Gairah Janda Rebutan

Gairah Janda Rebutan
Wanita ku


__ADS_3

Rina berlari kencang, meninggalkan kamar hotel menuju lift meninggalkan Sukenru yang terus berteriak keras memanggilnya.


Kaki Rina seketika lemah saat berada didalam lift sendirian. Entah setan apa yang merasuki pikirannya, sehingga meninggalkan Sambo hanya untuk menghindari Lilyana.


"Maafkan aku, sayang ..."


Langkahnya kembali terhenti, saat dua bodyguard telah menunggu didepan pintu lift, membuat Rina tampak bingung dan ketakutan.


"Silahkan kembali ke kamar Nyonya, karena Tuan Sukenru telah menunggu Anda!"


Perintah kedua pengawal berotot besi dihadapannya, membuat Rina sedikit ketakutan.


Namun Rina tak pernah memperlihatkan bahwa ia tengah terancam, dia menoleh kearah pria yang menggunakan baju kaos putih, kemudian berkata ...


"Maaf, urusan saya dengan Sukenru telah selesai! Jika kalian menghalangi ku, maka bersiap-siaplah Sukenru akan kehilangan perkebunannya!"


Tanpa berpikir panjang, dua pengawal itu, memberi jalan pada Rina, untuk segera meninggalkan hotel Keluarga Sukenru.


Rina tersenyum sumringah, kali ini tidak ada yang bisa bermain-main dengannya, kecuali Sambo dan Ibhen yang memiliki perasaan pada janda cantik tersebut.


Bergegas Rina melenggak-lenggok, menuju loby, saat matanya tertuju pada mini cooper yang baru memasuki area hotel.


"Ooogh sayang, kamu datang di waktu yang tepat ..."


Rina berlari kecil menuju mobil Sam, memberhentikan mobil yang memang akan berhenti di depannya.


Ia bergegas masuk kedalam mobil, menutup pintu mobil dengan sangat keras, kemudian berkata ...


"Bawa aku kemana kamu mau, aku tidak ingin berada di sini. Aku jijik, aku kotor! Aku tidak ingin melanjutkan cerita apapun tentang mereka! Bersetan dengan semua ini, uang, harta! Aku ingin hidup bahagia ...!"


Tangis Rina pecah saat memasuki mobil, bahkan tidak menoleh kearah Sam yang tampak kaget melihat Rina sehancur saat ini.


Sambo tak menjawab, dia melajukan mobilnya membelah malam. Menikmati keindahan malam yang tampak tenang dan cerah, dihiasi lampu gedung perkantoran yang menyala.

__ADS_1


Kali ini mereka berdua diam tak bergeming. Rina masih menangis tersedu-sedu, bahkan dia semakin terlihat rapuh.


Sam membawa mobilnya menuju kediaman mereka di Cluster Adem Sari, tanpa banyak bicara. Kali ini dia juga ingin menenangkan diri, dari perdebatan panjangnya dengan Lidya saat mengetahui sang Papa masuk rumah sakit.


Begitu tiba di rumah, bergegas Rina masuk kedalam rumah, membuka pintu kamar, dan membuka seluruh pakaiannya untuk membersihkan dirinya yang ia rasa sangat kotor.


Cinta, perasaan cintanya terhadap Sam, membuat Rina merasa dirinya tak pantas untuk di perebutkan oleh keempat pria itu.


Rina menangis sejadi-jadinya di bawah guyuran shower. Kembali ia terkenang masa indahnya bersama sang Papa, yang dia dapatkan dari Sambo.


"Aku telah mengkhianati mu, sayang! Aku kotor ... Aku mencintaimu Sam. Sakit sekali rasanya saat kamu pergi meninggalkan aku! Sam ..."


Rina meringkuk dilantai kamar mandi, dia ingin memperjuangkan hubungannya dengan Sam, namun tidak tahu harus memulai dari mana.


Lagi-lagi Rina membenturkan kepalanya ke dinding kamar mandi, berteriak keras, memanggil nama Sam dan terkadang Rudi.


"Papa ... Jemput aku! Aku enggak mau hidup di dunia ini! Aku sudah lelah untuk berpura-pura ...! Papa!!!"


Sam yang mendengar rintihan Rina dari balik pintu, ikut menangis mendengar wanita yang dia cintai serapuh dan sehancur ini.


Saat Sam tengah meringkuk duduk di depan pintu kamar mandi, menunggu sang wanita keluar dari sana, namun tak kunjung dia dengar suara Rina yang menangis, perlahan Sam membuka pintu kamar mandi ...


Dia melihat janda cantik itu hanya meringkuk, duduk di lantai kamar mandi, tanpa sehelai benangpun, dibawah guyuran shower.


Bergegas Sam mengambil handuk yang ada di kamar mandi tersebut, membantu Rina untuk menyeka tubuh wanita nya, kemudian menggendong Rina untuk ia bawa ke ranjang peraduan mereka.


Sam mengusap lembut kepala Rina yang masih terisak, berkali-kali mengecup lembut kening wanita itu hingga terlelap.


Kali ini Sam tak mampu berkata-kata. Dia dipermainkan oleh perasaan dan keadaan.


Berulang kali otaknya berfikir keras, untuk menyelamatkan janda cantiknya, dari semua pria yang menginginkan nya.


Perlahan Sam menghela nafas panjang, dia masih duduk disamping Rina, mengusap hanya untuk memastikan kondisi wanitanya.

__ADS_1


"Aku akan membuat perhitungan dengan Sukenru. Aku tidak ingin dia merebut semua yang menjadi milik ku. Untung selama ini aku memiliki bisnis yang lain, selain dengan nya. Rugi tidak masalah, yang penting aku harus membuat keputusan demi menyelamatkan Rina ..."


Lagi-lagi Sam mencari semua data perjanjiannya dengan Sukenru, melihat semua poin-poin perjanjian jika mereka tidak bekerja sama lagi.


Sam mengusap wajahnya, mengganti pakaian, untuk segera beristirahat menemani jandanya.


"Aku akan terus menjaga mu, dan akan memperjuangkan hubungan kita. Ada, atau tanpa restu dari keluarga kita. Aku tidak peduli siapa kamu, Rin ... Bagi ku, kamu adalah Rina ku! Rina yang aku kenal sebagai seorang wanita polos yang memiliki masa lalu kelam. Kita akan ke Bali besok, untuk meresmikan pernikahan kita ..."


Hanya pikiran itu yang ada dalam benak Sambo, tak ada yang lain. Karena selama tinggal bersama dengan Rina, hidupnya sangat berbeda dari sebelumnya. Lebih teratur, bahkan memiliki warna yang berbeda.


Sam mendekap tubuh Rina, membawa wanita itu masuk ke dunia mimpi nya.


.


Pagi menjelang, suara burung berkicau dengan merdu ... Rina yang masih terlelap, perlahan mengerjabkan matanya.


Melihat wajah tampan yang mampu merebut hatinya, masih mendekap erat tubuh rampingnya.


Rina beringsut, untuk semakin mempererat pelukannya, kembali menutup matanya, tanpa mau menyapa Sam yang telah bangun lebih dulu.


"Maukah kamu menikah dengan ku Rina Amelia?"


Sambo berbisik ketelinga Rina, membuat wanita itu menyembunyikan wajahnya dicerug leher kekar pria yang masih mendekap.


"Aku tidak akan memintanya lagi ... Tapi aku serius sayang, aku ingin menikah dengan mu. Jangan pernah pergi dari ku! Kita akan memiliki anak yang banyak, bahkan aku akan membawa Luisa tinggal bersama kita. Aku mencintaimu ..." kecupnya pada kepala yang masih enggan menjawab pertanyaan Sam.


Rina kembali menangis, "Apakah pernikahan itu akan membuat kita bahagia dan tidak bertemu dengan mereka lagi?"


Sam hanya tersenyum tipis, "Aku tidak akan menjanjikan kebahagiaan padamu, tapi aku yakin kamu bahagia bersama ku. Kita masih bisa seperti teman, sahabat, musuh, bahkan kita bebas melakukan apapun dengan bahagia. Aku tidak ingin melihat mu jatuh lebih dalam. Lepaskan semuanya, aku yakin hidup kita akan indah dengan menikah," jelasnya meyakinkan Rina.


Rina memberanikan diri menatap iris mata Sam, "Aku tidak baik untuk kamu Sam ... Kamu pria yang baik, bahkan kamu sangat mengerti akan aku."


Sam tersenyum lebar, "Siapapun kamu, apapun yang mereka katakan tentang mu, kamu lah wanita ku ..."

__ADS_1


Rina memejamkan matanya, mencium bibir Sam dengan lembut. Kali ini dia ingin menikmati indahnya dicintai pria sehebat Sambo ...


__ADS_2