Gairah Janda Rebutan

Gairah Janda Rebutan
Perang dingin


__ADS_3

Kali ini Rina kalah oleh bentakan Lilyana, yang berkali-kali menghardik janda cantik itu di hotel milik Keluarga Sukenru. Membuat ia tak mampu untuk berkutik, saat pria oriental itu kembali menatap sinis padanya.


"Ma, lepaskan Amel! Amel tidak akan pernah mau menikah dengan Koko!" teriaknya semakin frustasi, saat tubuh indahnya di gendong selayaknya karung beras oleh Sukenru.


Rina berusaha memberontak, memukul keras punggung pria yang tidak memiliki perasaan tersebut dengan kedua tangannya.


"Lepas Ko! Lepaskan aku!" sesalnya.


Lilyana kembali menerima cek dengan nilai yang sangat fantastis, membuat Sukenru menunduk hormat pada wanita paruh baya yang mata duitan tersebut.


Sukenru tersenyum sumringah, saat berhasil meraih Amel kembali dalam pelukannya.


"Ssssht sayang, Koko tidak akan pernah menyakiti mu ... Lebih baik kamu ikuti saja apa yang menjadi mau keluarga kita ..." tawanya membopong tubuh wanita yang ia ketahui bernama Amel tersebut.


Rina tak kuasa, dia semakin tak berdaya untuk melawan. Air mata mengalir deras tak tertahankan, membasahi wajah cantiknya.


BHUUG ...!


Tubuh Rina terjerembab di ranjang kamar, yang membuat ia tampak ketakutan.


"Ko!" teriak Rina keras.


Sukenru membalikkan tubuhnya, menatap lekat mata Rina yang sembab karena menangis.


"Katakan apa mau mu! Kenapa kamu pergi meninggalkan Koko malam itu? Padahal kita bisa berkencan hingga pagi. Kenapa kamu tidak pernah peka, Amel?" sesalnya.


Rina mendengus dingin, otaknya kembali bekerja dengan sangat baik.


"Oke ... Koko menginginkan aku menjadi istri! Bagaimana jika sebelum kita menikah, Koko memberikan aku rumah kos Bu Inggit? Aku ingin memiliki bisnis sederhana, tanpa merusak warisan dari Papa! Dan satu lagi, beli tanpa menawar sama sekali. Kemudian Koko lengkapi semua kebutuhan ku! Tapi, jangan pernah menyentuh ku ... Sampai kita benar-benar menikah!"

__ADS_1


Sukenru menaikkan kedua alisnya, jujur dia memang tidak ingin melampiaskan hasratnya sebelum pemberkatan pernikahan. Dia tidak menyukai hidup yang berantakan, bahkan membuat kesialan bagi hidupnya. Bibirnya menyunggingkan senyuman manis, yang mampu menarik perhatian janda cantik itu.


Pria itu mengambil kursi yang berada di dalam kamar, untuk duduk berdekatan dengan Rina. Dia tidak ingin menyakiti wanita yang selama ini ia jaga, selama Rudi Sunaryo masih hidup.


Entah setan apa, malam itu membuat Sukenru gelap mata, sehingga membuat janda cantik yang masih terbalut mini dress buatan Prancis itu kabur meninggalkan nya.


"Dengar Mel. Koko tegaskan pada mu! Sebenarnya Koko sangat kasihan sama Mama kamu, dan dirimu. Setelah membaca semua identitas palsu mu! Koko tahu, kamu masih perang dingin dengan Mama Lilyana. Tapi jangan lakukan semua ini, jangan lakukan dendam mu hingga merusak tubuh indah mu, sehingga menggoda Sambo serta Papa-nya. Kasihan Om Ibhen menjadi bulan-bulanan kalian berdua! Lebih baik, kamu menikah dengan Koko, kita tinggal di Ausy, Singapura atau dimana kamu suka. Koko sangat mencintaimu, dan selalu mengatakan pada Sambo bahwa Amelia Anandita Sunaryo lah yang akan menjadi istri Sukenru!" jelasnya panjang lebar.


Rina mendelik tajam, melihat kearah Sukenru dengan wajah garang. Dia tak menyangka, bahwa pria oriental itu benar-benar menunggunya sejak ia masih menjadi istri Bambang.


"Tapi aku tidak mencintai Koko! Aku mencintai Sambo!" tegasnya.


Sukenru tersenyum tipis, mendengar ucapan Rina. Dia mengangguk-angguk sambil memikirkan langkah apa yang terbaik bagi mereka berdua.


"Cinta ... Cinta yang tidak pernah Koko rasakan dari seorang wanita, namun Koko yakin kamu akan jatuh cinta tanpa kita melakukannya lebih dulu. Pikirkan lah lagi, semua ini untuk kebaikan kita bersama. Bisnis Koko dan Sam, semua keluarga yang memiliki keuntungan yang sama di sini. Mengertilah, tinggalkan Sambo! Dia akan memahami, karena tipe pria seperti Sam, tidak mampu meninggalkan Mama-nya. Jangan rusak hati Sam, karena cinta kalian yang hanya sebatas nafsu. Hentikan permainan mu dengan Ibhen serta Thamrin. Koko akan menggantikan uang Thamrin, tanpa merusak warisan mu ..."


Rina menelan ludahnya sendiri mendengar penuturan Sukenru. Berkali-kali dia merasakan sakit yang teramat sangat, saat membayangkan bahwa Sambo hanya bertekuk lutut dihadapan Lidya, tanpa mau menoleh kearah nya.


BHUUG ...!


"Aaauugh ..." kesal Rina meringis kembali memukuli lantai kamar hotel tersebut.


Sukenru tak menghiraukan, umpatan, perkataan kotor, bahkan menghinanya sebagai perebut kekasih sahabat sendiri. Baginya, dia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Amelia Anandita Sunaryo dari laki-laki seperti Ibhen dan Thamrin, yang hanya memanfaatkan tubuhnya, termasuk Sambo.


Kedua tangan Sukenru kini berada di kepala yang menyatukan kedua jemarinya sebagai sandaran.


Setelah dia melihat Rina merasa tenang, tidak meronta-ronta seperti tadi, Sukenru beranjak ke walking closed, untuk mengambil baju ganti agar calon istrinya itu lebih leluasa bergerak.


Sukenru mengambil piyama lengan panjang, agar Rina tidak merasa kedinginan di kamar yang menggunakan air conditioner sentral.

__ADS_1


Dia mendekati Rina, "Kamu yang mengganti pakaian sendiri, atau Koko? Atau kamu mau berenang di lantai atas, agar rasa sakit hati mu lebih terobati?"


Rina masih menyingkirkan tangan Sukenru yang memberikan piyama tertutup itu, merampas dengan kasar, dengan tatapan penuh kebencian.


Rina menunjukkan ketidaksukaannya pada Sukenru, yang belum bisa menjawab semua persyaratan nya. Ia beranjak menuju kamar mandi, dengan kedua kaki yang menghentak kuat ke lantai kamar.


"Dasar laki-laki perusak! Tuhan ... Kenapa hidup ku menjadi seperti ini?" sesalnya mengacak-acak rambut sendiri.


Sukenru hanya diam, dia tidak ingin berdebat panjang dengan janda cantik itu, bahkan dia memberikan cek tersebut, hanya sebagai ucapan terimakasihnya pada Lilyana yang bersedia mengembangkan bisnis mereka di Bandung.


Persahabatan Sukenru dan Sambo, tidak pernah rusak hanya karena masalah sepele seperti ini. Mereka sangat profesional dalam mengembangkan bisnis selama ini.


Apalagi semenjak Sambo mengirimkan pembatalan kontrak kerja sama mereka berdua, hanya karena seorang Rina ataupun Amelia.


Sukenru mengirimkan pesan melalui whatsApp pada Sambo. Hanya untuk mengadakan pertemuan atas keputusan pria tersebut.


["Bro ... Bisa kita bertemu di restoran hotel ku nanti malam? Pukul 20.00 waktu setempat."]


Setelah mengirim pesan itu, Sukenru meminta pada pihak hotel, agar membawakan makan siang menjelang sore untuk dirinya dan Rina.


Tentu Rina merasa aman berada di hotel mewah tersebut, karena tidak harus melakukan apapun, seperti yang biasa ia lakukan di rumah barunya bersama Sam.


Wajahnya kembali mengkerut jengkel, saat lagi-lagi matanya, beradu tatap dengan Sukenru yang masih duduk di kursi yang sama.


"Dasar laki-laki tidak punya malu! Orang enggak mau menikah dengannya, malah senyum-senyum sendiri! Cepat jawab, bisa enggak beliin aku rumah kos Bu Inggit?!" hardiknya membuat Sukenru mengusap dadanya pelan, karena mendengar bentakan Rina yang berkacak pinggang dihadapannya.


"Jawab!"


Lagi-lagi Rina melebarkan kedua bola matanya menatap Sukenru.

__ADS_1


"Hanya itu?"


"Aaaaagh ...!" geramnya semakin frustasi.


__ADS_2