
Suasana didalam kamar hotel milik Keluarga Sukenru hanya terdengar suara telivisi. Rina hanya sibuk menikmati hidangan makan siang menjelang sore yang di persiapkan pelayan, sesuai yang di perintahkan oleh Sukenru.
Kedua-nya masih enggan untuk banyak bicara. Mereka masih diam karena lagi-lagi Sukenru tidak mengindahkan permintaan Rina tentang pembelian rumah kos milik Bu Inggit.
Sukenru masih terus menyibakkan rambutnya yang tak begitu panjang bak artis Korea, setelah membersihkan diri untuk bertemu dengan Sam beberapa waktu lagi. Dia tidak ingin membiarkan masalah antara mereka berlarut-larut, sehingga membuat bisnis mereka berjalan tidak baik, hanya karena seorang wanita.
"Mel ... Koko mau ke restoran dulu. Kalau kamu perlu apa-apa bisa minta langsung sama pelayan kamar. Mungkin lebih kurang tiga sampai empat jam. Jadi kamu jangan sampai tidak membersihkan diri. Oke!" jelasnya mengenakan pakaian lebih santai dan kasual.
Rina hanya diam, dia tidak ingin melihat kearah Sukenru, karena masih menyimpan perasaan kesal serta kecewa.
Rina beranjak ke ranjang kamar hotel, menghentak-hentakkan kaki jenjangnya, memberi isyarat bahwa dia tidak menyukai pria yang ada di dekatnya saat ini.
Sukenru yang melihat sikap Rina, hanya tersenyum tipis, tanpa mau berbasa-basi ataupun berdebat lagi dengan wanita keras hati seperti janda kembang tersebut.
Tak lama Sukenru bersiap-siap, terdengar pesan singkat dari handphone milik pria oriental tersebut. Ia membaca sebentar, lalu mengantongi handphone pipih miliknya, berlalu meninggalkan Rina seorang diri di dalam kamar.
Tentu dengan penjagaan ketat oleh dua bodyguard yang berdiri di depan pintu kamar.
Rina hanya tersenyum dingin, melanjutkan waktu bermalas-malas nya, tanpa mengetahui apa yang akan dilakukan oleh pria mapan tersebut.
.
Sambo tengah bergelut dengan pikirannya. Wajah yang tak sesegar awal, hanya tersisa penyesalan di dalam dirinya setelah berbicara dengan Lidya, membuat kepalanya semakin berdenyut tak mampu untuk mengambil keputusan.
Baginya Rina Amelia merupakan cintanya. Namun dia tidak ingin menyakiti Lidya yang menaruh harapan besar padanya.
"Apakah aku mampu untuk meninggalkan Rina ...? Bagaimana jika janda itu bunuh diri, dan meninggalkan aku selamanya? Aaagh ... Rin, maafkan aku! Yang tak mampu membela mu di hadapan Mama ku ..."
__ADS_1
Mobil mini cooper terparkir di loby hotel. Sambo hanya memberikan kunci pada pihak security, dan melenggang menuju restoran tempat yang di janjikan Sukenru padanya.
"Apa yang ingin di bicarakan Ken pada ku? Apakah dia tidak ingin melepaskan aku ...? Aaagh ... Kenapa semua ini terjadi begitu cepat? Bahkan aku harus kehilangan Rina karena kecerobohan Lilyana!" sesalnya dalam hati.
Sukenru tersenyum tipis dari kejauhan, saat melihat Sambo yang akan memasuki restoran. Tanpa perasaan bersalah, dia memeluk sahabatnya tersebut saat mereka sudah saling menyapa.
Sukenru bertanya lebih dulu, "How are you? Bagaimana kabar Om Ibhen? Apakah dia baik-baik saja?"
Sam hanya membalas dengan senyuman lebar. Dia sangat mengetahui bagaimana sifat Sukenru, yang biasa ia panggil Ken.
Mereka memilih duduk di salah satu meja, yang agak tersembunyi, namun dapat melihat ke sisi luar. Hanya untuk memastikan bahwa Amel tidak akan melarikan diri darinya.
"Yaaah ... Hanya stroke ringan, dan saat ini masih berada di ruang perawatan intensif, dan besok akan dilakukan pemasangan ring pada jantungnya. Semoga, semua baik-baik saja. Hanya itu harapan ku!" jelasnya menyiratkan kesedihan.
Sukenru menghela nafas dalam-dalam, dia menatap lekat mata Sambo, kembali membahas tentang kerja sama mereka yang di putuskan secara sepihak oleh sahabat yang duduk di hadapannya.
"Apa masalahmu? Apakah pemutusan kerja sama kita ada hubungannya dengan wanita bernama Amelia Anandita Sunaryo, yang telah mengubah identitas dirinya menjadi Rina Amelia?"
Sambo mengatur nafasnya kali ini, dia tidak ingin terlihat lemah, karena Rina telah pergi meninggalkan nya.
"Apa yang kamu lakukan pada janda ku malam itu? Dan saat ini aku benar-benar kehilangan nya. Rina meninggalkan ku! Dia lebih memilih pergi bersama ibunya daripada memperjuangkan aku!" sesalnya mengalihkan pandangan kearah lain.
Sukenru hanya sibuk memainkan handphone kecil yang ada dalam genggamannya, mendengarkan semua keluh kesah Sam. Ia melihat sahabatnya tampak seperti orang linglung, bahkan kehilangan harapan.
Sukenru bertanya pada Sam, "Bagaimana jika aku membawanya pergi, dan menikah dengan nya? Apakah kamu akan mengalah untuk ku? Aku tidak mau masalah bisnis kita, di campur aduk dengan masalah pribadi. Ini hanya masalah Amel, Sam! Bukan masalah kita berdua! Sama sekali aku tidak pernah ingin mengkhianati mu, atau bahkan menyakiti sahabat ku sendiri. Tapi apa kamu berani melawan Tante Lidya yang akan membuang mu dari kartu keluarga. Come on Sam ... Kita berteman telah lama, jangan hanya karena wanita hubungan kita rusak seperti Om Ibhen dan Thamrin. Semua hanya karena Tante Lilyana. Apa kamu mau kita seperti itu?"
Sukenru, masih belum puas melepaskan semua unek-unek yang ada dalam benaknya.
__ADS_1
Akan tetapi semua yang di pertanyakan Sukenru, Sambo hanya diam tak bergeming. Dia tampak seperti bingung memikirkan cintanya atau perasaan sang Mama.
Sambo menepis ucapan Sukenru, yang seolah-olah memojokkan dia terlah mengecewakan Rina.
"Mama Lidya tidak memiliki siapa-siapa saat ini, Ken! Itu yang membuat aku tidak bisa menentukan sikap. Aku mencintai Rina, tapi kali ini aku kalah karena tidak bisa memperjuangkan nya. Aku yang bodoh, terlalu cepat main hati pada simpanan Papa Ibhen. Gara-gara wanita itu Papa ku mengalami stroke! Kini aku semakin bingung, apakah begini dendamnya pada keluarga ku? Satu lagi, Mama Lidya akan melakukan test DNA pada Olivia yang merupakan anak Lilyana. Jujur saat ini aku membutuhkan Rina, untuk menjemput Luisa putri ku!" jelasnya tanpa ada yang ditutup-tutupi pada Sukenru.
Sukenru tersenyum, dia menyeruput kopi yang telah terhidang, memasukkan beberapa cemilan kedalam mulutnya.
Akan tetapi, Sambo memiliki ide yang sedikit mengejutkan bagi Sukenru. Dia mencondongkan tubuhnya agar dapat berbicara lebih dekat dengan sahabatnya.
"Bagaimana jika kita menemui Rina, dan meminta dia memilih. Siapa diantara kita yang akan menjadi pelabuhan terakhir nya. Karena aku masih khawatir dengan keadaannya, Ken ..." ungkapnya dengan nada pelan.
Sukenru tersenyum, dia menggelengkan kepalanya, hanya bisa menjawab keinginan Sambo, "Aku tidak yakin dia akan mau melakukannya. Karena sama sekali aku tidak mengetahui dimana keberadaan Amel ataupun Rina. Tapi aku akan mencoba untuk menghubungi Tante Lilyana, semoga ada jalan keluar bagi kita berdua."
Sambo mengangguk setuju, kali ini dia tidak ada pilihan, hanya Sukenru yang dapat ia percaya. Walau sesungguhnya Sukenru sengaja telah menyembunyikan Amelia, agar wanita itu tidak berada di tangan yang salah.
Mereka berbincang-bincang tentang perencanaan bisnis batubara dan perkebunan sawit yang akan berjalan, dan kembali melanjutkan kerja sama itu demi buruh yang banyak bergantung hidup pada mereka berdua.
"Maafkan aku, Sam! Kali ini aku harus menyembunyikan Amel dari mu! Tapi aku akan melakukan sesuatu, agar kamu menemukan cinta sejati mu ..."
____
Hai hai hai Oktober ceria ...
Yuk aaghh, kita perpanjang Give nya ... Author butuh suport dan komentar biar lebih semangat update.
Sampai akhir bulan 28 Oktober 2022.
__ADS_1
Nikmati hijab, atau daster bagi dua top fans yang paling banyak kasih othor hadiah ...
Terimakasih ... Happy reading ...❤️🥰😘