
Di rumah yang penuh kehangatan itu, membuat Rina terus memanjakan Sam sebagai pasangan terbaiknya.
Sam kembali mendekati Rina yang tengah mencoba resep baru untuk calon ibu mertuanya menurut pria yang telah melilitkan tangannya di perut ramping janda cantik itu.
"Kamu buat apa hmm? Sepertinya kita akan menjadi keluarga yang sangat bahagia, jika menikah. Bagaimana dengan rencana kamu membeli rumah kos wanita yang telah mengusir mu? Apakah jadi? Berapa dana yang dia minta?" tanya Sam berbisik ketelinga Rina.
Rina hanya tersenyum tipis, membalikkan tubuhnya, menatap dalam kedua bola mata yang mampu menyejukkan relung jiwanya.
Janda cantik itu hanya menjawab pelan, "Jangan membuang uang mu hanya untuk wanita seperti aku, sayang ..."
Sambo menautkan kedua alisnya, mencari tahu dari manik mata indah milik wanita nya.
"Kenapa kamu berubah pikiran bebeb? Ada apa? Bisa kita bicarakan baik-baik ... Aku tidak ingin melihat kamu berubah seperti ini ... Hargai perasaan ku, Rin ..."
Rina hanya tersenyum tipis, dia menepuk lembut dada pria yang masih enggan melepas dekapannya dari pinggang, sehingga membuat tubuh mereka sangat dekat.
"Sayang ... Nanti ayam bakar kacang madunya hangus, aku tidak ingin membuat Ibu mu kecewa dengan masakan ku. Hari ini menu kita hanya ayam bakar kacang madu, di tambah sambal kecap, dan kamu yang mencicipinya pertama kali. Sudahlah sayang, aku baik-baik saja," jelasnya mengecup lembut bibir Sambo.
Namun Sam memperdalam lummatan ciuman mereka, semakin mendekap tubuh ramping itu, meletakkan janda kembang yang menjadi candunya di atas meja makan.
Sontak semua perlakuan Sam terhadap tubuh wanitanya, tidak mampu membuat Rina menolak karena dia juga sangat menginginkan sentuhan jemari dari pria yang memabukkan ...
"Sayanghh ... Ovenhh ..." rintihnya saat jemari Sam merremas benda kenyalnya, sementara bibir pria itu berada di lembah surganya ...
Tubuh Rina menggeliat liar, meminta seraya memohon agar pria yang berada di bagian bawahnya, membawanya kembali terbang menembus nirwana ...
Entah apa yang ada dalam pikiran Sam saat itu, baginya janda kembang yang mampu membangkitkan gairahnya sebagai pria kesepian berstatus duda beranak satu, kembali ingin menikmati indahnya penyatuan dalam indahnya cinta.
Kedua-nya terbuai dalam penyatuan mereka, membuat meja makan yang terbuat dari kayu jati tersebut bergerak sesuai ritme yang di berikan Sam di bawah sana.
"Ooogh Samhh ... Please ... A-a-a-aku ooogh ..."
Rina meremas kuat sudut meja dengan kedua tangannya, saat hentakan terakhir Sam di belakang tubuhnya ...
"I love you baby ... I love you so much ..."
Sam mengecup lembut punggung telanjang Rina, merebahkan tubuh kekarnya, diatas punggung janda cantiknya yang masih tersengal-sengal diatas meja.
__ADS_1
Keringat kedua-nya saling menyatu dalam penyatuan cinta mereka, yang semakin lama semakin sulit untuk terpisahkan.
Perlahan Sam melepaskan penyatuan mereka, menggendong tubuh ramping itu untuk masuk kedalam kamar, kembali melanjutkan berkasih sayang di sana.
Lagi dan lagi Rina tak mampu untuk menolak, apalagi berkata tidak. Setiap kali Sam menyentuh bagian sensitifnya, hati yang menolak, tubuhnya justru meminta lebih dan terus menerus memohon.
Kedua-nya hening saat mencapai pelepasan yang entah keberapa, melupakan oven yang telah mati secara otomatis.
Sam terjaga lebih dulu, karena merasa tangannya seperti tak berdarah setelah di jadikan pengganti bantal bagi kepala wanita tercintanya.
Tangannya terasa kaku, dan tak dapat di gerakkan ... Berkali-kali Sam menggerakkan tangan kanannya, agar kembali seperti awal.
Matanya tertuju pada dua handphone mereka berdua yang berada di nakas kamar. Lagi-lagi Sam tak mengingat bahwa tadi pagi dia mendapatkan telpon dari Ibhen yang kembali menghubunginya.
Sam menjawab panggilan telepon dari Ibhen yang berada di seberang sana ...
["Hmm ..."]
["Kita ketemu di mana? Papa menuju restoran kantor ... Jangan lupa bawa kekasih mu! Kita bicara baik-baik ..."]
Sam terdiam, wajahnya berubah, keningnya mengkerut jengkel, merasa ada yang tidak beres dari ucapan pria tua tersebut di seberang sana.
Ibhen yang mendengar penuturan putranya seperti itu, mendengus jengkel ...
["Pekerjaan? Bukankah kamu membeli rumah untuk wanita yang akan aku persunting ...?"]
Sam menautkan kedua alisnya, tak ingin berdebat di telepon, dia hanya bisa menjawab ...
["Tunggu aku di sana!"]
Sam menutup teleponnya, dia menoleh kearah Rina yang masih terlelap.
Kali ini Sam dilema, hari ini dia berjanji dengan wanita yang masih meringkuk di atas ranjang peraduan mereka, tidak akan meninggalkannya ... Tapi Sam harus menemui Ibhen sang Papa.
"Sialan ... Ternyata Papa mengikuti aku dari kemaren? Jangan-jangan dia juga yang membuat Rina berubah pada ku? Apa maksud pak tua itu? Aaaagh ...!" sesalnya melayangkan pukulan ke udara.
Perlahan Sambo mendekati Rina, menciumi leher janda cantik itu yang masih terlelap dalam mimpinya ...
__ADS_1
"Bebeb, kita keluar?"
Jemari lentik Sam mengusap lembut wajah halus itu dengan lembut, beberapa kali dia mengecup lembut bibir wanitanya yang mengering.
Rina mengerjabkan mata, menatap Sam yang masih berada di hadapannya ... Mengusap lembut wajah tampan itu dengan jemari halusnya.
Keduanya kini saling mengusap lembut dengan penuh perasaan ...
"Mau kemana? Apa kamu ada janji dengan orang lain? Aku merasa lelah, sayang ..." rengeknya manja.
Sam menatap mata indah Rina lekat, bertanya dengan penuh lemah lembut, "Apa yang kamu ketahui hmm? Kenapa kamu tidak bicara padaku jika kamu mengetahui sesuatu?"
Rina terdiam, wajahnya memerah, air mata kembali menggenang di pelupuk mata indahnya.
"Maafkan aku, aku terbawa perasaan padamu. Jangan balas kan dendam mu pada janda seperti ku ..."
Rina mengalihkan pandangannya.
Sam menautkan kedua alisnya, tak memahami apa maksud wanita yang berada di hadapannya.
"Apa maksud mu, beib? Sama sekali aku tidak ingin menyakiti mu! Percayalah pada ku!"
Rina tersenyum tipis, memperbaiki posisinya agar bisa duduk dan bicara baik-baik dengan Sam.
"Kenapa kamu tidak mengatakan bahwa kamu merupakan anak dari Bang Ibhen? Kamu telah membuat aku jatuh hati, tapi ternyata kamu ...!"
Bibir Rina tak mampu berkata-kata lagi, hatinya, perasaannya mulai tidak bersahabat dengan logikanya.
Sam tidak terkejut sama sekali mendengar penuturan Rina yang mengetahui tentang status keluarganya.
"Terus? Jika aku memang anak Papa Ibhen, kenapa? Apa kita mau berpisah? Justru sampai saat ini aku yang tidak mengetahui siapa dirimu, Rin?"
Mendengar pertanyaan Sam, Rina terdiam. Wajahnya tampak merah padam, bahkan kaku dan ingin sekali menghindar dari pertanyaan yang menusuk jantungnya.
Sam melanjutkan pertanyaannya, "Aku mencintai mu tidak main-main. Tapi aku tidak mengetahui siapa kamu, dan identitas kamu lainnya! Rumah, mobil semua atas nama aku! Apa maksud kamu? Apakah kamu ingin meninggalkan aku? Kita bisa sama-sama mengahadapi pak tua itu! Aku sungguh-sungguh jatuh hati, jadi tolong hargai perasaan ku!"
Kedua bola mata Rina membulat seketika, wajahnya merah padam dan menegang ...
__ADS_1
"Bagaimana mungkin aku memberitahu siapa diri ku sebenarnya, pada, Sam ..." sesalnya dalam hati, meremas kuat selimut yang ada dalam genggamannya.