya meringis menahan sakit.
Rina tersenyum tipis, 'Setidaknnya dia hangat walau menyebalkan ...!' sesalnya.
Cukup lama mereka berada di kantor pemasaran tersebut, menyelesaikan pembelian rumah dengan cara pembayaran cash keras.
Tentu saja Rina tersenyum sumringah, saat memasuki mobil dengan map dan kunci rumah baru yang ada di tangannya.
"Hmm, aku tidak perlu memikirkan tempat tinggal lagi. Oya, kita cari mobil baru yah? Buat di rumah kita, jadi kalau kamu datang yah datang saja. Jadi kita bisa seperti keluarga bahagia!" tawanya tanpa sadar.
Sam mengerenyitkan keningnya, dia melirik kearah Rina, kembali bertanya, "Kamu mau tinggal dengan ku di rumah itu? Terus? Bagaimana dengan ..."
Sam tak melanjutkan pertanyaannya, dia hanya sibuk dengan stir kemudi, mencari tempat makan sesuai permintaan janda kembang tersebut.
"Kok aneh sih! Perempuan jaman sekarang enggak suka sama makanan restoran mahal? Emang kamu berasal dari mana sih?" tanyanya sedikit penasaran.
Rina terdiam. Sejak dia menjadi janda, dia sangat jarang makan di tempat-tempat mewah. Dia hanya menghabiskan waktu makan di warteg, atau rumah makan kecil karena Thamrin sangat jarang membawanya untuk menghabiskan waktu di restoran mahal.
Sam terdiam. Dia kembali mengingat kisah sang Papa, yang pernah memiliki hubungan terlarang dengan wanita dari kota kembang. Tapi dia tidak mengikuti semua cerita itu, karena kesibukannya menjadi suami sekaligus ayah kala itu.
Sam mengusap lembut punggung Rina, "Sudahlah, yang pasti saat ini kamu terus kan hidup agar bisa menemukan jodoh yang lebih baik ..." hiburnya.
Rina menoleh kearah Sam, "Jangan buat drama! Aku sudah berjanji tidak akan menikah sampai bertemu dengan pria yang benar-benar bisa merebut hati ku. Aku tidak peduli statusnya. Yang penting dia sangat memahami aku, seperti pria paruh baya yang selalu memanjakan aku dengan uang," jelasnya dengan wajah berbinar-binar.
Sontak penurunan Rina yang sangat menyebalkan itu, membuat Sam menginjak rem, membuat kepala Rina kejedot di dashboard.
BHUUG ...!
"Aaaagh shiiit! Sakit tahu! Kamu apa-apaan siih? Bisa nyetir enggak?" kesalnya mengusap kening yang merah.
Sam mendengus dingin, "Yah maaf! Aku pikir kamu bakal bilang laki-laki itu aku! Malah kamu menyebutkan nama pria tua bangka itu! Apa kamu enggak bisa jatuh hati pada wanita yang seumuran dengan mu? Seperti aku contoh nya!!" tegasnya.
__ADS_1
Rina bergidik ngeri, "Apa? Sama kamu? Enggak level aku buat naksir sama pria muda! No, and never!" telunjuknya bergoyang-goyang mengatakan tidak.
Sam menjulurkan lidahnya, "Iiighs, belum nyoba saja menjalin hubungan dengan duda keren kayak aku! Lebih hot di mana saja!"
Rina mengalihkan pandangannya, dia tidak ingin membahas tentang pernikahan atau hubungan serius saat ini.
"Gagal kemren saja udah di caci maki sama Mama! Mau nikah lagi ...? Oogh, tentu tidak, bisa-bisa aku di kerangkeng dan di masukkan ke dalam kandang sapi ...!" rungutnya dalam hati.
Mereka turun di salah satu rumah makan yang sangat sederhana, menyediakan lauk pauk yang sangat menggugah selera bagi Rina.
Bergegas Rina mengambil piring, dan mengambil sendiri nasi serta lauk pauknya, tanpa peduli pada Sam yang mengikuti langkahnya di belakang.
"Hei, kamu yang bayar yah? Handphone dan tas ku di mobil. Lagian aku enggak pegang cash!" pinta Rina berlalu mencari meja yang kosong.
Sam mengangguk patuh, dia melakukan hal yang dengan Rina, membayar makanan mereka berdua dan menyusul janda cantik itu, yang telah melahap makanannya dengan sangat cepat.
Sam yang merasakan hal yang sama dengan wanita di sampingnya itu, menghabiskan semua makanannya tanpa tersisa.
Rina bersendawa tanpa ada perasaan malu. Namun terdiam saat Sam melihatnya dengan wajah yang kurang menyenangkan.
"Dasar cewek gembel! Pakai tatakrama dong kalau mau sendawa. Yang elite dikit!" tegas Sam.
Rina menepuk lengan pria di sampingnya, meringkuk manja sambil tertawa, "Kasih contoh sendawa yang elite," ejeknya.
Sam memperagakan, membuat Rina tertawa terbahak-bahak.
"Dasar cowok gembel! Ganteng doang, enggak ada tatakrama juga!" tawanya menyandarkan kepalanya di bahu Sam.
Saat mereka tengah menikmati canda tawa yang hangat, seketika Rina di kejutkan dengan suara pria yang tak asing baginya.
"Rina? Ternyata kamu punya kekasih baru?" sesal suara bariton yang tiba-tiba muncul di belakang.
__ADS_1
Rina menoleh perlahan kebelakang. Menelan ludahnya sendiri, melihat sosok pria yang pernah berkencan dengannya, "Bang Tham ...?"