Gairah Janda Rebutan

Gairah Janda Rebutan
Ikhlas ...


__ADS_3

Kali ini Sukenru tidak akan menuntut banyak dari Rina. Wanita yang telah ia nikahi seminggu lalu, namun belum siap untuk melayani selayaknya suami istri, sungguh sangat luar biasa bagi jiwa seorang suami.


Namun, sentuhan jemari Rina yang menjalar dikedua dadanya, kemudian mencium tengkuk belakang pria oriental itu dengan lembut, sedikit membangunkan sesuatu yang telah terlelap di bawah sana.


"Hmm ... Koko tidak akan memberikan ruang pada mu, Mel ..."


Rina tersenyum lebar, dia tahu ... Sentuhan jemarinya saat ini mampu membangkitkan gairah Sukenru yang tengah terlena dengan mata terpejam menikmati sentuhan dari tangan halus wanita cantik di belakangnya.


Rina berkata pelan, sedikit mendessah ... "Emang Koko mau apain aku? Sepertinya enggak adil, kalau kita tidak melakukan apapun saat ini. Karena kita sudah menikah dan pasti Koko menginginkan Amel."


Sukenru membalikkan tubuhnya, mengusap lembut wajah halus Rina dengan penuh kelembutan. Apapun yang ia bayangkan kali ini, tidak sesuai dengan ekspektasi dalam benaknya.


Rina memang pintar dan sangat menggairahkan dalam menyentuh bagian-bagian sensitifnya sebagai pria normal, yang sangat merindukan hal itu.


Tak menunggu lama, Sukenru tersenyum nakal, dia menggendong tubuh ramping istrinya, membawa ke ranjang peraduan mereka yang belum pernah melakukan apapun di sana untuk mereguk indahnya cinta dalam mahligai rumah tangga.


Perlahan Sukenru meletakkan Rina di atas ranjang kingsize kamar apartemen mereka, menatap penuh hasrat yang menggelora, bahkan tak mampu untuk menunggu lama lagi.


Sukenru mengecup lembut bibir Rina, yang telah lama dia dambakan. Entah angin apa, malam itu Rina membalas ciuman suaminya dengan penuh perasaan. Mata keduanya masih saling menutup, penuh kerinduan dengan belaian kasih dan sayang.


"I love you, Mel ..."


Kecup Sukenru pada leher jenjang yang mengeluarkan aroma wangi parfum mewah wanita cantik itu saat malam.


Rina tak membalas ucapan cinta suaminya, dia hanya ingin menikmati sentuhan Sukenru yang benar-benar berbeda. Perasaan yang semakin lama semakin hangat, dan perlahan membuat nyaman saat tangan kekar namun lembut itu, menyentuh perlahan permukaan kulit halusnya.


"Kohh ... Hmhh ..."


"Koko sudah enggak kuat, Mel. Sudah lama Koko menginginkan kamu seperti ini, apa boleh ...?" bisiknya pelan ditelinga Rina.


Rina mengangguk perlahan, sambil tersenyum dan menikmati setiap kecupan dan sentuhan yang mampu membangkitkan gairahnya sebagai wanita normal yang pernah merasakan hal itu dari pria lain.


Tubuh indah itu perlahan menggeliat dengan mata tertutup. Menikmati sentuhan tangan Sukenru dari penghalang yang belum terbuka.


Sukenru membuka perlahan kancing piyama istrinya, yang ternyata tidak menggunakan penyanggah sejak tadi.

__ADS_1


"Mel ... Kapan kamu melepaskannya? Ini besar dan sangat indah, boleh ...?"


Lagi-lagi Rina hanya mengangguk sambil membalas kecupan pada tangan Sukenru yang mengusap lembut wajahnya.


Rina menghela nafas dalam-dalam, saat tangan dan bibir Sukenru bermain di atas punuk kenyal yang sangat masih terlihat kecil. Bibir mungil itu kembali ternganga, tak mampu berkata-kata. Tangan halus itu memeluk erat kepala yang tengah asik bermain di bagian dadanya.


Cinta seorang pria muda mapan dan tampan, membuat Rina benar-benar terbuai saat sentuhan-sentuhan itu semakin menjalar di bagian intinya.


Dessahan, errangan istrinya membuat pria oriental itu benar-benar tak ingin menunggu lama lagi. Dia bergegas melepaskan semua penghalang dari tubuh keduanya, tentu di bantu tangan halus sang istri, yang tidak sabar ingin segera merasakan kebahagiaan bersama.


Perlahan Sukenru melebarkan kedua paha wanitanya, kembali mendekati wajah cantik itu, menatap mata indah Rina yang mampu memberikan keteduhan dalam hatinya, hanya bisa bertanya pelan ...


"Amel ikhlas Koko masuki sekarang?"


Pertanyaan Sukenru yang meminta izin lebih dulu membuat mata Rina berkaca-kaca. Seumur hidupnya, belum ada pria yang meminta izin begitu sopan padanya saat akan memasuki lembah surganya.


Rina mendekap erat tubuh Sukenru, mengisyaratkan dia siap lahir dan batin mereguk kenikmatan surga dunia bersama dalam pernikahan mereka ...


Sukenru yang merasa bagian milik istrinya sudah lembab sejak tadi, mengikuti perintah sang pemilik tubuh yang akan setia untuk bersama.


Saat benda keras itu melesat masuk kedalam lembah surga, Rina menjerit.


"Ahh ..."


Sukenru yang merasakan miliknya seperti di cengkram kuat oleh pemilik surga, kembali membuka mata sebelum mengayuh perlahan ...


"Kohh ... Pu-pu-punya Kokohh nyesek banget ..."


"Hooh, punya kamu ternyata masih sempit banget. U-u-udah bisa Kokoh gerakin ...?"


Rina menghela nafas panjang, perlahan tangannya mengusap lembut punggung Sukenru, memposisikan tubuhnya agar tetap nyaman, menerima gerakan yang seolah-olah mampu memberikan kenyamanan walau menyesakkan sangat berbeda dari yang lainnya.


Sukenru meletakkan tangannya diatas puncak kepala Rina sebagai tumpuan tubuhnya, mengayuh perlahan, menatap wajah cantik wanita yang akan menjadi pelabuhan terakhirnya, menikmati denyutan yang semakin lama semakin terasa sangat indah.


"Hmmfh aaagh Kohh ..."

__ADS_1


Kaki jenjang yang semakin lama semakin menjepit kuat, memberikan isyarat bahwa bagian inti Rina semakin mengkedut dibawah sana dalam mencapai kebahagiaannya, dengan dessahan panjang, membuat Sukenru semakin cepat menghentakkan pinggulnya untuk menyusul sang istri tercinta.


"Ahh ..."


Sukenru merasakan kebahagiaan yang sangat berbeda, setelah mencapai pelepasannya.


Perlahan kepalanya ia rebahkan di samping wajah Rina, mengusap lembut wajah yang telah di penuhi keringat tanpa melepas penyatuannya, membuat ia kembali mengecup bibir basah Rina.


"Koko mencintai Amel ..."


Rina menoleh kearah Sukenru, tersenyum bahagia mendengar kalimat cinta yang senantiasa menyejukkan hatinya.


"Ya ... Amel akan belajar mencintai Koko. Terimakasih Ko, jadilah suami terakhir untuk Amel hingga ajal menjemput salah satu dari kita."


Rina mengecup lembut pipi Sukenru, tersenyum bahagia, karena sosok seperti Sukenru lah yang ia butuhkan.


"Terimakasih Ko, sudah mau mencintai aku. Sekarang lepas dulu, Amel pengen pipis," rengeknya mengecup lembut kening suaminya.


Sukenru yang sangat merindukan keceriaan seorang Rina, melepas penyatuan mereka berdua, memberi ruang pada sang istri untuk meninggalkan nya.


"Jangan lama-lama Mel! Koko masih mau! godanya jujur.


"Hah! Lagi?"


Rina menoleh kearah Sukenru, tersenyum sumringah, kemudian berlalu memasuki kamar mandi.


Sukenru menghela nafas panjang, dia mengusap lembut dada bidangnya, menatap langit-langit kamar yang sangat indah.


"Ternyata tidak ada salahnya kita menikahi wanita yang tidak mencintai kita. Perlahan rasa cinta itu akan timbul dengan sendirinya, jika kita selalu melakukannya. Hmm ... Ternyata punya kamu memang legit, bahkan sangat menggigit. Pantas saja ..."


Saat melihat istrinya kembali mengenakan handuk, Sukenru tak ingin berbasa-basi. Dia kembali mengejar wanita yang telah membuatnya mabuk kepayang, untuk kembali melakukannya.


"Ko ... Aku lapar!"


"Sekali lagi ... Atau dua kali! Baru kita makan sama-sama, sekarang bantu Koko untuk makan kamu sampai kenyang," kecupnya saat kembali mendapatkan tubuh wanita cantik itu untuk menjemput kebahagiaan mereka berdua.

__ADS_1


"Kohh ..."


"Ahh ..."


__ADS_2