
Suasana bahagia yang dirasakan Rina, tak sebanding dengan Ibhen, Sambo juga Thamrin. Ketiga pria ini justru tengah berada di ambang kehancuran hati yang tak berdarah, namun terasa sangat menyakitkan.
Bagaimana tidak, Thamrin melihat beberapa media online yang memberitakan bahwa Sukenru menikahi Amelia Anandita Sunaryo, yang ia lihat lebih mirip dengan Rina Amelia mantan secretarisnya.
Thamrin beringsut dari ranjang miliknya, mencari keberadaan Maria, yang tengah berada di dapur saat mempersiapkan makan malam untuk mereka.
"Ma ... Mama!" teriaknya menggema dari ruang keluarga menuju ruang makan, hingga melihat Maria di balik mini bar klasik yang menjadi pemisah ruangan.
Maria hanya mendehem, "Hmm ..."
Thamrin mengusap layar handphonenya, memperlihatkan foto pemberkatan pernikahan Amelia dan Sukenru ...
"I-i-ini Rina bukannya, Ma? Kok nama yang tertulis beda? Amelia Anandita Sunaryo, sepertinya dia anak dari almarhum Rudi Sunaryo? Apakah dia hmm ... Atau jangan-jangan dia ini anak dari Lilyana, Ma?"
PLAAK ...!
Tangan kiri Maria yang masih memegang spatula, menggeram bahkan semakin membenci dua wanita yang baru di sebutkan suaminya ...
"Kenapa itu yang kau urus? Tidak ada kerjaan mu yang lain? Terus bagaimana anak mu dengan Lilyana yang tidak pernah kau akui itu hmm? Jangan kau pikir aku akan tinggal diam, dan memaafkan semua dosa mu selama mengkhianati aku, yah! Jijik aku lihat perkutut mu itu! Aku tunggang langgang jadi babu membersihkan semua kebutuhan mu, kau berselingkuh, memberi uang seenaknya pada wanita lain tanpa berpikir hati istri mu!"
Thamrin yang mendengar dan menerima tamparan dari Maria hanya bisa mendongkol dalam hati ...
"Tahu gini mending aku lihat sendiri, sial ...!" geramnya dengan wajah menekuk.
Thamrin mengangkat kepalanya sedikit hanya untuk berkata, "Papa di kamar saja, daripada menjadi bulan-bulanan Mama lagi," rungutnya.
Maria yang melihat kepergian suaminya, berteriak lantang ... "Daripada Papa mengurus urusan Sukenru, lebih baik Papa cari anak mu bersama Lilyana 16 tahun lalu itu! Jangan biarkan dosa mu gentayangan di luar sana tua bangka!"
__ADS_1
Thamrin hanya mengangkat tangannya, memberi acungan jempol namun tak mau menoleh lagi ...
"Astaga, ternyata selama ini yang menjadi teman kencan ku adalah Amelia? Tapi tidak mungkin dia mau menjadi wanita murrahan hanya untuk mengharapkan gaji, dan di usir dari rumah kos Inggit? Besok aku akan menemui Inggit, jangan-jangan yang mengusir Rina kala itu karena hasutan Maria? Aaagh ... Maafkan Abang, Rin ..."
Thamrin merebahkan tubuhnya di ranjang kamar peraduannya bersama Maria.
Selama pernikahan Thamrin bersama Maria, kedua-nya belum dikaruniai keturunan.
Namun, pria mapan yang belum merasa tua ini, pernah memiliki anak bersama Lilyana, tapi wanita itu tidak pernah mengakui bahwa yang dia kandung adalah anak Thamrin. Melainkan anak dari Ibhen.
Lilyana mendapatkan teror habis-habisan dari Maria. Membuat dirinya benar-benar tidak ingin melanjutkan hubungan terlarangnya dengan Thamrin yang hanya akan menyakiti dirinya saja.
Rumah tangga yang terbina di keluarga Ibhen dan Thamrin hancur berantakan karena kegilaan kedua pria itu pada wanita yang mengaku janda kala itu.
Hingga akhirnya mereka bersaing, dan Ibhen menjadi pemenang karena berhasil menikahi Lilyana, dan tidak mengetahui kehamilan wanita itu.
Kini Lidya telah melakukan hal yang tepat, dia tengah menunggu hasil test DNA dari Olivia yang diakui Lilyana merupakan darah daging Ibhen selama ini.
Tak pernah terpikirkan untuk berpisah dari pasangan hidup mereka, Lidya juga Maria.
Betapa beruntungnya Ibhen dan Thamrin mendapatkan istri sebaik pasangan mereka masing-masing.
Kini yang menjadi korban perasaan adalah Sambo juga Olivia. Mereka kini berada di kehampaan yang di sebabkan kebodohan sang Papa.
Sambo menangis terisak, saat menyaksikan Rina Amelia yang kini membuka identitasnya, dipersunting Sukenru dan berjanji setia untuk selama hidup mereka hingga akhir hayat.
"Apa yang telah aku lakukan? Kenapa aku tidak bisa memperjuangkan mu, Rin ...? Aku sangat mencintaimu, namun aku tak mampu melawan Mama ..."
__ADS_1
Rina turun dari altar, dengan jemari dalam genggaman tangan Sukenru.
Inilah pernikahan Rina yang terindah, nuansa putih dengan bunga-bunga mawar di tiap-tiap sudut ruangan, membuat kisah cinta seorang janda diangkat bak putri raja yang berjalan pelan menuju pelaminan.
Semua berdecak kagum pada Sukenru, cinta yang ia miliki bukanlah cinta biasa untuk seorang Rina yang berstatus janda muda, dengan semua masa lalunya.
Sukenru menatap kearah Sambo, tersenyum dari kejauhan, menunduk hormat karena telah menikahi wanita yang pernah hidup bersama tanpa ikatan pernikahan.
Lagi-lagi MC yang mengisi acara, memuji keindahan cinta Sukenru terhadap wanita yang sudah sah menjadi istrinya saat ini. Air mata bahagia, mengalir begitu saja di sudut mata Will selaku Papa terbaik Sukenru.
Will menghampiri kedua mempelai, memberikan ucapan selamat, atas pernikahan putra kesayangannya dengan wanita yang dicintai dalam diam sejak dulu. Sejak Rudi masih ada, sejak mereka masih sama-sama belajar untuk menjadi kuat menghadapi kehidupan di luar sana.
"Selamat Ken ... Amel. Papa bangga sama kalian. Apa rencana kalian selanjutnya? Jangan biarkan pihak ketiga hadir dalam rumah tangga kalian. Bahagia lah ... Raih semua impian rumah tangga kalian sesuai dengan impian kecil yang pernah tertulis dalam catatan kehidupan kalian berdua. Jangan lupa beri Papa cucu," tawanya memeluk Sukenru erat.
Sukenru membalas pelukan sang Papa, ia hanya menjawab, "Aku akan membawa Amel untuk menetap di Melbourne. Mungkin besok pagi aku akan langsung berangkat ... Karena kami ingin menikmati indahnya pernikahan disana."
Will mengangguk setuju, ia sangat mengerti bagaimana perasaan putra kesayangan, dan mengalihkan pandangannya pada Amel.
Tubuh ramping yang di balut gaun pengantin indah itu membuat para kaum hawa berdecak kagum melihat kecantikan Rina yang terpancar lebih natural tanpa makeup yang berlebihan.
Will mengecup kening menantunya, mencium kedua pipi Rina, kemudian menggenggam erat jemari tangan janda cantik tersebut, "Selamat sayang ... Papa sangat menyayangi mu."
Rina melirik malu kearah Sukenru, menunduk hormat pada Will, mengucapkan terima kasih, karena telah mengizinkannya untuk hidup bersama Sukenru.
"Terimakasih Papa telah berani mengangkat ku menjadi seorang menantu untuk Koko ... Aku akan belajar mencintai Koko, karena Koko Ken merupakan pria yang sangat menyenangkan ..."
Sukenru yang mendengar penuturan seperti itu dari bibir mungil istrinya, mengecup lembut bahu yang terbuka itu dengan penuh perasaan sayang.
__ADS_1
"Kita jalan ke pelaminan? Tamu sudah menunggu dan kita akan melakukan sesi foto, serta potong kue juga menuangkan sampanye di gelas yang sudah tersedia."
Rina mengangguk tersenyum, wajah cantiknya menyiratkan bahwa dia sangat bahagia, dengan pernikahan indahnya, walau merupakan pernikahan ketiga ...