
Tembok pembatas apartemen yang menjadi dinding pemisah itu kini terlihat tengah di rundung titik kesedihan.
Sam yang mendengar semua pertikaian, kemudian menyaksikan Rina kembali memainkan perannya sebagai wanita simpanan sang Papa membuat dia termangu menikmati kesendirian nya.
Jika di ikutkan hati, ingin sekali Sam membawa Rina pergi dan tinggal selayaknya pasangan yang saling mencintai di rumah baru mereka. Tapi kali ini, lagi-lagi Sam harus mengalah. Menahan rasa perih yang semakin lama semakin menyakitkan.
Sam berdiri, menaiki kursi, mendongakkan kepalanya agar dapat melihat Rina.
Benar saja, dia menyaksikan janda cantik itu melenggak-lenggok sekeliling apartemen tanpa sehelai benangpun, mengemasi barang-barang branded yang dibawa Ibhen.
Sontak penanganan itu menyesakkan di bagian bawah perutnya, saat matanya melihat Rina yang mempertontonkan keseksian bagian intinya kearah Sam.
Sam mencari keberadaan Ibhen, yang tak tampak mendekati Rina.
"Kemana dia? Kemana Pak tua itu? Apakah mereka hmm--- ..."
Rina mengalihkan pandangannya kearah tembok yang sengaja menggoda Sam. Sejak awal dia mengetahui bahwa pria itu merindukan nya.
Sengaja sebelum kembali ke apartemen mereka tidak melakukan hal itu, untuk menjaga kesehatan Rina serta Sam.
Perlahan Rina mendekati kaca balkon, mengendap-endap bak maling dengan langkah menjinjit. Jalan seperti seekor kelinci, agar tidak di ketahui oleh Ibhen.
Rina yang menggunakan handuk pendek, hanya sebagai penutup bagian dada dan intinya saja, menaiki kursi ...
Entah apa yang di rasakan Rina dan Sam, bak Romeo dan Juliet mereka saling berbicara melalui tembok pembatas yang menjadi penghalang.
"Sayang ... Kamu jangan marah! Aku mau ikut dengan kamu. Setelah ini kita pergi. Tapi tunggu tua bangka itu pergi dulu ..."
Sam tersenyum lebar, "Ya ... Kita akan pergi mencari keberadaan Luisa ..."
"I love -- ..."
BRAAAK ...!
"Aaauugh ...!"
__ADS_1
Sam merunduk, bersandar di tembok, mendengar Rina yang meringis karena kursi yang menjadi pijakannya patah.
Ibhen yang mendengar suara dari arah luar, bergegas keluar dari kamar, mencari keberadaan simpanan tercintanya.
"Ya ampun ...! Sayang kamu kenapa? Kenapa bisa jatuh?"
Ibhen menyesiasati situasi sekelilingnya, melihat ke apartemen sebelah kanan juga kiri.
"Kamu ngapain pakai manjat sayang? Kursi ini sudah lapuk!! Lagian pake handuk begini. Suka banget buat gairah Abang menyala lagi," kecupnya, menggendong Rina ala bridal, membawanya ke kamar peraduan mereka.
Sam yang mendengar dari balik tembok pembatas hanya bisa menahan amarahnya ...
"Sialan tuh pak tua ...!"
Sementara Ibhen di dalam kamar bukan mengobati Rina, melainkan mengendus tubuh janda yang tengah meringis kesakitan tersebut.
"Banghh, kaki ku sakit! Nanti dulu, jangan sekarang! Obati dulu, Banghh ..." rengeknya manja.
Akan tetapi, Ibhen menatap nanar kedua bola mata Rina. Yang mengungkung tubuh sintal janda itu agar tidak menolaknya.
Rina menatap penuh selidik, bertanya pelan pada Ibhen, "Abang-abang-abang kenapa menyakiti aku ...?"
Ibhen menyeringai kecil, mencari kebohongan janda cantik itu, selama seminggu tidak pernah kembali ke apartemennya.
Ibhen bertanya dengan nada tegas, "Dari mana kamu selama seminggu? Apa kamu masih menjalin hubungan dengan Thamrin?"
Rina yang sedikit merasa sesak karena tubuh Ibhen berada di atasnya, kembali meringis, menggelengkan kepalanya ...
"Aku sudah lama tidak bertemu Bang Tham, aku pulang ke kampung, Bang! Makanya aku kembali kesana. Kasihan Ibu, ku! Dia sudah tua, dan uang yang Abang kasih itu, aku perbaiki kan ke rumah Ibu ..." jelasnya pelan.
Rina yang tahu titik kelemahan Ibhen, sedikit bersandiwara dengan menangis tersedu-sedu.
Perlahan Ibhen melepaskan tangan lembut Rina, merebahkan tubuhnya kesamping janda cantik yang di rundung kesedihan.
"Ma-ma-maaf kan Abang, sayang. Abang tidak tahu, karena kamu tidak pernah cerita bagaimana kehidupan keluarga kamu di kampung. Kapan kamu mau kembali lagi sayang? Maafkan Abang, yah?" kecupnya berkali-kali di kening Rina.
__ADS_1
Rina masih terus menangis, bak wanita yang terlihat menyedihkan bahkan mengenaskan.
"Ibu ku sakit jantung Bang! Kan aku bilang aku ini orang kampung, dan Ayahku sudah lama meninggal dunia ..." ceritanya mendramatisir penuh kebohongan.
Ibhen mengusap lembut kepala Rina, meraih handphone miliknya, mengecup kedua pipi janda cantik itu dengan penuh rasa sayang.
"Abang transfer untuk Ibu kamu, yah? Kamu boleh kok pergi, kalau memang untuk keluarga. Kemaren pihak pengelola yang mengatakan pada Abang, bahwa kamu pergi sama pria, dan tidak kembali. Abang cemburu, sayang ..." kecupnya lagi-lagi mendarat di dada Rina yang masih tertutup handuk.
Rina mengangguk manja, "Maaf yah bang. Aku pikir Abang mau menyakiti aku. Aku janji, tidak akan pernah macam-macam di luar sana. Yang penting Abang juga harus jujur sama aku ..." rengeknya.
Ibhen mengusap-usap rambut dan kening Rina, mencari nomor account wanita simpanan nya. Menuliskan nominal yang cukup menggiurkan.
"Sudah sayang, buat renovasi rumah Ibu kamu 100 juta, buat operasi jantung Ibu 100 juta, 200 juta lagi Abang ganti, karena kamu sudah menggunakan uang itu lebih dulu. Abang bangga sama kamu, sangat mengerti dengan kondisi keluarga. Bagi Abang, keluarga itu nomor satu, sayang ..." jelasnya santai.
Mendengar rincian yang di sebutkan Ibhen, jiwa liar Rina semakin menyala. Tanpa sungkan, dia menaiki tubuh pria tua itu, mengelus lembut dede unyun milik Ibhen menggunakan surga miliknya.
Tentu itu menjadi hal terindah bagi Ibhen, yang memang sangat menyukai agresifnya wanita muda yang mampu membangkitkan gairah nya bak seorang pria kekar yang tak pernah ada kata kalah ...
Rina melakukan semua hanya untuk memulai cerita baru, agar bisa menghabiskan waktu dengan Sam. Tanpa harus kesepian seperti beberapa waktu lalu.
.
Rina dengan sigap membuatkan makan siang untuk Ibhen, karena baru saja pria tua itu mendapatkan telpon dari proyeknya di luar kota yang mengalami masalah.
Dengan santai dia meminta Rina, agar membuatkan nya makan siang sebelum berangkat menuju kota itu. Dimana kota Lilyana berada.
Kota kembang yang menjadi saksi Ibhen dan Liliyana menikah sirih, dan akhirnya berpisah, kini di pertemukan kembali, karena Lilyana menggunakan perusahaan Ibhen untuk memenangkan tender yang menjadi incaran mereka selama ini.
Ibhen merangkul tubuh Rina, kemudian berkata, "Abang pergi dulu. Mungkin seminggu atau lebih. Kamu kalau mau mengunjungi Ibu kamu, silahkan saja. Asal hati-hati, dan jangan boros yah sayang. Kamu pakai baju-baju yang Abang belikan, jangan lupa foto dan kirim untuk Abang. Satu lagi ... Penyangga buat dada kamu nanti juga dipakai, yah? Abang mau lihat," kecupnya.
Rina membalikkan tubuhnya, mengecup mesra bibir Ibhen, "Nanti aku pakai, aku fotoin buat Abang. Yang penting Abang izinin aku ke tempat Ibu," pintanya manja ...
Ibhen mengangguk, "Kamu tidak usah capek-capek kerja. Cukup kamu rawat Ibu kamu, nanti uangnya Abang transfer, yah. Sebut saja nominal nya. Bilang sama Ibu kamu, terimakasih sudah melahirkan anak secantik kamu bahkan sangat menggairahkan, oke ..."
Rina mengangguk, memeluk mesra tubuh Ibhen, "Akan ku mulai pemerasan nya Abang sayang ..." gumamnya dalam hati tersenyum tipis.
__ADS_1