Gairah Janda Rebutan

Gairah Janda Rebutan
Membawa simpanan mu ...


__ADS_3

Sam melajukan kecepatan mobilnya, menuju gedung perkantoran milik Ibhen Santoso yang tidak begitu jauh dari mall interior miliknya. Beberapa kali dia harus mengumpat, menyumpahi sang Papa agar berhenti menyiksa batin Lidya sang Mama.


"Dasar laki-laki tidak tahu diri ...! Anak di mana-mana! Sudah cukup Olivia menjadi korban anak yang dia buang 16 tahun lalu. Pernikahan haram nya dengan Tante Lilyana, sehingga menerbitkan bibit unggul secantik gadis belia yang ternyata lebih mirip dengan Rina. Apa jadinya jika aku tidur dengan adik tiri ku ..." geram Sambo.


Sam memarkirkan mobilnya di depan pintu utama gedung perkantoran milik Ibhen, tanpa canggung dia melempar kunci mobil pada security agar memarkirkan kendaraannya di tempat biasa.


Bergegas dia memasuki lift, menuju lantai atas seperti yang dia janjikan pada pria tua bangka itu.


Sam tidak memperdulikan apapun saat ini, baginya dia harus melindungi Rina, agar tidak menjadi bulan-bulanan pria tua hidung belang tersebut.


Matanya mengarah pada Ibhen, yang tengah duduk menikmati secangkir kopi hitam, dengan hembusan rokok yang berada di tangan kanannya.


Sam mendekati sang Papa, dengan sedikit angkuh, hanya bisa menganggap pria yang ada di hadapannya merupakan teman atau partner bisnisnya.


"Hai ... Masih kuat merokok rupanya? Aku pikir semenjak serangan jantung kemaren sudah tobat! Tapi aku melihat petikan rokok mu seperti seorang germo yang tengah menunggu simpanan saja!!"


Sam menyunggingkan senyuman tipis, memilih duduk di hadapan Ibhen yang langsung menekan puntung rokok di asbak yang tersedia.


Ibhen hanya bisa membuka tangannya, tanpa bisa berkata banyak pada sang putra.


"Papa merokok hanya untuk menikmati hidup, bukankah Papa jarang merokok? Apalagi di kotaknya tertera rokok dapat ... Itu rokok dapat, bukan? Ini Papa beli, Sam!" tawanya menyeringai mencemooh kecil pada Sam.

__ADS_1


Sam hanya memangku tangannya, dia enggan bersalaman dengan pria yang telah merusak masa depan anak kandungnya sendiri seperti Olivia.


Ibhen yang mengetahui watak keras kepala putranya, bertanya penuh selidik ...


"Ada apa kamu menemui aku? Aku rasa, Luisa sudah di bawa pergi oleh wanita iblis itu! Untuk apa kamu mencarinya lagi. Kamu bisa mencari gadis lebih cantik dari Karenina. Kamu lebih tampan dari aku! Lebih gagah, pasti banyak wanita yang sangat tergila-gila pada mu!"


Sam yang mendengar celotehan sang Papa, hanya menggelengkan kepala, bak mendengar kaset kusut yang di rewind berulang-ulang dan hanya itu yang terdengar di telinga Sam semenjak berpisah dari Karenina.


"Ya, termasuk adik tiri ku yang rela memberikan kehormatan nya pada ku! Come on, Pa! Sampai kapan Papa pergi menghilang dan meninggalkan Mama seperti ini? Kasihan Olivia yang harus bekerja di mall ku, tanpa tahu bahwa dia putri mu!"


Ibhen menatap tak suka pada Sam, wajahnya mengeras seketika saat mengenang kebodohan Lilyana kala itu. Sehingga menyebabkan wanita yang dia nikahi secara sirih tersebut, memberikan putri mereka pada Lidya.


Sontak itu menjadi tamparan keras bagi Lidya juga Sam. Kisah yang sangat memalukan bahkan mengakibatkan kematian pada suami Lilyana.


Ibhen kembali menatap Sam, bertanya dengan nada sedikit melunak, "Apa Olivia masih mengganggu mu?"


Sam menggelengkan kepalanya, "Aku ingin Papa katakan pada istri muda Papa itu, bahwa anak kalian masih hidup! Jangan buat malu lagi. Kasihan Mama, kasihan umur mu yang terbuang sia-sia hanya untuk melampiaskan hasrat liar mu dengan wanita di luar sana! Aku lihat Papa memiliki simpanan di apartemen? Dan mengapa Asep juga Karmin, berani menginjakkan kaki mereka ke mall interior ku! Jangan macam-macam Pa, karena aku bisa melakukan hal yang sangat menyakitkan pada kedua anjing peliharaan mu!"


Ibhen menyunggingkan senyumnya, sedikit penasaran mendengar penuturan sang putra.


"Apa maksud mu? Aku dengan janda cantik itu akan segera menikah! Dia bersedia menjadi simpanan ku! Dan kau tahu, wanita itu sangat baik, tidak sama seperti Lilyana yang tidak pandai merawat diri!" ejeknya menegaskan ketelinga Sam.

__ADS_1


Sam mendengus dingin, "Sial! Jadi Papa mau menikahi wanita itu? Tanpa di ketahui oleh Mama juga Tante Lilyana? Woowh ... Amazing Tuan Ibhen! Aku rasa aku perlu berguru pada mu, untuk menaklukkan hati wanita secantik simpanan mu di apartemen. Apakah dia wanita yang polos?"


Ibhen bercerita penuh semangat, entah kenapa, setiap dirinya membicarakan janda cantik yang sangat menggairahkan tersebut, tak satupun hal buruk yang ia utarakan. Membuat Sam ingin meludahi wajah sang Papa.


"Wanita itu sangat baik, saat ini dia berada di kampung nya. Aku berharap saat dia kembali, aku akan menikah dengannya. Aku harap kau dapat hadir untuk menjadi saksi dalam pernikahan ku ..." jelasnya.


Seketika dada Sam di landa perasaan cemburu yang bergemuruh, bahkan terasa sangat perih saat Ibhen menyatakan niatnya siang itu. Ada sedikit perasaan tidak rela dan ingin mengungkapkan siapa Rina sebenarnya, agar sang Papa mau bertobat dan mengakui kesalahannya.


Sam memotong pembicaraan mereka, "Hmm, sory Pa! Bukankah Papa masih menjalin hubungan dengan Tante Lilyana? Karena beberapa waktu lalu, aku melihat Papa update status berada di Singapura bersama wanita itu? Aku turut senang jika Papa ingin menikah lagi. Tapi apa salahnya Papa mau mengalah untuk ku. Menanti aku mengenalkan calon istri ku, serta ..."


Ibhen menepuk pundak putranya, dia sangat bangga pada keputusan Sam yang sudah bisa move on dari Karenina mantan istrinya.


"Dengar Sam, aku ke Singapura hanya untuk berlibur dan bertemu Sukenru. Bukankah dia baru menggelontorkan dananya pada mu sebesar 50 milyar untuk perkebunan yang akan dia ambil di Kalimantan? Bagaimana bisnis batubara kalian? Aku senang kalian berhasil menjadi seorang milyuner di usia muda ..."


Sam tersenyum dingin, "Bukan itu yang ingin aku dengar dari bibir Papa! Aku hanya ingin bertanya, apakah Tante Liliyana masih bersama mu? Dan apakah tubuh mu kuat menikah lagi? Mau jadi apa keluarga kita, Pa? Jika begini?"


Sam menggeleng-geleng sendiri, melihat sosok pria paruh baya itu, terlalu maruk pada wanita yang hanya menjanjikan surga sesaat.


Ibhen hanya bisa tersenyum lirih, dia menjelaskan bahwa, "Hubungan ku dengan Lilyana sudah berakhir! Aku membantunya, hanya untuk memberi kekuatan secara finansial pada dia juga putrinya. Dia bilang, putri kesayangannya itu telah menghilang dan tidak tahu kemana. Jadi dia butuh bisnis, aku berikan perusahaan ku yang bergerak dalam nominal tidak begitu besar. Hitung-hitung membantu janda. Tapi aku sudah tidak melakukan hal itu setelah dia melahirkan Olivia. Aku rasa sebagai mantan suami, kita berhak membantu, kan?"


Sam hanya bisa tertawa kecil, mendengar penuturan sang Papa yang panjang lebar, sehingga membuat tubuhnya terasa sangat panas saat menerima kejujuran dari sang Papa.

__ADS_1


"Brengsek pria tua ini! Akan aku bawa simpanan mu, menghadap mu untuk menjadi istriku ...!" geramnya tertawa kecil dalam hati.


__ADS_2