Gairah Janda Rebutan

Gairah Janda Rebutan
Kejujuran Lilyana ...


__ADS_3

"Selamat siang Amelia Anandita Sunaryo!"


Sontak suara yang sangat Rina kenal, membuat benaknya semakin berkecamuk, dia menoleh kearah suara itu, melihat sosok pria Batak berahang keras tersenyum padanya ...


"Bang Tham!?"


Thamrin mendekati Rina yang akan memasuki mobil mewah milik Sukenru. Dia berusaha untuk mencekal lengan mantan secretarisnya, namun di hadang oleh tangan kekar Sukenru dengan cepat.


"Masuk sayang!" perintah Ken pada Rina, dihadapan Thamrin, membuat pria itu semakin berang.


Rina bergegas masuk kedalam mobil, sementara Sukenru tinggal di luar, dengan pintu sengaja ia tutup dengan cepat.


Sukenru bertanya, seolah-olah dia tidak mengenal pria yang ada dihadapannya, "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"


Thamrin menjawab penuh emosi, "Wanita itu mantan secretaris ku! Dan dia telah melarikan uang perusahaan sebesar 1,5 milyar. Aku yakin pasti wanita yang kamu akui sebagai istri itu adalah Rina Amelia yang telah merubah statusnya!" hardiknya dengan wajah garang.


Sontak hardikan Thamrin sama sekali tidak membuat Sukenru bergeming. Dia justru tersenyum sumringah, memberi isyarat pada dua orang pengawal untuk mengurus pria yang ada dihadapannya ...


Seketika tubuh kekar Thamrin di angkat tiba-tiba oleh dua orang pria berkulit hitam tersebut, tanpa peduli akan teriakan yang disertakan makian pria paruh baya berdarah Batak tersebut.


Sukenru menyunggingkan senyuman tipisnya namun memiliki arti yang sangat berbeda bagi kedua pengawalnya, begitu juga Amel yang sangat mengetahui suaminya.


Bergegas dia memasuki mobilnya, menoleh kearah Rina sang istri tercinta hanya berkata pelan ...


"Selagi kamu bersama aku, tidak ada seorangpun yang bisa menyentuh mu, termasuk, Sam!"


Rina terdiam, sesaat bulu kuduknya meremang, mengingat kejadian saat berada di toilet bersama Sambo yang berusaha mengecup bibirnya.


Berkali-kali Rina bersusah payah untuk menelan ludahnya, melirik kearah Sukenru yang masih menggeram kesal, saat bertemu dengan Thamrin.


Perlahan Rina menyentuh lengan Sukenru, hanya untuk bertanya ...


"Ko ... Kita pulang saja yah? Amel enggak mau di sini. Amel takut akan berdampak tidak baik untuk kita ..."


Sukenru tersenyum tipis, dia melirik kearah Rina, mendekatkan wajahnya hanya untuk sekedar mengecup dada indah milik istrinya.

__ADS_1


"Kenapa Amel jadi takut hmm? Apa Amel enggak bisa menahan, jika bertemu Sam?"


Rina mengehela nafas dalam-dalam, dia memejamkan kedua bola matanya.


Jika ditanya dalam hati seorang Rina, mungkin sepenuhnya dia belum bisa melupakan Sam. Namun dia masih memegang janji akan komitmen kebersamaan mereka, tidak akan menghadirkan pihak ketiga, ataupun masa lalu yang akan merebut kebahagiaan itu.


Mobil berwarna hitam itu terparkir di loby hotel milik Keluarga Sukenru, Rina turun di sambut beberapa pengawal, tentu tidak di lepas begitu saja oleh suami tercinta.


Begitu tiba di loby, Sukenru di kejutkan dengan kehadiran Lilyana, yang telah menunggu sejak tadi di sana.


"Halo sayang ..."


Senyum Lilyana mengembang bak gulali, karena melihat putri kesayangannya begitu cantik dibalut kemewahan.


Rina mendelik tajam, dia menoleh kearah Sukenru meminta jawaban dari semua yang dia saksikan saat ini ...


"Ko ... Apakah Koko yang mengatur semua ini? Kenapa mereka hadir di hadapan Amel secara bergantian dan mendadak? Ingat Ko, Amel tidak suka kejutan seperti ini! Tadi Sam, terus Bang Tham, sekarang Mama, nanti siapa lagi!?" sesalnya mendengus dingin, memilih berlalu meninggalkan Lilyana serta suaminya.


Sukenru tampak kebingungan, sejujurnya dia membawa Rina hanya untuk menemani aktivitas nya. Tapi lagi-lagi pria oriental itu harus menerima ketidaksukaan seorang Rina.


"Mel ... Amel!" kejarnya meninggalkan Lilyana masih berdiri dengan wajah kebingungan dan malu.


Sukenru berdiri di belakang Rina, berjalan sedikit mendekat kemudian berkata pelan dengan niat menjelaskan maksud kedatangannya ke kota itu dan bertemu mereka semua.


"Maafkan Koko, Mel! Koko benar-benar ada urusan bisnis, sesuai yang kamu dengar beberapa waktu lalu. Koko tidak ada niat untuk mempertemukan mereka dengan kamu!"


Tangan putih, yang memiliki jari lentik tersebut, memeluk tubuh ramping istrinya dari belakang. Menghirup aroma wangi yang menyibak saat hidung Sukenru semakin mendekatkan wajahnya di leher belakang Rina.


Rina menghela nafas panjang, mengusap lembut tangan yang melilit di perutnya.


"Amel tunggu Koko di kamar. Permisi!"


Rina melepas pelan tangan suaminya yang melilit di perut ramping itu, membalikkan tubuhnya hanya untuk mengusap lembut wajah tampan Sukenru.


"Amel percaya sama Koko, jangan sampai terlalu larut bekerja. Sudah sana pergi, Mama sudah menunggu Koko! Amel naik ke atas, yah? Capek mau istirahat, karena sejak tadi Amel merasa kurang sehat," kecup Rina pada bibir Sukenru.

__ADS_1


Senyuman Sukenru mengembang lebar, kali ini ia yakin bahwa Amel tengah mengandung anak mereka. Entahlah ... Pria oriental itu lebih sulit di tebak, bahkan dia merasa sangat bahagia telah merebut Rina dari ketiga pria itu.


Rina berlalu meninggalkan loby hotel untuk kembali ke kamarnya, sementara Sukenru melanjutkan urusan pekerjaannya dengan sang Mama mertua.


Sukenru mendekati Lilyana, "Maaf Ma ... Aku sedikit ada masalah dengan Amel. Karena bawaan wanita yang selalu mengalami siklus yang berubah-ubah. Tapi sepertinya Amel hamil, karena sudah dua bulan dia tidak periode."


Lilyana menepuk pundak sang menantu, hanya menjawab singkat, "Tenang saja! Mama senang kalian bisa saling memahami. Semoga Amel beneran hamil."


Hanya itu yang dapat di ucapkan Lilyana.


Selebihnya mereka menyelesaikan beberapa pekerjaan, dan penandatanganan satu surat kontrak kerjasama yang bernilai fantastis.


Membuat Lilyana tersenyum puas, kemudian menyandarkan tubuhnya lebih dalam di sofa restoran.


"Setidaknya kini Mama sudah lebih kaya dari Ibhen, Ken!"


Ucapan Lilyana barusan membuat Sukenru semakin penasaran, untuk mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi setelah mereka tidak menjalin komunikasi selama dua tahun.


"Maksudnya Ma?"


Lilyana memijat pelan pelipisnya ... Dia mengalihkan pandangannya kearah lain, yang lebih tenang, bahkan cahaya lampu hotel sangat berbeda dengan cahaya luar yang semakin mendekati malam.


"Ibhen sudah mengetahui semua tentang perselingkuhan Mama dan Thamrin. Dia sudah mengetahui bahwa anak yang dulu Mama gadangkan buah hati Ibhen, ternyata hmm ..."


Ucapan Lilyana tercekat ketika ingin menarik lagi perkataannya yang jujur dihadapan Sukenru.


Sukenru memperbaiki posisi duduknya, agar lebih dekat, dan dapat mendengar kejujuran seorang Liliyana sang Mama mertua.


Lilyana menundukkan wajahnya, kali ini dia tak mampu untuk berterus terang, setelah mendapat serangan balik dari Lidya yang menikahkan Olivia dengan Sambo tanpa persetujuannya.


Sontak itu menjadi tamparan keras bagi Lilyana, karena dia masih mencintai Ibhen, walaupun kondisi pria itu masih belum membaik kala itu.


"Mengalah ... Hanya itu yang bisa Mama lakukan saat ini, dan kini Mam kehilangan Amelia serta Olivia. Mama yang salah, Ken. Mama ini hanya bisa membuat anak, tapi tidak mampu merawat bahkan menjaga mereka! Kamu bayangkan Olivia di nikahkan di usia 16 tahun oleh Lidya! Itu penghinaan buat Mama, bahkan kini Mama tidak mengetahui dimana keberadaan Oliv," jelasnya dengan deraian air mata.


Sukenru ternganga mendengar kejujuran dari seorang Lilyana. Bagaimana mungkin dia hamil dengan Thamrin, kemudian menikahi Ibhen?

__ADS_1


"Woooowh ..."


Hanya itu yang keluar dari bibir Sukenru dengan bibir maju yang membulat.


__ADS_2