Gairah Janda Rebutan

Gairah Janda Rebutan
Dua identitas ...


__ADS_3

Malam semakin larut, Rina yang sejak tadi tak diacuhkan oleh Sukenru, akhirnya tertidur pulas disofa kamar hotel, yang di desain khusus untuk keluarga Sukenru pribadi.


Sukenru merupakan anak teman Papa-nya Amel yang kini disapa Rina. Mereka berkenalan beberapa tahun silam, saat janda cantik itu mengalami keterpurukan atas meninggalnya Rudi Sunaryo.


Usia Sukenru tidak begitu jauh dari Sam, 27 tahun. Mereka berdua sama-sama kuliah di London Inggris. Memiliki satu ide yaitu membangun gedung-gedung pencakar langit, dan memiliki mall interior sendiri.


Namun, dunia pertambangan yang sangat menjanjikan membuat mereka semakin mengembangkan bisnis mereka lebih besar ... Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk membuka satu perusahaan di pertambangan batubara, yang diawasi oleh orang kepercayaan Sam.


Bagi Sukenru, bisnis merupakan nafasnya. Dia lebih mementingkan pekerjaannya, di bandingkan hal-hal yang tidak penting seperti saat ini.


Sukenru lebih mementingkan pekerjaannya yang tertunda, daripada harus menemani janda kembang yang dia elu-elukan akan menjadi istrinya kelak.


Matanya tertuju pada tubuh Rina yang masih berbalut mini dress berwarna putih, dengan rambut acak-acakan dan mata sembab.


Perlahan Sukenru mencari pakaian Rina di lemari yang tersedia dikamar tersebut, mencari beberapa baju kaos yang sedikit longgar dan panjang agar wanita itu lebih leluasa.


Sukenru tersenyum, saat melihat janda kembang itu meringkuk bak bayi besar yang membutuhkan kehangatan.


Sukenru memperbaiki posisi tidur Rina, untuk mempermudah dirinya menggendong janda cantik itu. Seketika mata pria oriental itu, melihat tanda merah di bagian leher sebelah kiri terdalamnya. Persis di bawah telinga janda kembang tersebut.


Pria itu tertawa kecil, melihat wajah cantik nan seksi, sungguh sangat menggoda imannya sebagai pria normal.


Akan tetapi, Sukenru lebih menyukai Amel yang tengah tersadar, di bandingkan mencuri tubuhnya saat terlelap.


Sukenru meletakkan tubuh Rina di ranjang kamar, mencari pengait atau resleting dress yang di kenakan Rina, untuk mengganti pakaian janda kembang itu.


Benar saja, saat dress itu terbuka lebar disaat itu pula iman Sukenru goyah. Saat matanya tertuju pada bukit kenyal Rina yang sangat besar dan menarik perhatiannya.


"Buset ... Ini gede banget! Hmm Amel pasti sangat menyukai sentuhan tangan dari orang yang akan menikahinya ..."


Sukenru membuka perlahan semua penghargaan ditubuh indah Rina, membuat pria itu bersusah payah mengatur nafas dan senjata pamungkasnya.


"Ooogh Tuhan, ini indah sekali ..."


Rina melenguh saat jemari tangan Sukenru perlahan menyentuh kulit lembut janda cantik itu. Dia menggeliat, bahkan sedikit mengeluarkan suara dessahan yang sangat menggairahkan.


"Hmmfh ..."


Sukenru tersenyum tipis, saat mendengar suara dessahan janda cantik yang masih terbaring dengan mata terpejam.


Bergegas dia membuka semua penghalang yang ada pada dia, selayaknya pria yang kehausan untuk mencari dermaga persinggahan ...

__ADS_1


Sukenru mendekatkan wajahnya ke wajah Rina, dia mengusap lembut pipi mulus itu, mengendus lembut, sebelum menyatukan bibir mereka berdua untuk saling mengenal dan mendecaap.


Jemari tangan yang masih bermain-main diatas benda kenyal yang sangat berlebih ditangan pria oriental itu, membuat tubuh Rina kembali merespon dengan sangat baik karena sentuhan pria tersebut.


Sukenru memilih untuk merebahkan tubuhnya disamping Rina, hanya untuk menikmati dan melihat wajah wanita itu saat mendessah hingga mengeerang menikmati permainan tangannya.


Benar saja, sentuhan Sukenru membuat nafas Rina tidak beraturan, dadanya naik turun, dengan mata terpejam.


Sukenru tersenyum tipis, kali ini dia hanya ingin membantu janda cantik itu, dalam mencapai pelepasannya, tanpa melakukan hal itu agar Rina menganggap semua ini adalah mimpi.


Pria oriental itu terus membelai dengan lembut, tubuh Rina semakin meliuk, bahkan menggeliat indah dengan kepala semakin mendongak keatas, dengan bibir mungil itu ternganga, membuat Sukenru semakin bergairah.


Saat milik Rina semakin basah dengan sentuhan jemari Sukenru ... Tubuh itu seketika mengejang dibarengi dengan dessahan dan errangan panjang mengeluarkan nama ...


"Aaaaagh Samhhh ... Ooogh Samhh ..."


Membuat Sukenru menghentikan permainankan yang seketika melemparkan gairahnya jauh kedasar lautan yang dalam tanpa harus merasakan apapun.


Sukenru mengerenyitkan keningnya, dia berfikir sejenak, "Apakah Sam yang dikatakan Amel merupakan Sambo? Ada hubungan apa mereka? Kenapa wanita ini seperti banyak rahasia?"


Sukenru menggeleng-geleng sendiri, beranjak dari ranjang kingsize tersebut, menuju walking closed untuk membersihkan diri, sekaligus mengenakan piyama tidurnya.


Seketika kepalanya berdenyut, saat terngiang bahwa Rina mencintai pria lain sejak dulu. Dia kembali memandangi tubuh Rina yang masih terbaring di atas ranjang dari kejauhan.


"Kenapa aku selalu bersaing dengan Sambo dalam merebut hati dan perhatian seorang wanita ...? Hmm ..."


Sukenru melihat semua berkas yang ada diatas meja, sedari tadi menarik perhatiannya.


Perlahan dia membuka semua berkas yang menuliskan semua identitas palsu Rina, dengan semua account baru atas nama Rina Amelia.


Sukenru melihat beberapa foto-foto lama Rina yang menghabiskan waktu bersama Thamrin, dengan posisi sangat mengejutkan. Paha mulus yang terbuka lebar, bahkan dada janda cantik itu menempel dengan sangat dekat, disebuah club' malam di kota metropolitan tersebut.


Perlahan Sukenru semakin penasaran, Rina Amelia ... Nama yang sangat asing baginya. Dia lagi-lagi menoleh kearah Rina, tersenyum sumringah menggigit bibir bawahnya.


"Jika mereka bisa menikmati tubuh mu! Kenapa aku tidak ...?"


Sukenru meletakkan berkas itu ketempat semula, beranjak mendekati Rina untuk melakukan hal yang sudah membuat kepala Sukenru semakin tidak waras.


"Jika aku tidak bisa memiliki mu ... Maka jangan berharap Sambo akan memiliki mu, sayang ..."


Sukenru tersenyum lirih, kali ini dia tidak ingin Sambo menjadi pemenangnya. Walau Rina masih mengeluarkan dessahan atas nama Sambo, kali ini dia benar-benar tak kuasa membendung rasa kecewanya pada wanita yang dia ketahui memiliki dua identitas.

__ADS_1


"Kali ini aku hanya ingin menikmati Amelia Anandita Sunaryo, bukan Rina Amelia sayang ..."


Sukenru yang tidak bisa membendung hasratnya, seketika menghentakkan pinggulnya dengan tiba-tiba, membuat wanita yang ada dihadapannya terjaga, dengan wajah merintih kesakitan, agar Sukenru menghentikan tubuhnya.


"Aaagh Kokohh ... Please stop! Jangan lakukan ini ..."


Rina memukul, memberontak, berusaha melepaskan tubuhnya dari kungkungan Sukenru yang semakin buas di atasnya.


Sukenru tersenyum, dia tak mengindahkan permintaan Rina, membuat dia semakin gila memompa di bawah sana.


Rina meringis menahan perih, yang seolah-olah dihantam badai, saat suasana hati belum membaik ...


"Kohh ... Stop! Aaagh ... Saa-sa-kit ..."


Isak tangis Rina terdengar, membuat Sukenru benar-benar berlaku kasar padanya.


Namun, Rina meraih sesuatu yang berada di nakas sebelah kanannya, dengan cepat tangannya menghantam tubuh Sukenru yang masih memompa dibawah sana.


PRAAAAK ...!


BHUUG ...!


Seketika penyatuan mereka terlepas, membuat Rina menendang sekuat-kuatnya tubuh pria yang ada di sampingnya.


"Dasar laki-laki brengsek! Kamu pikir dengan mudahnya melakukan hal itu pada ku!"


Dengan nafas tersengal-sengal, Rina meraih pakaian yang diambilkan oleh Sukenru, mengenakan dengan gerakan cepat.


Bergegas dia menghubungi Sambo, agar menjemputnya ke hotel keluarga Sukenru, dengan membawa semua berkas yang ada dikamar itu.


["Cepat jemput aku! Aku membutuhkan mu! Bawa aku pergi jauh dari kota ini! Cepat!"]


Namun, Sukenru yang masih dalam kondisi setengah sadar, justru kembali mengejar Rina, agar tidak meninggalkannya ...


"Amel ... Jangan tinggalkan Koko, Mel! Koko sangat mencintaimu, Amel!! Punya kamu memang enak, Mel ... Kita belum selesai, jangan tinggalkan Koko dalam situasi tanggung begini ...!"


"Brengsek!"


Rina mengacungkan jari tengah pada Sukenru, yang telah melecehkannya.


"Ciih ... Dia pikir aku akan tergoda ...!"

__ADS_1


__ADS_2