Gairah Janda Rebutan

Gairah Janda Rebutan
Terbaring dalam peti mati


__ADS_3

Bergegas Sambo memacu kecepatan mobilnya, menembus kemacetan yang semakin memuakkan pemandangannya, membuat dia terlihat bodoh hanya karena nama cinta ...


"Aaagh ... Aku mencintaimu Rina ..."


Saat tiba di hotel keluarga Sukenru, Sambo berusaha menghubungi Rina, dengan wajah sedikit khawatir dan letih karena beban pikiran.


Kali ini pikiran Sam berkecamuk, hatinya memikirkan Rina, namun kepalanya memikirkan Ibhen sang Papa.


Pilihan yang sulit memang. Namun, dia harus menghadapi kenyataan ini untuk menyelamatkan hubungannya dengan Rina simpanan sang Papa.


Saat tangannya masih sibuk menghubungi Rina, seketika bola matanya beradu tatap dengan janda cantik yang berdiri dihadapannya, yang hanya berjarak 10 meter.


Sambo menatap dengan wajah iba dan memelas ... "Please ... Jangan tinggalkan aku ...!"


Hanya itu yang ada di ujung bibirnya, saat berjalan perlahan mendekati janda cantik yang ada dihadapannya.


Wajah cantik Rina yang tampak sembab, karena perasaan cintanya yang tak mampu ia bendung, hanya bisa menunggu pria sebaik Sambo datang mendekatinya.


Saat keduanya semakin mendekat, Rina tersenyum tipis, "Apa yang kamu lakukan di sini? Pria bodoh!" sesalnya dengan senyuman geli namun menyiratkan kesedihan.


Sam mendekati Rina, perasaannya semakin tak menentu saat mereka kembali di pertemukan didalam situasi yang berbeda.


"Aku ingin mendengarkan semua tentang mu, dari bibir mu sendiri. Agar kita bisa melanjutkan hubungan kita yang akan berlanjut ke jenjang pernikahan. Aku mohon Rin ... Jangan bohongi perasaan mu! Kamu mencintai aku, dan kamu mengakuinya bebeb ..."


Rina tak kuasa menahan rasa sedihnya. Selama mereka menghabiskan waktu bersama, baru tadi dia mengatakan bahwa dirinya mencintai Sam.


Saat mereka tengah larut dalam kesedihan, pihak hotel memberikan kunci kamar pada Rina, dan menunduk hormat pada pria yang ada dihadapan janda kembang tersebut.


"Silahkan Nona Amel ... Tuan Sukenru akan datang nanti malam ..."

__ADS_1


Rina mengangguk tersenyum, menerima kartu dari pihak hotel, kembali mengalihkan pandangannya kearah Sam ...


"Ikutlah dengan ku!"


Rina meninggalkan loby hotel, menuju kamar yang berada di lantai 18. Kedua-nya tampak asing, karena pihak hotel melayani Rina dengan sangat baik, mengantarkan wanita itu hingga ke kamarnya.


Seketika pintu kamar tersebut lebar, Rina mempersilahkan Sambo untuk masuk kedalam kamar, tanpa perasaan takut ataupun canggung.


Sam menghela nafas panjang, matanya sedikit awas, melihat kemewahan yang di berikan Sukenru pada wanita yang berstatus janda itu.


Sam memilih duduk disofa yang tersedia, begitu juga Rina.


Rina memilih duduk persis dihadapan Sam, yang masih diam membisu tak seperti awal.


Sam kembali menarik nafas panjang, bertanya karena dihantui rasa penasaran, "Siapa kamu? Bisakah ceritakan siapa dirimu sebenarnya pada ku? Dan mengapa menutupi semua identitas dirimu? Apa yang terjadi?"


Perlahan Rina beranjak, mendekati sebuah lemari besar yang tersembunyi di dalam kamar yang luas tersebut, tepat di belakangnya.


Sam berdecak kagum, melihat kearah lemari yang sangat luas dan mewah ...


"Apa maksud kamu selama ini, Rin? Apa yang kamu sembunyikan dari aku? Jawab aku, bebeb!"


Lagi-lagi Sam menggeram, dia tidak sabar ingin mengetahui semua tentang wanita yang ternyata sangat misterius ini.


Rina mengambil beberapa foto keluarganya, dan berkas tebal yang berada di dalam lemari tersebut.


Perlahan Rina melangkah mendekati Sam yang masih ternganga melihat foto-foto keluarganya, membuat dia berdecak kagum melihat kecantikan jandanya masa lalu.


"Benarkah kamu putri Rudi Sunaryo yang tidak diketahui keberadaannya selama ini? Amelia Anandita Sunaryo yang di elu-elukan Sukenru akan menjadi istrinya. Sehingga dia memberikan kepercayaan padaku untuk mengelola kebun sawit yang berada di Kalimantan, dengan nilai fantastis? Apa saham mall interior milik ku, 30% menjadi milik mu? Kenapa kamu tidak pernah bicarakan tentang ini padaku? Kamu menganggap aku apa, Rin? Jawab ... Aku butuh jawaban dari bibir kamu! Bukan dari semua yang ada dihadapan ku ini. Please Rin ..."

__ADS_1


Rina masih belum menjawab. Perlahan dia menghela nafasnya dalam, tersenyum sumringah menatap Sam yang masih tidak percaya siapa dirinya. Dengan berat hati dia menguraikan secara detail siapa dirinya.


"Aku hanya ingin melihat kehancuran Ibhen saat mendapatkan informasi tentang semua harta kekayaannya melalui Thamrin. Awalnya, aku hanya ingin menikmati hidup ku sebagai simpanan. Tanpa memikirkan semua yang aku miliki saat ini. Sehingga aku bertemu dengan mu, dan jatuh hati pada mu."


"Sebenarnya aku menghindari pertemuan ku dengan Mama ... Karena aku tidak ingin dia mengatakan siapa aku, sampai detik ini aku menerima pencairan cek senilai lima milyar yang aku tolak atas nama Lilyana. Aku menghubungi pihak Bank, agar tidak mencairkan dana sebesar itu, walau alasan yang dia ucapkan benar, atas berhak nya dia mendapatkan warisan dari almarhum suami tercinta. Maaf Sam, awalnya aku pikir kamu yang menjebak aku untuk masuk dalam permainan keluarga mu! Tapi di sini aku melihat, bahwa kamu merupakan pria yang baik dan bertanggung jawab."


Rina mengalihkan pandangannya, tak ingin melihat Sam jatuh lebih dalam karena kepura-puraan nya selama ini.


"Aku minta maaf pada mu! Tapi aku belum memutuskan untuk menerima pinangan Sukenru, yang baru mengetahui status ku seorang janda. Aku hanya ingin menikmati permainan ku, Sam ... Balas dendam ku pada pria yang ternyata adalah Papa mu ... Rasanya ini sangat lucu. Kita di permainankan dalam situasi yang sangat menyakitkan. Bayangkan aku dan Papa mu pernah berkencan, dan Papa mu pernah mengencani Ibuku, bahkan mereka menikah, sehingga memiliki seorang anak, yang sampai saat ini aku tidak mengetahui dimana keberadaan anak itu. Kini harus menelan pil pahit kehilangan pria baik dan tampan seperti mu. Bahkan kita lebih sering melakukan hal itu di rumah baru kita ..."


"Ooogh Sam! Bodoh sekali aku telah masuk dan larut dalam permainan ini! Bagaimana dengan rumah kita, mobil yang menjadi masa indah kita saat bersama ... Aku terperangkap dalam permainan ku sendiri. Jatuh hati pada anak pria yang pernah aku kencani. Drama apa ini, Sam?"


Sam hanya terdiam, bibirnya tak mampu berkata-kata. Matanya masih menatap lekat pada janda yang cantik menawan di hadapannya. Kelukaan, dendam, bahkan kebencian pada Ibhen dan Liliyana tampak terlihat jelas.


Sam menundukkan kepalanya, dia sedikit bingung dengan situasi cinta terlarang yang ada dalam lingkaran mereka.


"Apa kita tidak bisa bersama, Rin?"


Rina menyandarkan tubuhnya lebih dalam disofa kamar hotel yang sejuk.


"Entahlah Sam ..."


Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Rina.


Sam kembali mengingatkan pada Rina, akan rencana mereka berdua ...


"Bagaimana dengan Luisa? Janjimu yang akan membantu ku menjemput putri kesayangan ku. Dan kamu menjadi Ibu sambung untuknya? Bagaimana dengan acara makan malam dengan ibuku? Bagaimana dengan rencana yang telah kita susun dengan sangat baik? Apakah kita akan berakhir secepat ini? Bisakah kita mencari jalan keluarnya? Aku mohon ... Jangan egois! Kita bisa memulai semua dari awal, Rin ..."


Rina hanya tersenyum tipis mendengar permohonan Sam, baginya hanya satu, melihat pria bernama Ibhen Santoso terbaring didalam peti mati ... Just it ...

__ADS_1


__ADS_2