
Rina terus mengeerang memohon, agar pria yang masih sibuk bermain-main di bibir bawah sana segera mengunjungi lembah surga yang meminta agar segera di kunjungi.
Entah mengapa geliat kedua insan yang tengah di mabuk hasrat membara itu semakin menggebu-gebu.
Sam beberapa kali mengagumi keindahan lembah Rina, karena benar-benar sangat memikat dan menggairahkan.
"Hmmfh, sayanghh, please ... Do it!" mohon nya dengan tubuh menggeliat liar.
Rina tak kuasa membendung rasa ingin segera memiliki Sam seutuhnya, rasa penasaran beberapa waktu lalu semakin terasa sehingga membuat semakin mengkedut di bawah sana. Sesaat kemudian benda keras nan panjang itu tengah bermain-main di pintu surganya, membuat tubuh itu memohon ...
"Sayanghh ..."
Tatapan Rina membayang, jemarinya berkali-kali mengusap lembut bagian kenyalnya sendiri, seketika ...
Sam menghentakkan pinggulnya, memasuki lembah surga yang sangat indah ...
"Aaaagh ..."
"Ooogh ... Ini sangat indah baby, ooogh ..."
Sam benar-benar merasakan hal yang sangat berbeda, begitu memasuki surga yang sungguh menakjubkan dapat memijat miliknya di dalam sana.
Kaki semampai yang berada di bahu pria tampan itu, tengah memompa lebih cepat bahkan berkali-kali meracau.
"Oogh baby, kamu benar-benar membuat aku gila!"
Rina meremas kuat lengan Sam, menikmati hentakan tiap hentakan yang semakin lama semakin membuat tubuhnya bergetar dan merintih saat kebahagiaan itu datang ...
"Aaagh ... Samhh ... Le-le-lebihh dal-- ..."
Sam yang telah lama menjalani kesendiriannya sebagai seorang duda, merasakan kehangatan luar biasa dalam penyatuan hasrat dua insan yang masih mereguk keindahan di rumah baru mereka berdua.
Cinta, entahlah. Kali ini mereka dibuai gairah yang seketika membara bahkan enggan untuk mereda. Hasrat yang membawa mereka tanpa banyak bicara 'akan di bawa kemana hubungan antara dua insan yang tengah bergelora'...
Sam seorang duda terus menembus surga di bawah sana, di sambut errangan janda cantik yang menjepit kuat saat kedua-nya menembus nirwana secara bersamaan ...
Keringat bercucuran membasahi tubuh indah dua insan yang masih saling berpagutan. Bibir masih menaaut tanpa mau melepas dengan nafas masih memburu disertai tubuh yang bergetar saat hentakan terakhir Sam membasahi rahim sang janda.
__ADS_1
"You great baby, I love you ..."
Sam mengecup lembut kening Rina yang basah, tanpa mau melepas penyatuan mereka.
Rina menatap berbeda, dengan nafas masih tersengal-sengal hanya tersenyum tanpa mau menjawab.
Hanya Sam yang mampu mengucapkan kata cinta selama pertempuran dahsyat mereka. Hanya Sam yang mampu memberikan kepuasan dan kebahagiaan yang tak dapat di ucapkan dengan kata-kata ...
Mereka terlelap dalam pelukan, tidur dengan wajah saling bertemu.
Tepat pukul 17.00 waktu setempat, Sam terjaga. Tangannya terasa kebas karena di jadikan bantal bagi wanita di sampingnya.
Sam menatap wajah cantik itu penuh gairah, "Pantas saja Papa tergila-gila dengan janda ini. Ternyata dia benar-benar sangat memabukkan. Membuat aku pengen terus bahkan kecanduan ..."
Sengaja Sam tidak membangun kan wanita nya, mendengar deringan telpon dari dalam tas Rina yang sejak tadi memekakkan gendang telinganya.
"Siapa sih? Pasti Pak tua itu, sedang mencari keberadaan simpanannya ...! Brengsek ...!"
Sam meraih handphone milik Rina, melihat nama yang tertera ... 'Bang Ibhen' juga 'Bang Tham' ...
Pria itu hanya geleng-geleng kepala, sedikit penasaran melihat beberapa pesan yang masuk dari layar handphone di atas.
Sam menggeram, bahkan rahangnya tampak mengeras, "Aku tidak akan membiarkan wanita ini terus melanjutkan hubungannya dengan Papa ..."
Sam meletakkan handphone Rina kembali ke dalam tas kecilnya, menoleh kearah wanita cantik itu, mencari boxer nya yang terbang entah kemana.
"Aaaagh, ternyata di sini belum ada apa-apa. Handuk enggak ada, sabun juga belum di beli! Aaaaagh, kurang persiapan sebelum bertempur ..." sesalnya.
Tak lama Sam tengah mengumpulkan pakaiannya dan membuka-buka lemari pakaian yang masih kosong melompong, mencari sesuatu yang bisa dia jadikan untuk menyeka tubuhnya.
Rina terjaga, mengerjabkan matanya yang masih terasa sangat mengantuk, hanya bisa bertanya dengan suara manja, "Sam, eeh baby, aduuh sayang ... Kamu ngapain?"
Sam menoleh kearah Rina, "Kamu sudah bangun? Aku lagi mencari handuk atau apa gitu. Mau mandi tapi kita belum beli sabun, pakaian ganti. Oya, tadi ada yang menghubungi kamu. Aku enggak tahu siapa!" jelasnya memberikan tas kecil Rina.
Rina mengusap lembut kepalanya, merogoh handphone melihat siapa yang menghubungi nya.
Seketika wajah cantik itu berubah menjadi lebih garang, saat Lilyana dan Ibhen mengirimkan sebuah gambar tas branded yang sama padanya.
__ADS_1
Entah mengapa, hatinya semakin terasa sakit, "Ternyata Bang Ibhen berlibur sama Mama? Ooogh ...!" sesalnya melempar handphone itu ke lantai ...
PRAAANG ...!
Handphone yang dia beli dari gaji pertamanya, saat bekerja sama Thamrin retak seketika.
Sam bergidik, tak menyangka bahwa beberapa menit dia masih melihat Rina masih terlihat baik-baik saja kita mengumpat kesal.
Rina menggeram kesal, "Dasar janda brengsek! Kenapa juga masih jalan-jalan sama Pak tua itu. Jangan salahkan aku, jika aku tidak akan berdamai dengan keadaan saat ini. Aku semakin membenci kalian, wanita jallang! Aaaagh!"
Rina menghempaskan tubuhnya di ranjang, hanya tertutup selimut tipis, tanpa mau memperdulikan Sam yang tampak kebingungan.
Sam menghela nafas panjang, mendekati Rina. Dia tahu apa yang di rasakan janda itu. Karena apa yang Sam rasakan, sama seperti yang Rina rasa saat ini.
"Kenapa?"
"Ck, entahlah ..."
"Hmm, dia masih memiliki hubungan dengan wanita lain?"
"Kita jalan-jalan yuk! Liburan, ke Bali atau kemana gitu. Ngapain kita di sini. Aku juga pengen menikmati hidup ku, melihat pantai, melihat pemandangan yang indah ... Bahkan menghabiskan waktu bersama kamu di kamar seharian. Aku sedih sayang!"
Rina memeluk pinggang Sam agar lebih dekat dan sangat menenangkan nya.
Sam mengusap lembut punggung telanjang Rina, berusaha menghibur janda cantik yang kini tengah gundah gulana ...
"Kita nikmati liburan di rumah baru saja. Kita bisa jalan-jalan ke supermarket depan, kolam renang, makan-makan masakan kamu. Nanti kita bisa hunting sebuah tempat dan membuka restoran yang bisa kamu berikan resep masakan rumahan kamu, jadi deh sebuah bisnis. Aku yakin, kamu bisa memiliki restoran. Nama restorannya kita buat 'Restoran Janda Bergairah' atau bisa juga 'Restoran Janda Rebutan' ..."
Rina mencubit kecil perut Sam, "Iiighs! Kok nama restoran aneh seeh! Kan bisa kasih nama lain dong! Nanti banyak duda yang datang, atau suami orang semua yang makan di sana bagaimana? Aku enggak mau di bilang pelakor atau apa yah! Walau janda dua kali, aku bangga. Toh mereka akan menyesal telah meninggalkan aku!"
Mereka tertawa terbahak-bahak, kembali berpelukan mesra layaknya dua insan yang sedang jatuh cinta.
Kini Rina berada di atas tubuh Sam, sesekali mengecup lembut bibir pria itu, menatap lekat wajah tampannya ...
"Sayang, kamu anggap aku apa sih?" usapnya pada leher Sam yang tampak seksi, sambil melihat jakun pria muda itu turun naik ...
Sam tersenyum geli, "Kamu anggapnya apa ...?"
__ADS_1
Rina berpikir sejenak, kemudian berteriak, "Suami sekaligus selingkuhan!!!"
"Siiiaal ..." gerutu Sam.