
Rina berdandan lebih casual, menggunakan celana jeans di padu padankan dengan baju kaos ketat merek dior yang menjadi baju andalannya. Dia mendapatkan baju kaos berwarna hitam itu dari Thamrin saat berpergian ke luar negeri bersama Maria istrinya tercinta.
Sementara Sambo hanya mengikuti arahan simpanan sang Papa, dengan mengenakan baju kaos dan celana jeans panjang.
Mereka bertemu di depan pintu apartemen yang bersebelahan, saling menatap dan memuji dalam hati.
Rina menghampiri Sam, meminta KTP dan buku account pemuda itu tanpa perasaan sungkan ...
"Sini! Ingat, jangan bilang siapa-siapa! Ini uang bersih, tapi sedikit haram. Hari ini juga aku akan membeli rumah dan mobil, jika semua sales itu bertanya siapa kamu, cukup jawab ku suami ku! Ngerti?" ungkap Rina membuat Sam benar-benar mati kutu.
Sam mendekati Rina, berbisik penasaran, "Emang kamu memeras Pak tua itu? Atau apa? Aku enggak mau ikut ni!"
Rina menghela nafas panjang, menepuk bahu pemuda tampan itu, "Kamu ikut saja dulu. Yang penting kamu ikuti perintah ku! Jangan banyak tanya, di sini aku yang berkuasa! Nih kunci mobil, aku belum terlalu mahir untuk menyetir!" perintahnya.
Sam mengangguk mengerti. Mereka berlalu menuju basemen, melihat city car milik sang Mama yang terparkir di sana.
Sam terdiam, mengingat perkataan Ibhen yang menyatakan bahwa mobil istrinya telah di jual.
'Brengsek sekali Papa, tega-teganya membohongi Mama selama ini hanya untuk wanita seperti janda ini. Hmm, sepertinya aku akan memanfaatkan keadaan ini, untuk mengenal wanita ini lebih dekat. Sepertinya dia janda yang asik, tidak terlalu munafik! Tapi sialnya, dia simpanan Papa ...' sesalnya.
Rina lagi-lagi menepuk pundak Sam yang termenung di depan city car tersebut, "Cepat! Lama banget sih kamu!"
Sam menatap malas pada wanita yang bawel seperti Rina. Mereka berlalu meninggalkan apartemen, memenuhi keinginan Rina agar masuk ke salah satu Bank swasta yang berada tidak jauh dari apartemen mereka.
Dengan jantung yang berdebar-debar, Rina mengajukan untuk pencairan cek tersebut.
Pihak teller Bank itu meminta Rina dan Sam untuk menunggu, karena pihak Bank melakukan konfirmasi pada pihak perusahaan terlebih dahulu.
Tak selang berapa lama, nama Sambo di panggil oleh pihak teller.
"Pak, silahkan tanda tangani di sini," tunjuk pihak teller dengan senyuman sumringah.
Sam menanda tangani yang di tunjukkan teller, melihat nominal yang tertulis di selembar cek tersebut, membuat dia menoleh kearah Rina membelalakkan kedua bola matanya.
__ADS_1
Rina tersenyum tipis, menatap wajah tampan itu dengan sangat santai.
Tentu saja ini menjadi kejutan luar biasa bagi Sam, walau dia memiliki tabungan melebihi nominal itu, namun iya berhak tahu dari mana wanita itu memperoleh uang sebesar itu.
Tak menunggu lama, pihak teller memberikan buku tabungan dan memperlihatkan nominal yang tertera di sana.
"Ini sudah masuk ke rekening Bapak. Nominal sudah di gabung di sini. Ada lagi, Pak?" tanyanya ramah.
Sam menggelengkan kepalanya, menarik tangan Rina kasar menuju parkiran untuk segera meninggalkan Bank tersebut.
Tentu Rina meringis kesakitan, karena Sam meremas kuat lengan halusnya.
"Aaaagh, bisa lepas enggak!" sesalnya menoleh kearah Sam menantang dengan sangat kesal.
"Masuk!" gertak Sam.
Rina menuruti semua perintah pria itu, tanpa perasaan bersalah.
Rina tersenyum sumringah, melihat nominal yang sangat menggiurkan, "Hmm, teryata kamu juga Duda kaya. Baiklah akan aku pertimbangkan untuk menjadi istri pura-pura mu!" tawanya tanpa menghiraukan pertanyaan Sam.
"Jawab aku! Dari mana kamu mendapatkan uang ini?" tanyanya lagi.
Rina memberi invoice yang berlogokan perusahaan Thamrin yang menjadi musuh bebuyutan Ibhen sang Papa.
Sam mengerenyitkan keningnya, tersenyum tipis layaknya dia dapat membalaskan dendam keluarganya selama ini pada pria berwatak jahat itu.
Sam meraih handphone miliknya, menanyakan nomor rekening Rina, untuk mengirimkan uang tersebut ke account janda muda itu, sebagai pegangannya.
"Good girl! Ternyata kamu wanita hebat, dapat mencairkan dana sebesar itu dari perusahaan raksasa itu. Aku memujimu hari ini. Terus apa rencana selanjutnya?"
Sam menekan tombol mundur, agar mereka segera meninggalkan Bank tersebut.
"Hmm, aku ada janji dengan seseorang. Tapi kamu melihat aku dari kejauhan saja. Jika pria itu melakukan hal tidak senonoh pada ku, kamu datang untuk membawa aku pergi darinya," jelas Rina.
__ADS_1
Sam menautkan kedua alisnya, "Apakah pria ini yang akan mengajak mu berkencan?" tanyanya penasaran.
Rina memasang wajah datar, "Aku menemui dia untuk meminta hak ku, selama menjadi secretaris dan pemuas hasrat brengseknya itu! Sampai-sampai aku di grebek oleh istrinya! Untung wanita tua itu tidak dapat meraih tubuh ku! Jika dia mendapatkan aku siang itu, mungkin aku sudah berada di dalam peti mati untuk di kremasi," tawanya tanpa perasaan bersalah.
Sam hanya menggelengkan kepalanya, mendengar celotehan janda muda itu, "Hmm, terus? Kamu ketemu sama Pak tua dimana?" tanyanya penuh selidik.
Rina menautkan kedua alisnya, "Pak tua? Maksudnya Bang Ibhen? Apakah kamu mengenalnya? Atau jangan-jangan kamu adalah putranya?"
Rina menatap penuh selidik.
Sam menggeleng cepat, menepis dari kecurigaan wanita itu, mengalihkan pembicaraan mereka ke hal yang lain.
"Jadi apa rencana mu mendapatkan uang sebanyak itu?" tanya Sam kembali fokus pada stir kemudi.
Rina berpikir sejenak, "Aku berencana untuk membeli rumah, dan mobil. Rumah kecil saja, karena aku tidak memiliki tempat tinggal. Mobil untuk memudahkan aku mencari pekerjaan," jelasnya.
Sam mengerenyitkan keningnya, "Berapa budget kamu untuk membeli satu unit rumah?"
"Hmm, mungkin 800 jutaan, atau satu milyar. Karena sisanya bisa kita bagi dua, kan?" tawanya.
Sam mendengus dingin, "Aku enggak butuh uang, yang aku butuh teman untuk mencari putri ku, Luisa. Kamu sudah berjanji. Oya, kamu mau bekerja dengan ku? Kita cukup bekerja di rumah, tanpa keluar rumah, dan menghasilkan banyak uang. Lebih irit waktu kamu sebagai simpanan ..." ucapnya terdengar mengejek.
Rina memukul keras bahu Sam, beringsut agar menjauh dari pria itu.
Namun lagi-lagi Thamrin mengirim pesan pada Rina, tentu dengan hal yang sangat mengecewakannya.
["Maaf sayang, Abang di bawa Maria untuk melayat ke rumah keluarga. Abang janji nanti malam langsung transfer ke account kamu. Salam sayang, mmuach ..."]
Melihat pesan dari Thamrin, membuat Rina memberanikan diri untuk membalas secara kasar.
["Jangan janji-janji saja, Bang! Aku butuh uang masalahnya. Jangan mau enaknya saja. Emang ngangkang enggak capek apa ..."]
Rina melempar handphonenya di dalam laci dashboard, tak menghiraukan lagi. Karena dengan 1,5 milyar dia dapat hidup berleha-leha dengan menjalani hidupnya sebagai simpanan Bang Ibhen.
__ADS_1