Gairah Janda Rebutan

Gairah Janda Rebutan
Home teather mini


__ADS_3

Rina tidak ingin permainannya kali ini di ketahui pihak pengelola apartemen, yang ternyata merupakan mata-mata Ibhen.


Bergegas Rina memberi kabar pada Sam agar menunggunya di basemen tepat di parkiran mobil mini cooper mereka.


Tentu Sam sangat senang setelah mendapat kabar dari wanitanya, karena akan menghabiskan waktu bersama, tanpa harus main kucing-kucingan seperti saat ini.


"Tinggal bersebelahan, tapi tidak bisa bertemu ..." geram Rina.


Rina bersiap-siap, mengirim foto-foto sesuai permintaan Ibhen, yang selalu mengagumi keindahan serta kemolekan tubuhnya.


Tanpa sungkan Rina mengirimkan foto yang sama kepada Sam. Sontak pria itu semakin terbakar api cemburu, karena mengetahui janda kembang itu juga mengirim hal yang sama pada sang Papa.


"Pak tua laknat. Orang tua seperti apa dia? Kenapa akhir-akhir ini dia mesum banget. Biasanya, Papa jika seperti ini pada seorang wanita, akan mengawasi habis-habisan jandanya. Sama halnya yang di lakukannya saat menjalin hubungan dengan Tante Lilyana ..."


Sam bergegas berjalan menuju basemen, menyalakan mesin mobil, sesuai yang mereka janjikan, untuk menunggu Rina di sana.


Akan tetapi, dia kembali di kejutkan dengan sosok Frans sahabatnya memeluk mesra tubuh wanita yang sangat dia kenali ...


"Karenina? Ooogh Tuhan, ternyata mereka masih bersama! Di mana Luisa, apakah putri ku ada bersama mereka ...?"


Sam menoleh kearah Rina yang melenggang dan di hadang oleh Frans juga Karenina. Tentu bergegas dia keluar dari mobil, menghampiri wanita yang berstatus kan istri pura-pura nya.


Sam melilitkan tangannya di pinggul Rina, di hadapan dua insan itu.


Rina sedikit tersenyum, karena merasa kikuk, dan minder saat melihat Karenina yang ternyata seorang wanita berkelas.


"Sam ..." sapa mantan istrinya tampak tidak nyaman, saat tangan Frans masih merangkul mesra bahu terbukanya.


Sam tersenyum tipis, "Hai. Apa kabar? Oya, kenalkan ini istriku ..."


Karenina sedikit canggung, menoleh kearah Rina yang tampak sempurna bahkan terlihat sangat cantik dan segar.


Kedua wanita itu saling berdecak kagum, memuji dalam hati, terpesona saat mata mereka saling melirik.


Rina yang tampak gugup, mengusap lembut dada Sam yang berada dalam pelukannya, menyibakkan rambut yang tergerai dengan sangat indah.


"Sayang, kita jalan sekarang ..."


Sam tersenyum lebar, mengangguk, memperkuat genggamannya pada bahu Rina.

__ADS_1


Langkah Sam terhenti saat akan melangkah, "Di mana putri ku? Apakah kau meninggalkan nya di apartemen mu? Atau-- ..." tatapan matanya penuh selidik.


Karenina memejamkan matanya, "Luisa ada di Bali bersama keluarga ku! Jika kamu mau menemuinya, silahkan saja menyusul kesana!" tawanya menyeringai kecil.


Sam menoleh geram kearah mantan istrinya, "Jadi kau kesini hanya untuk laki-laki pecundang ini? Ingat Kar ... Aku akan memperjuangkan hak asuh atas putri ku! Dan kau tidak akan pernah mendapatkan apapun dari pengasuhan Luisa!" sesalnya.


Karenina yang sangat mengetahui bagaimana Sambo, hanya menatap malas, kemudian berteriak keras, "Come on ... Sam! Hak asuh Luisa masih berada dalam genggaman ku! Hingga usianya 17 tahun ..." jelasnya.


Sam menggeleng sedikit, dia membawa Rina berlalu meninggalkan kedua pasangan tidak jelas tersebut.


Wajah Sam mengeras dan menggeram, dia tidak bisa bertemu Luisa, karena Karenina telah melarikan putri kesayangannya.


"Wanita sialan! Aku akan membuat perhitungan pada mu ..." geramnya kesal.


Rina hanya bisa terdiam, dia tidak ingin melihat suami pura-pura nya itu terus melihat kearah Karenina juga Frans.


Rina menyentuh lengan Sam, sedikit takut karena wajah pria di sebelahnya masih menggeram, "Kita jalan sekarang ...?"


Sam menekan tombol otomatis, melajukan kendaraannya, dengan dada masih terasa panas.


Rina hanya bisa berbasa-basi karena masih melihat Sam tidak bersahabat.


Sam menggelengkan kepalanya tanpa menjawab.


Rina hanya bisa menghela nafas panjang, dia menyalakan audio music agar suasana tak sehoror rumah hantu.


"Aku bisa membuat mu ... Jatuh cinta kepada ku ... Meski kau tak cinta ... Beri sedikit waktu ... Biar cinta datang karena telah terbiasa ..."


Sam menoleh kearah Rina, dia mendengar lirik lagu itu, seketika membuyarkan lamunannya akan putri kesayangan.


"Beb, kamu suka nyanyi? Kita buat room karaoke di lantai dua bagaimana? Kita bisa bernyanyi di sana, saling bercerita, nonton, kita buat home teather mini, yang khusus untuk kita berdua ..."


Rina mengangguk tersenyum tanda setuju, "Aku mau kita memiliki satu ruangan happy dan privasi. Hanya ada kamu dan aku ..."


Sam merangkul Rina, bernyanyi kecil syair lagu yang sama. Sesekali mengecup lembut kepala janda kembang itu dengan penuh kasih sayang dan perasaan cinta yang semakin lama semakin dalam.


Berbeda dengan Rina, gadis itu hanya bisa menikmati perasaan nya, yang semakin lama semakin nyaman dengan kelembutan Sam padanya.


.

__ADS_1


Di sisi lain, Ibhen tengah menikmati makan siang menjelang sore bersama Lilyana juga partner bisnis mereka.


Sesekali melirik kearah handphone yang sejak tadi dia acuhkan, karena kesibukan nya.


Lilyana tak sengaja, melihat kearah layar yang menyala, memberi sinyal bahwa seorang wanita mengirim pesan pada pria yang sangat dingin tak seperti dulu saat mereka masih bersama.


Kelicikan Liliyana hanya meminta Ibhen untuk terus berada di dekatnya dan kembali menyentuh wanita yang memiliki kecantikan tak pernah pudar itu, walau usia sudah cukup matang.


"Pak Ibhen, kami permisi ... Semoga kedepannya bisnis kita akan terus berjalan seperti ini. Saya sudah memberikan cek sesuai nominal yang Bapak minta, jadi saya harap kita masih bisa melanjutkan kerja sama kita."


Ibhen menyambut tangan Sastra, yang merupakan teman lamanya di dunia pembangunan hotel, apartemen juga mall.


"Sama-sama Pak ..."


Sastra berlalu, meninggalkan Ibhen dan Liliyana di restoran hotel bintang lima tersebut.


Wajah Ibhen berubah seketika, saat memandang Liliyana yang tampak senang karena kehadirannya di kota itu.


"Mas, kita bisa menghabiskan waktu bersama. Masak selama di Singapura kamu sama sekali tidak menyentuh aku ..." rengeknya manja.


Ibhen menatap Lilyana dengan sangat malas, "Jika aku datang kesini hanya untuk menerima cek sebesar ini, lebih baik kamu yang melakukannya. Dengar, sejak kepergian suami mu, kita tidak memiliki hubungan apapun. Kamu hanya mantan istri ku yang harus aku bantu dari finansial. Bukan menyita waktu ku! Aku sudah dua minggu tidak pulang, aku juga punya tanggung jawab waktu pada Lidya. Seharusnya kamu paham karena waktu ku tidak banyak!" tegasnya.


Liliyana mengerenyit masam, dia tidak suka dengan situasi seperti saat ini. Karena Ibhen sama sekali tidak pernah memberikan kemewahan padanya selama menjadi yang kedua.


"Mas, kenapa kamu berubah seperti ini? Apa kamu tidak mencintai aku lagi?"


Ibhen mengusap wajahnya kasar, "Aku jatuh hati pada wanita lain. Maafkan aku! Aku harus kembali, karena aku tidak ingin Lidya berpikir yang tidak-tidak tentang aku!"


Perasaan Lilyana seketika terbakar api cemburu, sungguh sangat menyakitkan saat Ibhen menyatakan jatuh hati pada wanita lain selain dirinya.


"Jadi buat apa kamu mengajak ku berlibur, Mas?" isaknya di meja restoran.


Ibhen mengusap lembut punggung Lilyana, menghela nafas panjang ...


"Aku hanya menepati janjiku, juga membantu mu untuk bertemu Sukenru. Karena aku tidak ingin kau terus di ganggu oleh Thamrin yang hanya menyajikan janji palsu pada mu! Dan pria itu juga yang kini terus mengejar kekasih hati ku. Aku hanya ingin memberikan mu sebuah bisnis, dan nikmati lah hasilnya. Aku permisi, karena aku sudah berjanji dengan Lidya. Selamat sore ...!"


Ibhen berlalu meninggalkan Lilyana di restoran hotel.


Sontak semua perlakuan pria mapan itu, membuat dirinya ingin tahu siapa simpanan Ibhen saat ini.

__ADS_1


"Aku akan meremas wanita yang telah merebut mu dari ku, Mas ...!"


__ADS_2