Gairah Janda Rebutan

Gairah Janda Rebutan
Pencuri kelas teri


__ADS_3

Rina beranjak dari kamarnya untuk melakukan ritual pagi seperti biasa. Dia memikirkan ke account siapa dana itu akan dia cairkan ...


"Ke account siapa aku cairkan dana ini. Sementara aku tidak memiliki teman di sini ... Enggak mungkin account Bang Ibhen, sementara mereka musuh bebuyutan gara-gara Mama. Jika ke account aku pasti dia akan memenjarakan aku. Apalagi jika Maria tahu ... Aaagh ...!"


Rina membuat segelas kopi kemasan, yang dia beli beberapa hari lalu di supermarket apartemen. Bak wanita kaya, iya menggesek kartu debitnya hanya untuk menunjukkan bahwa rekening nya kini sudah mulai menggendut.


Iya membawa kopi sepiring roti bakar, ke balkon apartemen dengan kaki terpincang-pincang.


Rina menghela nafas panjang, memandang ke arah laut yang terbentang luas yang di halangi gedung pencakar langit di waktu pagi. Cuaca cukup cerah, dan sejuk membuat iya hanya bisa menikmati udara pagi.


Janda cantik itu menyandarkan tubuhnya ke dinding apartemen, dengan pandangan ke arah kanan, beradu tatap dengan Sam yang melakukan hal sama dengannya.


Rina terlonjak seketika, saat pria muda berwajah tampan itu memandang namun tak bergeming. Iya sedikit penasaran, "Kenapa tiba-tiba dia jadi begini? Apa yang dia pikirkan? Bukankah dia lebih sering menggoda ku ...?"


Rina mendekati tembok pemisah, menaiki kursi, untuk menyapa pagi karena telah baik membantunya tadi malam.


"Hei!" sapa Rina basa-basi.


Sam hanya tersenyum tipis, menarik nafas panjang, menyuguhkan gelas kopi yang ada dalam genggamannya.


"Morning! Terimakasih telah membantu ku tadi malam."


Sam hanya mengangguk tersenyum, masih enggan untuk menjawab.


Rina menggeleng pelan, dia meletakkan gelas yang di tangannya di atas tembok pembatas, memangku dagu dengan kedua tangannya yang melipat di tembok.


"Kok murung? Kenapa?"


Sam menggeleng, menarik nafas berat, mengalihkan pandangannya ke pemandangan luas yang terbentang.


Seketika Rina terpikir untuk membawa Sam masuk dalam misinya, untuk membantu dengan penghasilan 70 30.


"Hei! Siapa nama mu?"

__ADS_1


Sam menoleh kearah Rina, hanya membalas dengan senyuman lirih.


"Hmm, sombong! Aku serius, kalau ada masalah tuh di share, jangan di pendam. Ntar mati tegang, enggak ada yang peduli! Anjing tetangga sebelah, nggak jawab pertanyaan Tuannya baru mati dan kemaren di kuburin ...!" dengusnya kesal.


Sam menunduk, kali ini dia tidak ingin bercanda atau melayani wanita pecicilan yang ada di hadapannya.


Pemuda tampan itu memilih masuk ke dalam apartemennya, meninggalkan Rina yang masih memandanginya.


Seketika Rina berteriak, "Aku tahu kamu memikirkan anak perempuan mu, kan? Kita bisa cari sama-sama! Yang penting kamu bantu aku dulu, hei--!" teriaknya agar Sam tidak meninggalkan nya.


Rina mendengus dingin, melihat pria muda itu tidak sehangat beberapa hari lalu.


Ketika Rina hendak membalikkan tubuhnya, Sam menyapa janda cantik itu ...


Sam berdiri di depan pintu kaca, mengalihkan perhatian nya setelah mendengar Rina akan membantunya mencari keberadaan anak perempuannya Luisa, "Apa kamu bilang? Apa kamu mengetahui dimana keberadaan anak ku?"


Rina mengerenyitkan keningnya, berfikir sejenak seperti orang pura-pura mengetahui tentang pemuda itu.


"Hmm, tapi dengan catatan kamu bantuin aku dulu! Bagaimana!?" senyum Rina menyeringai.


Rina menggeleng, dia tampak gugup, "Hmm bukan! Maksud aku, kamu bantuin aku, dan aku membantu mu untuk mencari keberadaan anak mu itu! Karena tadi malam, tanpa sengaja aku mendengar tentang kegalauan mu! Bagaimana kalau kita berteman mulai saat ini? Setidaknya kita bisa saling membantu, yang penting sama-sama untung!" iya mengerejabkan matanya, berharap jawaban dari pemuda tersebut.


Sam meletakkan telunjuknya di dagu, "Bayarannya berapa? Apakah kamu memeras Pak tua itu?" tanyanya penuh selidik.


Rina mendengus kesal, "Pak tua mana sih? Aku bukan simpanan! Aku ini janda yang menumpang pada pemilik apartemen ini. Karena di usir Ibu kos!" sungutnya.


Sam tertawa terbahak-bahak, mendengar celotehan Rina yang sangat membingungkan, "Hei, bagaimana mungkin seorang janda tinggal di apartemen orang lain jika tidak jadi simpanan. Lagian, janda itu status kamu! Bukan profesi kamu! Wanita bodoh!"


Rina menaikkan kedua alisnya, wajahnya memerah, "Eeeh, laki-laki yang tidak memiliki perasaan! Aku ini seorang secretaris! Secretaris pribadi Thamrin, pria Batak yang membangun gedung-gedung perkantoran, apartemen dan hotel berbintang di kota ini!" tegasnya.


Sam semakin tertarik untuk menggoda wanita aneh di hadapannya, "Apa? Secretaris? Secretaris plus-plus? Oya, sudah berapa terong tuh yang masuk ke dalam goa, kamu?" tawanya memilih masuk kedalam apartemen, meninggalkan Rina yang semakin berteriak-teriak keras.


"Eeeh, dasar laki-laki aneh! Kemaren saja penuh nafsu, sekarang malah sok dingin! Emang enak di tinggalin anak dan istri!" balasnya tertawa terbahak-bahak ...

__ADS_1


Namun, saat Rina akan menuruni kursi tempat pijakannya, seketika tubuhnya seperti di tabrak oleh badan kekar yang lebih dulu menerobos dia sehingga keduanya terjerembab di lantai balkon.


BHUUUUG ...!


"Aaaagh ...!"


"Aduh, sial! Berat juga badan kamu!" sungut Sam yang berada di bawah janda kembang itu.


PLAAAAK ...!


Rina menepuk dada Sam karena tidak terima dengan perlakuan laki-laki itu, yang telah menyerangnya mendadak, membuat dia kaget, dan kepalanya hampir menyentuh lantai apartemen ...


"Kok aku yang di pukul! Awas sana! Sakit tahu!" sesal Sam menggeser tubuh Rina yang masih menimpanya.


"Hmm, maaf!" Rina bergeser sedikit, karena merasa tidak nyaman, setelah merasakan ada yang bergerak-gerak di bawah sana.


Mereka berdua terduduk di lantai balkon apartemen, masih sama-sama terdiam, saling berpandangan dan tersipu-sipu.


"Tadi kamu bilang apa? Beneran kamu mau bantu aku mencari Luisa? Memangnya hmm, aaagh! Sudah lah! Lupakan ..." ucap Sam pelan.


Rina menautkan kedua alisnya. Tampak kebingungan mau mengatakan niat dia tentang dana 1,5 milyar tersebut. Karena dia tidak ingin Sam mengetahui tentang niatnya untuk mencuri dana sejumlah itu.


"Kita belum kenalan, siapa nama kamu? Apakah kamu memiliki account atas nama kamu?" tanya Rina sedikit gugup.


Sam menatap Rina penuh selidik, "Kenapa? Apa kamu akan merampok Pak tua itu?"


Lagi-lagi Rina kembali mendengus dingin, karena Sam tidak pernah serius dalam menanggapi pertanyaan nya.


"Sudah aaagh, aku lagi malas berdebat! Kamu punya account enggak? Kalau punya, hari ini kamu ikut dengan ku! Kita ada kerjaan. Selesai ini kita akan melanjutkan misi kita untuk mencari keberadaan putri kesayangan kamu! Soal bayaran, nanti aku pikirkan. Yang penting uang ini cukup untuk hidup kita setahun. Dengan keluar dari apartemen ini," tegasnya.


Sam masih belum mengerti apa maksud janda cantik itu. Dia hanya mengikuti celotehan Rina, yang seolah-olah tidak memahami untuk menjadi seorang pencuri kelas teri.


"Dah, sekarang kamu balik ke sebelah, aku juga bersiap-siap, mumpung waktu masih panjang ..."

__ADS_1


Anehnya, Sam mengangguk patuh, mengikuti perintah Rina sang bos besar ...


__ADS_2