Gairah Janda Rebutan

Gairah Janda Rebutan
Buah simalakama


__ADS_3

Sam sama sekali tidak melanjutkan pertanyaannya tentang indentitas Rina, baginya wanita cantik itu walau berstatus janda tetap akan menjadi belahan jiwanya, sekaligus istri. Hidup bahagia bersama selamanya setelah menikah.


Pria itu hanya mengecup lembut kening Rina, hanya berkata, "Kamu siap-siap, kita akan selesaikan semua masalah kamu dengan Papa ku. Ingat Rin, saat ini kamu akan menjadi istriku, hentikan permainan mu dengan dia!"


Rina menghela nafas panjang, kali ini dia tidak punya pilihan. Dia harus menyelesaikan semua permainannya. 'Tapi bagaimana jika Bang Ibhen membawa Mama di sana? Apakah semua akan terbuka lebar siapa aku ...? Aaaagh ... Kali ini aku harus menyelesaikan semua ini, yang penting Bang Ibhen sudah merasakan sakitnya di khianati ..." tawanya menyeringai kecil di dalam hati.


Rina melakukan ritualnya membersihkan diri, setelah Sam keluar dari kamar mandi. Perasaannya berkecamuk, bahkan saat ini dia seperti berada di bibir jurang pemisah antara dirinya dan Sam.


"Apa aku harus meninggalkan kota ini ...? Kota yang telah mempertemukan aku dengan Sam ..." tangisnya dalam hati, kembali teringat akan sosok pria yang sangat baik memperlakukan nya.


Jika di delik kebelakang, Sam benar-benar tulus pada Rina. Namun, kali ini dia harus menghadapi kenyataan bersaing dengan sang Papa hanya untuk mendapat gelar sebagai simpanan pria paruh baya itu.


Rasa cinta Sam seketika semakin dalam, saat mengetahui bahwa Rina merupakan wanita yang pandai memasak juga sangat telaten merawatnya selama tinggal bersama.


Kini Sam menanti Rina di ruang makan, yang berdekatan dengan ruang keluarga, sambil mencicipi sepotong paha ayam yang dia ambil sendiri dari dalam oven.


Sam benar-benar menikmati masakan ayam bakar kacang madu buatan Rina, yang akan menjadi masakan terlezat untuk sang Mama. Berkali-kali dia menjillati jemarinya, karena rasa manis, di padu dengan gurih kacang tumbuk yang di padu dengan rempah-rempah, membuat pria itu berdecak kagum.


"Ini masakan kesukaan Mama. Aku yakin Mama pasti sangat menyukai masakan calon istri ku ..." senyumnya menoleh kearah Rina yang akan keluar dari kamar peraduan mereka.


Sam terpesona, bahkan seperti terhipnotis saat melihat janda kembang yang masih tampak muda itu, berdiri di depan pintu kamar dengan balutan mini dress berwarna putih dengan leher tertutup penuh, namun punggung terbuka lebar.


Rina berputar-putar bak model dengan rambut di ikat tinggi, terlihat sangat cantik dan elegan.


Kali ini Rina hanya ingin membahagiakan Sam, dan melihat keseriusan pria itu padanya.


Walau sejujurnya dia masih ingin bermain-main dengan Bang Ibhen yang masih sangat baik padanya.

__ADS_1


"Aaaagh ... Entahlah ..." batin Rina dalam hati.


Rina mendekati Sam, mengambil piring, kemudian menikmati makan siang bersama dengan pria yang masih sangat baik padanya.


"Bagaimana sayang? Enak enggak?"


Rina tersenyum menoleh kearah Sam yang langsung merangkul tubuh rampingnya saat mendekat.


Sam menganggukkan kepalanya tiga kali, tanpa bisa menjawab, dia mengacungkan jempolnya sambil menyandarkan kepalanya didada Rina yang benar-benar menyenangkan.


"Ini enak banget bebeb. Kamu akan menjadi menantu kesayangan Mama. Aku yakin itu, karena lidah keluarga ku sangat menyukai masakan pedas manis. Tapi tidak untuk Ol ..."


Sam tidak melanjutkan ucapannya, dia tidak ingin membuka tabir kepalsuan Ibhen secara keseluruhan kala itu. Baginya, biar Ibhen ataupun Lidya yang mengatakan bahwa Lilyana memiliki anak yang di besarkan keluarga mereka selama ini.


Rina hanya mencubit dagu Sam yang berbulu tipis, memilih duduk disamping pria yang mampu membuat hatinya semakin serba salah dalam mengambil keputusan.


Mereka menikmati makan siang yang akrab juga hangat, tampak seperti dua insan suami istri tengah berbahagia setelah pernikahan mereka berdua. Hanya itu yang ada dalam benak Sam, namun tidak untuk Rina.


Gedung perkantoran yang terletak di pusat kota metropolitan, membuat Rina sedikit gugup, saat Sam memarkirkan mobilnya di loby pintu utama.


Sam menoleh kearah Rina, tangannya meraih tangan sang wanita pujaan, mencium punggung tangan janda kembang itu berkali-kali.


"Kita turun sekarang?"


Rina menganggukkan kepala, menunggu Sam untuk membukakan pintu miliknya. Dengan sangat hati-hati ia meraih tangan pria di hadapannya, yang menyambut tangan halus itu dengan sangat sopan.


Seperti biasa Sam melempar kunci mobil kearah security, agar memarkirkan mobilnya di tempat biasa.

__ADS_1


Rasa bahagia menyelimuti relung hati Sambo, yang tinggal selangkah lagi akan menyunting wanita cantik yang menjadi candunya saat ini ...


Namun tidak untuk Rina, dadanya berdegup kencang, bahkan jemari tangan yang berada di lengan Sam itu terasa sangat dingin. Kali ini dia seperti makan buah simalakama. Maju kenak, mundur juga kenak. Tapi dia selalu berdoa, semoga sang Mama tidak ikut dengan Ibhen saat ini.


Kedua-nya memasuki lift, Sam menekan tombol menuju restoran yang berada di lantai atas.


Sam berkali-kali mengusap punggung Rina yang terbuka, mengecup lembut kening hingga kepala sang kekasih, agar Rina merasa nyaman dan tidak khawatir.


Benar saja, saat pintu lift terbuka lebar ... Mata Rina kembali liar, dia melihat Ibhen tengah menikmati sebatang rokok, di temani semangkok salad yang ada di hadapannya.


Rina bersusah payah, saat menelan salivanya, wajahnya tampak semakin gugup. Bagaimana mungkin dia harus menyakiti pria yang selama ini baik padanya.


Dengan penuh keyakinan Sam menggandeng tangan Rina untuk mendekati sang Papa.


Lagi-lagi Rina menghentikan langkahnya, hanya untuk melepaskan genggaman Sam, agar dapat berlari meninggalkan gedung perkantoran tersebut.


Akan tetapi, Sam yang merasakan genggaman tangan kekasihnya akan terlepas, dia terus menggandeng kuat.


Mungkin rasanya begitu cepat semua ini di ketahui oleh mereka, namun ini merupakan waktu yang tepat, karena Sam menginginkan Rina mengakhiri hubungan gelapnya dengan sang Papa.


Langkah mereka semakin mendekat, Ibhen yang melihat kehadiran dua insan anak muda di hadapannya merasa tertampar, melihat kecantikan Rina sangat menggairahkan nya. Bahkan dia enggan untuk memberikan secara ikhlas pada Sam ...


Ibhen berdiri menyambut dua insan yang ada di hadapannya, hanya untuk memperlakukan Rina secara baik dan sangat berbeda ...


Sam menghalangi sang Papa yang akan berhambur memeluk tubuh Rina, "Ooogh tahan dulu dong, Pa! Kita bicara secara baik-baik. Saat ini Rina datang dengan aku, jadi dia milikku!"


Ibhen mendengus dingin, melihat janda cantiknya yang menawan kini duduk bersebelahan dengan putra kesayangannya.

__ADS_1


'Brengsek sekali Sam! Oke, jika itu mau mu! Aku akan merebut Rina kali ini. Jangankan kalah, seri saja aku tidak akan sudi, karena yang pertama kali bertemu dengannya adalah aku, Sam! Bukan kamu. Ternyata kamu mempermainkan aku selama ini! Dasar anak durhaka ...!' geramnya mengepal kuat tangannya.


   


__ADS_2