
Rina tertegun melihat sosok Thamrin ada di belakangnya. Wajah tampan dan mapan kembali mengingatkan janda cantik itu pada gerakan pria itu di atas tubuhnya saat berada di ranjang.
"Bang ..." ucapnya pelan.
Thamrin menyunggingkan senyuman tipis, namun dapat di artikan jika dia tengah di landa cemburu yang teramat sangat.
"Ternyata dari tadi Abang menghubungi mu! Kamu ada di sini bersama anak ingusan ini? Pria muda yang tidak memiliki masa depan, dan tak akan mampu memanjakan mu! Ayo, ikut dengan Abang sekarang. Ingat Rina ... Tidak ada yang gratis di dunia ini!" tariknya pada lengan Rina, yang masih shock karena kehadiran Thamrin.
Jujur saat ini jantung Rina seakan-akan mau rontok, karena ketahuan mencairkan cek 1,5 milyar tersebut. Tulang nya seakan melemah, tapi di tahan oleh Sam yang dengan cepat menyangkal pria tersebut.
"Maaf, kami sedang makan! Jika ada masalah antara dirimu dan Rina, tunggu kami selesai makan dulu!" tegas Sam menatap nanar kedua bola mata Tham ...
Thamrin tertawa sinis, "Kau siapa? Apakah kau simpanan janda ini? Atau jangan-jangan kau menghabiskan uang yang barusan aku transfer pada wanita ini?" ejeknya.
Wajah Sam memerah, dia mengepal kuat tangannya, menahan amarah pada pria yang menjadi persaingan bisnis keluarga nya.
Rina menutup mulut dengan kedua jemari lentiknya, "Aku sama sekali tidak mengetahui tentang uang yang Abang transfer! Karena sudah lebih dari dua minggu aku menunggu kabar, baru sekarang Abang menuntut ku! Silahkan pergi sama Maria! Aku tidak ada waktu untuk melayani mu!"
Rina berdiri menggenggam tangan Sam, beranjak dari sana, sebelum kedua pria itu beradu jotos karena memperebutkan janda seperti nya.
Bergegas Rina meninggalkan rumah makan tersebut, tanpa mau mendengarkan panggilan Thamrin yang berapi-api di belakangnya.
Entah apa yang merasuki pikiran Thamrin, dia merasa terbakar api cemburu melihat kedekatan wanita itu dengan pria manapun.
Rina berlalu meninggalkan rumah makan tersebut, tidak peduli dengan ucapan Thamrin yang sangat memekakkan gendang telinganya tanpa mau menoleh kearah Sam yang sejak tadi hanya melirik padanya.
__ADS_1
Kini city car berwarna putih itu sudah berada di persimpangan lampu merah. Sam masih belum mau bertanya kepada Rina, akan kemana arah mereka saat ini.
Karena janda cantik itu, tengah sibuk melihat saldo account-nya yang bertambah 25 juta. Wajahnya berbinar-binar, memperlihatkan bahwa dia telah berhasil membuat Thamrin luluh-lantak karena telah meraup keuntungan lebih besar.
'Makanya Maria ... Jangan suka menahan hak orang! Akhirnya, kau sendiri yang akan kehilangan uang, bukan? Lebih baik kau menjadi istri di rumah, mencuci, memasak, dan membereskan rumah! Agar suami mu semangat mencari uang di luar sana. Ini sudah tidak bisa bekerja, akhirnya kebobolan 1,5 milyar ... Ha-ha-ha ...'
Sam sedikit mendehem, karena bingung akan mengarahkan stir kemudi, menoleh kearah Rina, yang tengah asyik melihat layar handphone.
"Ehm ... Kita mau kemana? Jadi ke showroom mobil?" tanya Sam menyalakan lampu sen untuk menghentikan kendaraannya di sebelah kiri jalan.
Rina mengangguk tersenyum, dia memperkirakan layar handphone miliknya, dengan wajah bahagia, "Ternyata pria tadi mengirimkan aku uang 25 juta. Pantas saja dia meminta aku untuk ikut dengannya. Ternyata dia menginginkan aku," tawanya.
Sam terdiam, berpikir sejenak, 'Ternyata selain sama Papa, janda ini juga menjalin hubungan dengan pria tadi? Bukankah mereka berdua memiliki persaingan bisnis yang sangat aneh sejak dulu? Untung saja pria tadi tidak mengenal siapa aku! Jika dia mengetahui aku anak Papa Ibhen, bisa-bisa di habisi karena memperebutkan seorang janda ...'
Rina menggeleng, "Dua pria yang sering menghabiskan waktu dengan ku saat ini, hanya untuk sekedar mengisi waktu juga membantu ku bertahan di kota sebesar ini. Bayangkan saja jika aku mesti bekerja paruh waktu dan hanya tinggal di kosan, saat gaji tidak dibayar oleh pemilik perusahaan, aku di usir seperti beberapa waktu lalu ...' sesalnya.
Sam tersenyum lebar, "Berarti fix, kamu merupakan simpanan pria kaya!" tawanya menyeringai kecil.
Rina meremas kuat lengan Sam yang berada di samping kanannya.
"Dengar yah! Aku bukan simpanan, karena aku tidak memiliki hubungan spesial bak seorang kekasih! Kami hanya saling membutuhkan saja, aku butuh perlindungan, pria itu butuh untuk pelampiasan hasrat, yaah ... Why not!" jelasnya jujur.
Sam mengangguk-angguk bak burung balam yang memahami, bagaimana janda muda nan cantik ini melayani sang Papa.
Sam bertanya karena sedikit penasaran, "Di mana kamu bertemu dengan Pak tua itu? Apakah dia datang mencari mu?"
__ADS_1
Rina menggeleng, dia mengenang saat pertama kali bertemu dengan Ibhen, "Hmm, waktu itu kami sedang ada di gedung yang sama. Saat ada rapat di gedung yang sama, tapi kami bertemu tidak sengaja di toilet. Akhirnya kami saling bercerita, nyambung, ketemu lagi, dan berpisah. Kami hanya dekat sebatas saja. Aku kan, masih bekerja dengan pria yang tadi. Oya, apa kegiatan mu selama ini? Apakah kamu seorang pionir? Hingga memiliki uang tabungan yang banyak seperti itu?"
Sam terdiam, dia tidak pernah ingin menceritakan bisnisnya selama ini pada siapapun, termasuk mantan istri dan keluarganya.
"Hmm, aku hanya pengangguran profesional! Tidak memiliki kantor, tapi aku memiliki uang banyak, dan aset yang berlimpah!" tawanya sombong ...
Rina mendengus dingin, "Aku capek-capek kerja hanya menerima uang segitu, kamu bisa berleha-leha, tapi berpenghasilan tinggi. Kalah dong sama aku ..." rungutnya.
Sam merangkul bahu Rina, "Aku hanya pebisnis Nonya Rina, tapi tidak perlu kita bahas bisnis ku saat ini! Karena kamu tidak akan pernah mengerti."
Rina mengangguk tersenyum, "Yah, kalau di kota besar, aku tidak akan pernah mempermasalahkan apa yang menjadi bisnis mu! Sangat berbeda jika kamu berada di kota kecil, seperti kampung ku!" tawanya.
Sam memberhentikan mobilnya di showroom mobil buatan Eropa, membawa janda cantik itu untuk melihat-lihat mobil yang di sukai Rina.
Janda itu mengerenyit keningnya, dia tidak begitu menyukai mobil buatan Eropa, karena terlalu mengikuti trend dari produk Jepang.
"Hei, kenapa kita tidak ke showroom mobil Jepang saja? Aku tidak begitu menyukai mobil buatan Eropa, karena terlalu canggih dan aku hanya pencinta produk Asia!" tegasnya.
Sam mengusap lembut kepala janda cantik itu, "Yuuk, kita turun dulu, lihat-lihat saja. Kita datang bukan berarti membelinya. Jika kamu mau membeli produk Jepang, nanti aku akan menghubungi teman ku ..."
Rina mengikuti langkah kaki Sam, dia memasuki showroom dengan menjaga jarak dengan Sam. Tanpa sengaja dia melihat seorang sales wanita yang mendekati duda beranak satu itu.
Begitu mesra, dan saling tertawa ramah. Bagaimana mungkin seorang pria yang tidak memiliki hubungan spesial akan sedekat itu.
"Hmm, ternyata pria dimana-mana sama saja, terlalu naif bahkan menyebalkan. Semoga aku tidak menemui pria seperti ini ..." bisiknya dalam hati.
__ADS_1