
Lilyana menatap lekat mata Olivia yang juga menatapnya. Berdecak kagum, melihat kecantikan putri yang dia berikan pada Lidya beberapa tahun silam.
Lilyana mencoba menyapa lebih dulu, "Siapa nama mu gadis?"
Olivia hanya tersenyum tipis, "Olivia. Ya, panggil saja Oliv ..."
Lilyana tertegun melihat gadis yang menyebutkan bahwa namanya adalah Olivia.
Bersusah payah Lilyana meneguk air ludahnya, hanya untuk membasahi tenggorokan yang seolah-olah mengering karena menyesali semua perbuatannya.
"Apakah kamu putri dari Lidya?"
Oliv menautkan kedua alisnya, memperbaiki posisi duduk yang langsung berhadapan dengan Lilyana. Meletakkan jari telunjuknya di bibir, sedikit berbisik ... "Aku bukan anak Nyonya Lidya, Nyonya, tapi aku anak dari asisten pembantu rumah tangga. Akan tetapi, aku jatuh hati pada putra kesayangan Nyonya Lidya. Makanya mereka sangat menyayangi aku, seperti anak kandung keluarga ini ..."
Mendengar penuturan Olivia, seketika dada Lilyana bergemuruh merasakan sakit teramat sangat. Bagaimana mungkin putri yang ia lahirkan beberapa tahun silam, hanya diakui sebagai putri seorang pembantu oleh Ibhen juga Lidya.
Olivia tampak kebingungan, namun dia tak mengacuhkan Lidya. Baginya saat ini, bermain game hal paling menarik, daripada harus menyaksikan kedua wanita yang memiliki tempat dihati Ibhen.
Dengan wajah berang, Lidya menerobos masuk ke kamar perawatan Ibhen, menggeram kesal menantang mata Lidya yang tengah mengusap lembut kepala suaminya.
Bibir Lilyana bergetar, tangannya mengepal kuat, ingin rasanya dia merobek-robek mulut Lidya kali ini.
"Apa maksud mu, menganggap bahwa wanita muda di luar sana merupakan anak pembantu rumah tangga mu! Katakan pada ku! Apa maksud mu, Lidya?"
Lidya menoleh kearah Lilyana yang tengah berkacak pinggang di hadapannya.
"Ooogh ... Apakah kau merasakan sakit jallang?" balas Lidya dengan wajah lebih garang ...
"Itu yang aku rasakan selama kau berselingkuh dengan suamiku, sehingga menghilangkan satu nyawa, yaitu suami mu, bukan? Apa kurang? Atau kau ingin membunuh suami ku, hingga mengajak ribut di ruangan ini?! Wanita tidak tahu diri! Tidak tahu balas budi! Sudah memiliki suami yang kaya, bahkan sangat baik, malah kau mengaku janda pada suami ku! Dimana otak mu hmm!?"
Lilyana semakin meradang, dia tak kuasa menahan amarahnya, sehingga mendekati Lidya untuk menyerang wanita itu lebih dulu ...
Ibhen yang tak memiliki tenaga, untuk melerai pertikaian kedua wanita itu, hanya bisa berontak dengan menghentakkan kakinya ...
__ADS_1
"Stop! Stop!" teriak Ibhen dengan suara yang tercekat di tenggorokan.
Lilyana menarik kerah baju kemeja yang dikenakan Lidya, namun wanita Batak itu tak kalah garangnya. Ia meraih rambut panjang Lilyana, meremasnya kuat, membuat keduanya saling membalaskan rasa sakit hati selama ini.
Entahlah, Ibhen yang tengah terbaring hanya merasa panik, dengan menggerakkan seluruh tubuhnya, agar kedua wanita itu menghentikan perbuatan mereka yang sangat memalukan.
Keributan di ruang kamar VIP hancur berantakan, karena ulah dua wanita yang cukup mengagetkan dokter dan perawat yang masuk keruangan tersebut, untuk memeriksa kondisi pasien, ternyata dikejutkan dengan pemandangan dua wanita yang tengah bergulat selayaknya sepasang kucing anggora ...
Melihat Lilyana sudah berada dibawah kungkungan Lidya, dengan rambut acak-acakan, pelipis yang terluka, bahkan terdapat bekas cakaran dari kedua tangan wanita tersebut.
Dokter ahli jantung bergegas melerai dua wanita paruh baya itu.
Lidya menatap lekat wajah Lilyana dengan penuh kebencian, "Pergi kau jallang! Tinggalkan suamiku! Karena kau hanya wanita perusak rumah tangga orang lain! Tidak tahu diri!"
Lilyana yang lengannya di tahan oleh suster menjawab lebih sadis, "Kau yang tidak memiliki perasaan. Anak suamimu kau katakan sebagai anak pembantu! Akan aku rebut Olivia dari tangan mu! Wanita laknat! Pantas saja suami mu suka berselingkuh, ternyata istrinya lebih sadis dari iblis!"
"Jaga ucapan mu! Nyonya Lidya Ibuku, jallang!"
Entah dari mana datang suara bariton yang memberikan bentakan keras dari arah belakang Lidya, memperlihatkan bahwa Sambo telah ada di sana hanya untuk membela sang Ibu dihadapan kedua wanita yang ikut menyaksikan kegilaan Lilyana.
Sementara Rina yang berdiri di belakang Sambo, hanya terdiam mematung, menyaksikan sang Mama telah membuat onar didalam kamar rumah sakit, tanpa peduli dengan kondisi Ibhen yang menangis keras, namun tak mampu mengeluarkan suaranya.
Ini kali pertama mereka semua di pertemukan, dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Baju Lilyana yang robek, karena perbuatan tangan Lidya, begitu juga sebaliknya. Tidak ada yang menang ataupun kalah kali ini dihadapan semua orang yang ikut menyaksikan kejadian tersebut.
Sambo menggandeng tangan Rina, meraih tubuh Lidya, membawa wanita yang masih sudah payah mengendalikan emosinya kedalam pelukannya.
Rina masih berdiri di belakang Sambo, untuk menghindari pandangan Lilyana, yang akan meraih dirinya.
Akan tetapi, pandangan Rina teralihkan pada gadis yang masih menangis tersedu-sedu didepan pintu ruangan.
Rina mencolek Sam, berbisik ketelinga pria yang menoleh padanya, "Siapa gadis itu, Sam?"
__ADS_1
Sam enggan menjawab, namun Lidya melepaskan pelukan putranya, menghampiri Olivia yang masih menangis.
"Sini peluk aku! Jangan menangis! Kamu anak yang kuat Oliv ..." usap Lidya pada punggung gadis itu.
Lilyana menggeram, kali ini dia merasa dijauhi oleh kedua putrinya, "Mereka anak ku, Lidya! Anak kandung ku!"
Sambo menatap garang kearah Lilyana, berkata tegas ... "Silahkan kau keluar dari ruangan ini! Karena Papa ku sedang sakit! Jika Papa ku sudah membaik, aku akan meminta peliharaan Papa menjemput mu ke Bandung, dan kita selesaikan masalah ini!"
Sam mengusap hidungnya, berjalan pelan menuju Liliyana, sedikit berbisik nakal, "Satu lagi Nyonya jallang ... Aku akan mempersunting putri mu, dan silahkan kau berpisah dari Ibhen Santoso! Lepaskan Papa ku, atau aku yang akan mengirim mu ke neraka, untuk di kremasi lebih dulu!"
Lilyana semakin menggeram, wajahnya semakin merah padam. Tidak menyangka bahwa, Amel akan senekat ini menyakitinya ...
Sontak ucapan Sambo tersebut menuai api amarah di hati Lidya saat mendengar, bahwa Sam akan mempersunting wanita yang ada bersama nya saat ini ...
Tubuh Lidya seketika terkulai lemah. Mendengar putranya akan menikahi putri dari Lilyana.
Lidya mengusap wajah dan dadanya kasar, "Ooogh Jesus ...! Ambil sajalah nyawa ku ... Suami ku diambil nya, sekarang anak ku ... Apa salah ku Tuhan!! Ooogh Tuhan ..." isak tangisnya membuat Rina terdiam.
Sam yang mendengar ucapan Lidya seperti itu, bergegas mendekati sang Mama. Mengangkat tubuh yang tak muda itu agar duduk disofa, meminta pihak Dokter ahli jantung melakukan tindakan pada sang Papa di ruangan yang berbeda.
Rina yang melihat kondisi Ibhen saat di pindahkan ke ruangan lain, sontak jiwa kemanusiaannya kembali menangis sejadi-jadinya.
"Kenapa aku menyaksikan semua ini begitu cepat? Apakah Sam akan mengikuti semua permintaan Mamanya, yang tidak menyukai aku ...?" tangisnya dalam hati.
Sementara Olivia, menoleh kearah Rina, melirik kepada Lilyana, "Apakah kami keluarga ...? Benarkah aku anak dari Tuan Ibhen ...? Kenapa mereka mengatakan bahwa aku anak pembantu ..."
_____
Hai hai hai ...
Yuk aaghh, kita perpanjang Give nya ... Author butuh suport dan komentar biar lebih semangat update.
Sampai akhir bulan 28 Oktober 2022.
__ADS_1
Nikmati hijab, atau daster bagi dua top fans yang paling banyak kasih othor hadiah ...
Terimakasih ... Happy reading ...❤️🥰😘