Gairah Janda Rebutan

Gairah Janda Rebutan
Memanjakan istri ...


__ADS_3

Kini semua telah berubah, Rina dengan kebahagiaannya, begitu juga Sambo. Walau sesungguhnya Rina belum mengetahui tentang pernikahan Sam dengan adik tirinya.


Ken berpisah dengan Lilyana, menunggu kabar selanjutnya untuk bisnis mereka. Saat pintu kamar ia buka lebar, terlihat Rina tengah meringkuk di sofa kamar hotel, setelah mengalami muntah-muntah malam itu.


Ken menghampiri Rina, melihat istrinya yang tampak pucat, bahkan seperti tidak berdarah, bertanya dengan wajah panik, "Sayang ... Kamu kenapa?"


Rina memeluk erat tubuh Ken, hanya menjawab dengan bibir bergetar, "Ko ... Amel enggak enak badan kayaknya. Pusing ..."


Bergegas Ken menggendong tubuh Rina, melihat kamar yang berserakan dengan muntah sang istri. Segera Ken menghubungi pelayan kamar, agar membersihkan kamar mereka, serta meminta pihak hotel menghubungi dokter.


Ada perasaan was-was dihati Ken, namun bahagia. Setelah dua tahun penantian mereka, mungkin akhirnya Rina akan mengandung, hanya itu yang ada dalam benaknya. Mendapatkan keturunan dari pernikahannya. Tentu merupakan satu impian besar bagi pria oriental tersebut.


Ken meletakkan tubuh Rina pelan diatas ranjang, mendekap erat sang istri, untuk memberi kekuatan.


Rina menggeliatkan tubuhnya, merasa ada yang bergejolak didalam tubuhnya yang semakin menyesakkan ...


"Ko, minggir ..."


"Uwek ... Uwek ... Uwek ..."


Membuat Rina tak kuasa untuk berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya di lantai kamar. Tentu pemandangan yang tidak biasa ini membuat Ken semakin panik.


Lagi-lagi Ken menghubungi pelayan, meminta dokter segera datang ke hotel mereka, tampak kekhawatiran Ken saat melihat wanita itu semakin lemah tak berdaya.


"Ooogh Mel, kamu yang kuat sayang ... Aku sangat khawatir dengan keadaan kamu ..."


Perlahan Ken mengusap lembut kepala istrinya, mengecup dan mendekap tubuh Rina dengan perasaan sayang.


Benar saja Rina mendekap erat tubuh Ken, merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa ...


"Makasih Ko, Koko sangat baik sama Amel selama ini. Sepertinya Amel benar-benar mengandung anak kita Ko, karena sudah dua bulan Amel tidak periode," jelasnya pelan.

__ADS_1


Ken tersenyum sumringah menatap lekat mata Rina dengan penuh perasaan bahagia, "I love you Mel, Koko akan selalu menjaga kamu dan buah hati kita. Terimakasih, atas semua yang kamu berikan pada Koko. Kamu wanita yang paling baik selama Koko kenal. Jika benar kamu hamil, kita akan kembali lebih cepat ke Melbourne. Karena Koko tidak mau kamu mengalami stress di sini. Koko menginginkan anak kita sehat, dan kita akan mencari asisten rumah tangga, untuk membantu kamu di rumah ..."


Rina memeluk Sukenru erat, dia semakin yakin, bahwa sosok Ken lah yang selama ini ia butuhkan.


"Terimakasih Ko, sekali lagi terimakasih, Amel mencintai Koko ..."


Mendengar ungkapan cinta dari Rina, Sukenru berteriak keras, bersorak gembira sambil menciumi leher wajah bahkan semua yang ada di tubuh wanita yang sudah dua tahun menjadi istrinya.


"Terimakasih Mel, terimakasih! Koko pikir kamu tidak akan membalas cinta Koko selama ini, ternyata kamu masih mau mengatakan dan mengakuinya. Koko juga mencintai kamu Amel, Koko sangat mencintaimu."


Ken memeluk erat tubuh Rina, menikmati hangatnya tubuh wanita yang selama ini dia rindukan agar sepenuhnya mau menerima apapun dirinya, kesibukannya, keteledorannya, namun mampu memberikan kenyamanan untuk wanita yang selama dua tahun mendampingi dan mengurusnya sepenuh hati.


Jika di delik kebelakang, mungkin Rina akan beruntung di tarik paksa oleh Lilyana dari rumah sakit saat melihat kondisi Ibhen, dan memberikan wanita itu pada Sukenru.


Karena jika dia masih memperjuangkan hidupnya bersama Sambo, mungkin akan mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan dari Lidya.


Perlakuan Lidya hanya menyayangi Olivia fokus pada gadis belia tersebut, ditambah karena gadis kecil itu di rawat dari tangan dan perhatian wanita paruh baya nan memiliki jiwa keibuan namun tegas serta super tega.


Kehadirannya kali ini di Jakarta, atas permintaan Ken yang ingin menemuinya, untuk menyelesaikan bisnis mereka, tanpa bertanya kehidupan pribadi.


Sam kini berada di mansion miliknya yang berada di belakang mall interior. Rumah mewah dua lantai itu, baru selesai di renovasi karena beberapa tahun hanya di tempati oleh para pelayan dan kurang terawat.


Oliv yang sangat mengetahui bahwa rumah itu memiliki kenangan tersendiri bagi Sam bersama Karenina, membuat dia mencurahkan isi hatinya pada sang suami.


"Bang ..."


"Hmm ..."


"Bagaimana jika rumah ini Abang jual saja, dan uangnya kasih ke anak Abang, atau simpan untuk masa depan Luisa. Karena aku tidak suka tinggal di sini," jelasnya dengan pelan.


Sam yang mendengar penuturan istri tercintanya hanya terdiam, merenungi ucapan Oliv, yang menurutku ada benarnya.

__ADS_1


"Emang kalau kita tinggal di sini, kenapa? Kamu enggak suka?"


Olive menggelengkan kepalanya, sedikit menunduk karena takut Sam akan marah jika dia mengatakan hal yang sangat pribadi.


Sam mendekati Olivia, memeluk tubuh ramping itu dengan segenap jiwanya, "Ya ... Malam ini kita akan menginap di hotel, aku tidak ingin mengecewakan kamu, karena kamu merupakan istri ku. Mungkin besok, kita akan bertemu dengan beberapa rekan kerja ku, termasuk hmm ..."


Oliv menyela dengan cepat, "Karenina ...?"


Sam mencium puncak kepala gadis kecilnya, "Ya ... Sekalian aku akan membicarakan tentang rumah ini dengannya. Satu lagi, aku juga memiliki rumah dengan hmm ..."


"Sudahlah Bang, aku tidak ingin membahas tentang masa lalu mu. Karena bagiku, kamu masa depan ku! Apapun yang kamu miliki dengan masa lalu, aku tutup mata dan telinga, karena aku percaya padamu. Walau sejujurnya hati ku terasa perih ..."


Sam tersenyum sumringah, menggendong tubuh ramping itu menuju mobil mini cooper yang ia miliki bersama Rina kala itu.


"Bang ... Turunin, aku takut jatuh!" geramnya.


Sam tidak memperdulikan teriakkan gadis kecil itu, baginya hanya ingin melihat istrinya itu bahagia menjadi pendampingnya.


"Kita ke hotel sekarang, Abang pengen peluk kamu, sekaligus kita makan dulu. Karena sejak tiba di sini, langsung meeting sama Ken, dan belum makan apa-apa lagi. Jadi kamu harus temani Abang makan soto Betawi."


Tubuh Olive, Sam sandarkan di jok penumpang, dia menatap penuh perasaan iba pada gadis muda yang bercita-cita menjadi seorang guru itu.


Sesungguhnya jika malam di Perth Oliv tidak mabuk berat, mungkin dia tidak akan mengetahui bagaimana isi hatinya pada gadis kecil tersebut.


Akan tetapi, karena kejadian itu pulalah membuat Sam tahu, betapa indahnya menikah kemudian menikmati kebahagiaan bersama sebagai pasangan suami istri.


Mungkin ini merupakan pernikahan kedua bagi Sam, tapi ia rasakan kehadiran Olive menjadi keindahan yang sangat besar Tuhan titipkan.


Sam menekan pedal gas, menuju rumah makan yang masih buka saat malam.


Namun atas permintaan sang istri, untuk membawa makanannya ke hotel tempat mereka menginap, karena tubuhnya merasa sedikit kelelahan sepanjang perjalanan. Tentu sebagai suami, Sam menuruti keinginan sang istri.

__ADS_1


"Ternyata memanjakan istri itu sangat indah ..."


__ADS_2