
Mereka berdua terdiam, tak kuasa untuk saling menjelaskan saat ini. Sambo telah mendengar siapa janda cantik yang ada di hadapannya saat ini.
Hatinya semakin hancur ... Apalagi Sam sangat mengetahui bagaimana Sukenru akan mempertahankan wanita yang selalu menjadi kebanggaan nya jika mereka bertemu.
"Aaagh Rin ... Kenapa aku mesti berada dalam situasi ini? Aku hanya pria bodoh, yang jatuh hati pada janda bernama Rina! Ternyata janda itu selama ini telah menipu ku! Aku kecewa pada mu! Ternyata kamu tidak lebih dari Karenina, yang terlahir hanya untuk mementingkan kepentingan pribadi mu saja! Tanpa memikirkan bagaimana perasaan ku terhadap mu! Aku kecewa padamu Rin, sungguh kecewa ...!"
Sam berdiri tegap dihadapan Rina, kali ini dia tidak akan memohon atau meminta pada janda kembang yang mampu memberi warna bagi kehidupannya.
"Rasanya sia-sia aku berada di sini. Terimakasih kamu telah merawat ku, mengisi hari-hari yang penuh kehangatan, canda tawa, selayaknya dua insan suami pura-pura mu, sekaligus selingkuhan mu! Aku terlarut dalam suasana hati yang hanya merindukan kasih sayang dari sosok seorang Rina, bukan Amelia ..."
Rina terhenyak seketika, mendengar ucapan Sambo yang sangat menusuk jantungnya.
Sambo bergegas meninggalkan kamar hotel, dengan kepedihan yang sangat dalam. Kali ini dia gagal membawa Rina pada Lidya, hanya untuk mengenalkan seorang wanita biasa yang memiliki keahlian dalam memasak.
Pertama kalinya, Sam menangis dihadapan wanita, karena kecewanya.
Kembali dia menoleh kearah Rina, melihat janda cantik itu untuk terakhir kalinya, tersenyum tipis walau sesungguhnya dia ingin membawa Rina pergi meninggalkan kota yang sangat menjijikkan baginya.
Rina menatap Sam lekat, "Maafkan aku Sam ... Sekali lagi maaf ..."
Sam menggelengkan kepalanya, dia tidak menyangka bahwa hanya kata maaf yang di ucapkan janda cantik itu untuk mengakhiri hubungan antara mereka.
"Selamat sore, dan selamat tinggal ..."
Sambo berlalu, meninggalkan kamar hotel. Dia menangis sepanjang koridor, tanpa mau menoleh ke belakang.
Kali ini Sam di permainkan oleh keadaan yang sangat menyakitkan. Kisah cinta pada seorang janda yang hanya memiliki dendam, membuat dia enggan untuk berlama-lama dalam situasi ini.
Hatinya semakin hancur saat berpapasan dengan Sukenru di loby hotel. Sam tampak kebingungan saat partner bisnisnya itu memeluk tubuhnya, sebagai salam persahabatan mereka.
Sukenru bertanya, karena memang tidak mengetahui tentang penyamaran Rina selama ini, "Apa kabar bro? Apakah kamu sudah menyelesaikan semua masalah mu dengan Amel?"
Sam hanya tersenyum tipis, dia terlihat salah tingkah, dan hanya mengakhiri percakapannya dengan Sukenru.
"Papa masuk rumah sakit, mungkin kita akan bertemu lain waktu. Untuk urusan ku dengannya sudah selesai, mungkin aku akan mengembalikan semua saham yang ada di mall interior milik ku! Karena aku tidak ingin ada pihak ketiga yang hmm, yah ... Eeee ... Mungkin kita bisa bicarakan setelah Papa siuman. Aku permisi ...!"
Sam meninggalkan Sukenru yang tampak kebingungan, melihat Sambo berlalu meninggalkannya begitu saja.
__ADS_1
Sukenru mengerenyitkan keningnya, dia menoleh kebelakang, hanya untuk memastikan bahwa Sam baik-baik saja.
"Aku yakin kamu menyembunyikan sesuatu dari ku, Sam ..."
Sukenru tersenyum tipis, berlalu meninggalkan loby hotel menuju kamarnya pribadinya jika berkunjung di kota metropolitan tersebut.
Sukenru bertanya pada pihak hotel, "Apakah Nona Amel sudah berada dikamar?"
Petugas hotel menunduk hormat, "Sudah Tuan. Di kamar biasa, dan Taun Sam baru menemaninya."
Sukenru mengangguk mengerti, bergegas dia menuju kamar, hanya untuk menemui wanita yang bernama Amel di kamarnya.
Begitu Sukenru tiba didepan pintu kamar, dia melihat sosok wanita cantik yang sangat mempesona tengah duduk disofa kamar pribadinya.
"Amel ...?"
Rina menolehkan kepalanya, melihat sosok pria yang sudah lama tidak dia temui. Mereka menjalin komunikasi selama ini hanya melalui email dan handphone dengan nomor yang berbeda.
"Ko ..."
Rina berdiri dari duduknya, berhamburan memeluk tubuh pria yang selama ini ada untuknya. Dia menangis sejadi-jadinya, tanpa menghiraukan perasaan cintanya terhadap Sambo.
Pria oriental yang sangat tampan itu, masih terkesima saat melihat wanita yang dia ketahui bernama Amel tersebut.
"Mama Lilyana? Bukankah beliau ada di Bandung untuk mengurus proyek ku?"
Rina menggeleng, karena dia tidak mengetahui apapun tentang bisnis sang Mama saat ini.
"Hmm aku enggak tahu, Ko! Karena dia telah melakukan hal yang sangat menyakitkan, membuat Bang Ibhen kini berada di rumah sakit ..." ungkapnya dengan suara terisak.
Sukenru masih belum mengerti, apa yang di bicarakan janda kembang itu padanya.
Pria bertubuh tegap dan tinggi itu, membawa Rina agar kembali duduk disofa kamar.
Perlahan dia membuka jas hitamnya, dan merenggangkan dasi yang terasa sangat mencekik lehernya.
Sukenru kembali bertanya sedikit penuh selidik, "Oke, sorry. Tadi di bawah aku bertemu dengan Sambo. Apakah kalian memiliki masalah serius? Bukankah kamu mengatakan padaku, bahwa tidak mengenal pria itu?"
__ADS_1
Rina terdiam, wajahnya tampak kebingungan karena harus memulai dari mana untuk menjelaskan pada Sukenru.
"Hmm ... Bisa kita bicarakan hal yang lain dulu, Ko? Aku sedikit lelah, bahkan sangat terbebani dengan beberapa hal yang sangat menyakitkan," jelasnya.
Sukenru mengangguk mengerti, dia tersenyum sumringah, karena merasa bahagia telah bertemu dengan wanita secantik Rina itu lagi.
"Bagaimana keadaan kamu? Setelah beberapa tahun kepergian Om Rudi, Koko dengar kamu kembali sendiri. Apa saja yang kamu lakukan selama ini?"
Rina menyandarkan tubuhnya disofa kamar, hanya bisa tersenyum tipis mendengar pertanyaan Sukenru yang tidak mengetahui penyamarannya selama ini.
"Bekerja di perusahaan Bang Thamrin ... Dan hmm menjadi secretaris pribadi Bang Ibhen."
Seketika Sukenru tersenyum, mengejek pekerjaan janda cantik itu, "Pantas saja, meminta pada Papa untuk tidak mencairkan dana! Ternyata kamu lebih suka berusaha sendiri. Bagaimana? Enak jadi secretaris Thamrin? Aku lihat di status istrinya, mereka mengalami penurunan pendapatan, karena kehilangan nilai proyek sebesar 1,5 milyar. Apa kamu mengetahui tentang itu?"
Rina bergidik ngeri, tak percaya bahwa Sukenru mengetahui yang di alami Thamrin dan Maria. Tentu saja wanita itu hanya diam tak ingin menjawab pertanyaan pria yang ada dihadapannya tersebut.
Rina membaringkan tubuhnya, disofa kamar. Menunggu pelayan kamar yang akan mengantarkan makan malam untuknya dan Sukenru.
Sukenru juga hanya di sibukkan dengan kegiatannya, yang cukup menyita waktu dan perhatiannya.
Rina sangat memahami, bagaimana kesibukan pria yang ada di hadapannya itu. Dia memilih untuk membaca semua tentang dirinya sendiri yang sengaja dia sembunyikan di kamar itu selama bertahun-tahun lamanya.
Saat keduanya tengah di sibukkan dengan beberapa pekerjaan dan pikiran mereka masing-masing, lagi-lagi Rina dikejutkan dengan pesan dari Sambo di seberang sana ...
["Aku memberi waktu hanya satu bulan, jika tidak aku akan mengatakan semua tentang mu pada Sukenru ..."]
Rina mengerjabkan matanya, melirik kearah Sukenru yang masih berada didepan laptop ... Menelan ludahnya berkali-kali.
Rina membalas pesan singkat whatsApp Sam ...
["Baik ... Bawa aku makan malam dengan keluarga mu! Selamat malam ..."]
Rina menonaktifkan handphone miliknya, melemparkan handphone itu kesembarang arah ...
"Sial ... Suka banget ngancam ..."
Sukenru yang melihat kegelisahan wanita dihadapannya, hanya bertanya ...
__ADS_1
"Kamu kenapa ...?"