Gairah Janda Rebutan

Gairah Janda Rebutan
Takut kecewa


__ADS_3

Sangat berbeda dengan kondisi Ibhen saat ini, ketika ia menyaksikan pernikahan wanita yang ternyata anak kandung dari Lilyana dan Rudi. Tak ada raut penyesalan dari wajah miringnya. Dia hanya menyunggingkan senyuman lirih menyiratkan bahwa pernikahan itu hanyalah kamuflase belaka.


Ibhen sama sekali tidak percaya bahwa Rina akan melepaskan Sambo ataupun dirinya begitu saja. Dia sangat memahami bagaimana jiwa janda cantik itu, karena beberapa bulan bersama, sebagai laki-laki yang sangat memahami titik kelemahan wanita, dia akan tetap merebut Rina dari tangan Sukenru.


"Jika tidak aku yang mendapatkannya, maka tak seorangpun bisa memiliki wanita itu. Seenaknya saja dia mendapatkan keuntungan dari ku, dan menikah dengan pria lain ..." geramnya mengepalkan tangan kiri yang tak bertenaga penuh.


Entahlah ... Dendam semakin berkecamuk di benak Ibhen, karena merasa tertipu habis-habisan oleh janda kembang yang dia harapkan untuk menjadi istri ketiganya.


.


Sambo melangkah lunglai, keluar dari kamar apartemen mereka yang berada di Singapura. Sudah lebih satu minggu, Sukenru sama sekali tidak pernah memberi kabar padanya setelah menikah dengan partner ranjangnya beberapa waktu lalu.


Lidya yang dapat merasakan sesuatu perubahan pada putranya, hanya bisa terdiam tanpa mau menghibur, karena merasa hati Sambo masih tak bersahabat setelah pernikahan Amel dan Sukenru.


Olivia yang tengah mempersiapkan semua kebutuhan makan siang keluarga itu, hanya berbasa-basi biasa selayaknya seorang pembantu yang selalu di bawa-bawa oleh Lidya.


Olivia menoleh kearah Lidya yang tengah menemani Ibhen melakukan terapi, kemudian berkata, "Nyonya, makanan sudah siap, apakah mau makan sekarang atau nanti?"


Lidya mencari keberadaan Sambo, karena dia masih menemani Ibhen, hanya menjawab pelan ... "Kamu bawa Tuan Sam saja dulu. Sejak kemaren dia tidak makan saya lihat!"


Olivia mengangguk, "Baik Nyonya."


Bergegas Olivia mengambilkan satu piring nasi lengkap dengan lauk pauknya, dan segelas air putih. Tanpa berpikir panjang ia menghampiri Sambo yang tengah menyendiri di balkon apartemen.


Kali ini Olivia hanya bisa tersenyum manis dihadapan duda tampan sang pujaan hati, saat langkahnya semakin mendekat pada Sambo.


Olivia memberanikan diri untuk bertanya, "Tuan Duda ... Mau makan sekarang atau bagaimana?"


Sambo tersenyum kecil, saat mendengar panggilan dari gadis kecil tersebut, hanya menjawab dingin, "Siapa yang masak gadis kecil?"


Olivia hanya mendehem, karena kedua tangannya masih memegang piring dan gelas.


Sam pria yang sangat baik, dia meminta Olivia untuk duduk menemaninya. Sambil berbincang-bincang ringan mengenai sekolah gadis kecil itu.


Sambo menoleh kearah Olivia, tengah memindahkan bangkunya agar lebih dekat dengannya, kemudian bertanya ...


"Apa yang membuat mu bahagia saat ini? Apakah semua permasalahan yang tengah kita hadapi saat ini tidak menggangu pikiran mu?"

__ADS_1


Olivia terdiam, wajah cantik itu hanya menekuk. Kali ini dia bingung harus menjawab apa pada Sam.


Lagi-lagi Sam menggoda puncak hidung sang adik tirinya dengan gemas, "Kamu tuh sama seperti Rina, sangat menggemaskan ..."


Olivia memajukan bibirnya, dia menyunggingkan senyuman tipisnya, karena mendengar nama Rina di sebut, seketika hatinya terasa sangat panas, walau sedikit.


Oliv bertanya dengan wajah lugunya, "Apakah Tuan dud masih mengharapkan wanita yang sudah menjadi istri orang lain tersebut? Karena aku lihat dia sangat bahagia dengan pernikahannya yang sangat romantis. Beberapa media online mengabarkan bahwa pernikahan pengusaha muda bernama Sukenru sangat mengejutkan, bahkan di kira hamil. Apa kah ...?"


Sambo meletakkan jari telunjuknya di bibir Oliv, agar tidak melanjutkan pembicaraan mereka tentang Rina.


Sam bertanya karena rasa penasarannya akan berita kehamilan itu pada Oliv, "Hmm benarkah berita kehamilan istri Sukenru?"


Oliv menautkan kedua alisnya, menatap lekat wajah Sam dengan penuh pertanyaan, "Kenapa? Apakah itu anak Tu-an?"


Sam mengalihkan pandangannya kearah lain, bergumam sendiri dalam hati, "Berarti benar, saat aku bertemu dengan Rina di rumah sakit dia di nyatakan hamil? Ooogh Tuhan, apakah Rina mengandung anak ku ...?"


.


Ditempat yang berbeda, tentu di belahan negara yang berbeda, Rina tengah menghabiskan waktu bersama Sukenru sebagai pasangan suami istri yang bahagia di apartemen mewah milik suaminya.


Sukenru yang tengah merencanakan satu bisnis untuk Rina, yang telah mengubah identitas dirinya menjadi Amelia, membuat mereka semakin akrab sebagai pasangan sahabat yang saling mengerti satu sama yang lainnya.


Malam yang tak begitu dingin, serta tak begitu panas, membuat Amel menghidangkan satu cemilan pengantar pekerjaan mereka yang tengah membuat satu management restoran seperti harapan istrinya.


Amel mendekati Sukenru, dengan satu piring kecil cake keju yang dia dapat melalui resep online.


"Koko mau coba?"


Tanpa menunggu jawaban dari suaminya Amel menyuapkan satu potong kecil ke mulut Sukenru.


Sukenru tak melihat, namun membuka mulutnya lebar, dan menikmati tanpa memuji, kemudian membuka mulutnya kembali.


"Aa' ..."


Amel tersenyum kecil melihat manjanya Sukenru melebihi Sam.


"Jawab! Enak enggak?"

__ADS_1


"Hmm ..."


"Iiighs ... Koko! Enak enggak?"


Sukenru menoleh kearah Amel, menatap lekat kedua bola mata indah wanita yang sudah sah menjadi bagian hidupnya tersebut.


"Enak! Kayaknya makan kamu juga enak, udah selesai belum periode nya? Kita belum melakukan apapun setelah seminggu menikah, Mel! Kamu enggak kasihan sama Koko ...?"


Amel terdiam, wajahnya menunduk malu, hanya bisa tersenyum manis mengisyaratkan bahwa masa periodenya sudah selesai.


Sukenru yang telah lama merindukan sentuhan dari tangan wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu, seketika menutup laptop yang ada dihadapan mereka, memposisikan tubuhnya agar dapat berhadapan dengan wanitanya, tersenyum sumringah seperti akan melahap bibir mungil yang ada dihadapannya, kemudian mencondongkan tubuh agar lebih dekat kearah Amel.


"Bener sudah?"


Amel mengangguk membenarkan dengan raut wajah cantik semakin memerah malu.


Sukenru menatap penuh cinta dan hanya ingin mencari jawaban dari perasaan yang pernah ia ucapkan beberapa hari lalu pada Amelia.


Kini kedua mata mereka saling menatap dan mengunci. Tak perlu berkata-kata, namun sebuah lummatan lembut yang Sukenru berikan pada wanitanya saat ini, mampu memberikan satu perasaan nyaman dan cinta yang berbeda.


Amel yang terbiasa dengan sentuhan pria, dan memberikan respon menerima, saat ini lebih berbeda dia menyambut bibir seorang Sukenru.


Tangan halus nan lembut itu mengusap lembut wajah tampan seorang Sukenru, melepas pelan ciuman mereka kemudian bertanya pelan ...


"Koko akan selalu setia sama Amel?"


Sukenru menatap iris mata indah Amel dengan penuh kasih sayang, tangan kekarnya mengusap lembut kepala istri tercinta ...


"Apa Koko pernah mengecewakan Amel selama ini? Koko yang takut jika Amel pergi dari Koko ..."


Sukenru menghela nafas berat, dia memperbaiki posisinya, untuk duduk kembali, karena pertanyaan Amel, masih meragu saat ini.


Amel hanya terdiam, sejujurnya dia takut untuk membuka hati kembali, dan kecewa yang ia rasakan.


Perlahan Amel memeluk tubuh Sukenru dari belakang, menikmati aroma maskulin dari pria yang berstatuskan suaminya itu ...


"Maafkan Amel, Ko ... Amel hanya takut kecewa ..."

__ADS_1


__ADS_2