Gairah Janda Rebutan

Gairah Janda Rebutan
Jika Amel hamil ...


__ADS_3

Di sudut kota metropolitan, masih berdiri dengan penuh perasaan khawatir wanita paruh baya, Lilyana. Yang masih menantikan Lidya meninggalkan Ibhen dari ruang perawatan intensif rumah sakit jantung.


"Apa yang di lakukan wanita tua itu? Mengapa dia begitu lama berada di dalam kamar? Apakah dia tidak khawatir dengan rumahnya ...? Atau pembantu nya yang akan membawa semua harta benda yang ia miliki ..."


Matanya seketika menoleh kearah Olivia yang semakin lama semakin mendekat pada Lilyana.


Wajah cantik alami Olivia semakin terlihat sangat jelas, saat gadis berusia 16 tahun itu masih di balut t-shirt ketat dan celana jeans setengah lutut. Busana yang gadis belia itu kenakan sejak siang hari.


Olivia tertegun, melihat bahwa Lilyana kembali ke rumah sakit, tanpa ada perasaan takut ataupun berdosa telah menyakiti Lidya. Ia bertanya seolah-olah tidak ingin membahas kejadian siang yang sangat menyakitkan bagi Sam, sang pujaan hatinya.


"Maaf Nyonya, apa yang kamu lakukan di sini? Bukankah Tuan Sam menegaskan padamu, agar kamu kembali ke kota mu? Jangan memperkeruh suasana, karena Tuan Ibhen anfal setelah kejadian tadi siang," jelasnya seperti orang asing.


Lilyana tertegun mendengar penuturan Olivia. Hanya bisa menjawab dengan pertanyaan kembali, "Apa? Mas Ibhen koma? Apa kata dokter? Bukankah kalian memiliki dokter pribadi?"


Oliv menautkan kedua alisnya, tersebut lirih, menaikkan kedua bahunya. Ia percaya pada Lidya, namun tidak untuk Lilyana.


Walaupun Lilyana merupakan Ibu kandungnya, tapi Lidya lah yang merawatnya selama ini dengan penuh kasih sayang. Pernyataan Lidya yang menyatakan bahwa Oliv merupakan anak Bi Narsih, bagi gadis cantik itu merupakan satu hal yang wajar.


Namun, kelakuan Lilyana lah yang diluar batas kewajaran ... Karena telah berani melakukan sebuah kesalahan besar dalam mencari kesenangan sendiri, sehingga merusak kebahagiaan orang lain dan keluarganya sendiri.


Olivia menerobos masuk ke dalam kamar Ibhen, karena Lidya memintanya untuk membelikan segelas jus sebagai pengganti makan malamnya.


Gadis kecil itu berbisik ketelinga Lidya, "Nyonya ... Di luar ada istri muda Tuan Ibhen."


Lidya mendecih, "Ciih, masih berani si jallang itu melihat suami ku? Apakah wanita itu tidak memiliki etika serta malu? Dia pikir suami ku masih mau menerima jallang itu? Kamu tunggu Tuan, aku akan membereskan wanita laknat itu!" geramnya.

__ADS_1


Akan tetapi Olivia menahan lengan Lidya, "Jangan Nyonya. Lebih baik kita di sini saja, tidak usah memperdulikan wanita itu. Karena Tuan Ibhen koma, disebabkan oleh kelakuan dia yang hanya meminta perhatian dari Nyonya agar di akui sebagai istri kedua."


Lidya mendelik tajam, melihat kearah luar, kembali mengalihkan pandangannya pada Olivia, melanjutkan ucapannya, "Baik ... Malam ini kamu jangan tinggalkan aku. Kita menginap di sini saja. Aku tidak ingin dia dan anak jallang nya itu, kembali mengganggu kesehatan suamiku!"


Olivia mengangguk membenarkan, dia sangat menyetujui semua keputusan Lidya malam ini, yang memutuskan untuk menginap di rumah sakit.


Olivia menunduk hormat, meminta izin pada Lidya untuk memberi kabar pada Sambo, "Nyonya, aku memberi kabar dulu pada duda ku! Semoga dia tidak jadi kembali ke mansion nya yang berada di mall interior."


Lidya mengayunkan tangannya ke udara, memberi isyarat bahwa dia mengizinkan agar Olivia memberi kabar pada Sambo.


Olivia duduk tidak jauh dari tempat Lidya berdiri. Di ruang VVIP tersebut masih tersedia ranjang kecil bagi yang menemani pasien.


Olivia menanti Sam agar menjawab panggilan teleponnya, namun belum ada jawaban yang berarti. Lebih dari tiga kali gadis belia itu terus menghubungi Sam, baru ada jawaban dari seberang sana ...


["Hmm ..."]


["Baiklah. Aku akan segera kesana!"]


Sam mengakhiri panggilan telepon dari Olivia, sementara gadis itu hanya bisa tersenyum tipis menatap langit-langit kamar rumah sakit.


"Jika aku benar-benar adik tiri dari duda tampan Sambo, berarti pupus sudah harapan ku untuk menghabiskan waktu satu malam dengannya ..." tawanya menyeringai kecil, membuat Lidya menepuk bahu Olivia.


"Aaauugh ... Nyonya, sakit!" rengeknya.


Lidya duduk di samping Olivia, mengusap lembut punggung gadis belia yang sangat ia sayangi walau hanya dalam hati ... "Istirahatlah, semoga Papa cepat siuman."

__ADS_1


Oliv termenung, saat mendengar Lidya menyematkan nama Papa dihadapan gadis itu. Terdengar seperti wanita paruh baya itu tengah menyiratkan bahwa Olivia putri kandung Ibhen.


Lidya menepuk pelan pahanya, meminta Olivia agar tidur di pangkuannya seperti yang mereka lakukan di rumah.


Olivia dapat merasakan kasih sayang dari Lidya, maka dari itu ia selalu mengikuti nasehat orang yang selalu menjaga, dan merawatnya sejak kecil.


Walau sesungguhnya Lidya merupakan wanita yang sangat tegas serta keras, namun dia memiliki jiwa keibuan yang hangat, bahkan sangat menyejukkan.


Mereka berdua terlelap, dengan tangan halus Lidya mengusap lembut kepala Olivia yang berada di pangkuannya.


.


Di kamar hotel bintang lima, tengah tertidur janda kembang yang menjadi rebutan tiga pria, dan menjadi penyebab komanya Ibhen Santoso, sehingga membulatkan tekad Sam untuk mengakhiri hubungannya dengan Rina, sesuai pembicaraan nya dengan Sukenru.


Semua ini bukan untuk meraih siapa pemenang dan siapa yang kalah. Bagi kedua pria yang saling terbuka itu, jalan satu-satunya menjauh dari Rina untuk sementara waktu merupakan hal yang baik, di bandingkan melihat semua keluarga hancur berantakan. Bahkan akan mengancam nyawa Ibhen, dan akan menjadi kehancuran bagi Keluarga Sambo.


Sukenru masuk ke kamar perlahan. Bergegas dia mengganti pakaiannya, kemudian beranjak naik ke ranjang kamar yang di kuasai oleh Rina.


Pria oriental itu membatasi tidur mereka, agar tidak menyentuh Rina sesuai kesepakatan mereka berdua.


Bibir Sukenru tersenyum sumringah, saat melihat wajah cantik Rina yang tertidur dengan posisi yang sangat lucu. Mulut ternganga, kedua tangan naik ke atas, membuat piama yang di kenakan Rina terangkat keatas, mempertontonkan perut tipis yang halus dan mulus.


Sukenru mengalihkan pandangannya, dia membalikkan tubuhnya, tak ingin tergoda seperti beberapa waktu lalu.


Beberapa kali dia ingin melihat janda cantik itu tertidur, namun ada sesuatu yang tiba-tiba terjaga, membuat Sukenru bersusah payah memejamkan matanya agar terlelap.

__ADS_1


Benar saja, Sukenru mampu mengendalikan dirinya ... Agar Rina percaya pada ucapan pria itu.


Seketika Sukenru teringat akan sesuatu, "Bagaimana jika Amel hamil anak Sambo? Kenapa tadi aku tidak bertanya pada pria melankolis itu? Aaagh ... Semoga Tuhan melindungi hubungan ku dengan janda ini. Jika dia hamil, sepenuhnya aku akan bertanggung jawab. Aku tidak peduli, yang penting aku menjaga amanah Om Rudi Sunaryo untuk tetap menjaga putrinya yang ternyata sangat membangkitkan gairah kelaki-lakian ku! Ooogh damn it ...!" geramnya meremas kuat bantal dan menggigit selimut dengan keras.


__ADS_2