Gairah Janda Rebutan

Gairah Janda Rebutan
Gadis nakal


__ADS_3

Kota metropolitan ...


Sambo ... Ya, sosok seorang pria yang dingin bahkan kaku. Kini telah menikah dengan Olivia setelah mendapatkan keaslian data dari test DNA yang sangat mengejutkan setelah tujuh bulan pernikahan Rina dan Sukenru.


Kejutan luar biasa itu tidak menyulut emosi Lidya, namun mampu membuat gempar dunia bisnis mereka.


Bagaimana mungkin seorang Lilyana, memiliki status pernikahan dengan dua pria Rudi Sunaryo serta Ibhen Santoso, namun hamil dengan Thamrin kekasih gelapnya sebelum bertemu dengan Ibhen, kemudian melahirkan gadis kecil bernama Olivia yang kini berusia 16 tahun.


Keluarga Lidya murka, apalagi kondisi Ibhen sudah mulai membaik, akhirnya kembali melemah saat mendengar penjelasan dari pihak pengacara mereka.


"Apa aku bilang, Pa! Lilyana itu jallang, dan aku tidak akan memberikan Olivia pada wanita jahanam itu. Aku tetap akan menikahkan Oliv dengan Sambo!"


Keputusan itu membuat Sambo juga Olivia tidak bisa berkutik. Ditambah gadis itu sangat patuh pada Lidya, sehingga membuat dia harus menerima kenyataan, walau sesungguhnya dia sangat mencintai duda beranak satu tersebut.


"Ta-ta-tapi Nyonya, saya belum siap untuk menikah! Saya masih sekolah dan ..."


Lidya justru tak mendengarkan penolakan dari Olivia, bahkan dia meminta pada pengacaranya untuk mengurus pernikahan mereka dengan kilat juga cepat.


"Aku akan tetap menikahkan kalian, mau atau tidak mau! Suka ataupun tidak suka, aku tidak peduli! Karena ini semua perbuatan Lilyana jallang itu, telah membuang mu! Aku yakin, suatu hari nanti Thamrin atau Maria akan mencarimu di kediaman ku!" tegasnya kala itu.


Benar saja, pernikahan Sambo dan Olivia berlangsung di pencatatan sipil dengan berbagai macam polemik yang menghantam perasaan gadis kecil itu saat akan menandatangani semua berkas pernikahan.


Tanpa ada pesta, tukar cincin, atau bahkan sekedar makan malam bersama keluarga. Pernikahan ini, merupakan pernikahan balas dendam Lidya terhadap Lilyana.


Begitu tiba di rumah mewah milik Ibhen, kedua orang tua Sambo melanjutkan proses therapi di dalam kamar yang berada dilantai dua, sementara Sambo duduk termenung di sofa ruang keluarga berdua Olivia.


Olivia berhambur memeluk kaki sebelah kanan Sambo yang masih duduk menatap langit-langit ruang keluarga, agar tidak melakukan hubungan suami istri walau mereka sudah sah dalam status perkawinan.


"Tuan, aku mohon! Jangan lakukan itu padaku, aku belum siap, karena aku masih kecil. Jujur dulu aku sering menggoda mu, tapi aku yakin kamu pasti menolak ku. Aku mohon Tuan! Jangan rusak masa depan ku, karena aku memiliki mimpi untuk menjadi seorang guru!"


Mendengar ucapan yang memohon dari Olivia, membuat Sambo sedikit terkejut, karena mengganggu lamunannya, namun membuat dia semakin iba pada gadis mungil itu.

__ADS_1


Walau sesungguhnya dia ingin sekali mencoba daun muda yang segar, selayaknya laki-laki normal yang pernah menikah, namun Sambo masih memiliki perasaan kemanusiaan pada seorang gadis yang masih berusia belia.


"Tenanglah Oliv ... Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Saat ini kamu menjadi tanggung jawab ku, dan aku pinta kamu selesaikan sekolah mu, tapi kita tidak tinggal di kota ini. Karena semuanya akan berdampak pada emosi Mama, yang menginginkan kamu menjadi budak nafsu ku!"


Olivia mendongakkan kepalanya, melihat lekat kearah Sambo, mencari kebenaran pada setiap ucapan pria tampan tersebut.


"Benarkah?"


Sambo menganggukkan kepalanya, untuk meyakinkan Olivia yang memiliki kepribadian baik selama ini di matanya.


"Ya ... Sekarang bersiap-siaplah, aku akan membawamu ke sesuatu tempat, dan kamu bisa melanjutkan sekolah, bahkan kita akan menjadi teman yang baik. Anggap saja, kita sebagai kakak adik, sampai kamu benar-benar siap untuk menjadi seorang istri Sambo!"


Ucapan Sambo membuat Olivia tenang, dan bergegas mempersiapkan semua kebutuhannya, mengikuti arahan pria yang sudah berstatuskan sebagai suaminya tersebut.


Lidya tersenyum tipis, menyeringai karena merasakan sakit hatinya telah terbalas, saat melihat putranya membawa Olivia pergi menjauh meninggalkan kediamannya, "Rasakan Lilyana! Inilah pembalasan dari ku! Jadikan anak wanita jahanam itu sebagai pelampiasan mu, Sam ...!"


.


Sambo membawa Olivia ke sebuah daerah di Perth Australia. Membantu gadis itu mencari sekolah, dan menemaninya selama dua tahun di sana.


Sama sekali Sambo tidak mengetahui bahwa Rina dan Sukenru, juga berada di negara yang sama, walau berada dikota yang berbeda.


Selama satu tahun pertama bersama Olivia di Perth, Sambo hanya sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan dia tidak ingin membatasi kebahagiaan gadis belia tersebut dalam bergaul, yang penting harus bisa membatasi diri karena statusnya merupakan seorang istri.


Tentu Olivia mengangguk setuju, menikmati keindahan masa remajanya, tanpa perasaan takut akan dimata-matai Lidya seperti di metropolitan.


Dengan berjalannya waktu, kini telah memasuki tahun kedua dan musim akhir Olivia dalam menyelesaikan sekolah akhirnya.


Gadis kecil itu tumbuh semakin cantik, bahkan sangat baik jika berada di rumah, sehingga dia melakukan suatu kesalahan yang membuat Sambo harus tegas dalam bertindak.


Malam yang masih tampak tenang, Sambo tengah melakukan pemeriksaan file pada pekerjaannya, terdengar suara ketukan pintu dari arah luar kamar pribadinya yang berada di apartemen mereka berdua.

__ADS_1


Walau mereka tinggal bersama, tapi Sambo membuat pembatas agar tidak terjadi sesuatu, karena dia sangat mengetahui istri kecil itu belum siap untuk menjadi seorang wanita yang sesungguhnya.


Sambo menjawab, "Siapa!?"


"Oliv, Bang ..."


"Masuklah!"


Olivia membuka pelan pintu kamar Sambo, melongokkan kepalanya, mencari keberadaan sang suami dengan wajah kaku dan tampak gugup.


Sambo yang melihat perubahan pada Olivia, yang mengenakan pakaian sedikit berbeda dan terbuka, bertanya dengan suara dingin, "Hmm ... Ada apa? Masuklah!"


Olivia masuk ke dalam kamar pribadi Sambo, mencari keberadaan pria itu yang masih sibuk dengan pekerjaannya, kemudian menoleh kearah Sam yang menatapnya lekat sejak gadis itu masuk ke ruangannya.


Dada Olivia semakin berdebar-debar, dia terlihat salah tingkah, hanya bisa berkata, sambil mengigit bibir bawahnya ...


"I-i-itu Bang, anu eee ... Oliv mau minta izin untuk keluar sama teman-teman sekolah. Kami mau makan malam, karena hmm eeee ... Perpisahan, yah perpisahan sekolah. Jadi eee ... Hmm mau makan-makan, boleh?"


Sambo yang melihat gelagat aneh pada gadis kecil yang sudah berstatuskan istrinya itu hanya memberi satu card platinum, sebagai pegangan gadis itu jika membutuhkan uang.


"Oke, kamu butuh card? And ...?"


Olivia semakin salah tingkah, kali ini dia sulit bicara jujur, kemana mereka akan pergi sebenarnya.


Sambo memangku tangannya, masih berdiri dihadapan Olivia yang hanya berjarak lima meter, dibatasi meja kerjanya.


"Ada apa lagi, Olivia? Ingat, jangan pulang larut malam. Aku tahu restoran tutup jam berapa di sini. Jika kamu pulang larut, aku akan mencari mu!"


Olivia menelan ludahnya susah payah, kali ini dia harus pergi bersama keempat sahabat sekolahnya, dengan menghabiskan malam bersama di salah satu club' malam.


Bergegas Olivia mengambil card yang berikan Sambo, kemudian berlalu meninggalkan apartemen mereka.

__ADS_1


Sambo tersenyum kecil, "Aku tahu apa yang ada dalam pikiran mu gadis kecil. Karena selama ini aku, terus mengikuti kemana langkah mu! Dasar gadis nakal, sama seperti Rina!" sesalnya meninggalkan pekerjaan yang masih menumpuk.


__ADS_2