Gairah Janda Rebutan

Gairah Janda Rebutan
Sayonara Bang ...


__ADS_3

Malam yang indah bagi kedua insan yang saling membutuhkan. Rina yang menopang kedua tangannya di meja kitchen set, sementara Ibhen bergerak sangat indah saat menghantam lembah milik janda kembang di bawah sana ...


"Banghh ... Le-le-lebihh ..."


Hentakkan tiap hentakan membuat tubuh Rina bergetar hebat, menikmati sentuhan jemari Ibhen di bagian kenyal dan terindahnya.


"Aaaagh ... Banghh ..."


Ibhen mengusap punggung indah yang putih dan mulus itu berkali-kali saat mencapai puncak kebahagiaannya setelah tiga kali membawa janda kembang itu mengeerang menikmati indahnya sentuhan pria di belakangnya.


Tubuh Ibhen ambruk seketika, melepas pelukan dan penyatuannya, menggendong tubuh Rina ala bridal menuju kamar peraduan mereka berdua saat tenaga masih tersisa, setelah pertempuran yang tidak dapat terbendung setelah makan malam.


Rina hanya tersenyum bahagia, karena dapat melayani hasrat pria sekaya dan sebaik Ibhen. Mengalungkan kedua tangannya di leher pria mapan tersebut, sesekali mengecup leher pria tua itu.


Ibhen meletakkan tubuh wanitanya dengan pelan di ranjang, menarik selimut agar menutupi tubuh janda muda yang benar-benar telah membuat nya gila bahkan jatuh hati. Mengecup kening Rina lembut.


"Makasih yah sayang, besok pagi sebelum Abang berangkat, ingatkan Abang untuk mentransfer uang ke account kamu ..." bisiknya lembut.


Rina memeluk tubuh Ibhen, merasa bahagia saat mendengar kata 'transfer' ...


"Aku bahagia sama Abang. Makasih juga sudah mau memberikan aku tempat tinggal dan materi yang sangat berlimpah. Abang jangan nakal kalau pergi-pergi ..." rengeknya manja.


Seakan mendapatkan angin segar, Ibhen tersenyum sumringah, "Yang pasti Abang selalu ada buat kamu. Ingat, kalau sudah keluar dari gedung apartemen ini Abang hanya fokus kerja, kerja, dan kerja ..." kecupnya.


Rina hanya tersenyum lirih, jujur dalam hatinya dia tidak peduli dengan semua yang di lakukan Ibhen di luar sana ...


'Terserah Abang saja deh! Yang pasti aku mendapatkan uang yang cukup untuk merawat kue apem ku, dan hmm ...'


Ibhen merebahkan tubuhnya, dia tersenyum sumringah, tampak dalam dirinya semakin awet muda karena telah berhasil mendapatkan Rina dari tangan Thamrin.


'Jika kau tahu secretaris mu sudah ada dalam pelukan ku, mungkin kau akan gila, Tham ...! Bukan aku yang mengejarnya, tapi dia yang datang pada ku, karena mendapatkan perlakuan kasar dari istri mu, Maria ...!'


Ibhen memejamkan matanya, setelah melihat Rina telah terlelap masuk dalam dunia mimpi indahnya.


.


Seperti biasa, Rina yang terbiasa bangun lebih awal untuk membersihkan diri, lalu mempersiapkan sarapan pagi untuk Ibhen.


Walau hubungan kedua-nya hanya untuk pelampiasan sebuah hasrat dalam perselingkuhan, mengisi kekosongan ... Rina sebagai wanita yang terbiasa melayani, membuatkan sarapan pagi untuk Ibhen.

__ADS_1


Roti bakar yang sudah di olesi selai kacang, dengan telur ayam kampung setengah matang untuk memulihkan stamina sang pria tangguh, dia letakkan di meja makan. Tak lupa, segelas kopi hitam buatannya, atas permintaan Ibhen, saat akan melakukan ritualnya pagi itu.


Rina sangat terampil melayani Ibhen, tampak seperti tengah memberi servis yang baik pada suami tercinta.


"Morning sayang ..." kecup Ibhen, saat melihat janda cantik itu telah terbalut mini dress, dengan tali spaghetti.


"Pagi Bang! Jangan pakai bahasa Inggris deh, aku ini orang Indo, Bang ...!" tawanya menyeringai kecil.


Ibhen mengusap lembut kepalanya, melihat sarapan lengkap yang telah tersedia.


"Hmm rugi sekali kedua suami kamu telah menceraikan kamu, sayang. Karena servis kamu mengalahkan segalanya, kamu sangat terampil dan cekatan untuk memuaskan pasangan di dapur dan ranjang. Terimakasih yah, sayang ..."


Lagi-lagi Ibhen mengecup bibir dan sebelah pipi Rina.


Rina merengek manja sembari berkata, "Abang ... Jangan suka cium sebelah! Cium pipi ku sebelah lagi, biar senyumku tidak turun sebelah ..." godanya.


Ibhen tertawa terbahak-bahak, mendengar permintaan Rina melebihi seorang anak kecil.


"Cup ... Hmm sudah dua duanya. Mau yang mana lagi Abang cium, biar adil?" balasnya menggoda.


Rina membusungkan dadanya, mengarahkan pandangannya ke bagian kenyalnya yang tidak menggunakan penyangga.


Matanya langsung tertuju pada bagian kenyal milik Rina yang memang memiliki size yang berbeda, dari milik dua wanita-nya yang lain, Lilyana juga Lidya selaku istri sahnya. Mengecup serta membuat tanda stempel kepemilikan di sana.


Rina tersenyum geli, saat Ibhen sedikit nakal menyentuh bagian tertentu dari benda yang memiliki ukuran 36D dan asli tanpa tubles'.


"Sarapan Banghh ... Susunya sudah Abang nikmati, tinggal kopi lagi, tuh ...!" tawanya.


"Biar lengkap kopi susunya ..." rangkul nya pada bahu Rina.


Ibhen menarik tangan Rina agar duduk di pangkuannya, agar sarapan bersama.


"Hari ini kamu ada kegiatan? Kalau enggak ada, kamu jangan pernah menegur pria yang bertemu di basemen kemarin, yah?" tegasnya.


Rina menautkan alisnya, sedikit mengerenyit masam karena dilarang untuk bersosialisasi dengan siapapun ...


"Emang kenapa? Apakah dia anak Abang? Atau ...??"


Ibhen menggelengkan kepalanya, "Dia itu bukan siapa-siapa! Jadi lebih baik kamu tidak menyapa nya ...!"

__ADS_1


"Ooogh dia konsumen Abang yang paling bawel pasti!" tawanya mengusap lembut wajah tampan pria yang ada di hadapannya.


"Hmm dia itu ..."


"Udah deh aaagh ... Aku enggak suka kok, negur orang yang tidak aku kenal! Abang tenang saja," jelasnya tanpa mau mendengar penjelasan dari pria yang memangku nya.


Ibhen setuju, "Kamu memang pintar sayang, Abang senang bisa membuat kamu nyaman dan ketergantungan sama Abang ..." Kecupnya lembut di leher Rina.


Rina meringkuk di pelukan Ibhen, berbisik manja selayaknya Papa dan anak perempuannya, "Banghh ... Transfer! Nanti lupa ..." rengeknya.


Ibhen tertawa kecil, mengusap lembut punggung Rina, meraih handphone pintarnya, mengirimkan uang yang tak kalah mengejutkan.


Dengan bangga dia memperlihatkan nominal yang sangat menggiurkan bagi wanita manapun di muka bumi ini ...


"Cukup sayang ...?"


Rina membulatkan kedua bola matanya, sedikit tercekat dan hampir saja tersedak ...


"200 juta?" Dia menelan ludahnya susah payah.


Ibhen menatap sedikit aneh, "Apa masih kurang sayang? Sebutkan nominal nya, atau kamu tulis sendiri deh!" perintahnya.


Rina mengangkat kedua tangannya, menggelengkan kepalanya, menyatakan bahwa nominal itu sudah sangat cukup.


Seumur hidupnya, baru kali ini dia di beri uang sebesar itu oleh seorang pria, dengan hanya memperlakukan nya dengan sangat baik dan tentu sangat memuaskan bak selir seorang pangeran ...


"Bagaimana sayang? Ingat kan pesan Abang? Jika tidak ada kegiatan, kamu jangan keluar yah? Dan jika melihat pria tadi malam itu, jangan di sapa. Cukup diam! Dia sudah menjual asetnya, tapi meminta aset yang lain lagi ..." ulangnya lagi ngedumel sendiri, sembari mengingatkan.


Rina mengangguk patuh, walau hati dan pikirannya tengah memikirkan bagaimana caranya untuk dapat bertemu dengan Sambo, agar tidak di ketahui siapapun ...


Setelah sarapan bersama, Ibhen mencium bibir Rina dengan lembut, kemudian berlalu setelah di lepas dengan raut wajah yang bersinar cerah juga bahagia.


Namun, ada sedikit kekhawatiran di hati Ibhen kali ini, meninggalkan Rina sendiri. Karena dia akan pergi bersama Lilyana untuk memenuhi janjinya yang pernah dia ucapkan beberapa waktu lalu.


Sekali lagi Ibhen menoleh kebelakang, ingin rasanya dia berbalik dan memeluk janda cantik yang masih berdiri di di depan pintu apartemen. Hanya bisa menggerakkan bibirnya dan berucap ...


"I love you, Rina ..."


Rina hanya mencium ujung jarinya, dan menghembuskan ke arah Ibhen, hingga Ibhen menerimanya seolah-olah dia melahap kecupan kecil darinya.

__ADS_1


"Pergi yang lama yah, Bang ... Aku akan pergi membeli peralatan rumah ku yang baru ... Sayonara Bang Ibhen ..."


__ADS_2