Gairah Janda Rebutan

Gairah Janda Rebutan
Video call


__ADS_3

Di keheningan malam, Rina sangat bahagia, karena telah memiliki rumah dan mobil sesuai yang dia harapkan.


Namun malam ini dia sangat-sangat kesepian. Karena mendengar Sam sedang tidak berada di apartemen miliknya.


"Hmm, kemana dia? Apakah dia tengah berkencan dengan seorang wanita ...?" bisiknya dalam hati.


Rina berencana membuat makan malam, dari bahan-bahan yang masih tersedia di dalam kulkas. Tapi dia tidak menemukan fillet ayam sesuai dengan yang dia inginkan malam ini.


Tanpa berpikir panjang, bergegas dia mengambil dompet dan handphone, untuk pergi ke supermarket area apartemen yang berada di lantai basemen.


Malam ini Rina hanya mengunakan mini dress, dan sendal jepit berwarna merah, dengan rambut di cepol tinggi keatas sehingga mempertontonkan keseksian lehernya yang putih bersih.


Dia melenggang bak peragawati, melewati koridor apartemen memasuki lift untuk segera tiba di basemen.


Rina memasuki supermarket, membeli beberapa bahan makanan yang menjadi kesukaannya selama ini.


Setelah asik berputar-putar sekeliling supermarket, dan berdiri di kasir untuk melakukan pembayaran, matanya tertuju kearah luar yang melihat Bang Ibhen tengah mengobrol dengan Sam ...


"Hmm! Apakah mereka saling mengenal ...? Berarti malam ini Bang Ibhen datang untuk tidur dengan ku ...! Baguslah ... Tahu aja Bang Ibhen, kalau aku sangat merindukannya ..."


Rina bergegas membayar semua yang dia beli, untuk segera menyusul Bang Ibhen yang semakin mendekat dengan pintu lift, dan di susul oleh Sam yang bersungut-sungut dari belakang.


"Mungkin apartemennya memiliki masalah, makanya komplain sama owner ..." tawanya menyeringai kecil.


Rina membawa paper bag yang agak berat, berlari kecil, dan sedikit berteriak untuk memanggil pria yang akan memasuki pintu lift.


"Bang!" sapanya saat berada di belakang Ibhen juga Sam.


Kedua pria itu menoleh kearah Rina secara bersamaan. Menatap janda cantik itu dengan penuh tatapan yang menyiratkan sebuah hasrat yang berbeda.


Di pikiran Ibhen hanyalah, 'Wooowh ... Cantik sekali kamu malam ini, sayang? Aku sangat merindukan mu, dan aku yakin kita akan menghabiskan malam yang indah! Aku yakin kamu juga merindukan aku ...'

__ADS_1


Namun, dalam pikiran Sam sangat berbeda, 'Anjiir, enak banget bokap gue, dapat wanita secantik Rina malam ini. Brengsek banget ni tua bangka. Tahu saja barang bagus yang sangat menarik ...' sesalnya saat melihat dengan nyata kemolekan tubuh janda kembang tersebut.


Rina menelan ludahnya sedikit susah payah, jantungnya berdebar-debar, bahkan ada sedikit kekhawatiran nya tentang rencana untuk menghabiskan waktu dengan Sam lain waktu.


Ibhen menghampiri Rina, mengambil barang bawaannya, mengecup lembut bibir janda cantik itu di hadapan Sam, tanpa memperdulikan putranya yang tengah menahan amarah, karena menyaksikan kemesraan sang Papa dengan wanita lain selain Mama-nya.


"Kamu dari mana? Kok bawa barang-barang sebanyak ini? Jangan capek-capek, sayang. Lain kali minta pihak supermarket yang antar saja ke lantai atas, yah?" jelasnya lembut.


Rina mengangguk tersenyum, dia melewati Sam, namun melirik dengan wajah yang serba salah, karena menyaksikan kemesraan nya bersama pria yang selalu di katakannya tua bangka tersebut.


Sam hanya menggeram, menggeleng-geleng sendiri, menahan perasaan yang tidak karuan.


Mereka memasuki lift yang sama, tapi Sam turun di loby apartemen, keluar dari lift tanpa mau menyapa Rina dan Ibhen.


Sam berlalu meninggalkan apartemen yang sepengatahuan kedua orang tuanya, telah menjual aset pribadinya semenjak berpisah dari Karenina sang mantan istri.


Sam berjalan sendiri memasuki area restoran untuk melanjutkan makan malam di sana sendiri.


Sam melanjutkan pekerjaannya. Dia sebagai pengusaha sukses di usia muda, hanya cukup mengendalikan pekerjaan melalui sistem yang ada di handphone canggih nya.


Sementara Rina ingin bertanya pada Ibhen siapa Sam, namun dia urungkan karena laki-laki itu sudah menggendong nya untuk segera menghabiskan waktu.


"Banghh ... Tunggu dulu dong! Aku lapar, belum makan. Nanti kalau aku menggigil karena menahan lapar, terus enggak bisa membahagiakan Abang, bagaimana?" usapnya manja pada dada telanjang Ibhen.


Ibhen melepaskan dekapannya, mengecup lembut kening Rina, menatap penuh bahagia wajah wanita yang sangat menggemaskan tersebut.


"Abang kalau udah ketemu sama kamu, pengen cepet-cepet sampai di ranjang saja! Ya sudah, kita makan malam di restoran bawah saja yah? Abang juga lapar sih, sayang ..." kecupnya lagi dan lagi di leher Rina yang putih dan mulus.


Rina menggeleng, "Aku tadi baru belanja banyak. Aku masakin yang praktis saja deh. Abang mau yang pedes, atau sedang ...?"


Ibhen kembali mengecup puncak dada Rina yang sangat menggemaskan, dari balik benang yang masih jadi penghalang dengan geram.

__ADS_1


"Hmm ... Ya sudah, Abang mandi dulu! Kamu masak, apapun yang kamu masak, pasti Abang makan. Asal jangan pedes banget yah?"


Rina mengangguk, membiarkan Ibhen beranjak lebih dulu agar masuk ke dalam kamar mandi, sementara dia bergegas menuju dapur, untuk membereskan semua yang dia beli tadi yang masih di letakkan pria berumur itu di meja ruang tamu.


"Kebiasaan banget sih, Bang Ibhen mau instan mulu! Enggak sabaran banget kalau sudah ketemu ..." tawanya tersenyum bahagia.


"Aku yakin, jika dia tidak menikahi Mama secara sirih juga istri pertamanya, mungkin dia akan menikahi aku secepatnya. Seperti yang dia minta beberapa hari lalu ... Hmm, tapi kenapa dia kembali begitu cepat? Bukankah Bang Ibhen ada proyek di luar kota? Hmm, ngapain aku mesti memikirkan pekerjaan nya ..." sesalnya.


Rina membuat beberapa menu sederhana masakan rumah, yang biasa dia buat saat masih berstatus istri pemuda bernama Boni atau pun Bambang kala itu ...


Menu ayam goreng sambal kecap, yang dia pilih hanya fillet ayam saja, dan sayur tumis pokcay di campur udang dan cumi yang dia beli di supermarket apartemen.


Mencium aroma wangi masakan Rina, Ibhen keluar dari kamar hanya menggunakan celana pendek dan baju kaos yang memang sudah tersedia di kamar mereka.


Tangan kekar Ibhen memeluk tubuh ramping Rina, saat mempersiapkan hidangan tersebut di meja makan.


"Hmm, enak banget ini sayang ... Ternyata kamu pintar masak juga ..." kecup Ibhen di leher Rina.


Rina sedikit risih, karena tubuhnya berkeringat dan masih merasa kegerahan, "Banghh ... Duduk di kursi dulu iiighs ... Kita makan dulu, aku udah buat udang dan cumi untuk membangkitkan gairah kita malam ini ..." bisiknya manja.


"Hmm, kamu memang pintar! Malam ini Abang nginep di sini yah? Besok pagi Abang akan berangkat ke luar negeri, mungkin lebih kurang dua mingguan. Kamu enggak apa-apa kan tinggal sendiri? Tenang saja, Abang kasih uang lebih buat kamu. Nanti Abang bawain oleh-oleh tas branded yang sesuai kesukaan kamu ..." rayunya.


Rina memajukan bibirnya, dia tidak butuh akan semua itu, "Bang, aku enggak butuh itu ...! Yang aku butuh itu yah anunya Abang ... Lama banget dua minggu. Sehari ini saja aku mikirin Abang terus, karena selama pergi enggak pernah kasih kabar. Bilang apa kek, sayang, atau apalah ...! Ini malah diemin aku aja ..." sungutnya manja.


Ibhen membalikkan tubuh ramping Rina, menggigit kecil hidung mancung janda cantiknya.


"Hmm, kamu seharusnya paham, Abang jarang cek whatsApp, message, atau apapun. Lebih baik kita call, atau video call, yah? Biar hilang rasa rindunya ..." pujuknya lembut.


Rina mengangguk tersenyum, namun dia berfikir, "Berarti kalau video call, bisa lihatin si anu dong!" tawanya


Ibhen sedikit kebingungan, "Maksudnya, lihatin anu apa sayang ...?"

__ADS_1


__ADS_2