Gairah Janda Rebutan

Gairah Janda Rebutan
Butakan mata hati


__ADS_3

Sudah lebih dari seminggu Rina menghabiskan waktu bersama di rumah baru mereka sebagai pasangan yang entah berantah statusnya.


Perasaan kedua-nya hanya nyaman, sesuai keinginan Rina pada Sam.


Namun tidak untuk Sam. Pria itu kini berusaha melepaskan Rina dari ketergantungan nya pada sang Papa.


"Bebeb, untuk sementara waktu kita di sini dulu, yah? Aku lebih tenang berada di sini sama kamu, di bandingkan apartemen. Kita seperti pasangan suami istri, dan aku sangat suka cara kamu merawat ku. Dari ujung rambut hingga ujung kaki ... Kamu memang tipe wanita idaman."


Sam mengecup bibir basah Rina yang tengah berjibaku dengan spatula dan teflon.


"Hmm, tapi kekasihku akan kembali tiga hari lagi. Bagaimanapun aku harus menantinya di apartemen, sayang! Kasihan kalau uang 300 juta yang dia janjikan lepas begitu saja. Aku kalau ngambek, kamu lihat sendiri ... Langsung deh transfer. Dia pikir ambekan aku bisa di beli dengan uang ..." rungutnya.


Sam tersenyum tipis, bertanya selayaknya pria yang di landa kebimbangan, "Emang kamu cemburu dia pergi dengan wanita lain?"


Rina menggelengkan kepalanya, "Aku tidak cemburu akan hal itu! Tapi dia telah membohongi aku! Dia bilang dia kerja, ternyata dia berlibur dengan Mam-- ... Hmm sudahlah, lupakan saja!"


Sam mengerenyit keningnya, berfikir sejenak, "Baiklah ... Lakukan saja apa yang kamu mau! Tapi ingat, aku tidak ingin kamu berhubungan lagi dengan pak tua itu, bisa?"


Rina menoleh kearah Sam, "Apa maksud mu? Aku dan Bang Ibhen baru juga dekat! Lagian kita tidak ada ikatan apa-apa, sayang ... Please, jangan buat hati ku semakin merasa bersalah sama kamu. Hubungan kita hanya sebatas teman. Aku suka kamu, kamu suka aku ... Jadi yaaah ... Begini ..."


Sam menarik nafas dalam-dalam, tidak menyangka bahwa janda cantik itu akan mengatakan hubungan mereka hanya sebatas teman, "Teman apa maksudmu? Apakah semua teman pria mu bisa berkencan dengan mu? Come on beb ... Jangan bohongi perasaan mu! Kita melakukannya pakai hati, bukan sekedar teman. Cara kamu berciuman dengan ku itu sangat berbeda!"


Rina memejamkan matanya, dia enggan untuk membahas tentang perasaan saat ini. Ada setitik rasa kecewa pada pria, walau itu bukan dari Sambo.


Melainkan dari Boni dan Bambang, kedua mantan suaminya.


"Sejujurnya ya! Aku sangat menyukai semua sentuhan dari mu! Tapi kali ini aku harus menyelesaikan semua urusan ku. Setelah itu, terserah ..."


"Sampai kapan hah? Sampai aku jengah menunggu mu di balik tembok apartemen, mendengar dessahan mu, terus selama itu juga kita main kucing-kucingan begini? Bebeb dengar, jangan butakan mata hati mu untuk kilaunya materi! Tapi buatlah dirimu di hargai saat cinta itu hadir! Bukan di lawan seperti saat ini!"

__ADS_1


Rina terdiam tak bergeming, wajahnya memerah karena sedikit terhina atas tuntutan Sam padanya.


"Hmm sayang, bisakah kamu tidak menuntut ku saat ini? Kita belum lama saling kenal! Saat ini yang kita rasakan hanya perasaan nyaman. Bukan ketertarikan sedari awal. Please ... Kasih aku waktu. Semua butuh proses! Aku tidak memikirkan materi saja, melainkan aku ingin menguras harta Bang Ibhen, karena selama ini dia hmm, eee, sudahlah. Jangan berdebat lagi ..."


Rina melanjutkan masak nya, membiarkan Sam dengan pikirannya sendiri.


Kali ini Sam terlalu cepat bertindak, hanya karena tidak ingin janda cantik itu berbagi tubuh dengan sang Papa di luar konteks balas dendam.


'Kenapa wanita selalu merasa benar? Tidak pernah kah mereka menganggap dirinya lebih berharga? Lebih dari 300 juta aku bisa memberikan pada mu! Wanita bodoh ...!" geramnya berlalu meninggalkan Rina, melanjutkan pekerjaannya.


Rumah yang tampak rapi, senantiasa bersih karena Rina selalu membereskan dengan sangat baik dan terampil. Debu sama sekali enggan menempel dan dia sangat menikmati keindahan rumah baru mereka.


"Sayang, kemaren kamu ada membeli bingkai foto, kenapa kamu tidak memajang foto-foto yang kemaren? Kita bisa menempelkan foto putrimu, jika kamu mau. Aku yakin kamu sangat merindukan nya ..."


Rina masih asyik menempelkan stiker yang mereka beli beberapa waktu lalu di ruang tamu. Sementara Sam hanya melihat, sesekali membantu janda cantik itu jika di minta.


.


Siang itu, Rina dan Sam telah kembali ke apartemen mereka. Tanpa mau berdebat panjang dengan pertanyaan-pertanyaan yang selalu ada di benak mereka berdua.


"Mau di bawa kemana hubungan kita ...!?"


Hanya itu yang ada di pikiran Sam, begitu juga Rina. Tapi kali ini mereka berdua harus mengalah, menerima real life yang masih berjalan.


Benar saja, belum 60 menit Rina tiba di apartemen Ibhen, pria paruh baya itu tiba di apartemennya dengan berbagai macam jenis paper bag yang di bawa untuk janda cantiknya.


Rina tak ingin berbasa-basi seperti biasa, dia lebih memilih diam untuk meredam rasa amarahnya.


Cemburu? Tentu tidak. Di benak Rina kali ini Ibhen hanya pria hidung belang yang suka berbohong.

__ADS_1


Ibhen memeluk Rina dari belakang yang masih berdiri di ruang tamu, saat melihat paper bag barang-barang branded ada di hadapannya.


"Kamu tidak senang sayang?" kecup Ibhen di leher belakang Rina sambil meraih benda kenyal yang tampak menggairahkan.


Rina menghela nafas panjang, "Apa maksud Abang bohong sama aku? Abang bilang keluar negeri sendirian karena bekerja. Tapi Abang pergi dengan wanita lain. Apa maksudnya? Aku enggak suka Abang bohong!"


Ibhen terdiam, wajahnya seketika berubah, "Dari mana anak ini tahu aku pergi dengan wanita lain? Apakah di memiliki mata-mata ...?" gumamnya dalam hati.


Ibhen membalikkan tubuh Rina, menangkup wajah cantik itu, "Sayang dengar, Abang benar-benar pergi untuk urusan pekerjaan. Bukan berlibur! Kami bertemu di gedung yang sama, dan memang ada rute jalan bersama!" jelasnya membela diri.


Rina hanya tersenyum lirih, mengalihkan pandangannya ke tembok pembatas apartemen. Ada sedikit perasaan bersalah. Seketika dia terkenang akan Sam, "Apakah Sam tengah mendengarkan perdebatan kami ...?"


Agar tidak menjadi bahan perdebatannya lagi dengan Sam nantinya, Rina memilih membungkam bibir Ibhen dengan bibirnya.


Mengarahkan tangan kanan pria itu pada bagian kenyalnya, untuk melepaskan segala kerinduannya seperti janji Ibhen akan mencairkan dana sebesar 300 juta jika dia kembali ...


Benar saja, Ibhen seperti pria yang kelaparan, tidak ingin melewatkan kesempatan yang telah tersaji di depan matanya.


Keduanya bertempur dalam gerakan yang tak seperti biasa, hanya untuk membuktikan omongan Sam.


Jika Ibhen tidak sekuat pria muda itu. Benar saja, Rina selayaknya wanita yang tengah berpura-pura menikmaati setiap sentuhan-sentuhan pria tua itu.


Puas? Tentu tidak ada kata-kata itu setelah dia menghabiskan waktu selama seminggu dengan Sam.


Ibhen yang hanya bermain untuk memuaskan hasratnya semata, sementara Rina hanya memberikan wadah dengan dessahan dan errangan yang selayaknya wanita kesepian dan kehausan.


Rina terdiam, saat tubuh mapan itu terkulai lemas, meninggalkan janda cantik itu dalam dahaga yang tak tersalurkan.


"Kok semakin lama, Bang Ibhen semakin lemah? Apakah Mama menghabisi sebagian cairan pak tua ini ...?" sesalnya menahan hasrat yang masih menggelora.

__ADS_1


__ADS_2