Gairah Janda Rebutan

Gairah Janda Rebutan
Membuang uang


__ADS_3

Kedua insan yang tengah saling bergelut dengan pikirannya masing-masing itu, kini hanya menikmati sisa akhir dari semua dendam Rina yang semakin bergejolak.


Sangat berbeda dengan Sam, yang tidak menyadari bahwa Rina telah mengetahui siapa dirinya, sehingga membuat dia hanya menerka-nerka, "Ada apa dengan Rina ...?"


Disisi lain, Ibhen justru tengah berdebat panjang dengan wanita yang menjadi istri keduanya beberapa waktu lalu ...


Tangan kekarnya meremas kuat lengan Lilyana, saat pintu apartemen terbuka lebar.


"Ooogh Mas, sakit ..."


Ibhen masih meremas kuat lengan Lilyana, tanpa mau berbasa-basi saat pertama kali melihat wajah wanita itu berdiri menyambut nya.


"Katakan pada ku, siapa Rina?"


Ibhen menghardik Liliyana, menatap tajam manik mata wanita yang terus menerus membohongi nya.


Lilyana tertegun sejenak mendengar nama Rina ...


"Rina? Rina siapa?"


"Wanita janda yang saat ini ada di Mediterania!"


Liliyana semakin tidak mengerti, apa yang di maksud Ibhen, dia melepaskan remasan tangan pria paruh baya itu dari lengannya.


"Lepas Mas! Aku tidak mengenal janda yang kamu maksud! Aku kehilangan Amel, bukan Rina! Siapa Rina? Apakah dia telah mengkhianati kamu?" sesal Lilyana dengan beberapa pertanyaan.


Ibhen terdiam, wajahnya memerah, dia menghela nafas panjang, menautkan kedua alisnya, masih menatap lekat wajah cantik ibu dua anak tersebut.


Ibhen bertanya tentang Amel yang Lilyana katakan putri kesayangannya, "Dimana putrimu itu? Apakah dia berada di sini?"


Liliyana menggelengkan kepalanya, dia membawa Ibhen agar duduk di sofa ruang tamu yang sudah tersedia, supaya dapat berbicara dengan santai, layaknya dua insan yang pernah memiliki kisah hidup bersama.

__ADS_1


"Terakhir yang aku dengar, dia ikut dengan rekan bisnis almarhum Papa-nya, semenjak Amel pergi, kami kehilangan kontak, dan dia tidak pernah mengaktifkan whatsApp seperti biasanya. Aku juga tidak tahu keberadaannya saat ini," jelasnya.


Ibhen menghela nafas panjang, memperdalam posisi duduknya di sofa ruang tamu yang tersedia. Dia memijat pelipisnya pelan, "Maafkan aku, ternyata aku yang terlalu cepat menuduh mu ..."


Lilyana tersenyum sumringah, sejujurnya dia masih bingung juga penasaran dengan janda yang di sebut Ibhen pada nya.


"Hmm kamu masih menyimpan nomor janda itu, Mas? Bisa aku minta?"


Lilyana menengadahkan tangannya di hadapan Ibhen, menunggu pria paruh baya itu memberikan handphone-nya.


Ibhen merogoh koceknya, mengambil handphone dan mencari nomor Rina. Begitu juga Liliyana. Mereka berusaha mencocokkan dengan nomor yang mereka miliki.


Benar saja, nomor ke-duanya sangat berbeda. Ibhen menuliskan nama Rina, sementara Liliyana menyimpan atas nama Amel.


Ibhen mengusap-usap punggung Liliyana, kemudian bertanya karena pikirannya sedikit lega, "Maafkan Mas ...! Hari ini Mas mau ketemu sama putra kesayangan Mas, apa kamu mau ikut?"


Lilyana termenung, dia teringat anak yang selama ini dia lupakan.


"Mas, apa kabar anak kita yang aku titipkan pada Lidya? Apakah anak itu sudah tumbuh dewasa? Jujur aku merindukan nya. Bayangkan saja, setiap hari aku menghabiskan waktu hanya sendiri selama kepergian Amel. Anak itu membawa semua kepemilikan perusahaan almarhum suami ku. Dan nilai itu lebih dari 200 milyar. Tapi selama ini, aku belum mendengarkan kabar tentang pencairan dana dari bank yang menjadi rekanan. Seingat aku, Aa Rudi sebelum meninggal telah mengurus semua pengalihan atas nama Amel ..."


Ibhen benar-benar tak menyangka, bahwa Lilyana ternyata memiliki suami kaya raya, 200 milyar? Itu uang yang tidak sedikit. Selama 15 tahun di bekukan, akan mendapatkan keuntungan luar biasa dari bunga bank.


Kening Ibhen yang licin mengerenyit, dia tidak menyangka wanita yang dia bantu ternyata seorang janda kaya raya.


"Tapi kenapa kamu selalu merasa kekurangan selama menjadi istri, Mas? Apakah kamu memiliki niat buruk sama Mas?" tanyanya penuh selidik.


Liliyana menggelengkan kepalanya, dia menceritakan semua tentang retaknya rumah tangganya dengan Rudi sang suami.


"Dari awal Aa Rudi hanya memikirkan Amel dan Amel saja, Mas. Dia tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan aku. Perusahaan yang dia jalani bersama beberapa partner bisnisnya yang tidak aku ketahui selama Aa masih hidup, membuat aku sulit mencari apa sebenarnya bisnis almarhum suami ku. Saat kita ketahuan selingkuh, Aa Rudi membawa Amel, dan menikahkannya. Saat itu Amel masih berusia 19 tahun. Tapi aku tidak menyangka saat mereka kembali Amel sudah menjadi janda. Akhirnya Amel menikah lagi dengan tetangga lama kami di daerah Cimahi. Saat Aa Rudi meninggal, Amel berpisah, dan memusuhi aku ..."


Ibhen kembali menautkan kedua alisnya, ternyata yang keluar dari bibir Lilyana, sangat berbeda dengan yang di ceritakan Rina simpanannya.

__ADS_1


"Berarti sudah berapa lama kamu kehilangan putri mu? Dan berapa usianya saat ini?" Ibhen bertanya hanya untuk mencari tahu siapa Rina sebenarnya.


"Lebih kurang 24 tahun, Mas ..." jawabnya jujur.


Ibhen kembali tertegun, mendengar usia putri Lilyana ternyata sangat berbeda jauh dengan Rina.


Rina yang dia ketahui, berusia 30 tahun. Namun, yang menjadi kecurigaan Ibhen selama ini pada Rina, karena memiliki tubuh yang masih kencang layaknya wanita berusia 20an.


"Apakah kamu tidak pernah tahu dimana keberadaan Amel putri mu? Atau jangan-jangan dia pergi meninggalkan Indo?" Lagi-lagi Ibhen bertanya karena penasaran, karena setahu pria itu, Rina tidak bisa menggunakan bahasa Inggris.


Lilyana menganggukkan kepalanya, "Amel merupakan wanita yang pintar, Mas. Aku yakin, saat ini dia berada di luar negeri. Atau bahkan, dia menjauh dari aku. Padahal aku sangat menyayangi nya. Saat itu kami sempat ribut, Mas ... Dia menemukan foto Lidya serta semua tagihan hotel kita yang masih tersimpan di dalam berkas Aa Rudi."


Ibhen memperdalam posisi duduknya di sofa. Dia tersenyum sumringah, ternyata Rina yang menjadi simpanan nya bukanlah putri kesayangan Liliyana.


"Setidaknya Sambo tidak mencintai putri Lilyana, aku akan menghadiri acara makan malam, dengan membawa wanita ini. Bersetan dengan perasaan Lidya ..." Ibhen mengusap lembut bahu Lilyana yang terus mendekap nya.


.


Sangat berbeda dengan kemesraan Rina juga Sam. Mereka berdua sibuk dengan dunia masing-masing.


Berkali-kali janda kembang itu, membuat kan menu yang menjadi kegemaran Lidya sesuai permintaan Sam. Walau dengan hati yang masih terasa sangat perih, namun berusaha menahan semua agar tidak menjadi bumerang saat waktu itu tiba.


Janda cantik itu memilih melanjutkan perannya sebagai kekasih Sam, demi mendapatkan informasi tentang anak yang pernah di bicarakan sang Papa pada Rina sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.


Sam kembali mendekati Rina yang tengah mencoba resep baru untuk calon ibu mertuanya menurut pria yang telah melilitkan tangannya di perut ramping janda cantik itu.


"Kamu buat apa hmm? Sepertinya kita akan menjadi keluarga yang sangat bahagia, jika menikah. Bagaimana dengan rencana kamu membeli rumah kos wanita yang telah mengusir mu? Apakah jadi? Berapa dana yang dia minta?" tanya Sam berbisik ketelinga Rina.


Rina tersenyum tipis, membalikkan tubuhnya, menatap dalam kedua bola mata yang mampu menyejukkan relung jiwanya.


Janda cantik itu menjawab pelan, "Jangan membuang uang mu hanya untuk wanita seperti aku, sayang ..."

__ADS_1


__ADS_2