
Suasana kamar yang terasa berbeda dari biasanya, membuat Rina hanya bisa pasrah apa yang sudah menjadi keputusan terbaik dalam hidupnya. Handphone yang tak kunjung berbunyi, membuat janda cantik itu semakin yakin, bahwa Sambo telah meninggalkannya.
"Hmm ... Ternyata Nyonya Lidya lebih berhak pada Sambo, daripada diriku. Yah ... Lebih baik aku meninggalkan Sam, dan menata masa depan ku bersama Sukenru. Aku yakin Koko bisa membawa ku pergi meninggalkan negara ini ..."
Rina menoleh kearah Sukenru, yang masih berjibaku dengan laptop dan menyelesaikan pekerjaannya, mengajukan beberapa pertanyaan ...
"Ko ..."
Sukenru mendehem, namun tidak menoleh, "Hmm ..."
Rina menghela nafas berat, "Kita stay di Ausy saja, yah? Jangan di Singapura. Aku ingin memiliki sebuah bisnis di sana. Yang akan menjadi impianku sejak dulu ..."
Sukenru menghentikan aktivitasnya, dia berdiri, mendekati Rina, tersenyum sumringah sambil bertanya ...
"Boleh Koko peluk dari belakang?"
Pertanyaan Sukenru membuat Rina menoleh dengan kesal.
"Koko ini lucu, aku nanya kita stay di Ausy malah minta peluk! Dari kemaren Koko enggak pernah menjawab pertanyaan aku! Kesel banget! Jauh-jauh, jangan peluk-peluk! Nanti dari peluk minta yang lebih! Koko yang bilang enggak mau menyentuh sebelum menikah. Tolong jangan macam-macam lagi! Kalau Koko berani macam-macam sama aku, aku pergi dari kalian semua!" sesalnya.
Sukenru mengangguk-angguk patuh, dia tak ingin kehilangan Rina kali ini. Baginya, janda cantik itu sangat pantas untuk diperjuangkan, demi membahagiakan keluarganya.
"Memangnya kamu mau bisnis apa? Restoran? Butik? Semua Koko akan wujudkan, kapan Amel mau kita berangkat ke Australia? Melbourne? Perth atau di mana kamu mau stay?"
"Melbourne!"
"Bisnisnya?"
"Restoran!"
"Oke ... Setelah kita menikah, langsung berangkat ke Melbourne! Tidak menunggu besok, lusa ataupun restu dari keluarga. Semua akan Koko lakukan buat kamu. Apa semua perencanaan restoran sudah ada?"
"Belum!"
__ADS_1
Sukenru mengangguk mengerti, dia tidak ingin berdebat lagi dengan wanita yang masih menatap kaku padanya.
"Hmm ... Koko sudah selesai. Apakah kita mau berangkat sekarang?"
"Iya!"
Sukenru menarik nafas dalam-dalam, dia menggaruk tengkuk yang tidak gatal, tersenyum melihat tingkah Rina yang semakin menggemaskan.
Rina tak memberi ruang pada pria oriental itu, dia langsung menggandeng lengan Sukenru, yang kelabakan mengambil handphone serta memeriksa dompet agar tidak tertinggal.
"Sabar dong, Mel! Jangan buru-buru," rungutnya mengantongi dompet dan handphone kedalam tas tangan miliknya.
Rina justru tak menghiraukan celotehan pria yang salah tingkah, saat janda cantik itu meloncati tubuhnya, agar menggendongnya di belakang, tanpa aba-aba terlebih dahulu.
Sukenru yang cepat tanggap, berhasil menerimanya tubuh janda yang sudah ada di belakangnya.
"Ternyata kamu tidak begitu berat, tapi hmm ..." senyumnya menyeringai lebar, karena merasakan punuk kenyal itu menempel di punggungnya.
Rina tak memperdulikan ucapan Sukenru, kali ini dia hanya ingin menikmati, bagaimana jika di cintai pria dengan caranya.
Janda kembang itu merebahkan kepalanya di bahu Sukenru, dengan tangan masih melilit di leher pria itu. Sesekali Rina menggigit kecil telinga calon suaminya itu hanya untuk menggodanya.
.
Sangat berbeda dengan Sambo, dia justru tengah berada dalam kekhawatiran yang teramat sangat. Karena melihat kondisi Ibhen semakin mengkhawatirkan.
"Ooogh Tuhan ... Sembuhkan lah pak tua ini! Jangan biarkan dia pergi lebih dulu, karena dia harus menyelesaikan semua masalah yang sudah dia buat. Aku mohon Tuhan ..."
Olivia tertegun, sejenak mendengar dokter mengatakan bahwa Ibhen tidak ada harapan untuk hidup, karena kondisi jantungnya semakin melemah.
Sementara Lidya hanya bisa pasrah, duduk disamping Ibhen sambil terus menangis.
"Pa ... Bangun Pa! Mama maafkan semua perbuatan Papa. Kasihan anak-anak, cucu kita, semua Pa. Bangunlah sayang, Mama akan memaafkan Papa, dan mengizinkan Lilyana untuk tinggal di kediaman kita sesuai permintaan Papa dua bulan lalu. Mama akan melakukan apa saja demi Papa sembuh."
__ADS_1
Sambo hanya pasrah, atas semua yang diucapkan sang Mama demi kesembuhan Ibhen. Baginya lebih baik Ibhen mati tertanam di makan cacing, daripada harus menyaksikan sang Mama di madu dengan tinggal satu atap.
Sambo mendekati Lidya, mengusap lembut punggung sang Mama, "Jangan bicara seperti itu. Papa sudah berpisah dari Lilyana sejak beberapa tahun lalu!"
Lidya mendecih, menoleh kearah Sam, "Cih ... Mana pernah dia meninggalkan jallang itu! Buktinya dia menginginkan aku menerima wanita yang tidak tahu malu itu beberapa bulan lalu, dengan alasan Oliv. Aku semakin tidak sabar, benar enggak gadis ini adik tiri mu? Atau jangan-jangan anak siapa itu? Suami Maria ... Thamrin! Ya Thamrin. Mereka kan sama-sama gila. Aneh, wanita seperti itu dikejar-kejar! Janda pula statusnya. Kayak bergairah kali janda itu diperebutkan oleh kedua pria ini!"
Sam menelan ludahnya, dia kembali teringat pada Rina, yang telah tidur dengan kedua pria tersebut.
"Benar kata Mama. Jika aku menikahi Rina, akan berdampak buruk bagi keluarga ku. Semua orang mengetahui siapa Ibhen dan Thamrin yang tidak pernah baik sejak dulu. Aaagh ... Ada baiknya Sukenru merebut janda cantik itu. Setidaknya aku sudah pernah menghabiskan waktu bersama dengannya beberapa bulan. Tapi bagaimanapun, aku ingin berpisah baik-baik dengannya. Mungkin Sukenru akan menjadi pria yang lebih mengerti Rina daripada aku, yang tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan tampak seperti pria pengecut!" gumamnya dalam hati, menggenggam erat jemari Ibhen yang masih mengepal.
Olivia hanya bisa menahan diri atas ucapan kedua orang yang dia sayangi tersebut. Dia kembali ke sofa, memijat pelan pelipisnya.
"Jika aku memang anak Tuan Ibhen, berarti pupus sudah harapan ku untuk tidur dengan duda tampan beranak satu ini. Yaaah ... Mungkin sudah saatnya aku harus menerima cinta Andre. Walau wajahnya tak tampan, dan hanya tukang parkir di mall interior, setidaknya aku sadar diri mencari pasangan yang seumuran ..."
Ketiganya hanya berjibaku dengan pikiran masing-masing, menunggu hasil keputusan dokter spesialis jantung yang akan memberikan keputusan, karena pihak keluarga menginginkan membawa Ibhen ke Singapura.
Saat kamar rumah sakit tampak hening, terdengar suara ketukan dari arah luar ruangan.
Pintu ruangan terbuka lebar ... Betapa terkejutnya Sam, saat melihat mantan istrinya Karenina dan putri kesayangannya Luisa, berdiri di hadapannya.
Karenina yang mendengar dari Lidya, bahwa Ibhen koma dan sangat merindukan Luisa, bergegas mantan istri Sam itu membawa anaknya ke rumah sakit. Bagaimanapun, Ibhen merupakan Eyang Opung yang baik bagi putri kesayangannya.
"Luisa!"
"Daddy!" pekik gadis kecil itu meminta melepas gendongannya dari sang Mami, untuk beralih ke pelukan Sam.
Sam mendekap erat tubuh mungil putrinya. Memeluk tubuh mungil yang selama ini ia rindukan.
Sam mendekati Ibhen yang masih berjuang melawan penyakitnya, berbisik pada pria paruh baya tersebut, "Pa ... Bangun. Luisa ada di sini buat Papa. Kami semua merindukan Papa ..."
Sam meminta putrinya agar mencium pipi Eyang Opung, sambil mengusap-usap rambut Ibhen ...
"Rina ..."
__ADS_1
Hanya satu kata itu terucap dari bibir Ibhen, membuat Sambo yang mendengar nama tersebut, ingin mencekik sang Papa hingga mati.