
Sam menghampiri Rina yang masih termangu memandangi wajah tampannya. Sedikit penasaran, dia mendekati wanita cantiknya untuk memeluk tubuh indah kekasih hati.
"Kenapa hmm! Pak tua itu ngomong apa? Dia masih sama wanita-nya ...?" kecupnya lembut.
Rina menggelengkan kepalanya, mendongak sedikit agar bisa melihat wajah tampan Sam.
"Dia ada di sini sayang ... Aku enggak mau ketemu sama dia. Aku udah nyaman sama kamu, dan sepertinya Bang Ibhen mulai curiga sama aku," rengeknya, membalikkan tubuhnya memeluk pinggang Sam yang masih berdiri.
Sam menelan ludahnya, dia tidak ingin berpisah dari Rina secepat ini. Tapi bagaimana caranya ... 'Sial! Siapa yang buka mulut? Akan aku cari tahu, jika ada yang membuat gosip murahan, akan aku pecah kan kepalanya!'
Tangan Sam masih mengusap lembut punggung Rina, kali ini dia harus membuat pak tua itu pulang ke rumah.
Sam bersimpuh dihadapan Rina, menatap lekat wajah wanita yang semakin hari semakin menggemaskan. Pipi merah merona, bahkan tampak lebih berisi.
"Kamu di sini dulu, yah? Aku ada urusan sebentar, kamu jangan keluar dari rumah. Jika ada sesuatu yang mengancam, kamu hubungi aku! Kamu mengerti, bebeb? Ingat jangan buka pintu untuk siapapun. Siapapun!"
Rina mengangguk tersenyum, menutup mata pelan, menikmati aroma tubuh pria tampan serta muda dalam pelukan tubuh kekar itu dengan penuh perasaan bahagia.
"Kamu nggak lama, kan? Aku mau istirahat saja sambil nunggu kamu. Hati-hati yah, sayang. I love you, Sam ..."
"I love you too ..."
Sam mengecup kepala Rina, wajahnya, hingga berakhir di menara kembar yang menjadi candu pria muda itu sebelum mereka berpisah.
Sam membawa kunci duplikat yang dia miliki meninggalkan kekasih hatinya di kediaman mereka berdua, menuju kediaman nya yang berada di belakang mall interior.
Sam melajukan kendaraannya, membelah jalanan kota demi mencari informasi siapa penjilat selama ini. Gedung-gedung pencakar langit yang menjadi pemandangannya, sesekali mengalihkan perhatian ke benda pipih yang berada di jok penumpang.
"Aku tidak akan berpisah dari mu, Rin ... Aku dapat merasakan perasaan mu pada ku! Kali ini aku akan berjuang demi wanita ku! Aku tidak peduli dengan semua masa lalu mu, karena aku yakin kamu merupakan masa depan ku ..."
Mobil mini cooper terparkir di loby mall interior, memberi sinyal bahwa Sam mencurigai salah seorang pegawainya.
Wajah garang turun dari mobil merah striping putih yang dia beli khusus untuk Rina. Langkah tegap Sam berjalan menuju ruang informasi yang meletakkan layar CCTV untuk melihat kejadian, beberapa waktu lalu.
"Selamat siang Pak," tunduk security saat pintu layar CCTV terbuka lebar.
__ADS_1
Sam menjawab dengan wajah dingin serta datar. Dua orang berdiri di belakang pria yang tampak angkuh tersebut sebagai pengawal majikan jika berada di sana.
"Siang! Buka CCTV saat saya datang ke sini. Saat Nyonya Lidya menghampiri saya. Cepat!"
"Baik Pak!" tunduk petugas bernama Edi tersebut, menuju meja komputer yang menyala.
Bergegas Edi mencari yang di minta Sam, sesekali melirik ke arah pemilik mall interior tersebut, dengan raut wajah khawatir.
Sam memperhatikan semua layar yang terpampang jelas di depan matanya. Enam layar secara bersamaan, melihat tiap-tiap kejadian orang keluar masuk melawati pintu belakang, selain ia sendiri dan orang kepercayaannya.
"Stop!" sergah Sam dengan cepat.
Seketika tangan Edi terhenti, saat mendengar suara bariton Sam yang semakin lama semakin membuat dirinya sedikit takut. Karena tidak pernah owner mereka melakukan hal seperti ini jika tidak ada yang fatal.
"Coba kamu scroll lebih dekat pria berbaju putih dan topi hitam merah ini, Di!" perintahnya dengan nada pelan.
Tangan kekar itu menunjuk kearah layar, memberi petunjuk bahwa Nyonya Lidya masuk dari di susul pria bertopi hitam list merah, menggunakan baju kaos putih dan celana panjang kain berwarna hitam.
"Asep dan Karmin. Brengsek mereka berdua!" geramnya.
Edi sedikit ketakutan, melirik kearah Sam yang masih menggeram kesal, melihat kearah handphone menggeser lambang hijau, dan meletakkan earphone ke telinga.
["Di kantor ... Ada apa hmm?"]
["Bisa kita ketemu? Ada yang harus aku bicarakan. Ini mengenai dua anjing mu, juga mengenai simpanan mu Tante Liliyana!"]
["Ya, ku tunggu di restoran lantai atas kantor ku!"]
["Hmm ..."]
Sam meremas kuat handphone miliknya, wajahnya memerah bahkan hatinya terasa sangat panas.
"Mencari Luisa saja dia tidak mau, tapi membuntuti simpanannya nomor satu. Aku yakin Papa jatuh cinta pada Rina. Aku tidak akan memberikan kekasihku dengan pria tua bangka yang sebentar lagi akan terkubur di dalam tanah dan di makan cacing ...!" umpatnya di dalam hati.
Sam melangkah keluar ruangan informasi, yang terletak tidak jauh dari mall interior miliknya pribadi.
__ADS_1
Ia sama sekali tidak pernah membayangkan akan terjadi seperti ini. Masalah perselingkuhan sang Papa yang sudah sering di dengar dari Mama-nya sendiri, saat status Sam masih menjadi suami Karenina, yang tak mendapat restu dari sang Papa.
Wajah tampan itu menyesiasati sekelilingnya, melihat kondisi mall tersebut dengan seksama, mendongakkan wajahnya kearah atas untuk melihat kantor pengelola yang di pimpin oleh sahabatnya.
Sambo yang hanya menjadi anak satu-satunya, dari pasangan Ibhen Santoso dan Lidya, membuat dia tumbuh menjadi pria yang dingin karena selalu sendiri dengan dunianya.
Sifat setia yang menurun dari sang Mama, membuat dirinya di juluki good Daddy bagi keluarga.
Namun, kegagalan yang dia alami menorehkan luka sangat dalam bagi hati seorang Sambo karena pengkhianatan Karenina beberapa bulan lalu.
Bisnis, hanya itu menjadi alasan yang tepat bagi Karenina di hadapannya untuk menutupi semua kebohongan wanita pengkhianat itu. Sehingga Sam lebih senang menghabiskan waktu sendiri, mengurusi bisnis lainnya yang bergerak di bidang pertambangan batubara.
Seorang gadis mendekap tubuh Sam, saat dia akan melangkah menuju loby gedung mall tersebut.
Sam sangat mengetahui tangan siapa yang melilit perut sixpack nya. Perlahan dia menghela nafas, menghembuskan dalam-dalam.
"Bisakah kau melepaskan tangan mu, Nona kecil? Aku tidak begitu menyukai pelukan mu!" tegasnya dengan wajah datar.
Gadis itu hanya ingin menikmati aroma wangi maskulin yang menyeruak menusuk hidungnya ...
"Biarkan aku menikmati harumnya tubuh mu duda tampan. Aku rela memberikan kehormatan ku untuk mu, satu malam saja ... Karena aku sangat menginginkan mu!" ungkapnya pelan.
Sam menyunggingkan senyumnya, dia ingin sekali tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan gadis belia yang acap kali menggoda nya dengan berbagai cara.
Ia membalikkan tubuhnya, untuk menatap wajah lugu dan polos seorang gadis berusia 16 tahun. Pelan dia menangkup wajah cantik gadis yang menawan, menawarkan kesucian yang tak kuasa untuk dia raih ...
"Dengar sayang ku, aku bukan pria yang sangat menyukai gadis kecil seperti mu! Sekolah lah yang tinggi, aku akan terus membiayai mu, tanpa harus kau berikan kehormatan mu padaku ...! Sebutkan saja kau akan kuliah di mana setelah lulus SMA nanti," jelasnya pelan.
Gadis kecil bernama Olivia itu hanya bisa tersenyum lirih, mendengar penolakan dari pria yang dia kagumi selama ini.
"Apa aku tidak secantik wanita yang kamu bawa waktu itu? Apa aku tidak semenarik dia? Aku mencintaimu ..."
Sam hanya bisa tersenyum tipis, menatap mata gadis belia yang dia anggap sebagai wanita baik-baik.
"Lain waktu kita bicara, aku sedang buru-buru. Terimakasih atas cinta mu,"
__ADS_1
Olivia tertegun, dia menganggap Sambo telah membalas cinta nya, cinta anak muda yang sangat menginginkan kenyamanan dari seorang duda kaya raya ...
"Aku rela menjadi yang kedua, ketiga, bahkan keempat mu Tuan Sambo ..."