Gairah Janda Rebutan

Gairah Janda Rebutan
Menjadi pendamping


__ADS_3

Cinta ... Hanya itu yang tidak di miliki oleh Rina saat ini untuk pria yang telah berdiri di depan altar.


Amelia Anandita Sunaryo, kini janda cantik itu akan dipersunting oleh pria yang merupakan Abang terbaiknya saat sang Papa Rudi melawan rasa sakitnya.


Balutan gaun pengantin berwarna putih, dengan bahu terbuka lebar agar terlihat lebih elegan, membuat janda cantik itu semakin gugup saat akan melangkah menuju altar yang dihadiri beberapa tamu undangan.


Acara yang sangat tertutup bagi siapa saja, namun tidak bagi pria gagah yang entah masuk dari mana, berhasil menerobos pintu lift untuk menuju ballroom hotel yang terletak di lantai tiga.


Entah pikiran apa yang ada dalam benak Sambo kali ini. Rasanya langkahnya semakin meragu saat menatap dari kejauhan wanita cantik, yang terbalut gaun indah, dengan riasan wajah natural membuat pria itu menghentikan langkahnya.


Sukenru dapat melihat kehadiran Sambo dari kejauhan. Tentu ini merupakan tamparan keras bagi pria berdarah Batak itu, karena telah menyia-nyiakan Rina selama beberapa bulan bersamanya.


"Tuan, Tuan Sam akan mendekati Nona Amel ... Apakah kita akan melakukan penahanan pada Tuan Sam?"


Sukenru hanya mengayunkan tangannya ke udara, memberi isyarat bahwa kehadiran Sam tidak akan membatalkan apapun tentang pernikahannya dengan Rina.


Salam perpisahan ... Mungkin kalimat itu yang paling tepat dari Sambo untukĀ  Rina.


Sambo mendekati Rina, dia berdiri menghampiri janda kembang yang telah menjadi rebutan dengan beberapa pria termasuk Ibhen dan Sukenru. Dadanya terasa sangat sesak, nafas berat bahkan air mata mengalir dengan sendirinya.


Kali ini langkah Sambo lagi-lagi meragu, saat kedua-nya berdiri hanya berjarak dua meter ...


"Rin ..."


Sambo tersenyum tipis, mengalihkan pandangannya entah kemana, tampak salah tingkah dengan suara bergetar.


Rina yang masih termangu melihat kehadiran pria yang selama ini bersamanya, menghabiskan waktu bersama sebagai suami pura-pura sekaligus selingkuhan sebagai bahan candaan, hanya memperlihatkan bunga yang berada dalam genggaman, dan gaun pengantin yang melekat indah pada tubuh profesional nya.


"Ha-hai ... Aku mengucapkan terimakasih pada mu. Karena kamu hadir dalam waktu yang tepat. Mungkin kita tidak pernah ada salam perpisahan selama beberapa minggu ini. Waktu begitu cepat berlalu, membuat kita melupakan semua kejadian yang sangat berkesan. Berikanlah rumah ku pada adik tirimu, dan jaga dia untukku ... Maafkan aku, Sam ..."

__ADS_1


Rina menundukkan wajahnya, air mata tak mampu terbendung, bahunya bergetar, membuat salah seorang menghampiri janda cantik itu dan memberikan tisu padanya.


Rina menyeka lembut wajahnya, kembali tersenyum lebar kearah Sam ... Melanjutkan ucapannya ...


"Aku pikir kamu lah pelabuhan terakhir ku ... Ternyata kita berada di ambang perpisahan. Maaf, Koko menunggu ku ... Aku mencintaimu Sam ..."


Rina membalikkan tubuhnya, tersenyum lebar menatap jauh kedepan kearah Sukenru yang menantinya di depan altar.


Perlahan tangan Will Sutandar selaku Papa Sukenru, menghulurkan tangannya untuk membawa Rina mendekati putra kesayangannya.


Rina menghela nafas panjang, kali ini dia menyadari bahwa Sam masih berdiri di belakangnya, dengan penuh keyakinan janda kembang itu menerima tangan Will yang masih berada di hadapannya ...


"Papa ..."


Rina menangis sejadi-jadinya saat ia menggenggam erat jemari Will, tak kuasa membendung air matanya mengalir deras membasahi pipi. Kini dadanya terasa sangat sesak, bahkan tak mengurungkan niatnya untuk menikah dengan pria yang mencintai nya, namun perasaan cintanya masih terungkap untuk Sambo.


"Kita jalan sekarang? Hapus air matamu ... Di depanmu ini merupakan masa depan yang akan indah, jangan pernah melihat kebelakang. Hapus dendam mu, karena Ken sangat mencintaimu ..."


Kakinya kembali melangkah tanpa keraguan, Rina yakin ucapan Will akan merubah seluruh hidupnya dengan memaafkan diri sendiri dan mengubur semua masa lalunya.


Pelan tapi pasti, dengan alunan piano yang menggema menyambut kehadiran Rina yang semakin mendekat pada Sukenru, membuat dadanya semakin berdebar-debar.


Ini merupakan pernikahan ketiga selama hidupnya. Dulu semasa masih ada Rudi sang Papa yang menggandengnya menghadap Boni dan Bambang. Namun kali ini ia hanya sendiri, tanpa Lilyana, dan keluarganya.


Perasaannya semakin tak menentu, saat tangan halus itu disambut mesra oleh calon suaminya, Sukenru.


Satu kecupan yang diberikan Ken pada punggung tangannya saat menerima tangan halus itu, menatap iris mata Rina yang sangat indah, membuat getaran yang tak biasa semakin terasa di hati ke-duanya.


Cinta yang datang karena ketulusan hati, menyatu dalam ikatan pernikahan, saling berjanji hidup bersama, dalam suka duka menjalani bahtera rumah tangga yang indah, tanpa ada kata indah yang pernah Sukenru ucapkan.

__ADS_1


Pendeta tersenyum bahagia, saat membacakan sebuah janji atas nama Tuhan, memberikan doa dihadapan keluarga, "Tak ada yang dapat memisahkan kalian berdua, atas nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus ... Amin ..."


"Cinta yang telah dipersatukan atas nama Tuhan, tidak akan dapat di pisahkan oleh manusia. Sukenru Sutandar dan Amelia Anandita Sunaryo, saat ini kalian sah menjadi suami dan istri ... Cintailah pasangan mu, berbahagialah kalian dalam suka dan duka ..."


Sukenru menghela nafas panjang, dia tersenyum lega. Menatap lekat wajah cantik yang masih tertutup slayer putih.


Perlahan Sukenru membuka slayer yang menutup wajah, mendekat kan tubuhnya agar lebih mudah menyematkan cincin kawin yang menjadi pilihan Amel beberapa waktu lalu.


Sukenru bertanya dengan mikrofon yang diarahkan oleh pendeta, "Amelia Anandita Sunaryo, bersediakah kamu hidup bersama ku dalam suka dan duka hingga akhir hayat mu?"


"Ya ... Aku bersedia hidup bersama mu Sukenru Sutandar ..."


Jawaban Rina memberikan tepuk tangan bagi para tamu yang hadir kala itu.


Sukenru menyematkan cincin kawin pertama kali di jari manis sebelah kanan Rina.


Pendeta mengarahkan mikrofon kepada Rina, "Sukenru Sutandar bersediakah kamu menjadi pendamping ku dalam suka dan duka, susah ataupun senang hingga akhir hayat mu?"


"Ya ... Aku bersedia, karena aku sangat mencintaimu Amelia ..."


Rina mengangguk tersenyum, wajah cantik itu tersipu malu. Baru kali ini ada seorang pria yang mengakui cintanya dihadapan semua para tamu yang hadir, membuat Rina merasa tersanjung, bahkan sangat bahagia atas kejujuran Sukenru padanya.


Perlahan Rina menyematkan cincin kawin dijari manis sebelah kanan Sukenru.


Tepukan tangan yang semakin meriah kembali terdengar.


Perlahan Sukenru merangkul pinggang wanita yang sudah menjadi istri sahnya, menatap manik mata indah itu kembali, mengangkat dagu wanitanya, mengecup lembut bibir Amel dihadapan para tamu dengan penuh perasaan cinta.


Rina memejamkan matanya, kali ini dia ingin menjadi istri yang di cintai, bukan mencintai. Karena cinta akan tumbuh karena terbiasa dan saling mengerti dalam hidup bersama membina rumah tangga yang bahagia dalam suka dan duka.

__ADS_1


Sukenru berucap pelan, saat melepas ciuman lembut pertama mereka, "Terimakasih telah menerima Koko menjadi pendamping Amel ..."


"Amel yang harus mengucapkan terimakasih pada Koko, telah berani menjadi pendamping Amel," kecupnya lembut, kembali menutup perlahan kedua bola mata indahnya dengan perasaan bahagia.


__ADS_2